
Setelah solat magrib berjamaah, membaca beberapa ayat Al-quran dan di akhiri dengan bermunajah doa bersama. Setelah semuanya selesai Iqbal langsung membantu Elsaliani untuk melepaskan mukenah dan sarung yang ia gunakan untuk solat. Melipat rapi semua perlengkapan solat keduanya, lalu membantu Elsaliani untuk duduk di sofa dekat jendela.
"Sayang mau makan apa? biar mas siapkan." Jelas Iqbal yang ikut duduk di samping Elsaliani.
"El, nggak mau apa-apa mas! Hmmm...jam berapa mas pergi ke rumah pak Vikram?" Tanya Elsaliani.
"Sebentar lagi, kenapa sayang?"
"Nggak apa-apa, cuma mastiin aja!"
"Sayang, mas ke sana karena urusan pekerjaan bukan karena hal lainnya." Jelas Iqbal.
"El tau, dan El percaya sama mas. Tapi El tetap saja khawatir!"
"Sayang..."
"Jangan salah paham, mas. El khawatir tentang mas, El nggak mau sampai mas menyelesaikan semua ini dengan emosi. El tau jika mas marah, apa pun bisa mas lakukan, El hanya takut kalau mas sampai nekat sama pak Vikram karena walau bagaimanapun beliau tetap atasan mas."
"Sayang, mas janji, mas akan selesaikan masalah ini dengan baik." Tegas Iqbal.
"Baby jagain uma ya, ayah harus pergi, nggak akan lama kok!" Lanjut Iqbal.
"Iya ayah." Jawab Elsaliani dengan senyuman lalu berusaha memeluk sang suami meski terhalang oleh perut buncitnya.
"Love you baby, love you sayang!" ucap Iqbal mengecup lembut perut Elsaliani lalu beralih pada kening Elsaliani.
Keduanya terlihat asyik bermanja-manja, hingga suara bel membuat keduanya menghentikan tawa bahagia mereka.
"Akhirnya bocah itu sampai juga?" Jelas Iqbal.
"Apa mas meminta abang Mikeal untuk menemani mas?"
"Bukan untuk menemani mas, tapi untuk menjaga sayang!" Jelas Iqbal.
"Bagaimana kalau yang datang justru abang Luqman?"
"Luqman? kenapa dia kesini? apa sayang memintanya datang untuk menemani sayang?"
"Iya, El memang meminta abang Luqman untuk ke sini, bukan untuk menemani El tapi untuk menemani mas."
"Sayang, kenapa tidak bertanya dulu sama mas?"
"Mas, El mohon! El nggak mau kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama mas. Please, pergilah dengan abang Luqman!"
"Baiklah!" Jawab Iqbal.
Iqbal terus menuntun Elsaliani hingga ke pintu depan. Setelah membuka pintu, ternyata yang datang tidak hanya Luqman dan Mikeal tapi Hendra juga ikut serta.
"Hai, selamat malam!" Seru Hendra yang langsung menerobos masuk lalu segera duduk di sofa.
__ADS_1
"Kenapa tikus itu juga ikut?" Tanya Iqbal dengan menatap tajam pada Hendra.
"Dia sedang menginap si rumah aku. Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Luqman.
"Aku ikut!" Tegas Mikeal.
"Kalian semua tetap disini. Aku akan menyelesaikannya." Jelas Iqbal.
"Nggak, aku tidak akan membiarkanmu pergi seorang diri!" Tegas Luqman.
"Tapi...." Keluh Iqbal.
"Mas, El mohon! jangan pergi seorang diri." Pinta Elsaliani.
"Hendra jagain El, Mikeal segera siapkan mobil, kita berangkat sekarang!" Tegas Luqman.
"Oke!" Tegas Mikeal yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Aku akan menjaga El dengan sangat baik. Pergilah, kali ini selesaikan semuanya sampai tuntas bila perlu kita yang berangkat untuk menjemput abang Hadi." Jelas Hendra.
"Baiklah, ingat jaga El dengan baik! Jika sesuatu terjadi sama El maka aku akan menembakkan kepalamu!" Tegas Iqbal.
"Sayang mas akan segera pulang. Sekarang sayang istirahat lah, Hendra akan menjaga sayang dengan baik!" Jelas Iqbal dengan tangan yang mengelus lembut kepala Elsaliani yang terbalut dengan jilbab coklat susu.
"Hmm! mas hati-hati." Ucap Elsaliani lalu mencium punggung tangan Iqbal.
"Ayo!" Ajak Luqman yang bergegas ke mobil.
Elsaliani kembali masuk setelah menutup pintu. Elsaliani duduk di samping Hendra lalu keduanya mulai bercerita menghilangkan rasa canggung di antara keduanya. Hendra yang memang terkenal dengan sikap humorisnya, langsung bisa mencairkan suasana. Berkali-kali Elsaliani ikut tertawa mendengar cerita lucu yang Hendra cerita sedari tadi.
--------------------
"Papa, apa malam ini aku boleh tidur sama papa dan mama?" Tanya Mikeal dengan wajah polos.
Malam ini semua anggota keluarga sedang menghabiskan waktu luang bersama sambil menonton sebuah acara di salah satu stasiun televisi.
Di sofa sebelah kanan ada Arumi, Rizal dan Mikeal yang sedari tadi terus duduk di pangkuan Rizal. Sedangkan di sofa sebelah kiri ada Restu yang di himpit oleh sang istri dan Adinda putri bungsu keluarga tersebut.
"Nggak boleh dong sayang!" Jelas Rahmi yang tak lain adalah ibunya Arumi.
"Kenapa nggak boleh oma?" Protes Mikeal.
"Boleh kok sayang! nggak apa-apa ma, biar Mikeal sama kami aja!" Jelas Rizal dengan memasang senyuman merekah untuk Mikeal.
"Tuh papa aja nggak masalah, oma..." Jelas Mikeal.
"Apa Mikeal nggak pengen punya adik?" Goda Restu.
"Papa...." Seru Arumi yang tersipu malu.
__ADS_1
"Aku mau dedek opa, dedek yang cewek." Jelas Mikeal dengan begitu serius.
"Nah, kalau mau dedek bayi berarti Mikeal nggak boleh tidur sama mama dan papa, tidurnya sama oma saja yang sayang!" Jelas Rahmi.
"Baiklah!" Jawab Mikeal yang langsung pindah posisi kedalam dekapan Rahmi.
"Anak pintar, ya udah ayo kita bobo sayang!" ajak Rahmi dan langsung menggendong Mikeal untuk ikut bersamanya.
"Buatkan papa cucu yang banyak ya Rizal, papa tau, kamu mampu!" Tegas Restu sambil menepuk pundak sang menantu.
"Iya pa!" Jawab Rizal pelan dengan wajah yang telah memerah karena menahan malu.
"Papa apaan sih!" Gumam Arumi kesal.
"Ciee pengantin baru, cieee!" Goda Adinda.
"Tuh kan, gara-gara papa, bocah ini juga ikutan, dasar bocah ingusan!" Gumam Arumi.
"Kakak nih, sewot ja kerjaannya. Ingat kak! marah-marah terus bikin wajah cepat keriput loh..." Goda Adinda.
"Husssh!" Gerutu Arumi.
"Udah Adinda, biarkan mereka habiskan waktu mereka berdua, ayo ke kita istirahat." Ajak Restu yang ikut bangun.
"Ayo pa!" Jawab Adinda lantang.
"Selamat malam kakak and abang ipar!" Lanjut Adinda dengan senyuman nakal lalu berlari mengikuti Restu yang telah lebih dulu meninggalkan ruang keluarga.
"Maafkan adik aku, dia emang kalau ngomong asal keluar aja, omongannya nggak pernah di seleksi!" Jelas Arumi.
"Tapi adinda ada benarnya juga kan?" Jelas Rizal.
"Maksudnya? abang nggak kemakan omongan Adinda kan?"
"Sedikit!"
"Mending kit tidur sekarang!" Jelas Arumi yang segera bangkit dari sofa.
"Yakin mau langsung tidur? Mikeal minta dedek bayi loh!" Goda Rizal.
"Nggak lucu deh!"
"Siapa yang ngelawak? abang serius, ayo sayang kita cetak adik yang banyak untuk Mikeal!" Seru Rizal.
Tangan Rizal langsung mengangkat tubuh Arumi dan segera membawanya ke kamar pengantin baru mereka.***
________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman☺️☺️
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️