
#TUJUH BULAN KEMUDIAN#
------------------------------------------------
Iqbal terlihat sibuk memasukkan beberapa pasang pakaian miliknya dan juga milik Elsaliani ke dalam sebuah ransel. Setelah memastikan dengan baik bahwa semua barang yang ia perlukan tidak ada yang tertinggal, kini tangan Iqbal malah terlihat sibuk memasukkan semua keperluan kosmetik Elsaliani ke dalam sebuah handbag yang berwarna hitam. Setelah siap dengan semuanya, Iqbal langsung bergegas mandi lalu siap-siap.
Hanya butuh waktu lima belas menit kini Iqbal telah siap dengan stelan kaos putih dan jins berwarna capuccino. Iqbal terus melangkah menghampiri sang istri yang sedari tadi menunggu dirinya siap-siap.
"Sayang, kenapa tertidur begitu pulas? jadi nggak tega mas buat banguninnya. Kalau gini ceritanya kapan kita berangkat coba? Ya udahlah, ayo kita istirahat sebentar lagi!" Jelas Iqbal ketika mendapati Elsaliani yang tertidur dengan punggung yang bersandar pada kepala tempat tidur.
Iqbal duduk di samping Elsaliani lalu mencoba menarik kepala Elsaliani agar bersandar di dada bidangnya. Elsaliani terlihat begitu manis dengan gamis berwarna copucino yang membalut perut buncitnya, serta jilbal yang berwarna putih membuat wajahnya semakin tanpa berseri. Perlahan tangan Iqbal mulai menyentuh perut Elsaliani yang telah membesar bahkan Elsaliani terlihat sangat kesusahan ketika berjalan, hendak duduk atau sekedar ingin berbaring, bahkan sering kali terjaga disaat malam karena tidak leluasa dalam posisi tidur. Keadaan Elsaliani membuat Iqbal semakin protektif terhadap istri, bahkan Iqbal juga ikut bergadang ketika Elsaliani kesusahan untuk tidur.
"Mas..." Panggil Elsaliani dengan suara parau.
Perlahan Elsaliani membuka matanya lalu manatap wajah sang suami yang berada di sisinya. Dengan lembut Elsaliani menyentuh wajah Iqbal yang masih tertidur lelap.
"Mas, kenapa ikutan tidur? kita kan harus pulang ke rumah Abi sekarang." Jelas Elsaliani.
"Sayang masih tidur, mas nggak tega ganggu tidur sayang, apa lagi semalaman sayang nggak bisa tidur dengan nyenyak. Sayang, apa sayang kewalahan?" Tanya Iqbal penuh perhatian.
"El oke, baby juga nggak nakal kok. Sedikit lelah kan biasa, lagi pula perut El makin hari makin besar, mungkin itu yang membuat El agak lelah, nanti kalau udah terbiasa juga bakal hilang kok lelahnya." Jelas Elsaliani.
"Andai saja mas bisa bantu, biar mas aja deh yang hamil!" Ujar Iqbal yang sontak membuat Elsaliani tertawa.
"Sayang kok malah ketawa sih? mas serius!"
"Mas ini ada-ada aja deh, udah ah ayo kita berangkat."
Elsaliani langsung turun dari kasur namun Iqbal segera menghentikannya.
"Sayang, hati-hati! tunggu biar mas bantu." Jelas Iqbal.
Iqbal segera turun lalu cepat-cepat membantu sang istri. Iqbal terus membimbing Elsaliani hingga masuk kedalam mobil.
"Sayang tunggu di sini, jangan keluar lagi! mas nggak akan lama, mas cuma mau ambil tas sebentar. Ingat jangan gerak!"
"Iya mas."
Iqbal kembali masuk ke dalam rumah, beberapa menit kemudian kembali ke mobil dengan satu ransel dan satu handbag di tangannya. Setelah meletakkan bawaannya di jok belakang, Iqbal kembali mengambil posisi di depan stir. Keduanya langsung berangkat menuju rumah Abi Ismail.
-----------------------
__ADS_1
"Bunda yakin mau berangkat hari ini? apa nggak boleh besok aja?" Tanya Mikeal dengan raut wajah memelas.
Mikeal masih saja uring-uringan di sofa sambil menonton film kartun favoritnya, di sisi kanannya sudah ada Ayu yang sudah rapi dengan stelan gamis berwarna hitam berpadu dengan jilbab berwarna kuning.
"Bunda udah siap loh, buruan sana siap-siap! kita berangkat hari ini juga." Jelas Ayu.
"Besok aja ya bunda, kan acaranya juga besok bukan hari ini." Jelas Mikeal.
"Apa kamu belum siap melihat Arumi menjadi istrinya Rizal?"
"Kok bunda ngomongnya gitu?"
"Ya habis dari kemaren tuh wajah murung terus, udah ikhlasin aja! nanti biar umi carikan yang lain, yang lebih cantik, lebih alim, lebih kaya pokoknya lebih segala-galanya"
"Haisss bunda! aku sama Arumi udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, kami udah putus sejak Arumi menikah dengan mas Rava. Lagi pula Abang Rizal lebih pantas menggantikan mas Rava dari pada aku. Abang Rizal dan Arumi pasangan yang sempurna, aku harap mereka akan bahagia hingga kakek nenek nanti." Jelas Mikeal.
"Sejak kapan anak bungsu bunda jadi sangat dewasa dan bijak begini? bunda bangga sama kamu sayang!" Jelas Ayu.
"Tapi tetap aja kita perginya besok."
"Nggak, kita berangkat hari ini. Sebentar lagi bapak pulang dan kamu harus sudah siap ketika bapak datang, nggak ada tawar menawar lagi, kita tetap akan berangkat hari ini juga, titik."
"Bunda....."
"Calon istri?"
"Iya, calon istri."
"Kebetulan bunda ngomongin tentang calon istri, aku jadi keingat sama omongan dokter Luthfan tujuh bulan yang lalu. Bunda, sebenarnya Abang Iqbal dan El, apa bunda yang jodohkan mereka berdua atau Abi Ismail yang mengusulkan?"
"Kenapa bertanya tentang perjodohan Iqbal, dan apa yang dokter itu katakan tentang Iqbal dan El?"
"Apa benar sebelum umi menjodohkan mereka, mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, dan apa benar Abang Iqbal pernah menyelamatkan nyawa El?" Tanya Mikeal yang mulai serius.
"Bunda tidak tau apa yang dokter itu katakan padamu, yang jelas bapak dan bunda yang melamar Elsaliani untuk abang mu."
"Bunda tidak sedang membohongi aku kan?"
"Bunda bicara yang sebenarnya. Udah sana siap-siap, sebentar lagi bapak sampai." Jelas Ayu yang langsung mendorong tubuh Mikeal untuk beranjak dari sofa.
"Bunda...." Gumam Mikeal kesal.
__ADS_1
Dengan bermalas-malasan Mikeal bangun dari sofa dan beranjak ke kamar untuk siap-siap, membiarkan Ayu seorang diri di sofa sana.
"Apa Iqbal dan El juga tau tentang hal ini? jika Mikeal saja mulai penasaran apa lagi dengan mereka. Lagi pula sudah sepantasnya mereka tau tentang masa lalu mereka, mungkin El sudah melupakan kejadian itu karena saat itu di masih kecil, tapi Iqbal, bagaimana bisa dia lupa? di lupa tentang kejadian itu atau malah dia tidak lagi mengenali El yang kini telah tumbuh menjadi seorang wanita yang mulai dewasa?" Gumam Ayu yang masih saja mencoba mengingat kembali kejadian di masa lalu.
"Bunda....!" Panggil Adimaja yang baru saja datang lalu duduk di samping Ayu yang masih terlihat begitu serius dengan pemikirannya sendiri.
"Bapak sudah pulang! Mau minum apa pak?" Tanya Ayu setelah mencium punggung tangan sang suami tercinta.
"Nggak usah bunda. Kelihatannya bunda lagi memikirkan sesuatu yang serius? ada apa? apa Iqbal buat masalah lagi? atau ada hubungannya dengan Mikeal? atau terjadi sesuatu sana Ranum dan suaminya?" Tanya Adimaja bertubi-tubi dengan rasa penasaran yang kian memuncak.
"Bapak nanya jangan berderet gitu Napa? bunda bingung mau jawab yang mana." Jelas Ayu.
"Ya udah, bunda kenapa? kok mukanya serius gitu?"
"Ini tentang Iqbal dan El."
"Mereka kenapa? kandungan El baik-baik aja kan?"
"Husssh bapak ngomongnya hati-hati, cucu kita baik-baik aja."
"Terus apa juga masalahnya?"
"Tadi Mikeal tanya tentang perjodohan Iqbal dan El."
"Terus?"
"Bapak ingat kejadian sembilan tahun yang lalu?"
"Maksud bunda kejadian yang mempertemukan El dan Iqbal?
"Iya!"
"Kalau mereka tau ya itu lebih baik. Udah nggak usah banyak mikir yang nggak-nggak. Bapak mau mandi habis itu kita langsung berangkat." Jelas Adimaja.
"Terserah bapak lah!" Ujar Ayu.
Adimaja bergegas ke kamar, sedangkan Ayu memilih untuk tetap menunggu kedua lelaki yang sedang bersiap-siap sambil menonton acara yang sedang tayang di layar televisi.***
____________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya Manteman semua@😊😊
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️