Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
77.


__ADS_3

Khaira masih duduk manis di salah satu meja dekat jendela di sebuah kafe yang bernuansa coklat, Pandangannya terus menatap jalanan lewat jendela cafe. Matanya terus saja memperhatikan setiap mobil yang berhenti di parkiran cafe, berharap orang yang ia tunggu lekas datang. Senyuman Khaira langsung mengembang ketika sosok yang ia tunggu terlihat sedang berlari menghampiri dirinya.


"Sorry, tadi ada kerjaan yang nggak bisa abang tinggal. Kamu pasti udah nunggu lama kan?" Tanya Rizal dengan rasa bersalah dan langsung duduk di hadapan Khaira.


"Lima belas menit, it's oke! mau minum apa?" Jelas Khaira.


"Hmmm just jeruk aja." Jawab Rizal.


"Mbak, jus jeruk dua." Ujar Khaira ketika sang pelayan cafe datang ke mejanya.


"Baik mbak, pesanannya akan segera diantar!" Jelas Pelayan dengan senyuman ramah dan bergegas pergi.


"So?" Tanya Khaira setelah melihat Rizal udah sedikit terlihat santai.


"Hmm...abang mau minta tolong sama kamu, Khaira. Mungkin permintaan abang akan sedikit terdengar konyol, atau bahkan kamu akan berfikir kalau abang gila, tapi abang tetap harus melakukannya dan abang butuh bantuan mu." Jelas Rizal panjang lebar.


"Tentang apa? jika aku bisa, aku akan bantu." Jawab Khaira pasti.


"Kamu tau kan kalau abang begitu protek sama adek, dan sekarang abang nggak bisa lagi terus berada dua puluh empat jam disisi adek untuk menjaganya, abang sudah punya tanggung jawab baru, abang harus jaga Arumi dan juga Mikeal. Abang hanya mau memastikan kalau Iqbal benar-benar mencintai adek dan menjaganya dengan baik. Abang hanya mau pastikan kalau adek bahagia dengan hidupnya saat ini." Jelas Rizal.


Sebelum Khaira kembali berkomentar, pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Terima kasih mbak!" Ujar Rizal.


"Selamat menikmati!" Ujar sang pelayan dan berlalu.


"Apa abang menyuruhku jadi pelakor?" Tanya Khaira syok.


"Abang mohon, abang hanya ingin memastikan perlakuan Iqbal terhadap adek, abang akan tenang dan lega jika apa yang abang lihat selama ini benar adanya."


"Apa yang harus aku lakukan? menggoda Iqbal atau mengusik El?"


"Keduanya. Pastikan kalau Iqbal benar mencintai adek dan juga benarkah adek bahagia bersama Iqbal."


"Baiklah, demi El, aku akan menjadi ******. Tapi setelah semua ini selesai, apapun kenyataannya nanti, tolong jangan paksakan kehendak abang sama mereka, ini hubungan mereka, maka mereka yang akan memutuskannya."


"Baiklah, abang janji akan menuruti saran dari kamu!"


"Hufffff, ingat jangan membuat aku ketawa, meski begini acting aku bagus banget loh!" Ujar Khaira dengan senyuman lebarnya.


"Nah kalau yang itu abang kurang yakin, kita lihat aja nanti apa benar acting kamu setara dengan artis Alyssa Soebandono!" Jelas Rizal yang juga ikut tertawa cekikikan.

__ADS_1


Suara gelas yang diletakkan di atas meja tepat di hadapan Khaira membuat ingatan Khaira tentang dua hari yang lalu buyar seketika, dengan tatapan sinis Khaira menoleh kearah pemilik tangan yang masih menggenggam gelas lalu duduk di depan Khaira.


"Udah sampai ke Mesir ya lamunannya? di minum dulu airnya." Jelas Rizal.


Khaira mengambil gelas yang berisi air putih tersebut lalu meneguknya hingga habis, lalu kembali menatap Rizal.


"Apa aku begitu terlihat seperti ******? hah! mereka terlihat begitu jijik sama aku. Kakaknya sendiri merebut suami adiknya, wow bahkan aku sendiri geli memikirkannya." Gumam Khaira.


"Abang minta maaf, karena menyeret kamu dalam masalah sebesar ini. Abang salah, kerena tidak memikirkan segala hal yang akan terjadi. Khaira, abang akan meluruskan kesalah pahaman ini." Jelas Rizal.


"Nggak ada yang harus di jelaskan abang, lagi pula aku senang bisa berguna bagi El, setidaknya aku bisa sedikit memaafkan diriku atas kesalahanku di masa silam terhadap El."


"Ssstt! jangan bahas lagi tentang itu, kamu nggak salah, dan juga nyatanya adek baik-baik aja."


"Tapi jika saja aku tidak meninggalkan El waktu itu, mungkin El tidak harus mengalami trauma dan harus di rawat mentalnya, jika saja aku tidak membiarkan Kelvin...."


"Udah, itu hanya masa lalu. Ketika itu kamu masih kecil, pikiranmu masih labil. Khaira, terima kasih atas bantuanmu, sekarang aku bisa tenang melepaskan adek pada Iqbal, karena aku tau kalau dia akan menjaga adek dengan sangat baik. Soal Manda...."


"Udah biarkan semuanya mengalir adanya. Aku sama sekali nggak risih dengan anggapan mereka, dan aku senang bisa bantu El dan abang Rizal, dan soal Manda dan Mikeal, aku rasa mereka memang cocok. Lagi pula aku sama sekali nggak ada perasaan apapun sama Mikeal, dan juga sama Iqbal, untuk sesaat mungkin aku terpesona dengan sosok Iqbal, tapi semua rasa itu sirna seketika setelah aku tau kalau Iqbal adalah suami El, adik aku sendiri."


"Semoga jodoh mu lekas datang, atau mau abang kenalkan dengan seseorang?"


"Nggak usah, aku masih bisa cari sendiri!" Tegas Khaira lalu bangun dari duduknya.


"El...." Ujar Khaira gagu.


"Adek! kenapa di sini? udah jam dua kenapa masih belum tidur?" Tanya Rizal yang juga ikut berdiri di samping Khaira.


"Apa benar yang barusan adek dengar?" Tanya Elsaliani bersamaan dengan air mata yang mulai menetes.


"El, sepertinya...hm....sebenarnya...." Khaira mencoba untuk menjelaskan semuanya, namun lidahnya seakan kelu.


Khaira segera menghampiri Elsaliani lalu memeluknya erat, disusul dengan Rizal yang ikut memeluk kedua wanita yang begitu ia sayangi.


"Kenapa kalian berdua begitu menyayangi El? Kenapa abang dan kak Khaira selalu saja mengorbankan semuanya untuk El?" Tangis Elsaliani pecah.


"Ssssttttt! nggak ada yang di korbankan. El, aku hanya berusaha menebus dosa masa silam aku. El, sekarang aku lega karena pada akhirnya kamu bisa hidup bahagia dengan lelaki yang begitu mencintaimu." Jelas Khaira.


"Udah jangan mewek! jangan sampai tangis kalian malah membuat umi dan abi ke sini." Jelas Rizal lalu secara bergantian mengusap air mata kedua wanita yang berada di hadapannya.


"El akan jelaskan semuanya sama mas Iqbal dan abang Mikeal."

__ADS_1


"Jangan El, biarkan semua ini berjalan adanya. Suatu saat nanti mereka juga akan mengenalku dengan baik."


"Tapi..."


"Please! tolong..."


"Baiklah!" Ucap Elsaliani pasrah.


"Berarti damai nih ya?" Goda Rizal.


"Ihhh ini pasti ide gila abang kan?"


"Tau aja! terus kenapa tengah malam adek masih belum tidur?" Tanya Rizal.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Khaira khawatir dan berusaha memeriksa seluruh badan Elsaliani.


"El oke kak!" Jawab Elsaliani lalu menghentikan aksi Khaira.


"Na....na...na...na!" Rizal bersiul dengan senyuman menggoda.


"Abang kenapa? kesurupan?" Tanya Elsaliani heran.


"Ow...ow...." Seru Khaira dengan mengikuti arah tatapan Rizal yang tertuju pada baguan leher Elsaliani hingga membuat Elsaliani semakin kebingungan.


"Kenapa? abang ada apa sih?" Gumam Elsaliani semakin kesal.


"Pantesan belom tidur ternyata habis tempur toh..." Goda Rizal yang langsung keluar dari area dapur.


"Ibu hamil masih kuat juga ya! hmmm saran aku besok pagi kalau keluar kamar pakai jilbab ya!" Jelas Khaira dengan senyuman menggoda lalu menyusul Rizal.


"Pada ngomongin apaan sih? nggak jelas banget!" Ujar Elsaliani yang masih belum pahan dengan arah pembicaraan Rizal dan Khaira.


Tak mau ambil pusing dengan hak yang tidaj ia mengerti, Elsaliani memutuskan untuk kembali pada niat utamanya ke dapur. Elsaliani bergegas menuju dispenser, mengambil air lalu meneguknya puas.


Setelah merasa hausnya telah hilang, Elsaliani segera kembali ke kamar untuk istirahat.


____________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman 😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰

__ADS_1


KaMsaHamida ❤️❤️❤️


__ADS_2