Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
36.


__ADS_3

Elsaliani masih duduk lesehan di karpet ruang tamu, Laptop yang sedari tadi terus memutar drama Korea favoritnya seolah tidak ia hiraukan, ia sibuk dengan segala macam pikiran yang bergelut di kepalnya.


"Sepi banget nggak ada bunda dan bapak, pada hal selama dua hari ini, selama bunda dan bapak menginap di sini rasanya damai banget, hm..di tinggal lagi deh!" Gumam Elsaliani dengan menghela nafas kasar karena rasa bosan yang membuatnya semakin jemu.


"Mas Iqbal juga belum pulang. Tapi rasanya selama dua hari ini mas memang sengaja menjaga jarak dari El, apa dia kembali seperti dulu? atau mungkin....ah sudahlah El, jangan berprasangka buruk tanpa tau apa-apa. Percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja." Elsaliani kembali berbicara dengan dirinya sendiri.


Iqbal yang baru pulang langsung melewati Elsaliani begitu saja, hal tersebut membuat Elsaliani segera menghampiri sang suami. Elsaliani langsung mencium punggung tangan kanan Iqbal lalu tersenyum manis.


"Kamu belum tidur?" Tanya Iqbal.


"Belom, El nungguin mas. Mas udah makan?"


"Udah, lain kali jangan tunggu mas pulang, udah tidur gih sana."


"El istri mas, sudah sepantasnya El menunggu mas. Kalau gitu ayo kita tidur." Ajak Elsaliani dan langsung berjalan menuju kamar Iqbal.


Iqbal segera menghentikan tangan Elsaliani yang sedang mencoba untuk membuka pintu kamarnya, membuat Elsaliani beralih menoleh kearah Iqbal.


"Malam ini mas ingin sendiri. Tidurlah di kamarmu!"


"Apa El buat salah lagi? El minta maaf!" Pinta Elsaliani yang langsung menundukkan pandangannya.


"Jangan meminta maaf! setiap kali kamu minta maaf, itu akan membuat aku semakin merasa bersalah padamu. Aku tidak ingin menyiksa kamu terlalu lama, so please live me alone! i juts need my time." Teriak Iqbal yang sontak membuat Elsaliani segera menjauh dari Iqbal.


Iqbal langsung masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan bantingan yang begitu keras. Dari luar terdengar jelas suara hantaman barang-barang yang terbanting ke lantai, bahkan sesekali suara tangan yang memukul keras meja juga ikut terdengar. Teriakan Iqbal yang penuh amarah seakan menggema di seluruh ruangan membuat jantung Elsaliani berdetak tak beraturan. Amukan Iqbal seakan menjadi petaka tersendiri untuk Elsaliani, rasa takut kembali datang dan sekujur tubuh pun ikut gemetar. Tak terkendali lagi, tubuh Elsaliani langsung ambruk di lantai tepat di depan pintu kamar Iqbal.


"Ya Allah, kenapa mas Iqbal berubah begitu cepat? ada apa ini? apa hukuman atas keegoisan El masih belum berakhir? Apa mas Iqbal marah lagi? Kenapa dia semakin menakutkan?" Tangis Elsaliani.


Di dalam kamar, Iqbal masih saja membanting semua barang yang ada di atas meja, membuat seluruh kamar begitu berantakan, hingga tubuhnya terduduk di sudut ruangan dengan tangan yang meneteskan darah akibat meninju cermin yang terpajang di sisi tempat tidurnya.


"Jangan pernah sakiti El, jika bapak tau bahwa dia menangis atau bahkan sampai terluka karena kamu, maka bapak akan melepas paksa seragam mu dan semua aset milik bapak tidak akan pernah jadi milikmu" Ancam Adimaja dengan penuh penekanan.


"Kamu sudah berjanji untuk selalu mencintaiku, kita akan terus bersama untuk selamanya. Jika kamu meninggalkan aku maka siapapun tidak akan pernah bisa memilikimu!" Gumam Lestari dengan emosi yang memuncak.


"Jangan sia-sia kan El. Dia gadis yang sangat baik, jaga El dengan baik, dia anugerah terindah untuk hidup Abang, jangan ulangi kesalahan aku yang berakhir dengan penyesalan di seumur hidup." Jelas Mikeal.


"Tolong jaga adek dengan baik, dia gadis yang yang lemah dan memiliki banyak kekurangan, tapi Abang jamin, kalau adek adalah gadis yang baik dan setia." Jelas Rizal.


"El, tidak bermaksud untuk mengacaukan semua kehidupan tuan yang telah tertata begitu sempurna, tuan tidak perlu khawatir, El akan mengakhiri semua ini. Yang harus tuan pikirkan saat ini adalah kebahagian tuan bersama mbak Lestari, Kelian berhak untuk bahagia dengan cinta kalian. Sekali lagi maafkan El!" Pinta Elsaliani dengan tetesan air mata.

__ADS_1


Semua ucapan mereka kembali tergiang di telinga Iqbal, memenuhi seluruh otak hingga menguras segala sisi waras Iqbal. Pikiran yang semakin kacau di tambah nafas yang memburu membuat Iqbal semakin kehilangan akal sehatnya untuk berfikir dengan baik.


"Haishhhh, haufff, Kenapa mereka semua terus menekan akal sehat aku! Apa memang mereka ingin melihat kegilaan aku yang sebenarnya. El, aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan? jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin memilikimu, aku tidak ingin kamu bahagia bersama Mikeal karena itu akan membuat hati ini terluka. Tapi bagaimana bisa aku mencampakkan Lestari begitu saja, aku yang membuat janji padanya lalu bagaimana bisa aku meninggalkannya dengan semua rasa sakit yang aku berikan di hatinya. Aku muak dengan semua ini! ingin rasanya aku membunuh diri aku sendiri yang tidak pernah bisa tegas dalam menentukan pilihan." Gumam Iqbal yang kini menangisi segala hal yang terus membelit perasaannya.


Iqbal menatap lekat seluruh kamarnya yang bak kapal pecah, semua barang berserakan di lantai. Darah yang menetes mengotori lantai putih membuat garis panjang dari cermin hingga tempat dimana kini ia berada.


Perlahan ia bangkit dari keterpurukan, lalu melangkah menuju pintu, dengan darah segar yang masih menetes mengikuti langkahnya.


Pintu kamar terbuka pelan dari dalam, mata Iqbal langsung tertuju pada sosok Elsaliani yang telah tertidur dengan kepala yang bersandar pada dinding dekat pintu kamar.


"El...." Panggil Iqbal dengan suara pelan, lalu duduk mendekati Elsaliani.


"Tu....tuan, El sama sekali tidak bermaksud untuk mengusik ketenangan tuan. Maafkan El! El tidak akan lagi mendekati tuan!" Jelas Elsaliani masih dengan rasa takut yang memenuhi rongga dada.


"Apa El mencintai mas?" Tanya Iqbal dengan tatapan yang seakan menembus mata Elsaliani.


"Sangat! El sangat mencintai mas!" Jawab Elsaliani pelan.


"Bagaimana mas di mata El?"


"Sempurna. Tidak ada celah yang membuat mas terlihat kekurangan. Mas punya segalanya."


"Siapa yang mengatakan hal sejahat itu? buat El mas punya segalanya, mas suami terbaik di dunia ini."


" Kamu tidak sedang menghibur mas kan?"


"El bicara jujur, El cinta semua yang ada pada mas, El sayang mas seutuhnya." Tegas Elsaliani dan langsung memeluk erat tubuh Iqbal.


"Tangan mas terluka!" Seru Elsaliani ketika menyadari darah Iqbal yang menetes mengenai tangannya.


"Mas kenapa? apa El boleh tau apa yang membuat mas mengamuk seperti ini? nggak, nggak itu sama sekali tidak penting, yang lebih penting saat ini adalah luka mas harus segera di obati, ayo!" Jelas Elsaliani.


Elsaliani langsung menuntun Iqbal ke kamarnya. Dengan telaten Elsaliani mengobati tangan Iqbal yang terluka lalu membalutnya dengan perban. Setelah semuanya selesai, Iqbal masih saja diam seribu bahasa, Elsaliani kembali duduk di sisi Iqbal setelah menyimpan kotak P3K ke atas meja.


"Apa yang sedang mas pikirkan? apa itu tentang El?" Tanya Elsaliani lalu menyentuh lembut kedua pipi Iqbal.


Iqbal hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa kerena El, mas berakhir dengan melukai diri mas sendiri?"

__ADS_1


Lagi-lagi Iqbal hanya menggelengkan kepalanya.


"Jika boleh memilih, El lebih suka mas menjadikan El tempat pelampiasan semua amarah, kesal dan dendam dari pada mas menahannya seorang diri. El akan baik-baik saja jika El yang ketakutan dan terluka, tapi El benar-benar tidak baik-baik saja ketika melihat mas dalam wujud yang seperti tadi, El tersiksa ketika mas menyakiti diri mas sendiri. El lebih takut kalau mas yang terluka." Jelas Elsaliani dengan tetesan air mata dan segera memeluk erat Iqbal.


"Kamar mas berantakan, dan mas nggak nyaman tidur di sana. Apa boleh malam ini mas numpang tidur di kamar El?" Tanya Iqbal yang perlahan membalas pelukan Elsaliani.


"Dengan senang hati."


Elsaliani melepaskan pelukannya dan kembali menyentuh lembut wajah Iqbal.


"Mas butuh charger energi!" Ujar Iqbal.


"Maksud mas? mas mau minum atau makan?"


"Nggak dua-duanya!"


"Terus? apa yang mas mau, akan El ambilkan."


Iqbal tersenyum mendengar ucapan Elsaliani yang terdengar begitu polos.


Iqbal menunjuk kearah bibir Elsaliani.


"Mas..."


Tanpa lagi menunggu persetujuan dari sang pemilik, Iqbal langsung mencium Elsaliani.


Aksi Iqbal berjalan mulus karena Elsaliani sama sekali tidak menolaknya.


Elsaliani terus membiarkan Iqbal melakukan apapun yang ia inginkan pada tubuhnya. Ia hanya ingin membuat Iqbal lebih tenang, dan Kembali menjadi Iqbal yang memperlakukannya dengan baik, Iqbal yang menerima dirinya sebagai seorang istri, Iqbal yang menjaga dan mengkhawatirkan dirinya, Iqbal yang menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.***


_______________________


Jangan Lupa LIKE, KOMEN n VOTE@ Ya teman-teman semua😊😊


Tetap setia bersama Cinta Elsaliani 🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️


Love you all😘😘

__ADS_1


__ADS_2