Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
70.


__ADS_3

Pagi ini Iqbal terlihat begitu tampan dengan kaos berwarna biru tua di padu dengan jeans yang berwarna putih dengan model favoritnya, apa lagi kalau bukan jeans yang mengexspos bagian kedua lutut indahnya. Setelah puas dengan penampilannya, Iqbal segera keluar dari kamar, ia terus melangkah mencari sosok sang istri yang sejak dua jam yang lalu keluar dari kamar.


"Sayang...." Panggil Iqbal ketika ia berada di dapur.


Namun Elsaliani tidak berada di sana, dapur terlihat begitu sunyi, hanya ada sarapan yang tertata rapi di atas meja makan.


"Sayang...."


Iqbal terus memanggil sembari kembali mencari ke setiap ruangan, namun hasilnya tetap sama, Elsaliani sama sekali tidak ada. Dengan rasa khawatir yang mulai mendera, Iqbal mempercepat langkahnya untuk ke teras, lalu beralih ke halaman belakang, namun tetap saja ia tidak menemukan Elsaliani.


"Kemana perginya? sayang....jangan buat mas khawatir." Gundah Iqbal lalu kembali berlari kedalam.


Satu persatu ruangan di datangi Iqbal, hingga ia sampai di kamar tamu yang dulu ditempati oleh Elsaliani. Kaki Iqbal seakan terhenti ketika ia melihat Elsaliani yang duduk di lantai tepat di depan pintu kamar mandi dengan satu tangan yang bertumpu di lantai dan yang satu lagi masih menggenggam erat gagang pintu kamar mandi.


"Sayang...." Seru Iqbal dan langsung berlari menghampiri Elsaliani.


Dengan cepat Iqbal segera mengangkat tubuh Elsaliani lalu meletakkannya di atas kasur.


"Mas sakit, sakit banget." Tangis Elsaliani.


"Dimana yang sakit? kita ke rumah sakit sekarang!" Tegas Iqbal.


"Nggak usah mas, El nggak mau ke rumah sakit." Jelas Elsaliani.


"Tapi sayang harus di periksa. Mas nggak mau sayang kenapa-napa!"


"El oke, cuma keram sedikit aja."


"Kamu yakin?"


"Iya, udah mas nggak usah panik."


"Lagian kenapa sayang ke kamar ini? ngapain?"


"Mau mandi, El udah ke kamar mas tadi, cuma mas lagi mandi." Jelas Elsaliani.


"Kamar mas?"


"Kamar mas, yang itu. Yah, ini kamar mas juga sih."


"Sayang, apa bagi sayang mas masih seperti orang asing? kenapa masih memperlakukan mas seperti ini?"


"Maksud mas? apa El buat salah lagi? Maafkan El!"


Dengan cepat Iqbal langsung mendekap tubuh Elsaliani.


"Sayang, mas tau perlakuan mas yang dulu sudah cukup membuat sayang trauma dan takut, mas salah, mas minta maaf. Tapi tolong sayang, jangan lagi menjaga jarak dari mas. Nggak ada lagi istilah kamar mas atau kamar sayang, semua aset di rumah ini milik kita, tolong perlakukan mas layaknya seorang suami, bukan sebagai majikan." Jelas Iqbal.


"Mas..."


"Mas tau, semua ini nggak mudah bagi sayang, apa lagi kelakuan mas yang selama ini, tapi mas mohon beri mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Mas, sungguh El nggak pernah bermaksud menjaga jarak dari mas. El hanya sedikit berhati-hati, agar El tidak melampoi batas. El nggak mau membuat mas risih dengan El."


"Sayang adalah tanggung jawab mas dunia akhirat, jadi mas nggak akan pernah merasa risih, terbeban, kesal atau apalah namanya itu karena sayang adalah nafas dalam setiap detak nadi mas." Jelas Iqbal.


"Terima kasih." Ucap Elsaliani penuh dengan rasa bahagia.


"Sekarang gimana keadaan sayang? apa masih keram?" Tanya Iqbal.


"Udah baikan. Mas mau kemana?"


"Mas mau ke rumah kak Erina. Sekarang kita sarapan habis itu mas bantu sayang buat siap-siap."


"siap-siap?"

__ADS_1


"Iya. Sayang temani mas ke rumah kak Erina."


"Beneran?"


"Iya."


"Asyik, jalan-jalan!"


"Girang banget!"


"Iya, El suka jalan sama mas. Ayo kita siap-siap sekarang!" Ajak Elsaliani yang langsung turun dari tempat tidur lalu segera ke kamar mandi.


"Mau kemana?"


"Mandi!"


"Mas bantu."


"Stop! mas kan udah rapi, ntar mas basah lagi. Udah El bisa sendiri, mas tunggu aja di sini."


"Oke, kalau ada apa-apa, cepat panggil mas! mas akan tunggu di sini."


"Iya mas!"


Elsaliani langsung masuk ke kamar mandi dan Iqbal kembali duduk di kasur dengan mata yang terus saja memantau ke arah kamar mandi.


-----------------------


Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya mobil Iqbal berhenti di depan sebuah rumah minimalis, dengan halaman yang begitu indah.


Iqbal keluar dari mobil lalu segera menekan bel yang terpasang di sisi kanan gerbang, setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya gerbang terbuka, sosok Erina keluar dari balik gerbang, kedatangan Erina membuat Elsaliani juga ikut turun dari mobil.


"Assalamualaikum!" Ujar Iqbal.


"Wa'alaikum salam. Iqbal, ayo masuk!" Ajak Erina.


"Ada tuh, lagi main di teras." Jawab Erina sambil menunjukkan kearah teras di mana kedua jagoannya sedang bermain riang.


"Selamat siang kak!" Sapa Elsaliani.


"El, ya ampun ibu hamil ikut juga, pasti capek banget kan duduk berjam-jam di mobil dengan perut yang sangat besar, ayo El masuk, istirahat dulu!" Jelas Erina dan langsung merangkul Elsaliani membantunya untuk masuk.


"Jadi aku di tinggal nih?" Tanya Iqbal.


"Biasanya juga langsung nyosor sendiri! Ayo El, biarkan saja dia dengan mobilnya." Jelas Erina dengan senyuman lebar.


Elsaliani langsung mengikuti Erina untuk masuk, sedangkan Iqbal kembali ke dalam mobil lalu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Erina.


Iqbal kembali bergabung dengan yang lainnya yang telah lebih dulu duduk di bangku yang ada di teras.


Elsaliani yang masih melepas lelah sambil duduk bersandar puas dengan kedua kaki yang menjulur di atas meja. Di sisi kanan dan kiri Elsaliani ada Rakes dan Roger yang terlihat begitu akrab dan asyik dengan omongan mereka. Hanya ada mereka bertiga, sedangkan Erina kembali ke dalam untuk mengambil minuman dan beberapa cemilan untuk Elsaliani.


"Apa om sudah terlupakan?" Tanya Iqbal.


"Om Iqbal..." Seru Rakes dan Roger hampir bersamaan.


Kedua bocah tersebut langsung berlarian memeluk Iqbal.


"Kangen banget sama om,,," Jelas Roger dengan mengecup ke dua pipi Iqbal.


"Om juga kangen" Ucap Iqbal lalu mengecup pipi keduanya secara bergantian.


"Om, apa aku boleh minta sesuatu sama om?" Tanya Rakes.


"Tentu, sayang mau minta apa?"

__ADS_1


"Tapi om harus janji, kalau om akan memberikannya." Tegas Rakes.


"Oke, om janji!" Jawab Iqbal tegas.


"Aku mau melamar baby! Baby akan jadi istri aku. Om sudah berjanji akan memberikannya, berarti aku sekarang adalah calon menantu om!" Jelas Rakes.


Permintaan Rakes sontak membuat Elsaliani dan Iqbal saling menatap, hingga akhirnya tawa keduanya pecah.


"Rakes, tante cuma bercanda! kamu nggak harus menanggapinya seserius itu!" Jelas Elsaliani yang memang lebih dulu meminta Rakes untuk menjadi menantunya kelak.


"Tapi aku serius tante. Baby pasti akan secantik tante, jadi aku harus melamarnya sekarang sebelum nanti harus rebutan dengan para lelaki lainnya." Jelas Rakes.


"Oke, om setuju!" Jawab Iqbal.


"Aku nggak setuju! aku juga mau lamar baby!" Tegas Roger.


"Tapi aku duluan!" Gumam Rakes.


"Melamar? tuh PR nya yang udah melamar kalian, sana di kerja kan!" Jelas Erina yang baru bergabung dengan nampan yang membawa minuman dan cemilan.


"Ayo di minum dulu airnya El!" Lanjut Erina.


"Terima kasih kak!" Ucap Elsaliani yang langsung mengambil gelas yang berisi sirup merah lalu meneguknya hingga habis.


"Haus banget ya sayang?" Tanya Iqbal.


"Hmm..." Jawab Elsaliani.


"Baby mungkin yang haus, ayo tante di minum lagi, calon istri aku pasti masih haus." Jelas Rakes sambil menyodorkan gelas yang masih berisi sirup.


"Yang ini aja tante!" Tegas Roger yang juga ikut menyodorkan gelas minuman.


"Biar mama yang minum, sekarang cepat masuk dan kerjakan PR kalian!" Tegas Erina lalu mengambil gelas dari tangan kedua putranya.


"Baiklah..." Jawab keduanya patuh.


"Sekarang calon menantu tante selesaikan PR nya dulu, nanti kita main lagi ya bareng tante!" Ujar Elsaliani.


"Baik tante!" Jawab Rakes penuh semangat dan segera berlari ke dalam.


"Sayang deh sama tante." Ucap Roger lalu mengecup pipi Elsaliani dan segera masuk.


"Mereka lucu banget!" Jelas Elsaliani setelah kedua bocah itu benar-benar masuk.


"Begitulah mereka El, kadang ngeselin tapi juga bikin terenyuh. Terkadang begitu kekanak-kanakan, namu mendadak dewasa jika sedang ada masalah." Jelas Erina.


"Kak, sebenarnya aku kesini karena ingin menyampaikan berita tentang abang Hadi." Jelas Iqbal.


"Apa Rakes yang mengadukannya pada mu?" Tanya Erina.


"Hmmm. Kak, kenapa diam aja? kenapa tidak cerita sama aku? abang Hadi cuma di tugaskan selama tiga bulan, tapi sudah tujuh bulan belum juga kembali, kenapa kakak hanya diam? dan yang lebih parah lagi, selama dua hari ini abang Hadi tidak bisa di hubungi dan kakak masih diam aja. Kak, abang Hadi pergi karena menggantikan posisi aku, jadi aku bertanggung jawab atas kepergian Abang Hadi." Tegas Iqbal.


"Kakak hanya tidak mau membuatmu susah, maafkan kakak!" Pinta Erina dengan tetesan air mata.


"Kak Erina." Ujar Elsaliani lalu merangkul tubuh Erina.


"Semalam aku sudah mendatangi komandan yang menugaskan dan yang bertanggung jawab atas abang Hadi." Jelas Iqbal.


"Jadi bagaimana? apa solusinya?" Tanya Erina.


"Hmmm........" Jelas Iqbal.***


___________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊

__ADS_1


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2