Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
06


__ADS_3

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Iqbal lalu tangannya mencoba menyentuh pundak Elsaliani, dengan cepat secara spontan Elsaliani menghindari sentuhan Iqbal, Elsaliani terus saja merangkak menjauh dari Iqbal, hingga membuat tubuhnya montok di dinding kamar.


"Ta...ta...ta...di pagi, i...tu El yang sa...lah. El yang meminta Abang Mikeal untuk menolong El. Jadi, jika tuan ingin marah, maka El lah orang yang harus tuan marahi, El yang salah. Abang Mikeal sama sekali tidak bersalah"


Elsaliani mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi pagi, meski dengan suara yang terbata-bata dan rasa takut yang mendera di sekujur tubuhnya.


Elsaliani masih saja menangis dengan tubuh yang mulai kembali gemetar. Tanpa tanggapan, Iqbal kembali mendekati Elsaliani, kini tangan Iqbal langsung bergerak lalu menyentuh kening Elsaliani yang terbalut perban, karena luka yang di sebabkan oleh dirinya. Lagi-lagi Elsaliani menghindari sentuhan Iqbal.


"To...long, El mohon jangan pukul El lagi!"


Mendengar permintaan Elsaliani membuat tangan Iqbal langsung terhenti dengan sendirinya. Mata Iqbal terus saja menatap ke arah Elsaliani yang terlihat masih sangat ketakutan, bahkan tangannya terlihat jelas menggenggam erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya terkecuali bagian muka. Perlahan Iqbal melangkah mundur, lalu segera keluar dari kamar tersebut. Setelah pintu kamar tertutup kembali, bayangan Iqbal telah benar-benar menghilang, di saat itu pula tangis Elsaliani pecah, dan tubuhnya terkulai lemas ke lantai.


"Ya Allah, bagaimana ini? apa yang harus hamba lakukan? bagaimana jika dia melakukan hal buruk pada Abang Mikeal? apa yang harus aku lakukan? tolong bantulah hamba-Mu ini ya Allah. Cukup diri ini saja yang di siksa olehnya, hamba memohon padamu ya Allah, jangan Engkau libatkan Abang Mikeal dalam masalah hamba, hamba mohon ya Rahman." Elsaliani terus berdoa dengan air mata.


---------------------------------


Tepat pukul 13.00, perlahan pintu kamar Elsaliani di buka dari luar, dengan langkah kecil Iqbal mendekati tubuh Elsaliani yang terbaring lelap di lantai sudut kamar sana, Iqbal terus mendekati Elsaliani, lalu kedua tangannya langsung memindahkan tubuh lemah tersebut ke atas kasur. Dengan cermat tangan Iqbal kembali membuka perban di kening Elsaliani lalu mengolesi obat pada luka tersebut lalu kembali menutupnya dengan perban. Pandangan Iqbal kini telah beralih pada tangan Elsaliani yang terlihat memar, pandangan itu terus saja tertuju hingga ke anggota tubuh yang lainnya.


Ya ternyata ulahnya tadi tidak hanya membuat kening sang istri terluka, namun tangan dan bahu Elsaliani juga terlihat memar, tidak sampai di situ, wajahnya juga terlihat bengkak.


Tangan Iqbal kembali mengolesi obat pada setiap bagian tubuh Elsaliani yang memar. Aksi Iqbal terhenti ketika tiba-tiba tangan Elsaliani mulai gemetar dan mulutnya mulai bergumam ketakutan.


"Abang, Abang, adek takut. adek benar-benar takut! Abang Rizal tolong jemput adek, Adek ingin pulang." Gumam Elsaliani di alam bawah sadarnya.


Mendengar ucapan Elsaliani sentak membuat Iqbal terus memandang wajah teduh nan polos yang masih terlelap dihadapannya. Tangannya yang sedari tadi menyentuh tubuh Elsaliani, perlahan di tariknya menjauhi Elsaliani, dan kakinya pun ikut menjauh dari Elsaliani.


"Apa yang sebenarnya telah aku lakukan? kenapa aku begitu membenci gadis ini? kenapa aku selalu saja berlaku kasar padanya? kenapa aku terus saja seperti ini?" beribu tanya mulai bermunculan di benaknya. Iqbal mulai gelisah dan ketakutan dengan dirinya sendiri yang mulai tidak bisa menenangkan emosinya, yang selalu saja berlaku kasar pada sang istri.

__ADS_1


---------------------


"Iqbal, bapak dan bunda ingin bicara. duduklah sebentar!" Pinta Adimaja.


Adimaja yang memang sedang duduk di ruang keluarga bersama sang istri tercinta.


Iqbal yang melintasi ruangan tersebut langsung menoleh ke arah kedua orang tuanya yang terlihat memang sedang menunggu kedatangannya.


Iqbal merupakan anak tunggal di keluarganya. bapaknya bernama Adimaja yang merupakan seorang pensiunan tentara angkatan udara dengan pangkat tiga bintang di bahunya. Sang bunda bernama Ayu Hastari Ningsih, yang merupakan seorang putri kiayi pimpinan pondok pesantren, Ayu memiliki silsilah keluarga yang sama dengan orang tua Elsaliani, sama-sama berasal dari keluarga alim. Pernikahan antara Adimaja dan Ayu juga merupakan pernikahan yang di rancang oleh pihak keluarga sama halnya dengan pernikahan Iqbal.


"Ada apa pak? apa mendesak? jika tidak terlalu penting, bisakah bapak dan bunda bicarakan besok saja, soalnya aku benar-benar sangat lelah hari ini." Jelas Iqbal setelah bersalaman dengan kedua orang tuanya.


"Masalah ini harus di bicarakan sekarang jug nak, lagi pula hanya sebentar saja kok, duduklah!" Ujar Ayu sambil bangun lalu kedua tangannya menyentuh bahu Iqbal sembari mengusap-ngusapnya lembut dengan penuh kasih sayang, lalu Iqbal pun ikut duduk di sebelah Ayu


"Memangnya ada masalah apa?" Tanya Iqbal.


"Lalu!" Tanya Iqbal yang mulai penasaran dengan maksud dan tujuan dari cerita sang bapak yang tidak seperti biasanya.


"Waktu itu teman bapak sedang bersama istri dan putri bungsunya. Putri mereka sangat sopan, lembut, Soleha dan bunda senang melihat gadis itu." Jelas Ayu.


"Lalu apa hubungannya dengan aku?" Tanya Iqbal yang mulai memikirkan maksud dari pembicaraan bundanya.


"Bapak melamarnya untuk kamu!" Jelas Adimaja yang langsung membuat Iqbal bangkit dari duduknya, wajahnya berubah menjadi panik.


"Apa? kenapa bapak tidak bertanya lebih dulu pada aku? kenapa melamarnya tanpa sepengetahuan aku?" Tanya Iqbal yang mulai marah dengan sikap Adimaja.


"Bapak yakin, kalau dia adalah jodoh yang terbaik buat kamu. Dia akan membantumu untuk jadi lebih baik, dia akan membimbing kamu menuju Surga kelak." Jelas Adimaja.

__ADS_1


"Lagi pula bunda rasa ia cocok sama kami Iqbal. Bunda ingin dia yang menjadi menantu di rumah ini." Jelas Ayu.


"Yang akan menikah itu aku, bukan bunda ataupun bapak. Jadi aku yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi istri aku. Jadi aku mohon, tolong batalkan rencana bapak dan bunda, aku sudah punya calon istri pilihan aku sendiri."


"Tidak Iqbal, keputusan bapak sudah bulat. Hanya gadis itu yang akan menjadi menantu di rumah ini, bukan gadis lainnya."


"Bapak, aku tidak akan menikah dengan sesiapapun, aku tidak akan menikahi gadis itu."


"Jika kamu menolak untuk menikahi gadis pilihan bapak, maka bapak akan melepaskan seragammu!" Tegas Adimaja dan langsung melangkah meninggalkan ruang keluarga.


Perlahan setelah Adimaja pergi, Iqbal langsung menatap lekat ke arah Ayu, dengan lembut tangan Iqbal langsung menggenggam erat tangan Ayu. Tatapan Iqbal seakan terlihat sedang meminta bantuan dari Ayu untuk mengeluarkannya dari masalah yang kini sedang ia hadapi.


" Bunda, tolong lakukan sesuatu. Bunda tau sendiri kan kalau aku sudah punya kekasih! tolong batalkan perjodohan ini bunda, bunda tidak inginkan kalau hidup aku hancur? bunda ingin melihat aku bahagiakan? aku sama sekali tidak bisa menikahi gadis pilihan bapak dan aku juga tidak bisa melepaskan seragam impian aku ini. Jadi aku mohon, tolong aku bunda, jangan berikan aku pilihan yang tidak bisa aku pilih satupun." Keluh Iqbal.


"Perjodohan ini bunda yang mengusulkannya. Semua ini bunda dan bapak lakukan karena kami ingin melihatmu bahagia, sayang percayalah kalau pilihan kami tidak akan salah. Dia gadis yang baik, Iqbal."


"Bunda, aku mohon...."


"Percaya sama bunda. Ini adalah masa depan terbaik yang bunda tawarkan untuk kamu sayang!" Jelas Ayu dan melangkah meninggalkan Iqbal seorang diri di ruangan tersebut.


Keputusan sepihak yang di buat oleh kedua orang tuanya membuat Iqbal marah dan kecewa. Iqbal benar-benar terlihat sangat marah.


"Jika benar memang ini yang kalian inginkan, maka jangan salahkan Aku jika pernikahan ini tidak akan pernah berjalan sebagaimana yang kalian harapkan. Aku akan membuat bunda dan bapak menyesal karena memilih dia sebagai menantu kalian, akan aku pastikan hidup gadis itu menderita bahkan lebih buruk dari pada neraka. Aku akan membuatnya menyesal karena telah menerima pernikahan ini." Tegas jati Iqbal yang terdengar seolah sedang membuat janji dengan dirinya sendiri.***


Tetap setia di sini ya🥰🥰


jangan lupa tinggalkan jejak LIKE, VOTE n Komen@ ya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2