
"Dia, dia adalah bayi yang ada dalam kandungan El. Mas, El mohon jangan sakiti dia, biar El yang akan menjaga dan merawat nya. Tolong jangan ambil dia dari rahim El." Jelas Elsaliani masih dengan tangis yang semakin memilukan.
"Jadi, kamu hamil? El, kamu benar-benar sedang mengandung?"
"Hm..., mas tolong, El memohon sama mas, tolong jangan ambil dia. El janji, kalau El akan melakukan apapun yang mas inginkan asalkan mas mengizinkan El untuk memilikinya."
"El, kamu serius dengan apa yang sedang kamu katakan? kamu benaran hamil?"
"Mas, anggap saja kalau ini bukan anak mas. Ini anak El, jadi mas tidak perlu bertanggung jawab. El akan membawanya jadi mas tidak perlu khawatir, dan El juga janji, kalau El sama sekali tidak akan membahas tentang anak ini pada mbak Lestari."
"El, aku.....bagaimana semua ini bisa terjadi? seharusnya aku tidak menyentuhmu!"
"Tidak, memang mas sama sekali tidak pernah menyentuh El, bayi ini bukan anak mas, dia anak El." Tegas Elsaliani dengan kedua tangan yang berusaha menyembunyikan perutnya.
Elsaliani mencoba untuk menjauhi Iqbal.
(Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? apa lagi yang harus hamba katakan agar mas Iqbal tidak membunuh anak El, bagaimana ini? Abang Rizal tolong adek! saat ini, adek benar-benar sangat ketakutan, bahkan lebih takut dari pada saat adek di kurung oleh Kelvin. Abang Rizal, adek takut!) Bisik hati Elsaliani.
Iqbal melangkah mendekati Elsaliani, tanpa ucapan sepatah katapun tangan kekar Iqbal langsung mengangkat tubuh Elsaliani lalu menidurkannya di kasur. Elsaliani hanya terdiam ketakutan saat Iqbal mulai menyentuh dahinya, Iqbal sedang mencoba untuk memastikan keadaan sang istri. Tangan yang dari tadi menempel pada dahi kini perlahan turun menyentuh bagian perut Elsaliani, dengan cepat Elsaliani langsung mencegah tangan Iqbal agar berhenti menyentuhnya.
"Mas, El benar-benar memohon sama mas, tolong izinkan dia tetap berada dalam rahim El, kelak El tidak akan pernah mengungkit bahwa dia adalah anaknya mas, El tidak akan mengusik kehidupan mas, tolong! anggap saja dia adalah hadiah yang mas berikan untuk hidup El sebelum semua ini berakhir. Meski mas tidak pernah menoleh kearah El, meski mas sama sekali tidak mencintai El, tapi paling tidak biarkan bayi ini menjadi satu-satunya orang yang akan El jaga dan cintai sepenuh jiwa dan raga El, hingga akhir hayat El. El mohon mas, biarkan El memiliknya!"
"Kenapa mas harus memberikan dia untuk El?"
"Mas tolonglah! dia sama sekali tidak bersalah lalu kenapa dia harus mas bunuh? disini yang salah adalah El, maka El lah yang harus menanggung semua ini, bukan dia!"
"Apa mas mengatakan bahwa mas akan membunuhnya?"
"Jadi, boleh El memilikinya?" Tanya Elsaliani dengan raut wajah yang mulai tersenyum bahagia, bahkan tanpa rasa takut kedua matanya mulai menatap lekat wajah Iqbal.
"Tidak!"
__ADS_1
"Mas, kenapa mas tidak mengizinkan El untuk memilikinya? El janji, El tidak akan menceritakan tentang dia pada siapapun."
"Mas sendiri yang akan menjaga dia!"
"Maksud mas?"
"Kita jaga dia sama-sama! dia milik kita, dan kita harus sama-sama menjaga dia dengan sepenuh hati!" Jelas Iqbal dengan tangan yang mulai mengelus perut rata Elsaliani yang tertutupi dengan kemeja biru yang ia kenakan.
"Terima kasih, terima kasih banyak. El bahagia sekali, terima kasih karena mengizinkan El untuk memilikinya!" Ucap Elsaliani dengan penuh kebahagiaan.
Elsaliani segera bangun lalu duduk manis menatap Iqbal yang masih duduk di sisinya. Dengan senyuman menawan Elsaliani langsung mengecup kening Iqbal lalu memeluk erat tubuh sang suami.
"Apa kamu sebahagia ini? apa setelah ini kamu berencana untuk menghabiskan semua cinta dan sayangmu untuk dia? lalu bagaimana dengan mas? apa kamu akan mencampakkan suami tampan mu ini?" Goda Iqbal sambil mengusap lembut punggung Elsaliani.
"Iya, ini adalah hari paling bahagia dalam hidup El. El akan terus mencintai kalian berdua, sampai tidak ada lagi celah hati ini untuk merasakan perasaan selain cinta dan sayang untuk mas dan baby kita." Jelas Elsaliani.
Elsaliani melepaskan pelukannya, ia terus saja tersenyum memamerkan seluruh gigi putih yang berjajar rapi, senyuman itu seakan tidak akan hilang dari wajah polosnya.
"Baby, baik-baik di sana ya. We love you, sampai berjumpa sembilan bulan kemudian!" Ujar Iqbal dengan senyuman termanisnya.
--------------------------------------
"Ayo turun! kita udah sampai." Pinta Iqbal ketika mobil yang di kemudikan olehnya berhenti tepat di parkiran sebuah gedung yang bernuansa putih bersih.
Suasana terasa begitu sepi, hanya ada beberapa orang saja yang silih berganti datang dan pergi. Mata Elsaliani terus saja menoleh ke sana-sini berharap dia tau tempat apa yang sedang ia datangi. Disaat Elsaliani masih kebingungan, Iqbal langsung membuka sabuk pengaman yang terpasang di badan Elsaliani, lalu kembali meminta sang istri untuk segera turun.
"Cepat! mas buru-buru!"
"Mas, kita ada dimana?" Tanya Elsaliani yang mulai diliputi rasa takut.
"Jangan mengajukan pertanyaan konyol El, kita turun sekarang! jangan buat mas untuk mengulangi lagi ucapan mas!" Tegas Iqbal dan kali ini langsung keluar dari mobil.
__ADS_1
Elsaliani ikut keluar, lalu segera mengikuti langkah sang suami, hingga keduanya terhenti tepat di sebuah meja yang memajang tulisan Resepsionis di atasnya. Di sana terlihat jelas dua orang wanita yang siap melayani dengan senyuman lebar yang di pasang di wajah keduanya.
"Saya yang buat janji tadi pagi!" Jelas Iqbal.
"Baik, atas nama bapak?" Tanya salah satu dari keduanya dengan ucapan yang begitu lembut.
"Bapak Ardimas." Jawab Iqbal.
"Baik. Silahkan bapak dan ibu tunggu sebentar!'
"Oke!" Jawab Iqbal dan langsung duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari meja resepsionis tersebut.
Elsaliani yang tidak berani untuk bertanya hanya bisa mengikuti Iqbal dan duduk di sebelahnya. Sejenak mata Elsaliani memperhatikan pasangan yang sedang duduk tepat di hadapannya, sang wanita yang terlihat jelas begitu gelisah dan terus saja menunduk dengan tangan yang sedari tadi terus memegang perutnya sedangkan sang lelaki yang berada di sampingnya terlihat sibuk menenangkan sang wanita.
"Ron, aku takut! aku takut banget, bagaimana kalau semuanya tidak akan berjalan sebagaimana yang kita rencanakan? bagaimana kalau malah sesuatu yang buruk terjadi?" gundah sang wanita dengan air mata yang perlahan mulai menetes dari ujung matanya.
"Sayang kamu tenang aja, ini tempat yang paling bagus, aku jamin kalau semuanya akan baik-baik saja." Jelas sang lelaki yang bernama Roni.
"Roni, anak ini sama sekali tidak bersalah! haruskah kita membunuhnya?"Lirih sang wanita lalu menyentuh wajah sang kekasih.
"Sayang, masa depan kita masih panjang. Oke fine, dia memang tidak bersalah, tapi dia datang di waktu yang tidak tepat, kita baru saja lulus SMA sayang, masih banyak hal yang harus kita lakukan. Kita harus mencegahnya datang ke dunia ini, aku harap kamu mengerti maksud aku, percaya sama aku, kalau semuanya pasti akan berjalan sesuai dengan rencana kita." Jelas Roni lalu merangkul tubuh sang kekasih, mencoba menenangkan perasaannya yang begitu kacau.
Penjelasan dari Roni sontak membuat Elsaliani ketakutan, dengan cepat Elsaliani bangkit dari duduknya dan lekas berlari kecil menuju pintu keluar tanpa lagi peduli dengan suara Iqbal yang terus memanggil namanya dengan begitu lantang. Elsaliani terus saja mempercepat langkahnya, ia berlari keluar hingga tanpa sengaja tubuhnya malah menabrak seorang wanita yang mengenakan masker berwarna hitam di wajahnya.
" Heiii! kalau jalan matanya di pakek! bikin kesal aja nih orang." Teriak gadis tersebut karena ulah Elsaliani yang membuat dia terjatuh ke lantai.***
_____________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTe@ Ya teman-teman😊😊
Your mine so much to me, tetap setia sama Cinta Elsaliani ya🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️