
Suara bel rumah yang di tekan tanpa henti, menggema di seluruh ruangan. Suara yang begitu keras membuat Iqbal terperanjat kaget, dengan perasaan kesal, ia segera bangun dari tidur. Tangan Iqbal mencoba untuk meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja rias yang letaknya memang agak jauh dari tempat ia berada, pada saat itu pula sebuah tangan bergerak lalu menyentuh tangan Iqbal, menyadari ada yang menyentuh tangannya mata Iqbal segera beralih menoleh kearah tangan tersebut, dan betapa terkejutnya ia ketika ia menemukan sosok Elsaliani yang masih tertidur pulas sambil menggenggam erat tangannya. Kerudung yang Elsaliani kenakan begitu berantakan membuat seluruh wajahnya tertutup dengan sempurna.
"Kamu...." Teriak Iqbal dengan suara lantang.
Suara Iqbal cukup membuat Elsaliani terbangun, ketika menyadari dengan keadaan yang ada, dengan cepat Elsaliani bangun lalu berdiri menjauhi tempat tidur, dengan kedua tangan yang sibuk membenarkan kerudung.
"Maafkan El! El benar-benar tidak sengaja melakukannya, El benar-benar......"
"Cepat lihat siapa yang buat kerusuhan di pagi buta seperti ini? siapa pun yang datang suruh dia cepat pulang sebelum aku patahkan tangannya yang terus menekan bel dari tadi."
"Baik tuan." Ucap Elsaliani.
Dengan cepat Elsaliani segera keluar dari kamar, ia terus berlari menuju pintu utama, ia tidak ingin jika tamu tersebut kembali menekan bel, karena itu bisa membuat Iqbal mengamuk lalu benar-benar mematahkan tangannya.
Elsaliani segera membuka pintu, setelah melihat siapa yang datang, badan Elsaliani seakan tidak bisa berkutik, matanya tidak bisa berkedip, seakan bibirnya juga ikut terkunci, ia hanya terus berdiam diri, hingga suara Iqbal kembali menyadarkannya.
"Kenapa hanya berdiam diri? memangnya siapa yang.......?" Tanya Iqbal langsung terhenti ketika matanya melihat tamu yang sedang berdiri di hadapannya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam." Jawab Elsaliani dan langsung menyalami kedua tamu tersebut.
"Bunda, bapak. Kenapa datang nggak ngabarin lebih duku? harusnya aku bisa jemput." Ujar Iqbal dan ikut menyalami kedua orang tuanya.
"Bunda dengar dari Mikeal kalau kamu lagi bebas tugas, makanya bunda dan bapak datang kemari, sekalian mau jenguk menantu bunda, kalian sudah lama sekali tidak pulang, bunda kangen." Jelas Ayu dengan tangan yang langsung merangkul bahu Elsaliani lalu tersenyum manis.
"Bunda mu sangat ingin bertemu dengan El, sudah dari seminggu yang lalu dia ingin ke sini." Jelas Adimaja.
"El juga kangen sama bunda." Ujar Elsaliani lalu mencium kedua pipi Ayu, hal tersebut membuat Ayu semakin merangkul erat Elsaliani ke dalam pelukannya.
"Ayo kita masuk!" Ajak Iqbal dan ke empatnya langsung masuk.
__ADS_1
Kini ke empatnya berkumpul di ruang tamu, dengan tas bawaan yang masih di pegang oleh Iqbal.
"Bunda dan bapak istirahatlah dulu di sini, biar aku bawakan barang ke kamar. Ayo sayang, bantu mas menyiapkan kamar untuk bunda dan bapak!" Jelas Iqbal.
"Ah, baik. Bunda, bapak, El permisi sebentar." Ujar Elsaliani, meski masih syok dengan ucapan Iqbal, namun ia tetap berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja, ia tidak ingin membuat kedua mertuanya curiga.
"Iya sayang!" Ujar Ayu.
Elsaliani langsung mengikuti langkah Iqbal hingga keduanya tiba di ruang tamu, yang memang selama ini di tempati oleh Elsaliani.
"Sebelum bunda dan bapak kesini, dan melihat semuanya, mending sekarang cepat kamu bereskan semua barang-barang mu dari sini, aku nggak mau kalau sampai mereka tau tentang hubungan kita selama!" Tegas Iqbal.
"Baik."
Dengan cepat Elsaliani segera mengeluarkan semua baju-bajunya dari lemari dan memasukkannya ke dalam koper, dan juga beberapa barang lainnya. Elsaliani memang tidak memiliki banyak barang ataupun peralatan yang seperti para wanita miliki pada umumnya, jadi hanya butuh beberapa menit saja ia telah selesai mengemasi semua barang miliknya. Iqbal meletakkan tas kedua orangnya di lemari yang telah benar-benar kosong tersebut, perlahan Iqbal melangkah menuju pintu, membukanya perlahan sekali, ia berusaha memastikan kalau kedua orang tuanya masih berada di ruang tamu, setelah yakin keadaan aman, dengan cepat ia langsung menarik koper yang ada di tangan Elsaliani lalu segera menyeret koper tersebut ke kamar tidurnya, sedangkan Elsaliani hanya bisa mengikuti dari belakang tanpa berani berkomentar sepatah katapun.
"Kenapa masih membatu di sana? kamu mau bunda datang lalu melihat semua ini? cepat masukkan barang-barang mu ke lemari!" Perintah Iqbal sembari mendorong koper yang ada di tangannya ke arah lemari sana.
"Sudah selesai tuan." Jelas Elsaliani dengan pandangan yang langsung tertuju ke arah Iqbal yang terlihat sibuk dengan ponsel.
"Oke, udah sana keluar temani bunda dan bapak aku mau mandi dulu."
"Baik."
"El...." Panggil Iqbal membuat langkah Elsaliani terhenti lalu kembali menoleh kearah Iqbal.
"Iya tuan, apa ada yang harus El lakukan lagi?"
"Panggil aku, hm......mas! yah, itu hanya selama bunda dan bapak di sini, aku tidak mau mereka tau tentang hubungan kita yang sebenarnya, aku tidak ingin bapak..."
"Baik tuan, El mengerti. El janji kalau El akan menjaga rahasia kita dengan sangat baik, kalau begitu El permisi tuan." Elsaliani langsung menyela pembicaraan Iqbal, ia hanya tidak ingin ucapan kasar Iqbal kembali membuat hatinya sesak.
__ADS_1
Elsaliani segera menemui kedua mertuanya uang masih melepas lelah di sofa ruang tamu.
"Bunda, bapak, istirahatlah dulu di kamar, El akan siapkan sarapan."
"Bunda akan membantu El masak, ayo sayang kita ke dapur!" Ajak Ayu yang langsung bangun dari duduknya.
"Tidak usah bunda. Bunda kan baru aja datang, pasti masih capek banget kan, jadi lebih baik bunda istirahat dulu, nanti kalau sarapannya sudah siap, El panggilkan, ayo bunda, bapak, biar El antar ke kamar."
"Baiklah, bunda akan istirahat. Tapi makan siang nanti biar bunda yang masak, oke sayang!" Jelas Ayu.
"Oke." Jawab Elsaliani dengan tawa penuh bahagia.
"Ya udah ayo kita ke kamar, bapak benar-benar lelah, jadi mau istirahat dulu sebentar." Jelas Adimaja.
Setelah mengantarkan Ayu dan Adimaja ke kamar tamu untuk beristirahat, Elsaliani segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Setelah tiga puluh menit berlalu, akhirnya Elsaliani selesai menghidangkan sarapan di meja makan, setelah memastikan bahwa semua hidangan terlah tertata rapi di meja, Elsaliani bergegas hendak memanggilkan Ayu dan Adimaja untuk sarapan bersama-sama, namun di saat itu pula Iqbal datang menghampirinya.
"Mau kemana?"
"Panggil bunda dan bapak, biar kita sarapan sama-sama."
"Nggak usah, biar mereka istirahat dulu."
"Tapi El....."
"Aku bilang tidak usah, berarti ya nggak usah, faham!" Tegas Iqbal.
"Oke, barusan aku habis dari kamar mereka, dan keduanya masih tertidur lelap, aku hanya tidak ingin kamu mengganggu mereka. Jadi biarkan saja bunda dan bapak istirahat dulu, sarapannya nanti aja. Sekarang ayo kita sarapan, aku lapar!" Sambung Iqbal dan langsung duduk di kursi meja makan.
"Hm, baiklah kalau begitu maunya tuan. Kalau begitu tuan sarapan lah lebih dulu, El tunggu bunda dan bapak saja." Jelas Elsaliani dan langsung meninggalkan Iqbal seorang diri di meja makan.
Sikap Elsaliani yang seenak jidat meninggalkan Iqbal tanpa perintah, cukup membuat Iqbal marah, namun ia tidak ingin amarahnya malah membuat semua permainannya selama ini di ketahui oleh kedua orang tuanya. Mau tidak mau ia terus berusaha untuk mengendalikan diri.
__ADS_1
"Tunggu aja, aku bakal kasih kamu hukuman yang akan membuatmu bertekuk lutut memohon ampun atas perbuatan kamu hari ini. Ahssss hari ini kamu boleh bersenang-senang, tapi akan aku pastikan kamu untuk membayar semuanya." Gumam Iqbal.***