
Elsaliani terus melangkah mengikuti sang bunda hingga keruang TV. Di sofa sana Zulfa sedang menunggu kedatangan keduanya, Ayu duduk di samping Zulfa, kedua wanita paruh baya tersebut terus saja menatap kearah Elsaliani, tatapan keduanya seolah sedang mengintrogasi, wajah keduanya terlihat sangat serius. Melihat exspresi Ayu dan Zulfa membuat Elsaliani tertanya-tanya tentang apa yang sedang mereka pikirkan. Elsaliani langsung duduk di sofa di hadapan kedua wanita tersebut.
"Kok sepi? yang lain pada kemana? kenapa cuma bunda dan umi?" Tanya Elsaliani mencoba mencairkan suasana.
"Mereka lagi ngajak Mikeal jalan-jalan." Jawab Zulfa datar.
"Semuanya? Abang sama kak Arumi ikut juga?" Tanya Elsaliani.
"Iya, sekalian mau mampir di rumah Mikeal katanya." Jelas Ayu.
"Hmm...pantesan sepi. Bunda sama umi kenapa nggak ikutan?" Tanya Elsaliani lagi.
"Karena ada hal penting yang ingin bunda tanyakan sama adek." Jelas Zulfa.
"Hal penting apa? kenapa auranya tiba-tiba jadi seram gini? ada apa bunda, umi?" Tanya Elsaliani yang mulai khawatir.
"El, jujur sama bunda dan umi, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Iqbal?" Tanya Ayu dengan tatapan yang begitu serius, tak ada senyuman sedikitpun di wajahnya.
"Nggak ada. Semuanya baik-baik saja." Jelas Elsaliani.
"Baik-baik saja? suami yang tidur terpisah dengan istrinya, apa itu baik-baik saja? suami bahkan tidak pernah memperlakukan El layaknya seorang istri apa itu masih baik-baik saja?" Tanya Ayu yang tidak dapat lagi menahan amarahnya.
"Ayu, tenanglah! kita kan udah sepakat untuk menyelesaikan ini baik-baik. Kamu juga nggak mau kan kalau sampai mas Adimaja tau hal ini. Lagi pula apa yang kita lihat, belum tentu kebenarannya kan?" Ujar Zulfa sambil mengusap pelan bahu Ayu.
"Umi, bunda, ini salah paham. Kami baik-baik saja. Mas Iqbal memperlakukan El dengan begitu baik, dan soal kamar..." Jelas Elsaliani terhenti karena Ayu langsung bangkit dari sofa lalu memeluknya erat.
"Maafkan bunda sayang, maafkan bunda!" Tangis Ayu pecah di dalam pelukan Elsaliani.
"Bunda, kenapa minta maaf? bunda kan nggak salah!" Jelas Elsaliani yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Selama ini anak bunda pasti memperlakukanmu dengan sangat buruk, apa dia menyakiti mu? apa bekas luka ini juga karena ulah anak bunda?" Tanya Ayu dengan tangan yang mulai menyentuh bekas luka di dahi Elsaliani.
"Bunda, mas Iqbal cinta sama El, jadi mas Iqbal nggak mungkin melakukan apa yang bunda tuduhkan barusan." Jelas Elsaliani.
"Apa dia mengacam El agar tetap diam, agar El tidak mengadukan perlakuannya pada keluarga El?" Tanya Ayu.
"Bunda, kenapa bunda jadi seperti ini?" Tanya Elsaliani yang ikut meneteskan air mata.
__ADS_1
"Tadi mertua adek, melihat semua barang-barang milik adek tertata rapi di kamar tamu, semua perlengkapan adek ada di kamar sana. Adek, coba adek bicara jujur sama umi dan bunda, ada apa sebenarnya? apa benar kalau diantara kalian berdua ada gadis yang bernama Lestari? apa Iqbal sama sekali tidak pernah menyentuh adek?" Jelas Zulfa.
"Umi, bunda, tolong jangan begini! dan soal mbak Lestari, El nggak tau bunda dan umi tau dari mana tentang dia, tapi sekarang ini mbak Lestari hanya masa lalu mas Iqbal." Jelas Elsaliani.
"Ancaman apa yang Iqbal berikan, sampai El terus saja membela dia? El, jangan takut mulai hari ini dia tidak bisa lagi menyakiti El." Tegas Ayu.
"Sekarang, umi jadi ragu tentang kehamilan adek. Apa ini juga bohong? Apa adek pura-pura hamil? sama seperti adek pura-pura bahagia selama ini." Jelas Zulfa yang langsung menyentuh wajah Elsaliani.
Dengan lembut, Zulfa terus membelai wajah Elsaliani, menatapnya lekat lalu mengusap air mata yang sedari tadi berjatuhan bahkan membuat matanya mulai sembab dan bengkak.
"Umi, adek nggak bohong. Baby benar-benar ada di sini, dia anak mas Iqbal." Tegas Elsaliani.
Perlahan Elsaliani bangun dari sofa, dia melangkah menjauhi Ayu dan Zulfa, membuat kedua wanita tersebut menatapnya.
"Kenapa sayang? ada apa?" Tanya Ayu yang khawatir dengan tingkah Elsaliani yang terus menjauh darinya.
"Umi, adek nggak masalah kalau umi nggak percaya sama adek, dan bunda, El juga baik-baik aja jika bunda mau marah sama El. Tapi tolong jangan bicara begitu tentang suami El. El mencintai mas Iqbal dengan segala hal yang ada padanya. El suka kelembutannya jadi El juga harus menerima sikap brutalnya, El suka ketampanannya berati El juga harus terima sikap jeleknya, El cinta dia seutuhnya, termasuk baik buruknya. Tolong berhenti berkata buruk tentang suami El! umi, adek hamil, dan ini anak mas Iqbal. Bunda, El mencintai anak bunda!" Jelas Elsaliani yang terus berusaha tegar, meski harus berulang kali menyeka air mata.
Iqbal yang perlahan memeluk tubuh Elsaliani dari belakang, sontak membuat Elsaliani segera menoleh, namun Iqbal segera mencegahnya. Zulfa dan Ayu masih menatap kearah keduanya yang kini tepat di hadapanya meski terbentang jarak yang sedikit jauh.
"Semua tuduhan bunda benar adanya, aku memang kasar sama El, aku jahat sama El tapi itu dulu bunda. Umi, maaf karena dengan sengaja aku telah menyakiti anak umi, tapi percayalah, kini hanya ada rasa cinta dan sayang di hati ini untuk El. Sekarang, tolong jangan ungkit lagi kesalahan aku di masa lalu, aku ingin bahagia bersama El dan baby kami. Tolong! aku mohon." Jelas Iqbal yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Cukup Iqbal! El akan ikut bersama bunda." Tegas Ayu.
"Ayu tenanglah, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Beri mereka waktu untuk menjelaskan semuanya" Jelas Zulfa.
"Nggak Zulfa, aku kenal betul anak aku dengan baik, aku yang salah karena melamar putrimu, aku yang salah karena membiarkan perjodohan ini terjadi." Jelas Ayu.
"Bunda, tolong jangan pisahkan El dari aku." Pinta Iqbal yang kini membenamkan wajahnya di bahu Elsaliani.
"Apa bunda dan umi mempermasalahkan soal barang-barang adek yang ada di kamar tamu?" Tanya Rizal yang baru saja muncul di ruangan tersebut.
"Apa Rizal juga tau tentang hubungan mereka selama ini? kenapa hanya diam saja?" Tanya Ayu.
"Bunda, umi! apa bunda sama umi nggak lihat kalau lemari di kamar mereka di penuhi dengan semua pakaian Iqbal, barang-barang Iqbal yang berton-ton sudah cukup membuat kamar mereka pengap, kalau barang-barang adek juga masuk ke kamar itu, bisa-bisa mereka berdua nggak bisa nafas." Jelas Rizal santai dan langsung duduk di sofa.
"Maksud Abang apa?" Tanya Zulfa.
__ADS_1
"Abang yang kasih ide buat misahin barang-barang mereka, lagi pula umi tau sendiri kan bagaimana cerobohnya adek, bisa-bisa barang-barang Iqbal hilang satu persatu kerena bercampur aduk dengan barang adek. Soal kehamilan adek, kalau umi ragu ya tinggal periksa aja ke dokter, kenapa harus buat drama seheboh ini coba. Udah ah, Abang mau balik lagi ke rumah Mikeal, yang lain lagi nungguin kunci rumah yang tertinggal di sini, assalamualaikum." Jelas Rizal.
Rizal langsung mengambil kunci rumah Mikeal yang tergeletak di dekat vas bunga, lalu dengan santai keluar meninggalkan yang lainnya begitu saja.
(Kenapa Abang bersikap seolah-olah tau semuanya? atau memang sebenarnya Abang tau kalau selama ini adek pura-pura baik-baik saja di depannya? Abang, sampai dimana Abang tau, kenapa masih pura-pura di depan adek, sebegitu inginnya kah Abang melindungi dan menghargai perjuangan adek? Terima kasih Abang, adek sayang Abang.) Gumam hati Elsaliani.
(Jadi selama ini abang Rizal tau semuanya tapi dia memilih untuk tetap diam, dan membiarkan semuanya. Apa yang sedang dia rencanakan?) Iqbal mulai bertanya dengan dirinya sendiri atas sikap Rizal yang membuatnya kebingungan.
"Apa benar yang baru saja Rizal katakan?" Tanya Ayu.
"Jika memang benar adanya, kenapa kalian tidak memberikan alasan yang sama, ketika kami bertanya?" Tanya Zulfa.
"Bagaimana El menjelaskannya, jika setiap ucapan El selalu bunda dan umi anggap sebuah kebohongan, percuma kan El bicara panjang lebar." Jelas Elsaliani.
"Lalu soal Lestari, siapa gadis itu?" Tanya Zulfa.
"Lestari mantan Iqbal, anak komandannya! Cuma mantan kok mi, nggak lebih!" Jelas Rizal yang tiba-tiba kembali muncul.
"Kali ini kunnci mobil abang yang ketinggalan!" Tambah Rizal sembari mengambil kunci mobil yang tertinggal di sofa, lalu segera keluar.
"Maafkan bunda! bunda hanya terlalu takut kalau anak bunda menyakiti kamu El." Jelas Ayu, lalu mendekati Iqbal dan Elsaliani.
"Hm..." Jawab Elsaliani dengan anggukan dan segera memeluk Ayu.
"Umi juga minta maaf!" Ucap Zulfa lalu memeluk tubuh Iqbal.
"Aku juga minta maaf umi!" Ujar Iqbal.
(Sudahlah, tidak harus mengungkit masa lalu bukan jika masa sekarang sudah cukup membahagiakan. Asalkan adek bahagia, maka semuanya akan baik-baik saja. Iqbal, pastikan kalau semua kesilapan kamu tidak akan terulang kembali, karena jika itu terjadi aku sendiri yang akan membuat hidupmu seperti di neraka, akan ku hancurkan segala yang kau banggakan. Itu janjiku Iqbal, janji seorang Abang untuk kebahagiaan adek nya) Tegas hati Rizal.
Ternyata Rizal masih saja berdiri di balik dinding sana, dengan mata yang terus memantau ke arah Zulfa, Ayu Iqbal dan Elsaliani. Setelah memastikan bahwa keadaan yang ia khawatirkan telah membaik, dan semuanya terlihat baik-baik saja, Rizal segera keluar lalu bergegas masuk ke mobil, ia langsung meluncur menuju rumah Mikeal, di mana yang lain sedang menunggu kedatangannya.***
_____________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰
__ADS_1
Love u all😘😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️