
"Anak-anak, ayo cepat keluar! kita akan berangkat sekarang." Seru Ayu dengan suara lantang.
Ayu sedari tadi duduk di sofa menunggu yang lainnya siap-siap, namun setelah menunggu selama lima belas menit hanya Mikeal junior, Rakes dan Roger yang keluar, sedangkan yang lainnya sama sekali tidak terlihat batang hidung mereka.
"Dimana yang lain?" Tanya Adimaja yang baru saja masuk lalu duduk di samping Ayu.
"Ntah sedang apa mereka semua, udah bunda tungguin dari tadi tapi belom juga ada keluar." Jelas Ayu.
"Ya udah, kalau gitu kita duluan saja, biar mereka nyusul di belakang, lagian kita cuma jalan kaki beberapa langkah juga sampai, jadi kita tunggu mereka di sana aja." Jelas Adimaja.
"Ya udah ayo! ayo sayang..." Ajak Ayu.
"Ayo...." Jawab ketiga bocah lelaki itu dengan penuh kegirangan.
Mereka langsung bergegas menuju pantai yang letaknya memang di belakang resort milik Adimaja.
"Bunda...." Panggil Erina yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sepertinya bunda udah pergi deh!" Jelas Arumi.
"Kalau begitu kita langsung ke pantai aja." Ajak Rizal.
"Gimana dengan yang lain?" Tanya Hadi yang memang tidak melihat yang lainnya di ruang tamu.
"Mungkin mereka juga udah pergi bareng sama bunda, ya udah ayo!" Ajak Erina.
"Ayo..." Ajak Arumi.
Keempatnya langsung bergegas ke pantai.
"Wah kita di tinggal kayaknya!" Ujar Tia ketika melihat suasana resort yang telah sepi.
"Kita bareng aja, yok kak..." Ajak Amanda.
"Oke!" Jawab Tia.
"Hmmmm, abang Alam apa boleh aku aja yang gendong Zafran?" Tanya Amanda yang sedari tadi terus menatap gemes pada Zafran yang berada dalam gendongan Alam.
"Boleh, nih!" Jelas Alam.
Dengan senyuman bahagia, Amanda langsung mengambil alih Zafran.
"Tuh kan udah cocok banget jadi ibu, pulang dari sini kita langsung nikah ya." Goda Mikeal.
"Apaan sih! orang masih sekolah." Gumam Amanda kesel.
"Ayo Zafran kita ke pantai, kalau lama-lama di sini bisa jadi bahan gombal tuh orang!" Lanjut Amanda dan bergegas keluar.
"Heiii tunggu!" Pinta Mikeal yang juga segera menyusul Amanda.
"Kenapa cuma kalian berdua di sini? yang lainnya kemana?" Tanya Khaira.
"Udah berangkat duluan, ya udah ayo kita susul mereka." Ajak Tia yang di jawab dengan anggukan oleh Khaira.
Alam, Tia dan Khaira juga bergegas ke pantai. Di susul oleh Luqman, Iqbal dan Elsaliani.
---------------------
Semuanya telah berkumpul di pantai, mereka duduk beralaskan karpet yang di gelar di atas pasir, semua mata seakan begitu fokus pada sang mentari yang hampir tenggelam. Angin sepoi-sepoi menambahkan kesan romantisme yang begitu luar biasa, semua hati hanyut bersama dengan debur ombak yang memecah kesunyian. Kini mentari telah sempurna menghilang, bulan pun telah mengintip di balik awan, dengan di temani sang bintang-bintang menambah kesan langit malam yang begitu menakjubkan. Sederhana saja untuk bahagia, tidak harus mewah yang penting kebersamaan, penuh kasih sayang dalam hubungan kerabat maupun sahabat.
__ADS_1
Seletah menyaksikan Matahari tenggelam, semuanya kembali ke resort untuk sholat magrib berjamaah, lalu melanjutkan dengan makan malam bersama.
Tepatnya di belakang resort dengan pemandangan laut malam, di sana sebuah meja besar telah terpenuhi dengan berbagai macam makanan, semua segera mengambil posisi mereka masing-masing.
"Waaaaah udang bakar! aku boleh makan sampai puas kan?" Tanya Rakes yang memang begitu menyukai udang.
"Boleh dong sayang, ini semua untuk di makan bukan untuk di lihat!" Jelas Ayu.
"Yeeee!" Sorak Rakes senang dan langsung melahap udang bakar yang ada di hadapannya.
"Abang, aku juga mau...!" Protes Roger yang menarik paksa piring Rakes.
"Ishhh tuh kan masing banyak, kenapa harus yang di tangan aku?" Gumam Rakes kesel.
"Ini buat abang Rakes." Ujar Mikeal junior sambil menyodorkan piring lain yang berisikan udang.
"Terima kasih!" Ucap Rakes senang.
Ketiganya begitu asyik dengan makanan mereka.
"Bunda yang masak ini semua?" Tanya Elsaliani.
"Di bantu sama bi Mei tadi. Ayo semuanya makan!" Jelas Ayu.
"Kenapa tidak minta bantu sama kami?" Tanya Erina.
"Kalian butuh istirahat, lagi pula cuma masak sedikit aja kok!" Jelas Ayu.
"Sedikit? bunda ini tuh banyak banget, bunda pasti capek kan menyiapkan ini semua?" Tanya Tia yang merasa tidak enak.
"Kalian nggak usah merasa tidak enak begitu, lagi pula bunda kalian memang hobi masak kalau nggak tubuh bapak nggak akan sesejahtra ini!" Jelas Adimaja.
"Aaaa...." Seru Iqbal sambil menyodorkan sendok yang di penuhi dengan nasi dan sayuran kearah Elsaliani.
Tak ingin merusak suasana yang ada, Elsaliani langsung memakannya.
"So sweeet nya, jadi iri...." Seru Erina.
"Abang juga bisa lebih romantis dari Iqbal." Tegas Hadi yang juga ikut meniru Iqbal.
"Makasih suamiku terrrrrlove!" Ucap Erina setelah memakan makanan yang di suapkan oleh Hadi.
"Jangan buat jiwa jomblo aku meronta dong!" Gumam Mikeal kesal.
"Situ cemburu? makanya jangan tarik ulur mulu, cepat halalkan!" Seru Alam.
"Lihat aja, setelah aku dan Manda ijab qabul bakal aku buat kalian baper jamaah!" Tegas Mikeal.
"Abang Mikeal apaan sih!" Ujar Amanda dengan wajah merona.
"Ku tunggu undangan mu, semoga nggak kalah cepat dari aku!" Seru Luqman.
"Abang Luqman juga akan menikah? siapa calonnya?" Tanya Elsaliani.
"Tuh di samping abang kamu!" Jawab Luqman santai dan kembali melanjutkan makannya.
"Kak Khaira!" Seru Elsaliani tak percaya.
"Kamu serius?" Tanya Iqbal.
__ADS_1
"Luqman kamu nggak menjadikan adik aku sebagai pelampiasan kan?" Tanya Rizal.
"Haaaaaahhhh, ada apa dengan reaksi kalian semua? apa ada yang aneh dengan ucapan aku barusan?" Tanya Luqman.
"Khaira, apa dia bicara benar?" Tanya Rizal.
"Hmmmmm" Jawab Khaira dengan menundukkan wajahnya.
"Hahhhh, Luqman apa kamu sudah gila? stok cewek baik masih banyak di bumi ini, aku bisa carikan untuk mu!" Seru Mikeal.
"Mikeal jaga ucapan mu!" Gumam Adimaja marah.
"Kenapa bapak marah? aku bicara apa adanya!" Tegas Mikeal.
"Cukup Mikeal! apa yang kamu lihat bukan apa yang sebenarnya berlaku!" Jelas Iqbal.
"Maksud abang aku salah? haaaaaah! jelas-jelas dia ingin merebut abang dari El." Tegas Mikeal.
"Stop Mikeal, kamu sadar dengan ucapan mu barusan? kamu...." Keluh Luqman yang ikut emosi.
"Abang Mikeal, tenanglah! semua tuduhan abang atas kak Khaira cuma salah paham. Kak Khaira wanita baik-baik, dia tidak pernah merebut mas Iqbal dari El, semua itu cuma salah paham!" Jelas Elsaliani.
"Abang Mikeal, kendalikan dirimu!" Pinta Amanda mencoba menenangkan keadaan Mikeal yang semakin memanas.
"Mikeal, aku yang meminta Khaira untuk menggoda Iqbal." Jelas Rizal.
"Abang Rizal! Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa malah serumit ini?" Tanya Arumi yang juga ikut andil dalam kejadian waktu itu.
"Tunggu! apa yang sedang kalian bicarakan? bunda bahkan tidak bisa mengerti dengan ucapan kalian semua? Mikeal, Iqbal, dan kamu Rizal, kalian pasti menyembunyikan sesuatu dari bunda kan?" Tanya Ayu.
"Bunda, tenanglah dulu, mereka pasti punya alasan kenapa melakukan semua ini." Jelas Erina mencoba menenangkan Ayu.
"Katakan? apa alasan kamu Rizal sehingga meminta Khaira menghancurkan rumah tangga Iqbal dan El? apa ada yang bapak nggak tau?" Tanya Adimaja.
"Aku, aku, aku.....hanya....!" Rizal bak tersekak, dia tidak tau harus bicara apa pada Adimaja, haruskah dia bicara apa yang sebenarnya, hingga dia membuat drama stragis itu.
"Sayang, ayo kita masuk. Kalian mau es cream kan?" Ajak Tia.
"Mau tante...." Jawab ketiga bocah lelaki yang memang sedari tadi kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Tia membimbing Rakes, Roger dan Mikeal junior untuk masuk kedalam di susul oleh Amanda yang membawa Zafran dalam gendongannya.
"Sekarang ceritakan semuanya, tanpa tapi!" Tegas Adimaja.
(apa ini akhir dari segala cerita ku? hah, konyol sekali dulu aku begitu ingin melepaskan dia dari hidupku, dan sekarang aku malah ketakutan setengah mati karena tak ingin jauh darinya. Rizal pasti tau semuanya, dia pasti akan cerita pada bunda dan bapak, dan 'dorrr' bom waktuku benar-benar meledak, bunda dan bapak pasti akan memisahkan El dari aku. Ini kah yang namanya karma? sesakit ini kah balasan yang harus ku terima dari kesalahan dan kekacauan yang ku buat di masa silam.) Hati Iqbal tak lagi tenang, segala kemungkinan buruk mulai mengambang di pikirannya.
Takut, perih, pilu, luka, amarah semuanya telah memuncak membuat otak Iqbal mulai tidak bisa mengendalikan hatinya yang benar-benar ingin bertindak sebelum yang lain merebut segala miliknya.
Perlahan dengan lembut, tangan Elsaliani menggenggam erat tangan Iqbal yang sedari tadi menggepal pahanya di bawah meja. Mata teduh Elsaliani menatap Iqbal dengan penuh kasih sayang, seketika membuat Iqbal luluh, hingga jantungnya kembali berdetak normal.
"Iqbal selalu saja..." Jelas Rizal yang memulai cerita kelam yang Elsaliani lalui selama ini.
Rizal bahkan terlihat kesusahan untuk mengatakan semuanya, hatinya kelu mengingat masa lalu buram sang adik tersayang, bahkan matanya ikut memerah, tanganya gemetar, amarah seakan mendominasi sisi bijak yang selama ini ia jaga setengah mati, haruskah semua ini berakhir, karena hanya Adimaja dan Ayu lah yang bisa menamatkan cerita ini.***
_____________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️