
Iqbal masih saja tidak bisa tenang meski kini mobil yang ia tumpangi sedang melaju menuju rumah sang mertua. Sedari tadi, selepas turun dari helikopter di markas Iqbal dan Mikeal langsung meluncur pulang, membiarkan Alam, Luqman dan Hendra yang melapor pada atasan. Iqbal masih begitu gelisah, bermacam doa terus ia panjatkan, berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Pinggir sekarang!" Perintah Iqbal dengan tatapan dingin.
"Ada apa? bukannya abang buru-buru pulang? lalu kenapa kita berhenti di sini?" Mikeal balik bertanya.
"Abang bilang tepi sekarang!" Tegas Iqbal.
Mikeal langsung menepikan mobilnya, seketika Iqbal keluar, lalu segera membuka pintu mobil di bagian Mikeal membuat Mikeal menatapnya heran.
"Abang yang akan menyetir! minggir ke sana!"
"Abang! aku di suruh abang Luqman untuk mengantar abang pulang, dia nggak mau abang menyetir dalam keadaan panik seperti ini." Jelas Mikeal.
"Pindah atau turun? abang tidak mengajukan pilihan selain itu."
"Tapi..."
"Cepat, abang nggak punya banyak waktu!"
Mikeal membuang kasar nafasnya, sejenak menatap Iqbal lalu beralih ke kursi penumpang. Iqbal segera masuk dan langsung menjalankan kembali mobil mereka.
Iqbal menambahkan kecepatan hingga lima kali lipat dari yang Mikeal lakukan. Mobil mereka terus menyelip dan menerobos setiap lampu merah, membuat Mikeal menegang, namun Mikeal memilih diam, ia tidak ingin protesnya malah membuat Iqbal semakin menambah kecepatan.
Mobil terhenti tepat di depan gerbang, Iqbal langsung turun lalu berlari masuk tanpa peduli pada Mikeal yang ia tinggal begitu saja di dalam mobil.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Iqbal, ayo masuk!" Ujar Ismail setelah membuka pintu dan melihat ternyata yang datang adalah Iqbal.
"Abi..." Ujar Iqbal lalu mencium punggung tangan Ismail.
"El di mana abi?" Tanya Iqbal.
"Assalamualaikum abi." Salam Mikeal yang baru saja datang setelah memarkirkan mobil di halaman depan.
"Waalaikumsalam, gimana kabar kalian? apa misinya berjalan lancar?"
"Baik abi, semuanya baik-baik saja." Jawab Mikeal setelah bersalaman dengan Ismail.
"Ayo masuk!" Ajak Ismail lalu keduanya ikut masuk.
"Aku permisi ke kamar!" Jelas Iqbal dan langsung berlari ke kamar Elsaliani.
__ADS_1
"El...!" Panggil Iqbal setelah tangannya membuka pintu.
"Iqbal..." Ujar Zulfa yang ternyata sedang duduk di atas kasur sembari melipat pakaian bayi.
"Umi..." Iqbal mendekat lalu menyalami sang mertua.
Suara tangis bayi yang semakin mendekat mengalihkan pandangan Iqbal dan Zulfa ke asal suara tangis tersebut. Perlahan Ayu muncul dengan bayi munyil di dalam gendongannya.
"Bayi siapa? El dimana?" Tanya Iqbal yang sedari tadi terus mencari sosok sang istri tercinta namun tak kunjung ia temukan juga.
"Bayi siapa? apa kamu lupa kalau di rumah ini nggak ada yang hamil selain istri kamu." Jawab Ayu dengan begitu dingin.
Ayu langsung berjalan tanpa peduli pada Iqbal yang menatap pada sosok bayi imut tersebut, Ayu membaringkan sang bayi pada tempat yang telah di siapkan Zulfa, membedongnya dengan rapi setelah memakaikan bedak dan wewangian.
Iqbal yang terdiam kebingungan kini mulai mendekati Ayu dan Zulfa yang sedang sibuk menimang bayi munyil tersebut, tangan Iqbal mulai menyentuh pipi gembul bayi perempuan yang sedari tadi ia tatap, Iqbal mengambil alih bayi kedalam gendongannya.
"Kenapa pulang? bukankah misi kamu lebih penting! pergilah urusi misi mu itu, bunda akan menjaga cucu bunda dengan baik, jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk menjaganya." Jelas Ayu yang kembali mengambil alih baby namun Iqbal mengelaknya.
"Bunda, aku minta maaf! aku salah, harusnya aku pulang dari kemaren, tapi karena ada hal yang tak terduga aku baru bisa pulang sekarang. Bunda di mana El? jangan pisahkan dia dari aku. Umi, katakan di mana El, aku akan membawa dia dan juga baby pulang ke rumah kami." Jelas Iqbal seakan mengiba kepada Ayu dan Zulfa.
"Pergilah, kenapa hanya seminggu? sekarang pergi lagi, tidak usah kembali!" Gumam Ayu dengan tetesan air mata.
"Bunda, aku sudah minta maaf, ini semua bukan inginku!" Jelas Iqbal.
"Tidak salah? pergi meninggalkan istri yang sedang menunggu hari lahiran apa itu nggak salah? kembalikan cucu bunda!" Tegas Ayu dan kembali ingin mengambil baby dari Iqbal.
"Bunda, baby anak aku. Aku berhak atas dirinya, dan juga El, aku sangat merindukannya, tolong katakan dimana El!" Pinta Iqbal.
"Kamu sekarang bicara tentang hak, lalu bagaimana dengan kewajiban kamu sebagai seorang ayah selama ini? apa kamu menjaga bayimu dengan baik?" Gumam Ayu.
"Bunda cukup! aku tidak ingin berdebat. Baby, ayo kita cari uma, baby pengen ketemu sama uma kan? ayah juga, ayo baby?" Jelas Iqbal sambil menatap pada baby yang ada dalam gendongannya.
"Ke ujung dunia sekalipun kamu tidak akan menemukan El!" Tegas Ayu dan langsung keluar dari kamar tersebut.
"Umi, aku tau aku salah, tapi tolong biarkan aku bertemu dengan El, jangan hukum aku seperti ini!" Pinta Iqbal.
"Jika bayimu menangis, panggil umi, umi akan menyiapkan susu untuknya. Bayi kalian cantik, mirip adek bukan?" Jelas Zulfa.
"Umi..."
"Oh ya, kami belum memberinya nama. Jika baby rewel, segera panggilkan umi!" Jelas Zulfa dan langsung keluar meninggalkan Iqbal bersama dengan baby yang selama ini begitu ia nantikan kedatangannya.
"Baby kenapa semuanya seperti menghindari ayah? baby tau, dimana mereka menyembunyikan uma? baby, ada apa ini? ayah minta maaf karena nggak ada saat baby pertama datang, tapi ayah janji, kalau ayah akan selalu menjaga uma dan baby dengan baik." Jelas Iqbal yang kembali mencium pipi kanan dan pipi kiri baby.
__ADS_1
Mata Iqbal yang terus menatap dalam mata baby yang begitu bening persis seperti mata milik Elsaliani, kini mata Iqbal malah teralih pada lantai yang telah merah karena darah yang menetes dari jari Iqbal, darah segar yang berasal dari bahu Iqbal, terus mengalir mengikuti lengan hingga mengotori lantai.
"Baby, sepertinya jahitan di luka ayah terlepas. Baby tidurlah sebentar, ayah akan segera menggendong baby kembali."
Dengan menahan rasa sakit, perlahan Iqbal meletakkan baby di kasur, dan sang baby juga seoalah begitu mengerti keadaan yang sedang terjadi, dia menuruti apa yang Iqbal katakan, dia begitu tenang selama Iqbal membalut luka di bahunya.
"Akhirnya selesai juga. Baby, ah udah tidur rupanya, maaf karena ayah membuat baby menunggu ayah terlalu lama hingga membuat baby tertidur." Ujar Iqbal lalu membenarkan posisi sang baby.
"Ayah sayang baby!" Ucap Iqbal lalu mengecup kening baby.
Iqbal ikut merebahkan tubuhnya di sisi baby, namun semuanya terhenti ketika mata Iqbal tanpa sengaja melirik laptop milik Elsaliani yang tergeletak di kasur, Iqbal beranjak bangun lalu segera meraih laptop tersebut
"Sayang, mas pinjam laptopnya sebentar ya!" Ucap Iqbal lalu segera membuka laptop tersebut.
"Password? sayang, apa semua isi laptop ini adalah privasi sayang, apa drama Korea membuat sayang menjaga laptop ini dengan begitu baik, sampai di pakekkan password segala! hm....apa ya? tanggal lahir sayang!"
Iqbal memulainya dengan tanggal lahir Elsaliani namun salah, lalu kembali dengan tanggal pernikahan, nama Elsaliani, namun hasilnya tetap tidak bisa.
"Semuanya salah? hmmm, mungkinkah....?" Ujar Iqbal yang mulai kewalahan, dan akhirnya memutuskan mencoba dengan menggunakan namanya.
"Iqbal, hahhhh! sebegitu cinta kah sayang sama mas, sampai password laptop aja sayang gunakan nama mas. Oke, mas pinjam ya sayang!" Jelas Iqbal setelah namanya berhasil membuka layar kunci laptop, hingga menampilkan wallpaper yang tak lain adalah foto Iqbal yang lengkap dengan seragam dan atributnya sebagai seorang tentara.
"waaaaaah, drama Korea semua, sampai musik, vidio semuanya Korea, sayang benar-benar pecinta Korea sejati.
"Ahmad Iqbal Ardimas Saka? kenapa ada folder dengan nama lengkap aku? sayang, apa ini?"
Iqbal semakin penasaran melihat namanya menjadi nama salah satu folder yang tersimpan di data-D, membuat jemari Iqbal langsung membuka folder tersebut, hanya berisi sebuah dokumen, membuat Iqbal semakin tertanya-tanya dengan isinya.
setelah meng-klik dokumen tersebut, muncullah tulisan yang terbingkai dengan deretan bunga-bunga indah di keempat sisinya.
#satu....
Jika umi tidak memperlihatkan fotonya, mungkin adek akan terus menolak perjodohan ini, hingga akhirnya adek tau bahwa ia adalah pangeran masa kecil adek, pangeran dengan seragam keren dan juga senyuman yang begitu menawan, tangan kokohnya membuat tubuh munyil adek terhindar dari hantaman tiang.
Umi, apa umi tau, sejak saat itu abang Iqbal adalah nama yang adek sebut dalam setiap doa-doa adek, adek memintanya pada Allah, dan ternyata doa adek Allah kabulkan lewat perjodohan yang abi dan bapak rancang.#
Setelah membaca halaman pertama, seketika Iqbal terdiam, dadanya sesak, air mata mulai menetes, rasa bersalah kian menyerang hati dan jiwanya, membuat emosi kian memintanya untuk memaki dan membenci dirinya yang selama ini begitu menzhalimi Elsaliani.***
___________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n Vote@ ya manteman semua😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️