Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
57.


__ADS_3

Tubuh Iqbal masih terbaring kaku tak sadarkan diri di atas tandu ambulans, ambulans terus melaju membelah jalan malam. Elsaliani terus saja menangis dalam diam dengan pandangan yang terus memandang kearah Iqbal, seorang petugas 119 terus memantau keadaan Iqbal, sedangkan Mikeal sedari tadi terus berusaha untuk menghentikan darah yang terus keluar pada bagian dada Iqbal dengan menekan bagian luka tersebut dengan kemeja miliknya.


"Abang Iqbal bertahanlah! aku tau Abang itu kuat, sebentar lagi kita akan sampai." Gumam Mikeal dengan perasaan yang khawatir, resah, takut kini telah bercampur menjadi satu.


Sebuah mobil sedan hitam lebih dulu sampai di depan UGD sebuah rumah sakit besar, dengan sigap Hendra, Luqman dan Alam langsung berhambur keluar dari mobil tersebut lalu segera berteriak memanggil petugas rumah sakit, dalam sekejap beberapa perawat dan dua orang dokter telah bersigap di depan UGD. Di saat ambulance yang membawa Iqbal datang, para petugas langsung menyambutnya dan segera melakukan pertolongan. Mikeal dan Alam ikut membatu para petugas rumah sakit mendorong tandu yang mengangkut tubuh Iqbal hingga ke depan ruang operasi.


"Pastikan tidak ada yang tau dengan identitas pasien ini, selamatkan dia, ingat pastikan dia selamat!" Tegas Mikeal ketika Iqbal telah berada di ruang operasi.


"Saya akan mengusahakan yang terbaik, berdoalah untuk keselamatannya. Baik, kami akan segera melakukan operasi pada pasien, bapak silahkan mengurus admistrasi lebih dulu." Jelas dokter lelaki yang terlihat masih seumuran dengan Mikeal.


" Lakukan yang terbaik, atau akan aku hancurkan rumah sakit ini!" Gumam Mikeal disertai dengan ancaman yang ia lontarkan dengan lantang.


"Saya permisi!" Ujar dokter tersebut dan langsung masuk ke ruangan operasi bersama dengan doa orang dokter lainnya.


"Kamu tunggu disini biar aku yang urus sisanya." Jelas Alam dan langsung melangkah menuju resepsionis rumah sakit tersebut.


-------------------------


"El, apa kamu masih mau tetap di sini? semua akan baik-baik saja, tenanglah! kapten adalah lelaki kuat, dia bisa melewati semua ini dengan mudah." Jelas Hendra.


Elsaliani masih saja mematung di dalam ambulance dengan tatapan kosong, ia bahkan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Hendra yang sedari tadi terus membujuknya untuk turun dari ambulan.


Perlahan tangan Hendra menyentuh bahu Elsaliani membuat wanita tersebut tersentak dari lamunannya lalu menatap wajah Hendra yang sedari tadi duduk di sisinya.


"Ini hanya mimipi kan? mas Iqbal baik-baik saja kan?" Tanya Elsaliani dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.


"El, sebaiknya sekarang kamu ikut masuk! tolong jangan begini, aku tau kamu ketakutan dan aku juga merasakan hal yang sama. Tapi percayalah, semuanya akan baik-baik saja." Jelas Hendra dengan wajah sendunya.


"Jadi ini sungguhan? Abang Hendra, bagaimana ini, apa yang harus El lakukan? El nggak mau kehilangannya." Jelas Elsaliani.


"Dia nggak akan kemana-mana, Iqbal akan terus ada bersama kita." Tegas Hendra.


Hendra segera merangkul tubuh Elsaliani yang semakin melemah, lalu menuntunnya turun dari ambulans, keduanya terus menelusuri rumah sakit hingga keduanya sampai di depan ruang operasi.


"Apa El baik-baik saja?" Tanya Alam yang melihat kedatangan Elsaliani dan Hendra.


"Seperti yang kalian lihat, dia begitu syok dengan kejadian ini." Jelas Hendra yang membimbing Elsaliani untuk duduk di samping Alam, lalu di susul dengan Hendra yang duduk di samping Elsaliani.

__ADS_1


"Iqbal akan secepatnya sembuh, hanya karena terkena peluru dia tidak akan mati, dia sudah pernah terluka lebih parah dari saat ini, jadi kalian tidak perlu khawatir. Dia itu monster, dia nggak akan tumbang hanya karena luka kecil." Jelas Luqman yang baru saja bergabung di depan ruang operasi.


Luqman baru saja selesai melapor kejadian tadi ke markas. Setelah menjelaskan semua detil kejadian melalui ponsel kepada pimpinan lalu Luqman segera kembali menemui yang lainnya yang sedari tadi sedang menunggu hasil operasi Iqbal.


"Iya, dia bukan manusia, dia pasti akan baik-baik saja. Serigala kita akan baik-baik saja." Tegas Mikeal dengan kedua tangan yang terus menggenggam satu sama lain.


"Ini semua terjadi karena El, seandainya saja dia tidak melindungi El pasti semua ini tidak akan terjadi." jelas Elsaliani.


"Ini semua bukan salah mu, El. Ada atau nggaknya kamu, dia tetap akan terluka. Ini sudah bagian dari takdirnya sebagai seorang tentara." Jelas Alam.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Kejadian ini murni kecelakaan, yang terpenting saat ini adalah kita berdoa untuk keselamatan Iqbal." Jelas Luqman.


(Mas, El lebih senang jika mas marah dan bersikap brutal pada El dari pada El harus kehilangan mas. El nggak mau mas pergi lebih dulu dari El, karena El sekarang begitu bergantung pada mas, El benar-benar nggak bisa tanpa mas. Jika maut memisahkan kita El harap El adalah orang yang lebih dulu pergi, dengan begitu El tidak harus menjalani hari tanpa mas. Bangun mas, baby butuh mas, El nggak bisa merawat baby seorang diri, so please don't live me!) Bisik hati Elsaliani yang begitu dipenuhi dengan rasa takut akan kehilangan Iqbal.


Di saat semuanya begitu larut dengan doa mereka masing-masing, di saat itu pula pintu ruang operasi terbuka, dokter laki-laki tadi keluar dari ruang tersebut, membuat kelima anak manusia yang menunggu langsung bangun dari duduk mereka lalu segera mengerumuni dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Mikeal yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


"Kami sudah mengeluarkan dua peluru yang merobek bagian dadanya, kondisi dia stabil, dia pasti lelaki yang sangat tangguh. Untuk saat ini pasien masih tertidur karena pengaruh obat bius, pasien akan segera di pindahkan keruang inap." Jelas dokter.


"Terima kasih banyak dok! apa kami boleh menemuinya sekarang?" Tanya Alam.


"Kalian boleh menemuinya setelah pasien di pindahkan keruang inap, bersabarlah sebentar. Teman kalian benar-benar kuat, bahkan dua peluru pun tidak bisa membuat kondisinya kritis." Jelas Dokter.


"Dia serigala berkedok manusia, lima peluru sekalipun tidak akan membuatnya tumbang." Gumam Hendra dengan penuh rasa bangga.


"Baiklah kalau begitu saya permisi." Jelas Dokter.


"Oke, sekali lagi terima kasih banyak dok!" Ucap Luqman lalu menjabat tangan sang dokter.


Kelimanya terlihat begitu lega dengan kabar dari dokter barusan. Dokter pun melangkah meninggalkan mereka, namun langkah sang dokter kembali terhenti ketika matanya yang tanpa sengaja menatap Elsaliani yang masih berdiri di samping Hendra.


"Elsaliani...!" Seru dokter.


Suara dokter yang menyebutkan nama Elsaliani membuat keempat lelaki yang berada di situ segera mengarahkan pandanganya pada Elsaliani. Elsaliani yang menyadari ada yang menyebut namanya pun kini mulai menoleh kearah pemilik suara tersebut.


"Abang Luthfan!" seru Elsaliani seolah tidak percaya kalau lelaki yang memakai jubah operasi yang berdiri di hadapannya adalah orang yang ia kenal dengan begitu baik.

__ADS_1


"Ternyata benar kamu Nurul Elsaliani. Kenapa disini? apa hubunganmu dengan pasien?" Tanya Dokter Luthfan.


"Dia..." Penjelasan Elsaliani langsung terhenti karena para perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi sambil mendorong ranjang di mana tubuh Iqbal masih terbaring lelap.


"Pasien akan langsung di bawa keruang rawat inap VIP sebagaimana permintaan dari pihak keluarga." Jelas Salah seorang perawat.


"Terima kasih." Ucap Alam.


"Kapten akan segera tiba di ruang rawat, terus perketat penjagaan, jangan sampai lengah, jangan biarkan pihak manapun tau tentang keberadaan kapten." Jelas Luqman sambil menyentuh daun telinga kanannya.


"Siap, perintah di laksanakan!" Jawab mereka serentak, yang terdengar keras di telinga Luqman.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu El. Aku akan kembali menemui mu!" Tegas Luthfan dengan senyuman dan bergegas meninggalkan Elsaliani bersama yang lainnya.


Kini semuanya telah sampai di ruang rawat inap VIP, di mana kedepannya Iqbal akan dirawat hingga ia benar-benar di dibolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya.


Dari luar ruangan tampak para tentara yang terus berjaga di setiap sisi, mereka terus memastikan bahwa ruangan tersebut tidak di masuki oleh siapapun selain sang istri, anggota tim pasukan khusus dan dokter yang bertanggung jawab atas Iqbal.


Elsaliani terus duduk di samping Iqbal dengan mata yang tak pernah beralih dari wajah sang suami, sedangkan di sisi kanan Iqbal ada Mikeal dan Luqman yang sedari tadi juga tidak beranjak memantau keadaan Iqbal.


Alam dan Hendra masih setia berdiri di kaki ranjang Iqbal, masih menunggu sang kapten membuka mata, lalu bersiap menerima ocehan dan Omelan sadis dari mulut Iqbal, yang biasanya akan terus mengoceh setelah mereka menyelesaikan sebuah misi.***


________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VoTe@ ya manteman semua@😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani ya😉😄


Your Mine So, So Much To Me😘😘


Terima kasih atas semua dukungan n saran@ selama ini🙏🙏


Semoga nih novel bisa tetap jadi bacaan favorite manteman🤭🤲


Sarangeo ♥️♥️♥️


KaMsaHamida ♥️

__ADS_1


__ADS_2