
Pintu gerbang terbuka dari dalam, seorang security yang berbadan tegap muncul dari balik gerbang.
"Apa pak Vikram ada di rumah?" Tanya Iqbal.
"Ada, silahkan masuk pak Iqbal." Jawab security tersebut yang memang sudah begitu kenal dengan Iqbal dan kawan-kawan.
"Terima kasih pak Ujang." Ujar Luqman dengan senyuman.
"Pak tolong parkirkan mobil kami." Pinta Mikeal.
"Baik pak Mikeal." Jawab pak Ujang sopan.
"Terima kasih." Jawab Mikeal dengan senyuman.
Mikeal segera menyusul kedua rekan kerjanya yang telah lebih dulu masuk. Saat ke tiganya tiba di depan pintu, dengan terburu-buru Iqbal langsung mengetuk pintu berulang kali.
"Udah berhenti mengetuk pintu, ntar yang ada memar tuh tangan!" Jelas Luqman.
"biarin! yang aku mau saat ini adalah menyelesaikan semua masalah ini." Tegas Iqbal.
"Cobalah tenang dulu! nggak semua masalah bisa di selesaikan dengan otot dan emosi, terkadang ada masalah yang butuh otak dan ketenangan untuk menyelesaikannya." Jelas Luqman.
Tangan Iqbal kembali mengetuk pintu, setelah menunggu beberapa menit akhirnya pintu terbuka, dan Vikram sendiri yang membukakan pintu tersebut.
"Kalian? ada apa lagi? ini sudah tengah malam!" Gumam Vikram kesal karena kedatangan bawahannya yang menganggu waktu istirahatnya.
"Apa yang...." Ucapan Iqbal langsung terhenti ketika tangan Luqman menarik kasar lengan Iqbal.
"Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan komandan, bisa kita bicaranya di dalam saja?" Tanya Luqman.
"Hal penting apapun itu, saya tidak punya waktu. Kembalilah besok!" Jelas Vikram.
"Tolong komandan, ini masalah serius! beri kami waktu sepuluh menit saja." Pinta Luqman.
"Tidak! sekarang lebih baik kalian pulang!" Tegas Vikram.
"Apa kali ini aku juga harus minta bantuan bapak aku?" Tanya Mikeal santai.
"Kamu..." Gumam Vikram dengan mata yang melotot ke arah Mikeal.
"Aku nggak butuh persetujuan komandan, mau tidak mau aku tetap akan membicarakan hal ini sekarang juga dengan komandan. Dimana abang Hadi?" Gumam Iqbal yang tidak lagi bisa menahan diri.
"Hadi? maksud kamu siapa?" Tanya Vikram.
"Abdul Hadi, tentara yang komandan kirimkan ke negara P tujuh bulan yang lalu, bukankah seharusnya dia telah kembali dari empat bulan yang lalu?" Tanya Iqbal dengan penuh penekanan.
"Apa dia tidak mengatakan pada kalian, kalau dia meminta perpanjangan masa tugasnya." Jelas Vikram.
"Perpanjangan masa tugas?" Tanya Luqman dan Mikeal hampir bersamaan.
"Apa maksud komandan?" Tanya Iqbal.
__ADS_1
"Dia memperpanjang masa tugasnya, dan saya menyetujui permohonan dia." Jelas Vikram.
"Sampai berapa lama dia akan di sana?" Tanya Luqman.
"Mungkin ini minggu terakhir ia di sana." Jelas Vikram.
"Lalu kenapa selama dua hari ini nomornya sama sekali tidak bisa di hubungi?" Tanya Iqbal.
"Yang itu saya tidak tau. Saya rasa semuanya sudah jelas, silahkan kalian pulang! saya butuh istirahat." Jelas Vikram yang langsung menutup rapat pintu rumahnya.
"Pasti ada yang tidak beres!" Keluh Luqman.
"Maksud kamu?" Tanya Iqbal.
"Nggak masalah jika abang Hadi tidak mengabarkan kamu tentang perpanjangan masa tugasnya, tapi dia pasti mengatakannya pada istrinya kan?" Jelas Luqman.
"Sebaiknya abang temui istri abang Hadi besok, biar semuanya jelas." Usul Mikeal.
"Mikeal benar, kamu temui istrinya abang Hadi besok, pastikan semuanya dengan benar, jika ada sesuatu yang tidak beres segera hubungi kami." Jelas Luqman.
"Oke, aku akan temui kak Erina besok!" Ujar Iqbal.
"Ayo pulang, kasian El pasti nungguin abang!" Jelas Mikeal yang langsung bergegas menuju mobil miliknya yang sudah terparkir di halaman rumah Vikram.
-------------------
Setelah bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Vikram, Iqbal kembali fokus menanyai Erina tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Hadi.
"Apa abang Hadi pernah cerita tentang perpanjangan masa tugasnya sama kakak?" Tanya Iqbal.
"Aku akan mengurus masalah ini, secepat mungkin aku akan mencari informasi tentang abang Hadi, kak Erina tenang saja, aku pastikan kalau abang Hadi akan baik-baik saja." Tegas Iqbal.
"Semoga saja bal. Semoga semuanya akan baik-baik saja." Ucap Erina penuh dengan harap.
"Jika selama lima hari ke depan abang Hadi masih belum bisa kita hubungi, maka aku akan menyusulnya ke sana!" Jelas Iqbal.
"Mas..." Ujar Elsaliani.
"Iqbal, aku percaya sama suami aku. Semuanya pasti akan baik-baik saja, dia akan pulang dengan selamat. El butuh kamu di sini, jangan pergi ke sana, abang Hadi akan segera berkumpul lagi bersama kita." Jelas Erina.
"Kak Erina..." Ujar Elsaliani.
"Aku paham El, aku juga pernah di posisi kamu. Lagi hamil tua tapi suami harus menjalankan tugas, dan aku nggak mau kamu merasakan hal yang sama seperti saat aku hamil dulu." Jelas Erina yang langsung memeluk Elsaliani.
"Maafkan aku kak, ini semua gara-gara aku." Gumam Iqbal.
"Nggak ada yang harus di salahkan, hmm...sekarang kalian masuklah! istirahat lebih dulu baru pulang." Jelas Erina.
"Baiklah!" Jawab Iqbal.
Ketiganya beranjak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kamar mu masih ada di tempat semula, ajak El untuk istirahat. El, anggap aja rumah sendiri, kalau begitu aku permisi, mau lihat para bocah!" Jelas Erina.
"Makasih kak." Ucap Elsaliani.
"Sama-sama El." Ucap Erina.
Erina kembali menemui Rakes dan Roger yang sedang mengerjakan tugas di ruang keluarga sana, sedangkan Iqbal segera mengajak Elsaliani untuk istirahat.
Dulu, hampir setiap minggu Iqbal datang ke rumah Hadi untuk bermain dengan kedua jagoan Hadi, hingga Erina menyediakan satu kamar khusus untuk Iqbal, bahkan lemari di kamar tersebut di penuhi dengan pakaian dan segala barang-barang milik Iqbal.
Setiba di kamar tersebut, Elsaliani terus saja menatap ke seluruh sudut kamar, semua barang dan tatanan kamar persis seperti kamar milik Iqbal yang di rumah.
"Ini beneran kamar mas? foto copy banget sama kamar yang di rumah, yah meski perabotnya nggak sama, tapi dekornya tetap aja sama!" Jelas Elsaliani.
"Mas lebih nyaman dengan kamar yang seperti ini." Jelas Iqbal.
"Kenapa kak Erina sampai menyediakan satu kamar khusus untuk mas? apa mas dulu sering ke sini?"
"Tiap minggu, ke rumah ini sudah menjadi rutinitas bagi mas. Roger dan Rakes membuat mas tenang dan sejenak melepaskan segala beban yang menumpuk di kepala mas. Mereka teman yang baik."
"Apa mas dan abang Hadi memiliki hubungan saudara?"
"Tidak sama sekali. Dia pelatih pertama mas, dia teman mas pertama saat mas pertama masuk ke lingkungan tentara. Dia yang menjaga mas dengan begitu baik, hingga akhirnya hubungan yang kami bina lebih dari sebutan sahabat." Jelas Iqbal yang ikut duduk di samping Elsaliani yang telah lebih dulu rebahan di kasur.
"Hubungan yang sangat baik, pasti abang Hadi orang yang sangat baik."
"Hmm...." Jawab Iqbal.
"Tante...." Teriak Rakes dan Roger yang langsung menerobos masuk dan berlari menghampiri Elsaliani.
Rakes dan Roger segera naik ke atas tempat tidur lalu ikut rebahan menghimpit Elsaliani.
"Baby boboklah, darling mu di sini." Jelas Roger dengan tangan yang menyentuh gamis biru tua yang membalut perut buncit Elsaliani.
"Ciiih, baby milik aku!" Tegas Rakes yang tak mau kalah dan ikut menyentuh perut Elsaliani.
"cussssh! Kalian nggak lihat ini ayahnya!" Jelas Iqbal yang ikut menyentuh perut Elsaliani.
"Baby gerak-gerak loh tante!" Lapor Rakes yang merasa ada yang bergerak di balik sentuhan tangannya.
"Di mana?" Tanya Iqbal dan Roger yang segera beralih ke bagian yang di sentuh oleh Rakes.
"Iya, sayang baby nendang! kayaknya baby udah nentuin pilihannya deh!" Canda Elsaliani yang sontak membuat exspresi para bocah berubah.
Roger mendadak kesal dan memanyunkan mulutnya, sedangkan Rakes tersenyum sumeringah penuh kemenangan. Melihat raut wajah kedua bocah laki-laki tersebut membuat Iqbal dan Elsaliani tersenyum gemas.***
______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya😘😘😘