Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
106.


__ADS_3

"Jadi sayang hanya ingin sama mas ketika sayang baik-baik saja? kenapa mas tidak bisa merawat sayang? sayang dengar, jangankan duduk di atas kursi roda, jika El lumpuh total sekalipun, mas akan tetap terus berdiri disisi sayang, selamanya bagaimanapun keadaan sayang." Tegas Iqbal.


"Bukan begitu maksud El..."


"Lalu kenapa sayang menghilang? kenapa tidak menemui mas?"


"El masih dalam tahap pemulihan, setelah melahirkan baby, El harus menjalani operasi rahim. Maaf! El hanya tidak ingin mas melihat El dalam keadaan seperti ini, El masih tidak bisa berjalan dengan baik, Abang Lutfan bilang, El butuh waktu untuk bisa seperti sediakala."


"Jadi kalian semua memperlakukan mas seperti orang bodoh?"


"Bukan begitu!"


"Cukup El, kamu membuat mas terlihat begitu mengerikan di depan semua orang." Jelas Iqbal yang langsung menjauhkan tubuhnya dari El.


"Mas, maafkan El!" Pinta Elsaliani ketika melihat Iqbal yang memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Mas mau istirahat keluarlah!" Tegas Iqbal lalu kembali berbaring.


"Jika mas berfikir demikian tentang El, maka mas salah besar karena jauh dari lubuk hati El yang terdalam, sungguh bukan itu maksud El."


"El keluar! mas ingin sendiri."


"El malu menemui mas dalam keadaan yang seperti ini. Ketika El masih sehat saja, El merasa begitu tidak bisa berdampingan dengan mas, lalu bagaimana dengan keadaan El yang sekarang ini? El tidak ingin mas melihat El dalam kondisi yang sangat menyedihkan ini. Maafkan El, dan satu hal lagi, mas jangan marah pada siapapun karena mereka semua hanya memenuhi permintaan El sebelum El menjalani operasi, mereka semua nggak salah. maaf dan terima kasih karena sudah kembali dengan selamat." Jelas Elsaliani lalu mencoba menggerakkan kursi rodanya untuk keluar dari ruang rawat Iqbal.


"Maafkan mas karena nggak ada saat sayang begitu membutuhkan kehadiran mas!" Pinta Iqbal.


Dengan cepat Iqbal turun dari ranjangnya lalu segera menghadang Elsaliani dari depan. Lutut Iqbal menekuk lantai, ia terus menatap mata indah Elsaliani yang sedari tadi terus menangis. Perlahan Iqbal menyentuh lembut wajah Elsaliani lalu mengusap kedua pipi sang istri.


"Bagaimanapun keadaan sayang, mas akan tetap bersama sayang. Maaf kerena mas tidak bisa menemani sayang saat lahiran dan juga saat operasi."


"El rindu mas setengah mati, siang malam bayangan mas terus terlintas di ingatan El. El hampir gila dengan keadaan ini." Jelas Elsaliani yang langsung memeluk sang suami.


"Kenapa El tidak jujur sama mas tentang penyakit sayang?"


"Jika El jujur El takut mas akan mengorbankan baby demi El, dan El nggak mau itu terjadi."


"Pasti selama ini sayang begitu kesulitan dan kesakitan, maafkan mas!" Pinta Iqbal.


Iqbal melepaskan tubuhnya dari pelukan Elsaliani, kini tangan Iqbal mulai bergerak menyentuh bagian perut Elsaliani, lalu sedikit menyingkap baju Elsaliani hingga terlihatlah bekas jahitan yang masih begitu jelas.


"Pasti sakit banget kan?" Tanya Iqbal dengan tetesan air mata.


"Bukankah yang ini lebih sakit? jahitannya juga lebih banyak." Jelas Elsaliani yang menyentuh bahu Iqbal yang terbalut perban.


"Mas udah terbiasa, tapi sayang..." Ucap Iqbal lemah lalu menunduk dan mengecup bagian jahitan tersebut.

__ADS_1


"Awwww, mas...!" Jerit Elsaliani dengan wajah yang merah merona.


"Mas hanya ingin mengurangi rasa sakit sayang!"


"Berati El juga harus melakukannya." Jelas Elsaliani yang langsung mengecup perban di bahu kiri Iqbal.


"El kamu harus ist.....!" Luthfan langsung menghentikan ucapannya.


"Aku nggak melihat apa-apa, kalian lanjutkan lagi!" Lanjut Luthfan yang kembali menutup pintu ruangan Iqbal.


"Hadeuuuuh! selalu saja pengganggu muncul setiap waktu!" Gerutu Iqbal.


"Mas, sepertinya El harus kembali ke ruangan El."


"Tapi mas masih rindu." Jelas Iqbal dengan raut wajah Sedih.


"Mas istirahatlah, nanti El akan kesini lagi. Assalamualaikum mas!" Jelas Elsaliani.


Elsaliani langsung mengecup punggung tangan Iqbal lalu kembali menjalankan kursi rodanya dan keluar dari ruangan Iqbal.


----------------


"Bagaimana keadaan abang?" Tanya Mikeal yang baru masuk ke ruang rawat Iqbal dengan disusul oleh Ismail, Adimaja dan Rizal.


"Kalian terlalu berlebihan, ini hanya luka kecil, aku nggak harus dirawat." Jelas Iqbal.


"Yang buat aku drop bukan luka ini, tapi karena kalian menyembunyikan El dari aku." Jelas Iqbal.


"Ini semua permintaan adek, dia mengancam tidak akan melakukan operasi jika kami tidak memenuhi keinginannya." Jelas Ismail.


"Tapi nggak begini caranya, aku hampir gila karena memikirkan El. Apa lagi setelah membaca cacatan yang ada di laptop El, semua itu bikin otak aku berhenti bekerja." Jelas Iqbal.


"Soal laptop, abang minta maaf. Adek meminta abang menyerahkannya pada kamu jika sesuatu yang buruk menimpanya, dan abang juga tidak berniat untuk memberikannya padamu, abang hanya menyimpannya di kamar adek, dan kamu membukanya tanpa sepengetahuan abang." Jelas Rizal.


"Karena tulisan itu aku hampir mati secara mendadak, dada ini sesak, aku tau aku salah, tapi bagaimana bisa aku menebus semuanya jika El benar-benar pergi!" Gumam Iqbal emosi.


"Tenanglah nak Iqbal, abi nggak tau apa isi dari cacatan adek, tapi abi rasa adek mempersiapkan semuanya sejak adek tau kondisi kehamilannya, adek hanya ingin mengucapkan perpisahan dengan manis pada kamu, adek tidak ingin meninggalkanmu tanpa ucapan apapun." Jelas Ismail.


"El pasti begitu mencintai abang, sampai-sampai dia melakukan semua ini untuk abang Iqbal. Aku rasa cinta siapapun tidak akan bisa mengalahkan cinta Elsaliani untuk abang Iqbal, aku jadi iri." Ujar Mikeal.


"Pilihan bapak nggak akan pernah salah, bapak selalu memilih yang terbaik untuk kalian. Kamu juga akan mendapatkan gadis yang akan mencintaimu seperti cinta Elsaliani untuk Iqbal, bapak akan mencarikan jodoh yang baik untukmu, Mikeal." Jelas Adimaja.


"Terima kasih." Ucap Mikeal yang langsung memeluk Adimaja.


"Semoga kamu bisa jadi adik ipar yang baik!" Ucap Rizal yang membuat Iqbal dan Mikeal langsung mengarahkan pandangannya pada Rizal.

__ADS_1


"Bapak melamar Manda?" Tanya Iqbal.


"Hmmmm, selama kalian pergi, bapak juga melakukan tugas dengan baik, keluarga Amanda menerima lamaran bapak, dan setelah Amanda lulus kalian akan langsung menikah." Jelas Adimaja.


"Waaah, terima kasih banyak bapak!" Ucap Mikeal dengan senyuman bahagia.


"Semoga Manda nggak akan menyesal karena menerima kamu!" Cetus Iqbal.


"Ciiih!" Cetus Mikeal.


"Hmmmm, tolong pindahkan aku ke ruang rawat El, aku ingin menjaga El." Pinta Iqbal.


"Abang udah mengurusnya, mungkin sekarang El udah di ruang rawat baru kalian." Jelas Rizal.


"Lalu kenapa kalian malah menyekat aku disini? tunggu apa lagi, pindahkan aku sekarang!" Pinta Iqbal.


"Iya kita pindah sekarang!" Jelas Ismail.


"Terima kasih abi." Ucap Iqbal lalu turun dari ranjang.


"Biar aku bantu." Tawar Mikeal.


"Aku bisa jalan sendiri, tunjukkan saja ruangannya." Jelas Iqbal.


"Gesit banget!" Cetus Iqbal.


"Iqbal, kamu harus tetap jaga kontak fisik dengan El, kondisinya masih belum stabil." Jelas Adimaja.


"Bapak!" Gumam Iqbal segera keluar dari ruangan tersebut kerena malu pada sang mertua karena ucapan Adimaja yang memojokkannya.


"Ingat jaga jarak!" Teriak Rizal.


"Abang jangan buat Iqbal tambah malu lah, macam sendiri nggak pernah nyosor aja." Jelas Ismail.


"Ihhh abi, udah abang susul Iqbal dan Mikeal dulu." Jelas Rizal yang juga ikut keluar dengan beberapa barang Iqbal di tangannya.


"Dasar anak muda sedikit digoda udah pada lari semua!" Ujar Ismail dengan tawa bahagia.


"Udah ayo kita susul mereka!" Ajak Adimaja setelah puas tertawa.***


____________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua@😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2