
"Adek, adek...!" Panggil Zulfa dari balik pintu dengan mengetuk pelan daun pintu.
Menyadari ada yang mengetuk pintu, Iqbal mencoba untuk memindahkan kepala Elsaliani yang masih tertidur lelap dalam pangkuannya, namun usaha yang Iqbal lakukan hanya membuat Elsaliani menggeliat sebentar lalu kembali tertidur nyenyak.
"Adek..." Suara Zulfa kembali terdengar.
"Umi masuk aja, pintunya nggak di kunci!" Jawab Iqbal.
Perlahan pintu kamar terbuka dari luar, Zulfa muncul dari balik pintu, pandanganya langsung tertuju keatas kasur di mana anak dan menantunya berada.
"Maaf umi! umi harus buka pintu sendiri, soalnya El tidurnya nyenyak sekali. Ada apa umi?"
"Nggak apa-apa nak Iqbal. Oh ya dari tadi kalian belum makan, ayo makan dulu!"
"Nanti aja umi, kalau El sudah bangun!" Jelas Iqbal lalu menatap lekat wajah lelap sang istri.
"Biar adek sama umi aja, Iqbal makanlah dulu."
"Nggak apa umi, biar nanti aku makannya bareng El aja." Jelas Iqbal.
"Adeeeek!" Teriak Rizal yang langsung menerobos masuk ke kamar Elsaliani.
"Abang!" Seru Zulfa ketika melihat Rizal yang kini telah berada di sampingnya.
"Sorry Iqbal, Abang masih belum terbiasa dengan kehadiran kamu, biasanya Abang asal masuk aja ke kamar adek!" Jelas Rizal yang merasa bersalah.
"Nggak masalah kok Abang! El masih tidur, mungkin karena masih lelah akibat perjalanan jauh, nanti kalau El udah bangun, aku akan ajak dia keluar untuk berkumpul dengan yang lainnya!" Jelas Iqbal.
"Udah, kalian tenang aja. Biar aja adek istirahat. Ayo umi kita keluar, kasian adek, dia butuh istirahat exstra sekarang."
"Baiklah. Iqbal, kalau kamu butuh apa-apa, panggil aja umi."
"Baik umi, dan terima kasih!" Jawab Iqbal dengan senyuman.
"Istirahatlah nak!" Ujar Zulfa lalu mengelus pelan rambut Elsaliani.
Rizal langsung merangkul Zulfa, lalu keduanya keluar dari kamar Elsaliani. Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, Iqbal kembali memandang sang istri dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Semoga malam ini sayang bisa tidur nyenyak, mas nggak tega lihat sayang yang kesusahan setiap malam." Jelas Iqbal lalu menyentuh perut besar sang istri.
"Mas..." Panggil Elsaliani dengan suara parau sambil mengerjap-ngerjap kedua matanya.
"Apa mas membuat sayang terbangun?" Tanya Iqbal yang merasa bersalah.
"Nggak mas!"
"Apa sayang lapar?"
"Nggak!"
"Terus sayang mau apa?"
__ADS_1
"Baby mau terus di elus sama ayah!" Jelas Elsaliani dengan wajah yang berusaha menahan malu.
"Permintaan baby atau sayang nih?"
"Baby yang minta loh mas!"
"Mau baby atau sayang, siapapun itu mas suka!" Jelas Iqbal yang langsung mengelus lembut perut buncit Elsaliani.
"Mas, apa mas nggak penasaran sama masa lalu kita?"
"Maksud sayang, tentang ucapan Luthfan tujuh bulan yang lalu?"
"Iya, El ingin tau apa semua ucapan Abang Luthfan benar adanya atau nggak!"
"Lupakan semua masa lalu, sayang. Mas sudah cukup bahagia dengan masa sekarang. Baby dan sayang adalah kebahagiaan yang tiada tandingannya, mas sudah cukup dengan memiliki kalian, mas nggak perlu lagi dengan yang lainnya." Jelas Iqbal lalu mengecup lembut kening sang istri.
"Teruslah menjadi suami El, El sayang mas seutuhnya dan hingga selamanya." Ucap Elsaliani lalu mengelus lembut pipi kanan Iqbal.
"Terima kasih karena sayang mau bertahan dengan segala sikap kasar mas selama ini, mas..."
Penjelasan Iqbal langsung terhenti ketika dengan lembut jemari Elsaliani menyentuh bibir sexi Iqbal, membuat mata Iqbal menatap intens wajah sang istri yang masih berada di dalam pangkuannya.
"Ayo kita keluar sekarang sayang!" Ajak Iqbal tiba-tiba, membuat Elsaliani mengerutkan dahi.
"Keluar? kenapa?"
"Mas nggak mau buat sayang lelah. Jika sayang terus manja kayak gini, mas ingin langsung memberikan excellent service untuk sayang!" Jelas Iqbal.
Secepat kilat Elsaliani langsung bangkit dari pangkuan Iqbal membuat Iqbal tertawa melihat tingkah Elsaliani yang kelihatan panik serta wajah yang kini telah memerah sempurna.
"Bukan gitu, El cuma, hm...cuma...!"
"Oke, mas paham. Ayo kita keluar!" Ajak Iqbal yang lebih dulu berjalan menuju pintu.
"El takut kalau El malah nggak bisa mengendalikan diri El, Karena sebenarnya El juga rindu sama excellent service dari mas."
"Sayang ayo kita keluar sekarang, sebelum mas benar-benar hilang kendali!" Jelas Iqbal dan langsung membuka pintu kamar, keduanya segera keluar lalu bergabung dengan yang lainnya.
------------------------
Seluruh keluarga besar sedang berkumpul di ruang keluar. Mereka terlihat asyik dengan obrolan mereka masing-masing, para ibu-ibu yang sibuk dengan obrolan mereka, para bapak-bapak yang tampak santai sambil menikmati kopi mereka, lalu para anak kecil yang sibuk berlari-lari ke sana ke mari membuat suasana begitu ramai.
Berbeda dengan Mikeal, ia malah memilih untuk menyendiri di teras sana. Duduk selonjoran dengan jemari yang terus bernari di layar ponsel miliknya.
"Kenapa sendirian disini?" Tanya Rizal yang baru saja datang, lalu duduk di sebelah Mikeal.
"Eh, Abang Rizal. Di dalam udah kayak di pasar, pusing aku dengar para ibu-ibu bergosip!" Jelas Mikeal lalu mematikan ponselnya.
"Itu namanya the power of emak-emak, kalau udah ngumpul lupa deh sama segalanya. Ngomongin barang diskonan lah, arisan, bahkan masih sempat-sempatnya ngomongin perjodohan!" Jelas Rizal dengan senyuman lebar.
"Perjodohan?"
__ADS_1
"Iya, tuh bunda sibuk cari jodoh buat kamu. Secara manta mu udah dua kali nikah nih, eh kamu nya masih jomblo aja!"
"Abang Rizal apaan sih? mulai tertular virus bunda deh! lagian aku ini masa lalunya Arumi dan abang Rizal adalah masa depan dia. Tolong bahagiakan Arumi dan Mikeal! aku tau, Abang pasti akan memberikan yang terbaik untuk mereka berdua, tapi tetap saja aku ingin meminta Abang untuk melakukannya. Selamat menjadi seorang suami dan seorang papa, teruslah bahagia untuk selamanya." Jelas Mikeal dengan begitu serius dan tulus.
"Hmm, aku pasti akan menjaga mereka dengan baik, terima kasih untuk doanya, dan semoga kamu juga cepat bertemu dengan jodohmu, atau mungkin bunda sudah lebih dulu menemukannya!" Jelas Rizal yang di akhiri dengan senyuman menggoda.
"Tuh kan mulai lagi! Udah aku mau masuk aja!" Tegas Mikeal lalu melangkah masuk meninggalkan Rizal.
"Aku serius Mikeal, semoga saja malam ini bunda mendapatkan jodoh yang baik untukmu, Jika Arumi bahagia, maka kamu juga pantas untuk bahagia." Jelas Rizal.
"Om...." Panggil seorang bocah laki-laki.
Bocah tersebut langsung berlari kearah Rizal dan memeluknya erat.
"Baru datang ya sayang? Datang sama siapa?" Tanya Rizal setelah menggendong bocah tersebut.
"Sama nenek dan kak Khaira, Papa sama mama besok baru bisa nyusul katanya masih ada kerjaan yang harus papa selesaikan malam ini!" Jelas bocah tersebut.
"Hai Abang Rizal, ciee yang mau jadi pengantin besok!" Goda Khaira sambil melangkah mendekati Rizal.
"Kamu ini..." Ujar Rizal.
Rizal langsung menyalami sang nenek yang juga baru datang bersama Khaira. Khaira dan Khairil adalah anak dari adiknya Ismail, jadi mereka adalah saudara sepupu. Khaira adalah gadis yang begitu sopan, dia lebih tua tiga tahun dari Elsaliani sedangkan Khairil baru berusia enam tahun. Khaira baru saja menyelesaikan kuliahnya di Mesir, jadi baru selama beberapa bulan ini ia kembali di Indonesia.
"Ayo masuk nek!" Ajak Rizal lalu merangkul bahu sang nenek tersayang.
"Ponsel Abang ketinggalan!" Seru Khaira lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Itu bukan punya Abang, hm...punya calon imam mu kali..."
"Abang ini kalau ngomong nggak pernah di saring, kebiasaan deh!" Gumam Khaira kesal.
"Abang Rizal lihat ponsel aku nggak?" Tanya Mikeal yang kembali ke teras.
"Tuh..." Ujar Rizal sambil menunjuk ke arah Khaira dengan dagunya.
"Ayo nek, mereka butuh waktu biar bisa menyatu!" Seru Rizal yang langsung mengajak nenek dan Khairil masuk ke dalam.
"Haisshh, selalu aja gitu!" Gumam Khaira kesal.
"Ini..." Lanjut Khaira lalu menyodorkan ponsel ke arah Mikeal.
"Terima kasih!"
"You are welcome!" Ujar Khaira dan langsung menyusul masuk ke dalam.
"Awal pertemuan yang baik!" Gumam Mikeal dan juga ikut masuk.***
__________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️