
Mobil Iqbal kembali terparkir rapi di depan rumah. Suara azan magrib mulai terdengar berkumandang dari mesjid-mesjid terdekat, Iqbal segera melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di dadanya.
"Sayang, ayo turun!" Ajak Iqbal.
Karena tidak ada jawaban apa-apa, Iqbal menghentikan kakinya untuk turun dari mobil, ia segera menoleh ke arah Elsaliani.
"Jadi dari tadi mas ngomong sendirian? lelap sekali tidurmu sayang, kamu pasti sangat lelah kan? maafkan mas!" Ujar Iqbal dengan tatapan yang terus menatap wajah Elsaliani yang begitu damai dalam tidurnya.
Iqbal keluar dari mobil, lalu bergegas menuju pintu di sebelahnya lagi, setelah membuka pintu mobil, dengan pelan Iqbal membuka sabuk pengaman lalu mencoba mengangkat tubuh Elsaliani, Iqbal terus menggendong tubuh Elsaliani hingga ke kamarnya.
Iqbal tidak ingin mengganggu tidur nyenyak sang istri, setelah membaringkannya di kasur Iqbal langsung ke kamar mandi.
sepuluh menit berlalu, Iqbal keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar, serta rambut yang masih basah. Setelah mengenakan kemeja putih di padu dengan sarung berwarna serupa, Iqbal kembali melangkah mendekati sang istri yang masih saja tertidur.
"Sayang, Sayang....." Panggil Iqbal lembut.
"Hmm...." Jawab Elsaliani namun kembali melanjutkan tidurnya, ia bahkan memutar posisi tidur yang kini justru membelakangi sang suami.
"Sayang, udah magrib loh, ayo bangun! nanti di lanjut lagi tidurnya, sekarang ayo kita sholat dulu." Ajak Iqbal.
"Magrib! Udah, udah magrib?" Seru Elsaliani.
"Iya."
Mendengar jawaban Iqbal, membuat Elsaliani segera bangun dan langsung berlari ke kamar mandi, Iqbal hanya tersenyum melihat tingkah sang istri yang begitu menggemaskan.
"Mas, tunggu! El nggak akan lama." Pinta Elsaliani yang kembali menoleh pada Iqbal dari balik pintu kamar mandi, lalu segera menutup pintu rapat-rapat
Setelah sholat berjamaah, di lanjutkan dengan zikir dan selawat lalu di akhir dengan doa. Elsaliani sedikit mendekat ke arah Iqbal lalu menyentuh tangan kanan sang suami lalu mencium lembut punggung tangan tersebut, tangan kiri Iqbal langsung tergerak lalu mengusap pelan pucuk kepala Elsaliani yang masih terbalut dengan mukenah.
"Tetap jadi makmum mas, sampai maut yang memisahkan kita!" Pinta Iqbal lalu mengecup kening Elsaliani.
"Pasti mas, El akan selalu menjadi makmum mas. Terima kasih untuk semua kebahagian ini!" Ucap Elsaliani dengan senyuman bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.
Iqbal membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya, hingga membuat lesung pipi tunggalnya begitu terlihat jelas. Iqbal mencoba menyentuh perut rata Elsaliani lalu merebahkan kepala di pangkuan Elsaliani dengan tangan yang masih saja mengelus lembut perut sang istri.
"Baby, ayah kangen sama baby! dan juga terima kasih karena selama ayah nggak ada, baby menjaga Uma dengan baik, dan juga terima kasih karena semala ayah pergi, Uma dan baby baik-baik saja." Jelas Iqbal.
"Baby juga senang, karena ayah pulang sebagaimana ayah pergi, baby juga kangen sama ayah, Miss you!" Ungkap Elsaliani dengan menirukan suara anak kecil yang sontak membuat Iqbal tertawa lepas.
"Jadi cuma baby aja yang kangen? sayang nggak kangen sama mas?"
"El juga kangen, sangat sangat kangen!" Jawab Elsaliani.
"Kalau kangen, berarti boleh dong mas minta excellent service?"
"Mas..."
__ADS_1
"Kenapa? nggak boleh?"
"Bukan gitu!"
"So? please! i Miss you so so much sayang." Ucap Iqbal dan langsung memeluk erat pinggang ramping Elsaliani.
"Baiklah!" Jawab Elsaliani dengan wajah yang telah merona seutuhnya.
Menyadari Elsaliani memberi lampu hijau, tanpa menunggu lebih lama lagi Iqbal langsung membopong Elsaliani lalu membaringkannya di kasur. Keduanya menghabiskan malam panjang dengan melepas rindu yang selama tiga hari ini begitu membelenggu jiwa, pada akhirnya rindu yang tertahan melebur sudah.
----------------------------
"Sayang, sayang....!" Panggil Iqbal dengan langkah yang terus mencari keberadaan sang istri.
Iqbal terus saja memanggil sambil mencari ke setiap ruangan.
"Sayang, dari tadi mas cariin kamu loh! ngapain di sini?" Tanya Iqbal ketika mendapati Elsaliani yang sedang berada di teras belakang, dia terlihat begitu fokus dengan ponsel miliknya.
"Mas!" Seru Elsaliani.
"Sayang nangis? kenapa? ada apa? apa ada yang sakit? atau baby yang kenapa-napa? atau mungkin Lestari datang lagi?" Tanya Iqbal bertubi-tubi saat melihat wajah Elsaliani yang telah di penuhi dengan tetesan air mata.
Iqbal langsung duduk di sebelahnya Elsaliani, lalu menyentuh lembut wajah Elsaliani.
"Sayang ada apa?" Tanya Iqbal yang semakin khawatir.
"V....V jatuh!"
"Kim Teahyun, dia jatuh di depan publik. Dia pasti sangat lelah, dia begitu bekerja keras. Kasian sekali my babe V, sarangeo!" Jelas Elsaliani dan kembali menangis.
"Mas nggak ngerti! siapa tuh Tehyun Teh Tehyun? sayang ngomongin siapa sih? apa sayang selingkuh di belakang mas?"
"Nih mas lihat aja sendiri!" Jelas Elsaliani yang langsung memperlihatkan ponsel miliknya yang masih memutar sebuah Vidio.
Iqbal segera memerhatikan Vidio tersebut, menciba fokus pada sosok yang terlihat sedang terjatuh dengan lutut yang tertekuk di lantai, hingga membuat keenam lelaki di sampingnya ikut menoleh pada lelaki yang terjatuh tersebut, bahkan dari salah satu diantaranya malah dengan sengaja menjatuhkan dirinya melihat Vidio tersebut membuat Iqbal tertawa terbahak-bahak, sekarang ia bahkan ingin melihatnya berulang-ulang kali.
"Nggak ada yang lucu, kenapa mas malah tertawa?" Tanya Elsaliani dengan wajah cemberut.
"Sayang nangis hanya gara-gara Vidio ini? tuh lihat, yang jatuh aja santai gitu, malah kawannya meniru gaya jatuhnya, bukankah reaksi untuk Vidio ini lebih cocok tawa dari pada air mata."
"Mas..."
"Udah sayang, berhenti menangis, berhenti nonton Vidio ini, jangan terlalu baper! Sekarang sayang masuk dan siap-siap!" Jelas Iqbal.
Iqbal langsung mematikan Vidio tersebut, lalu meletakkan ponsel milik Elsaliani ke dalam saku celananya. Iqbal membantu Elsaliani bangun dari duduknya lalu keduanya melangkah beriringan masuk kedalam.
"Apa kita akan pulang ke rumah bunda?" Tanya Elsaliani begitu bersemangat.
__ADS_1
"Nggak!" Jawab Iqbal lantang.
"Terus kenapa El harus siap-siap? apa jangan-jangan kita mau ke rumah Abi? ya udah ayo sekarang kita berangkat!"
"Kita nggak ke rumah bunda dan juga nggak ke rumah Abi."
"Lalu kemana?" Tanya Elsaliani yang mulai khawatir.
"Makan siang di luar!" Jawab Iqbal yang langsung membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam.
Sedangkan Elsaliani langsung menghentikan langkah nya, ia masih saja berdiri di depan pintu kamar.
"Sayang, kenapa malah melamun, cepat siap-siap!"
"Mas mau ajak El keluar? a...a...pa nggak masalah? Mas El di rumah aja, mas pergilah!"
"Sayang kenapa sih? masalah apa coba? udah buruan siap-siap!"
"Apa kata orang nantinya, El nggak sebanding jalan sama mas. El, El lebih nyaman di rumah. Seperti ini saja El sudah cukup bahagia, mas tidak harus mengorbankan semuanya buat El. El sama sekali nggak layak jalan apa lagi makan siang di luar sama mas."
"Sayang, mas nggak suka sayang ngomong seperti itu. Mulai hari ini, mas mohon jangan bawa lagi cerita lama kita. Mas minta maaf soal aturan dan celaan mas dulu, mas menyesal sayang. Dan satu lagi, sayang itu cantik, cantik banget!"
"Tapi mas!"
"nggak ada kata tapi, mas sama sekali nggak mau di bantah, ayo siap-siap! Mas sudah lama ingin melakukan ini dengan sayang, mas mau jalan-jalan, makan dan menghabiskan waktu bersama di luar dengan El. Sekarang cepat ganti baju, sebentar lagi kita berangkat." Jelas Iqbal.
Iqbal segera menuju ruang ganti, lalu segera siap-siap, Elsaliani yang terlihat masih kebingungan, akhirnya memutuskan untuk menuruti perintah Iqbal, ia hanya tidak ingin mengecewakan Iqbal.
Iqbal yang sudah rapi dengan jeans panjang warna abu-abu dengan kedua lutut yang terekspos begitu jelas, karena celana dengan sobekan di bagian lutut atau pada bagian paha adalah model jeans favorit Iqbal, ia bahkan mengoleksinya hingga ratusan jadi tidak heran jika ia selalu mengenakannya di luar jam kerja. Penampilannya siang ini semakin kece dengan kaos yang berwarna senada dengan jeans yang ia kenakan, serta kemeja coklat yang membuatnya semakin memancarkan aura yang begitu mempesona. Iqbal masih duduk di ujung kasur sana menunggu Elsaliani yang masih berada di kamar sebelah.
"Mas..." Panggil Elsaliani yang baru saja menghampiri Iqbal.
Pandangan Iqbal langsung tertuju pada sang istri yang telah berdiri di hadapannya. Elsaliani terlihat begitu manis dengan gamis berwarna abu-abu serta kerudung yang warnanya hampir senada dengan kemeja yang Iqbal kenakan.
"Cantik!" Ucap Iqbal yang langsung mengecup kedua pipi sang istri.
"Terima kasih." Ucap Elsaliani tersipu malu.
"Ayo kita berangkat!" Ajak Iqbal yang langsung menggandeng tangan sang istri.
Keduanya langsung berangkat untuk makan siang di luar, ini adalah pertama kalinya Iqbal membawa Elsaliani bersamanya. Karena selama hidup bersama selama ini Iqbal sama sekali tidak pernah mengizinkan Elsaliani untuk jalan bersamanya kecuali jika keduanya pulang ke rumah kedua orang tua mereka.
___________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semuanya😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani ya😉🥰🥰
__ADS_1
Love you all 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️ ❤️