Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
38.


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian.


-----------------------------------


Di sore yang begitu mendung, hujan rintik-rintik kini mulai berubah menjadi hujan deras yang mulai menguyur bumi. Suara hujan seakan menambah rasa takut yang sedari tadi bersarang di benak Elsaliani, mengapa tidak, semenjak tadi pagi selepas sang suami berangkat kerja, ia terus merasa mual dan pening, badannya juga ikut melemas dan sedikit demam. Hingga di siang hari ia memutuskan untuk ke klinik dengan menggunakan jasa ojek online, dan hasil dari pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa dirinya sedang hamil. Saat ini kandungannya baru berusia tiga Minggu. Kabar tersebut cukup membuat Elsaliani begitu ketakutan, dia masih ingat dengan jelas peringatan Iqbal yang tidak pernah mau punya anak darinya.


Semenjak pulang dari klinik, hingga sore hari Elsaliani masih saja mondar-mandir di depan tempat tidurnya dengan mulut yang terus menggigit kuku dari ibu jari kanannya. Suara gemuruh, petir dan hujan deras semakin membuat Elsaliani tidak bisa mengendalikan rasa khawatir dan rasa takut di sekujur tubuhnya, hingga air mata juga ikut menyertai kegundahannya.


Disaat Elsaliani masih larut dalam perasaan kacau, disaat itu pula pintu kamarnya terbuka dari luar, hal tersebut sontak membuat pandangan Elsaliani langsung teralih ke arah pintu. Yah, di depan pintu sana terlihat jelas Iqbal yang masih berdiri tegap dengan seragam yang terlihat sedikit basah, serta rambutnya juga tampak menitikkan air ke lantai, dia terlihat sedikit kehujanan.


"Sayang, tolong ambilkan handuk!' Pinta Iqbal yang masih berdiri di ambang pintu dengan mengulurkan tangan kearah dimana Elsaliani berdiri.


"Iya, tunggu sebentar." Jawab Elsaliani dan langsung bergegas mengambil handuk lalu segera menyerahkannya pada Iqbal.


"Sayang, tolong ambilkan juga baju mas di kamar sebelah!"


"Baik, hm....mau El ambilkan baju yang mana?"


"Yang mana aja boleh."


"Baiklah, tunggulah sebentar!"


Elsaliani langsung ke kamar Iqbal. Sedangkan Iqbal langsung masuk ke kamar Elsaliani, lalu segera ke kamar mandi. Sepuluh menit berlalu, Iqbal pun keluar dari kamar mandi, matanya langsung melihat kaos dan celana yang tergeletak di atas kasur, sejenak mencari sosok sang istri namun tak ia temukan di sana. Setelah memakai baju dan celana, Iqbal duduk di sofa yang menghadap kearah luar jendela sana, Iqbal terus menatap rintik hujan hingga sebuah tangan menyodorkan segelas susu coklat panas kearahnya.


"Silahkan di minum!" Ujar Elsaliani.


Tangan Iqbal meraih gelas tersebut, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tegukan, cuaca yang dingin membuat dirinya kebal dengan minuman yang masih mengeluarkan asap.


"Duduklah!" Pinta Iqbal lalu meletakkan gelas kosong ke atas meja di dekat sofa.


"Tidak usah tuan!"


"Tuan? El kenapa masih memanggil mas dengan panggilan itu? semenjak sebulan yang lalu kan sudah mas tekankan jangan lagi gunakan panggilan itu!"


"El rasa itu adalah panggilan yang lebih pantas di antara kita.


"Maksud kamu?"


"Sudahlah tuan, lagi pula El lebih nyaman dengan panggilan itu. Dan juga El minta maaf kalau selama ini sudah lancang sama tuan."


"Apa terjadi sesuatu? kenapa hari ini kamu aneh?"


"Tidak!"

__ADS_1


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu berubah? kamu seperti menjaga jarak dari mas, atau mungkin tadi Lestari ke sini, dan mengancam mu?" Tanya Iqbal yang mulai panik.


"Nggak, mbak Lestari nggak ke sini."


"Duduklah! jangan membuat mas mengulangi kata-kata mas."


"Tuan...."


"Duduk!" Tegas Iqbal yang langsung meraih tangan Elsaliani lalu memaksanya untuk duduk, dan akhirnya Elsaliani menurut, ia langsung duduk di sebelah Iqbal.


"Tuan..."


"Berhenti menggunakan kata itu, mas nggak suka!"


"Hmm....maaf! boleh El katakan sesuatu?"


"Katakanlah!"


"Hmm...sebenarnya El mau meminta sesuatu dari tu...hm...mas.


"Mau minta apa? excellent servis kayak semalam?"


"Bukan. Dan soal semalam, El benar-benar minta maaf!"


"Cerai!"


"Maksud kamu?" Tanya Iqbal dengan emosi dan tatapan tajam yang langsung tertuju pada Elsaliani.


"Sebaiknya kita sudahi saja semua ini. El nggak mau terus-terusan jadi penghalang buat kebahagiaan mas dan mbak Lestari."


"Hanya aku yang berhak memutuskan semuanya, kamu hanya harus menunggu sampai mas bertindak. Baik kamu ataupun Lestari, kalian tidak punya hak sama sekali, mas yang akan menentukan akhir dari cerita ini."


"Tapi....."


Ucapan Elsaliani langsung terhenti ketika dirinya kembali merasa pening dan mual, dengan spontan kedua tangannya langsung menggenggam kepalanya.


" Mas, El permisi sebentar." Pinta Elsaliani dengan suara tertahan dan langsung berlari ke kamar mandi.


Iqbal yang merasa khawatir dengan kondisi Elsaliani, ikut menyusul Elsaliani ke kamar mandi.


"Sayang, El, kamu kenapa?"


" El baik-baik saja. Mas tidak perlu khawatir." Jelas Elsaliani dari dalam kamar mandi

__ADS_1


"Kalau kamu emang baik-baik aja ya udah keluar sekarang. Mas tunggu nih!"


Tanpa jawaban apa-apa, Elsaliani keluar meski dengan langkah yang tertatih karena masih terasa pening. Kedua tangan Elsaliani masih saja menggenggam erat dinding yang ada di kedua sisinya. Elsaliani terus berusaha untuk menyenbunyikan Matanya yang memerah dan wajah yang pucat dari sang suami. Perlahan Iqbal menyentuh wajah Elsaliani, namun Elsaliani terus berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Wajah kamu panas banget sayang, kamu sakit?" Tanya Iqbal panik.


"Nggak, El nggak sedang sakit, El oke!"


"Baik gimana? badan kamu panas sayang, ayo kita ke klinik.


"El nggak mau ke klinik! cuman demam sedikit aja, ntar juga baikan."


"El, kamu pasti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari mas kan?"


"Tidakkkk!"


"Lebih baik El bicara jujur sekarang, sebelum kesabaran mas menghilang!"


"Mas..."


" Katakan! apa yang El sembunyikan dari mas!"


"Maafkan El, mas. Tolong untuk kali ini saja! El janji, El tidak akan lagi mengganggu hidup mas, El akan pergi jauh dari hidup mas, tapi tolong, tolong biarkan El menjaganya, dia benar-benar tidak bersalah, tolong jangan hukum dia!" Tangis Elsaliani mengiba.


Elsaliani langsung berlutut di hadapan Iqbal, dengan tangan yang masih gemetar ia mencoba untuk menyentuh kedua lutut Iqbal.


"El, bicaralah yang jelas! mas tidak paham. Siapa dia? ada apa sebenarnya? apa yang sedang kamu bicarakan? apa ini ada hubungannya dengan Mikeal? Apa kalian berencana untuk kawin lari?" Tanya Iqbal dengan penuh emosi, kedua tangan Iqbal dengan sigap langsung mencengkram kedua bahu Elsaliani.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Abang Mikeal, ini tentang El, mas dan juga dia, hm....dia...."


"Dia itu siapa? kalau bukan Mikeal, apa jangan-jangan mantan kekasihmu yang telah datang kembali?"


"Dia, dia adalah bayi yang ada dalam kandungan El. Mas, El mohon jangan sakiti dia. Biar El yang akan menjaga dan merawatnya, tolong jangan ambil dia dari rahim El." Jelas Elsaliani masih dengan tangis yang semakin memilukan.***


_____________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua@😊😊


Dukungan teman2 semua sangatlah berarti🥰🥰


Tetap setia di sini ya😉😉 love u all😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2