
"Huffff akhirnya kelar juga laporannya." Ujar Iqbal dengan menarik nafas dalam lalu membuangnya secara kasar.
Iqbal meletakkan ponsel miliknya ke meja, lalu kembali bersandar di sofa, di dekat Elsaliani.
"Senang rasanya! El kira cuma El saja yang menginginkan kehadiran baby, tapi ternyata semua orang tak sabar menanti kedatangannya." Jelas Elsaliani dengan mata berkaca-kaca dengan tangan yang mengusap pelan bagian perutnya.
Iqbal pun ikut menyentuh perut sang istri lalu tersenyum bahagia. Setelah tadi menelpon kedua orang tua mereka secara bergantian, untuknmengabari kehamilan Elsaliani yang sudah berusia satu bulan, membuat keduanya kewalahan karena harus berbicara panjang lebar dengan mereka semua, sampai-sampai bunda meminta Iqbal untuk tidak mematikan ponselnya, ia ingin terus melakukan VC hingga pagi nanti, ia benar-benar tidak sabar ingin memeluk sang menantu tercinta. Hingga Iqbal merasa kewalahan dengan sikap posesif bunda, terus merengek pada Elsaliani agar ia yang meminta bunda menyudahi acara VC mereka, setelah satu jam setengah akhirnya bunda menyetujui untuk mematikan ponselnya, nggak kebayang kalau sampai Elsaliani tidak bisa membujuk sang bunda, bakal masam tuh muka Iqbal sepanjang malam.
"Sayang lihat tadi, bunda sampai tidak menganggap keberadaan mas, sepertinya mas tidak ada lagi di hati dan pikiran bunda. Urutan satu sampai seratus sepertinya telah baby dan sayang tempati, mas benar-benar bakal tersingkirkan!" Jelas Iqbal dengan wajah yang sedikit cemberut.
"Yang tua memang akan selalu tergeser sama yang muda mas!" Seru Elsaliani dengan tawa yang menggelegar.
"Siapa yang sayang sebut tua? suami sayang ini masih muda dan kuat dalam segala hal!" Tegas Iqbal dengan senyuman mesumnya membuat Elsaliani segera menutup wajah Iqbal dengan kedua telapak tangan miliknya.
Keduanya tertawa bahagia, membuat malam seakan cemburu dengan kebahagian pasangan tersebut, hingga suara dering ponsel milik Iqbal membuat tawa keduanya terhenti.
"Pasti bunda lagi?" Keluh Iqbal yang langsung memasang wajah kesal.
"Udah cepetan mas angkat, siapa tau penting!" Jelas Elsaliani.
Dengan agak malas Iqbal kembali mengambil kembali ponselnya, namun nama yang muncul di layar bukanlah bunda melainkan Mikeal.
"Mikeal..." Ujar Iqbal.
"Cepat mas di angkat, siapa tau penting!" Saran Elsaliani yang langsung membuat Iqbal segera menggeserkan tombol hijau di layar ponselnya.
"Abang udah baca surat di group?" Tanya Mikeal intens tanpa basa basi.
"Surat? surat apa, kenapa?" Tanya Iqbal.
"Surat tugas untuk Abang!" Jelas Mikeal.
"Akan Abang baca sekarang!" Tegas Iqbal dan langsung mematikan sambungan telponnya.
Dengan lihai jari Iqbal kembali menari di layar ponsel, ia segera membuka group Tim Pasukan Khusus dan membaca dokument yang telah di kirim sejak tadi selepas magrib.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Elsaliani yang mulai khawatir karena exspresi wajah Iqbal yang langsung menjadi serius.
"Mas...." Panggil Elsaliani lagi, kerena sedari tadi Iqbal masih saja terdiam dengan mata yang masih tertuju pada layar ponsel miliknya.
"Sayang!"
"Ada apa? apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Elsaliani yang semakin khawatir.
__ADS_1
"Hm..."
Elsaliani segera memeluk erat tubuh Iqbal, membuat Iqbal yang sedari tadi membeku mulai terkulai lemas di salam pelukan sang istri tercinta, tangan munyil Elsaliani mencoba mengusap lembut punggung Iqbal, mencoba memberi kehangatan agar bisa menenangkan kekacauan yang sedang memuncak di kepala Iqbal.
"Jika mas ingin cerita, El akan jadi pendengar yang baik untuk mas! apapun masalahnya, El akan bersama mas, kita lewati semuanya bersama. El sayang mas?" Jelas Elsaliani pelan.
"Sayang, bacalah!" Ujar Iqbal.
Iqbal melepaskan pelukannya, lalu menyerahkan ponsel miliknya pada Elsaliani, dengan tenang Elsaliani mulai membaca isi dokumen tersebut.
"Tiga bulan? apa yang harus El lakukan? El pasti akan mati sebelum tiga bulan itu berakhir!" Gumam Elsaliani secara tiba-tiba dengan diikuti dengan tetesan air mata.
Pandangan Elsaliani seakan buram seketika, tubuhnya melemah, ponsel yang tadi di genggamannya kita telah terjatuh ke lantai.
"Sayang tenanglah!" Pinta Iqbal yang langsung kembali membawa sang istri ke dalam dekapannya.
Suara bel yang di tekan terus menerus membuat Elsaliani dan Iqbal saling menatap heran.
"Sayang tunggu di sini, biar mas yang bukakan pintu!" Jelas Iqbal.
"El nggak mau sendirian, El ikut!" Ujar Elsaliani yang langsung bangun.
"Baikalah!" Ujar Iqbal, lalu segera menggenggam tangan Elsaliani dan keduanya segera membuka pintu.
Wajah yang di penuhi keringat, serta nafas yang terdengar bagai sedang bermaraton, membuat Iqbal dan Elsaliani menatap heran pada sosok Alam yang kini tepat di hadapan keduanya.
"Apa aku terlihat lucu? apa di saat genting seperti ini kamu masih bisa ngelawak? berhenti bersikap baik-baik saja! jangan membuat aku semakin panik!" Gumam Alam dengan penuh amarah dan terus menatap Iqbal dengan tatapan yang mematikan.
"Ada apa? jangan bilang kamu berlarian dari rumahmu hingga ke sini? kamu tidak melakukan hal konyol itu lagi kan?" Tanya Iqbal memastikan.
Satu tahun yang lalu, karena mendengar kabar bahwa Badai dan anak buahnya mengepung rumah Iqbal, Alam langsung berlari dari rumahnya hingga ke rumah Iqbal. Jarak rumah mereka yang akan mengabiskan waktu selama satu jam perjalan dengan menggunakan mobil, tapi Alam hanya butuh waktu selama Satu jam lewat dua puluh menit dengan berlari, kekuatan yang sangat fantastik bukan? Alam memang di kenal dengan kecepatan kakinya apalagi di saat mendesak kecepatannya akan bertambah hingga lima kali lipat. Dan kini keadaan Alam sama persis dengan Alam yang datang di tengah malam di satu tahun yang lalu.
"Kemaren malam apa yang komandan bicarakan dengan kamu? jawab!" Gumam Alam yang semakin marah.
"Hanya masalah sepele, tidak ada yang penting!" Jawab Iqbal ngasal.
"Nggak penting kata mu? hah, setidak penting apa hingga membuat komandan mengirim mu ke negara P untuk bergabung dengan tentara di sana dalam mengatasi aksi pemberontakan bersenjata? kenapa cuma kamu yang dikirim?" Gumam Alam.
"Karena cuma aku yang paling kuat dan terbaik di antara kita berlima!"
"Apa kamu yakin cuma itu alasan komandan?'
"Terus apa lagi?"
__ADS_1
"Apa dia memintamu untuk memilih El atau Lestari sebagai wanitamu?" Tanya Alam.
"Mas, apa yang sebenarnya terjadi? apa benar yang barusan Abang Alam katakan?" Tanya Elsaliani yang mulai panik.
"Berhenti bicara omong kosong! masuklah Alam, tolong temani El, aku baru ingat kalau aku ada janji, aku harus pergi!"
"Mas mau kemana?"
"Apa kamu mau menemui komandan? nggak perlu anak-anak sedang di sana sekarang!" Jelas Alam dan langsung masuk.
Alam langsung duduk di sofa, membuat Elsaliani dan Iqbal juga ikut masuk dan duduk di sofa.
"El, boleh Abang minta minum?" Tanya Alam.
"Baiklah, akan El ambilkan!" Jawab Elsaliani dan segera melangkah menuju dapur.
"Jangan pernah mengatasi masalah seorang diri, kami keluargamu. Kamu melakukan pilihan yang tepat, tetap bersama El hingga akhir hayat mu. Dia istrimu bukan Lestari!" Jelas Alam.
"Akhirnya yang aku takutkan terjadi, apa ini saatnya aku harus memilih antara seragam aku atau istri aku!"
"Triiiiiiing" Suara gelas yang bertabrakan dengan lantai menggema si seluruh ruangan membuat Iqbal dan Alam segera menoleh ke asal suara.
Elsaliani masih berdiri mematung di depan beling pecahan gelas. Iqbal dan Alam segera menghampiri Elsaliani.
"Sayang! jangan buat mas khawatir, sayang baik-baik saja kan?" Tanya Iqbal bertubi-tubi dengan rasa khawatir.
"Aaaaah iya, Abang Alam, tunggulah sebentar, akan El ambil minum yang baru!"
"Biar Abang sendiri yang mengambilnya. Iqbal, bawa El istirahat, tenangkan dia! biar aku yang menunggu kabar dari anak-anak!" Jelas Alam.
"Baiklah! Sayang, Mikeal, Luqman dan Hendra sedang mengurus semuanya, jadi El tenang aja, semuanya akan baik-baik saja. Ayo kita istirahat!" Ujar Iqbal yang langsung menggendong tubuh Elsaliani dan segera membawanya ke kamar.
------------------------------
"Kami akan ikut ke negara P!" Tegas Mikeal dengan suara lantang di depan Vikram.
"Berhenti membuat onar, pulanglah!" Tegas Vikram.
"Sebulan yang lalu aku mengirimkan surat permohonan agar aku di tugaskan ke negara P, lalu kenapa surat aku di tolak dengan alasan karena aku adalah bagian dari tim pasukan khusus yang di ciptakan untuk mengatasi hal penting dan juga siaga dengan misi-misi dadakan. Lalu kenapa sekarang Iqbal malah di bolehkan bergabung dengan tentara di sana, bahkan tanpa adanya surat permohonan?" Jelas Luqman dengan suara pelan, dan berusaha mencairkan aura mematikan yang sedang menyelimuti ruangan di mana keempat lelaki tersebut berada.***
___________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua😊😊
__ADS_1
tetap setia dengan Cinta Elsaliani 🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️