Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
12.


__ADS_3

Sejenak, melirik ke arah Iqbal yang masih saja berdiri tenang, tanpa inisiatif untuk mencairkan suasana yang tegang, membuat Elsaliani semakin di relung kepanikan. Elsaliani berulang kali mencoba menenangkan dirinya, menarik nafas dalam-dalam, menatap wajah Rizal yang masih saja menunggu penjelasan darinya.


"Hm,,,sebenarnya, hm,,,,,,tuan, hm,,,,,yah tuan adalah panggilan sayang dari adek buat suami, adek memanggilnya tuan dan sebaliknya dia memanggil adek dengan panggilan NYONYA." Jelas Elsaliani mencoba menyusun skenario yang bisa di mengerti oleh akan sehat Rizal.


"Oke, so so soooooo sweet banget, bikin Abang iri aja, pengen cepat-cepat nikah. Oh ya, maaf Iqbal karena Abang datang tanpa izin kamu lebih dulu."


"Tidak apa-apa Abang Rizal. Lagi pula ini rumahnya El juga kan, jadi Abang bebas datang ke sini, kapanpun Abang mau, kalau begitu aku permisi ganti baju sebentar dan kalian lanjutlah mengobrol lagi, permisi." Jelas Iqbal.


"Baiklah, terima kasih." Jawab Rizal dengan senyuman ramah.


Iqbal langsung melangkah menuju kamar meninggalkan Rizal dan Elsaliani di ruang tamu. Setelah Iqbal menghilang dari pandangan keduanya, dengan cepat Rizal malah mendorong tubuh Elsaliani, mata Rizal terus saja mengisyaratkan agar Elsaliani bergegas mengikuti Iqbal ke kamar.


"Abang kenapa sih? apa?" Tanya Elsaliani yang memang tidak faham dengan isyarat yang di berikan oleh Rizal.


"Sana, ikuti suami adek, dia mau ganti baju loh."


"Terus......?"


"Nurul Elsaliani, dia itu suami adek, tugas adek ya ngurusin dia. Jangan bilang kalau selama ini adek nggak pernah menyediakan segala keperluan dia. Adek nggak mau kan jadi istri durhaka?"


"Oh iya, adek lupa Abang, habis baru temu rindu sama Abang sih makanya jadi lupa sama suami." Jelas Elsaliani dengan senyuman yang memperlihatkan seluruh deretan gigi putih miliknya.


"Adek ke dalam sebentar, Abang tunggu di sini ya!" Tambah Elsaliani.


Elsaliani melangkah menuju kamar tidur Iqbal. Sesampai di depan pintu sana, perlahan Elsaliani memberanikan diri untuk mengetuk pintu, dengan rasa ragu akhrinya i mengetuk pintu tersebut, sesaat kemudian Iqbal membuka pintu kamar dari dalam.


"Maaf, maaf karena mengganggu tuan, tapi, hm,,,begini, hm......"


Elsaliani mencoba untuk menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi, namun suaranya seakan tidak bisa keluar dari kerongkongan, matanya terus saja menunduk, dengan jemari yang memainkan ujung kerudung yang sejajar dengan pinggangnya.


"Masuklah!" Pinta Iqbal lalu kembali masuk ke kamar.


Dengan penuh keresahan dan rasa takut, Elsaliani berjalan mengikuti langkah Iqbal.


"Tolong ambilkan baju untuk aku!"

__ADS_1


"Baik tuan." Jawab Elsaliani dan langsung menuju lemari lalu membukanya.


"Ambilkan kaos putih aku!"


"Yang ini?" Tanya Elsaliani sambil menunjuk ke salah satu kaos berwarna putih yang tersusun rapi diantara ratusan kaos lainnya.


"Bukan yang itu, tapi yang paling atas."


"oh, baiklah."


Elsaliani terus berusaha meraih kaos yang di minta oleh Iqbal, namun sekeras apapun usaha Elsaliani, tangannya tetap tidak bisa meraih kaos tersebut yang memang letaknya di rak paling atas. Mata Elsaliani segera melirik ke sana-sini dengan tujuan mencari kursi, namun dalam seketika Iqbal mendekat dan tangan panjangnya langsung mengambil kaos tersebut.


Sesaat kemudian Elsaliani baru menyadari bahwa sanya Iqbal berdiri tepat di belakang tubuhnya. Elsaliani segera membalikkan badan dengan tujuan agar ia bisa menjauh dari Iqbal, namun yang terjadi malah tubuh Iqbal berhasil menghalangi pandangannya, perlahan tangan Iqbal bergerak lalu menyentuh kerudung Elsaliani yang ia kenakan dengan acak-acakan dan sedikit berantakan. Dengan lembut Iqbal mencoba merapikan kerudung Elsaliani, hal tersebut justru membuat Elsaliani melangkah mundur, namun sayang usaha Elsaliani tidak membuahkan hasil apa-apa karena tubuhnya terhadang dengan lemari besar milik Iqbal.


"Tuan, maaf. Maafkan El." Pinta Elsaliani dengan terbata-bata dan kepala yang tertunduk.


"Boleh aku meminta sesuatu padamu?


"Tentu. Mintalah apapun yang tuan inginkan. El akan mencoba untuk memenuhinya. El..." Penjelasan Elsaliani langsung terhenti karena Iqbal kembali menyentuh dan berusaha untuk melepaskan kerudung yang Elsaliani kenakan, namun dengan spontan tangan Elsaliani langsung menggenggam erat kerudungnya seakan sedang membuat penolakan atas perlakuan Iqbal yang sedang mencoba membuka kerudung yang membungkus kepala Elsaliani.


"Aku ingin melihatmu tanpa kerudung!"


"Jangan, jangan lakukan itu!"


"Kenapa? apa aku tidak boleh melihatmu tanpa kerudung? sebegitu kah kamu....."


"Bukan begitu, maksud El, hm.......El hanya tidak ingin mata indah tuan melihat gadis jelek ini. El gadis yang sangat tidak modis dan juga jelek, baik pakai kerudung ataupun tidak, El tetap sama, tidak ada bedanya. Bagaimanapun penampilan El, El tetaplah gadis jelek yang telah mengacaukan hidup lelaki setampan tuan. Sekali lagi maafkan El."


"Aku tetap ingin melihatnya!"


"Tidak, jangan!" Pinta Elsaliani dengan suara lirih.


Penolakan Elsaliani seolah tidak ada efek apa-apa pada Iqbal. Iqbal bahkan tidak menggubris permintaan Elsaliani sama sekali. Dengan kasar Iqbal melepas paksa kerudung Elsaliani, membuat rambut berantakannya kembali terurai begitu saja hingga menutupi wajahnya, tidak ingin berlama dalam kondisi tersebut, dengan cepat Elsaliani langsung menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.


"Tuan, El....." Ucapan Elsaliani terhenti ketika Iqbal mengecup keningnya, dan perlahan memeluk tubuh Elsaliani dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


(Bagaimana ini? setiap kali tangannya menyentuh aku, seakan ada kehangatan yang begitu menenangkan jiwa ini, apa lagi ketika ia memeluk erat tubuh ini, ingin rasanya tangan ini membalas pelukan hangatnya. Hari ini terus saja berdebar-debar tak menentu dia buatnya. Aku ingin terus berada dalam pelukannya, karena ku temukan kebahagiaan setiap tangan gagahnya merangkul tubuh ini. Sebegitu cinta kah aku kepadanya? dan aku juga takut beranjak darinya, aku benar-benar telah jatuh cinta padamu, suami aku.) Bisik hati Elsaliani dan mulai menitikkan air mata, tangan Iqbal semakin erat mendekap tubuh sang istri dan Elsaliani hanya bisa berdiam diri dan menerima pelukan dari Iqbal tanpa penolakan.


Beberapa menit kemudian, perlahan Iqbal melepaskan pelukannya lalu matanya segera memandang ke wajah Elsaliani yang terus saja berusaha menyembunyikan air mata sedari tadi.


"Maafkan El tuan, dan boleh sekarang El pergi? El ingin mengepac beberapa pakaian."


"Jadi kami benar ingin pulang ke rumah Abi?"


"Hm,,,, iya El merindukan mereka."


"Tidak bisakah....." Ucapan Iqbal langsung terhenti karena Elsaliani langsung menyelanya.


"Baik tuan. El tidak akan mengambil satupun pakaian yang tuan belikan, lagi pula pakaian-pakaian itu tidak cocok dengan gadis seperti El, dan El juga sama sekali tidak pernah mengenakannya meski di rumah ini, jadi tuan tidak usah khawatir, El tidak akan mengambil satupun barang milik tuan. Sekarang apa boleh El kembali ke kamar El?"


"Pergilah...."


"Terima kasih tuan."


Elsaliani segera menuju kamar tidurnya, sepuluh menit berlalu, Ely keluar menemui Rizal yang sedang mengobrol dengan Iqbal di ruang tamu. Elsaliani keluar dengan sebuah koper besar di tangannya dan juga ransel coklat kesayangannya yang terpasang di punggungnya. Elsaliani terus melangkah mendekati kedua lelaki yang terlihat begitu asyik dengan obrolan mereka, kedatangan Elsaliani membuat keduanya berdiri dan menoleh kearah Elsaliani.


"Ngapain adek bawa baju sebanyak itu?" Tanya Rizal yang mulai tidak enak dengan Iqbal atas kelakuan Elsaliani yang membawa koper raksasa.


"Oh, ini semua memang baju-baju lama adek yabg tidak bisa adek pakai lagi. Ayyo Abang kita pulang!"


"Adek! hm,,,baiklah. Iqbal, abang bawa adek sebentar ya, tiga atau empat hari Abang akan mengantarkannya kembali." Jelas Rizal.


"Iya, Abang Rizal." Jawab Iqbal singkat.


"Kalau begitu kami pamit pulang. Sana adek izin dulu sama Iqbal. Abang tunggu di mobil." Jelas Rizal dan segera keluar meninggalkan pasangan suami istri.


"El pamit tuan, maafkan segala kesalahan El selama ini yang berulang kali mengacaukan hidup tuan. Tolong halalkan segala milik tuan yang telah El pakai selama ini, dan akan El usahakan untuk berlama-lama di sana, jadi tuan tidak perlu khawatir, segeralah menikahi mbak Lestari. El selalu mendoakan kebahagiaan tuan dunia akhirat, El pamit pulang, sekali lagi maaf dan juga terima kasih." Jelas Elsaliani panjang lebar lalu menundukkan kepalanya menghormati sang suami.


Entah apa yang terjadi, perlahan Iqbal menyodorkan tangan kanan miliknya kearah Elsaliani, namun Elsaliani seolah tidak meresponnya sama sekali, Elsaliani memutuskan untuk tidak menyambut tangan Iqbal.


"Jangan Korpri tangan tuan, lagi pula Abang Rizal tidak di sini, dia tidak melihat kita jadi tuan tidak perlu berpura-pura lagi. Assalamualaikum." Jelas Elsaliani dan langsung melangkah keluar dari rumah meninggalkan Iqbal yang masih diliputi dengan berbagai hal di pikirannya.***

__ADS_1


__ADS_2