Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
115.


__ADS_3

🍁Lima Bulan Kemudian 🍁


Sejak dari tadi sore, Elsaliani terus saja menanti kepulangan sang suami. Meski kini suasana begitu ramai di rumah Adimaja, namun semua itu tidak bisa membuat hati Elsaliani tenang betapa tidak, sang suami yang berjanji pulang tadi pagi hingga sore hari belum juga terlihat batang hidungnya.


Sejak dua hari yang lalu, Elsaliani dan Zea diantar ke rumah Adimaja oleh Iqbal, karena memang selain Iqbal harus pergi tugas, besok adalah hari nikahnya Mikeal dan Amanda. Rumah Adimaja sudah ramai sejak tadi pagi, keluarga besar telah berkumpul membuat suasana rumah begitu ramai.


Dua minggu yang lalu Amanda lulus SMA dan kedua belah pihak keluarga sudah sepakat untuk melangsungkan pernikahan putra putri mereka. Setelah sebulan yang lalu Luqman menikahi Khaira, kini giliran Mikeal yang melepaskan status lajangnya.


Selepas sholat magrib guruh, angin dan hujan mulai terdengar saling bersahutan. Hujan deras yang mengguyur bumi seolah membuat semuanya semakin mencengkam. Elsaliani segera bangun dari sajadahnya, ia berlari kearah jendela lalu menatap keluar sana dengan penuh kegelisahan.


"Mas, kenapa belum pulang? apa yang terjadi? mas baik-baik saja kan?" Tanya Elsaliani dengan hati yang begitu direndung kegelisahan.


Perlahan air mata mulai menetes, seakan mengikuti hujan yang kian deras.


"Ya Allah, jaga kan mas Iqbal untuk El, jangan engkau ambil dia lebih dulu dari El, karena El dan Zea masih begitu bergantung padanya." Pinta Elsaliani yang sejenak memejamkan matanya.


Pintu kamar yang perlahan dibuka dari luar sama sekali tidak membuat pandangan Elsaliani teralih dari luar jendela sana, ia masih saja begitu fokus pada setiap tetes hujan yang jatuh membasahi bumi. Perlahan seseorang kian mendekat, hingga ia berdiri tegak di depan Elsaliani.


"Kenapa menangis? apa El mengkhawatirkan abang Iqbal?" Tanya Mikeal ketika mendapati wajah Elsaliani yang telah dipenuhi dengan air mata.


"Hmmm! bukankah harusnya dia sudah kembali sejak tadi pagi, terus kenapa sampai sudah malam begini dia belum juga pulang?"


"El, terkadang meski misi berjalan lancar sesuai perencanaan, tetap saja waktu kepulangan kami bisa molor, salah satunya karena cuaca seperti saat ini."


"Tapi tadi pagi cuacanya bagus, nggak ada masalah."


"El, disini mungkin baru aja hujan, tapi di sana bisa jadi dari pagi udah hujan kan? udah kamu tenang aja, abang Iqbal akan segera pulang, besok kan adik tersayangnya nikah."


"Tapi tetap saja El khawatir, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?"


"Semua akan baik-baik saja. Abang Iqbal akan segera pulang, untuk kamu, Zea, aku dan juga untuk yang lainnya. Udah sekarang hapus air matamu itu, jangan mengkhawatirkan hal yang nggak akan pernah terjadi."


"Firasat El salah kan?"


"Hmmm, dia akan segera pulang." Tegas Mikeal lalu melangkah semakin mendekati Elsaliani.


"Jangan buang air matamu dengan percuma!" Ujar Mikeal lalu mengusap lembut air mata Elsaliani.


"Mikeal, El..." Panggil Ranum dan Ayu hampir bersamaan


Kedua wanita paruh baya tersebut baru saja masuk ke kamar Iqbal, sambil membawakan Zea yang terlihat sedang menangis.


"Bunda, mama!" Ujar Mikeal.


"Zea kenapa bunda?" Tanya Elsaliani.


"Dia haus sayang, udah sejak tadi main terus sama yang lainnya, dia pasti lelah dan ngantuk." Jelas Ayu.


"Zea sayang, ayo sini sama uma!" Ujar Elsaliani lalu mengambil alih Zea kedalam gendongannya.


"El, kamu nangis?" Tanya Ranum.


"El mengkhawatirkan abang!" Jawab Mikeal.


"Sayang, kamu tenang aja, sebentar lagi Iqbal pasti akan pulang dengan selamat!" Jelas Ranum lalu merangkul Elsaliani.


"El, kamu kenal betulkan siapa suami kamu? dia akan segera pulang, besok hari bahagia adik yang paling ia sayangi, jadi bunda pastikan dia akan segera pulang. Udah jangan nangis lagi."


"Iya bunda, mama." Jawab Elsaliani mencoba untuk tetap tenang.


"Kalau gitu aku keluar dulu." Ujar Mikeal dan segera keluar dari kamar tersebut.


"Bunda juga keluar dulu yang sayang, masih banyak hal yang harus diurus." Jelas Ayo.


"Iya bunda."


"Ntar kalau Zea udah selesai nyusu, kamu bawa dia keluar ya, mama masih ingin main sama cucu tercantik mama." Ujar Ranum.


"Iya ma."


Ranum dan Ayu bergegas keluar meninggalkan Elsaliani bersama Zea.


---------------------


Pelan-pelan sekali, Iqbal membuka pintu kamarnya, ia sama sekali tidak ingin membangunkan sang istri yang pastinya sudah tertidur nyenyak. Kaki Iqbal melangkah pelan mendekati tempat tidur, namun langkah tersebut seketika terhenti ketika matanya melihat sosok sang istri yang berada diatas sajadah. Mata indah Iqbal terus saja menatap sang istri yang duduk di sajadah sedangkan Zea berada disisi kanannya. Zea tampak aktif, ia berbaring dengan kedua kaki yang bergerak ke sana-sini, lalu kedua tangan yang sibuk sendiri.


"Putri cantik ayah kok belum tidur sih? ini udah tengah malam loh!" Ujar Iqbal yang mendekati Zea.


"Mas...." Panggil Elsaliani dengan mata berkaca-kaca.


"Apa kalian belum tidur karena nungguin mas?"


"Hmmmm"


"Sorry mas telat dan buat kalian khawatir!" Ucap Iqbal yang langsung menyentuh pipi kedua wanita yang begitu ia cintai secara bergantian.


"El takut mas nggak akan kembali, El dan Zea nggak bisa tanpa mas!"


"Mas nggak akan pernah ninggalin kalian berdua." Tegas Iqbal yang langsung memeluk erat tubuh sang istri.


"Apa tahajutnya udah selesai?"


"Udah."


'Cup' Iqbal mendaratkan ciumannya di bibir sang istri.


"Love you sayang!"


"Ayo bobo! Zea pasti ngantuk kan? ayo sayang!" Lanjut Iqbal lalu mengambil Zea dan menggendongnya.


Zea yang terlihat begitu nyaman dan tenang berada didalam gendongan Iqbal, bahkan dengan mudahnya Zea tertidur dalam gendongan sang ayah tercinta.


"Ayah sayang sama Zea, tidurlah yang lelap putri ayah tersayang." Ucap Iqbal lalu mengecup kening dan kedua pipi Zea.


Setelah membaringkan Zea dalam boxs bayi, Iqbal kembali melangkah mendekati Elsaliani yang sejak tadi sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Mas ganti baju dimana?"


"Di rumah Alam, mas tadi ngantarin Alam, ya udah sekalian mas mandi di sana." Jelas Iqbal yang ikut duduk di samping Elsaliani.

__ADS_1


"Kenapa terlambat?"


"Ada misi tambahan secara dadakan, mas minta maaf! sayang tau kan kalau misi kali ini kami hanya berangkat bertiga, Luqman masih cuti, Mikeal juga."


"Hmmmm"


"Mas minta maaf!"


"Hmmmm"


"Hmmmm? itu artinya sayang lagi marah kan?"


"Nggak!"


"Tuh kan marah?"


"Ih siapa yang marah!"


"Sayang...."


"Hmmmm."


"Tuh kan? udah ah jangan marah-marah ntar cepat tua loh!"


"Ihh mas kali yang udah tua!"


"Iya, mas tau kalau mas udah nggak muda lagi."


"Eh, maksud El nggak gitu!"


"Mas sadar kok sayang!"


"Mas, bagaimana bisa pria tua tapi wajah masih terlihat begitu muda, anak SMA aja kalah keren dari mas!"


"Sayang serius?"


"Iya. Mas, boleh El minta sesuatu?"


"Mintalah! jangankan sesuatu, semuanya juga boleh!"


"El, El...hmmmm"


"Mau minta apa?"


"Itu, hmmmm!"


"Apa?" Tanya Iqbal yang semakin penasaran dengan tingkah sang istri.


Elsaliani mendekat, lalu perlahan mencium lembut bibir sang suami, membuat Iqbal tersenyum bahagia. Tidak ingin menyia-nyiakan keadaan yang ada, Iqbal semakin memperdalam ciumannya.


"Mas..." Ujar Elsaliani yang akhirnya bisa melepaskan diri dari aksi Iqbal.


"Hmmmm" Jawab Iqbal dengan mata yang masih tidak bisa beralih dari bibir Elsaliani.


"Mas, El...." Ucapan Elsaliani langsung terhenti karena Iqbal kembali menciumnya.


"Apa yang sayang mau minta?" Tanya Iqbal setelah melepaskan ciumannya.


"Sayang mau menggoda mas ya?"


"El serius!" Tegas Elsaliani dengan pipi yang telah merona sempurna.


"Kenapa minta, ambil aja!" Jelas Iqbal sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Ayo!" Lanjut Iqbal.


"Udah geser sana, El ngantuk!"


"Sayang!"


"Kenapa?"


"Cepetan!"


"Apaan sih?"


"Buruan! Atau mau mas yang opening?"


"Udah, sana El ngantuk!"


"Tadi sayang yang goda duluan, mas cuma mau lanjutin aja."


"El bercanda."


"Apa? becanda? Ishhhh!" Gumam Iqbal kesal dan segera bangun.


"El rindu!" Seru Elsaliani yang langsung memeluk tubuh Iqbal dari belakang.


"Apa ini juga becanda?"


"Seriusan!"


Iqbal langsung mengangkat Tubuh Elsaliani dan kembali membaringkannya di kasur. Keduanya saling melepas rindu yang telah menggebu sejak tiga hari yang lalu.


----------------------


"Nggak terasa waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemaren dia tumbuh menjadi lelaki dewasa dan sekarang udah jadi suami orang." Jelas Ayu.


"Iya bunda, rasanya anak-anak begitu cepat dewasa." Jelas Adimaja.


Keduanya terus memandangi Amanda dan Mikeal yang sedang berada di kursi pelaminan menyalami para undangan dengan didampingi oleh kedua orang tua dari kedua mempelai.


"Bunda, bapak, loh kok pada sedih?" Tanya Hendra sambil duduk disebelah Ayu.


"Ya iyalah sedih, tuh si anak bungsu tercinta udah jadi milik orang lain!" Goda Iqbal.


"Udah bunda dan bapak tenang aja, ntar juga di kasih ganti sama cucu-cucu yang lebih tampan dari papanya." Ujar Luqman.


"Iya juga ya, kenapa bunda sampai nggak kepikiran." Ujar Ayu.

__ADS_1


"Maksud bunda?" Tanya Alam.


"Bunda akan minta cucu yang banyak dari kalian semua supaya rumah ramai nggak sepi, kalian harus buat cucu yang banyak untuk bunda dan bapak." Jelas Ayu.


"Bapak setuju!" Ujar Adimaja.


"Tenang aja, aku bakal kasih cucu yang banyak untuk bunda dan bapak, kalau perlu aku akan buat satu lusin adik untuk Zea." Ujar Iqbal.


"Itu sih maunya kamu!" seru Alam yang langsung mendorong bahunya Iqbal.


"Kenapa kalian semua disini? menantu sama cucu bunda mana?" Tanya Ayu.


"Itu...." Ujar Hendra sambil menunjuk kearah para istri yang sedang berselfi ria.


Ayu dan Adimaja tersenyum bahagia melihat semua orang-orang tersayangnya yang begitu berbahagia.


Sesaat kemudian Mikeal mulai ngasih kode agar semuanya segera berkumpul ke pelaminan, mendapat sinyal dari Mikeal membuat semuanya segera berkumpul untuk foto bersama.


"Ayo kita ambil foto bersama!" Ajak Amanda.


"Nggak bakal muat semua, kita bagi tim aja, biar fotonya lebih oke!" Usul Arumi.


"Tapi aku mau semuanya!" Tegas Amanda.


"Bagaimana apa bisa?" Tanya Mikeal pada sang fotografer.


"Bisa, ayo semuanya berdiri." Pinta sang Fotografer.


"Ayo..." Seru Amanda penuh dengan semangat.


Disisi sebelahnya Mikeal, ada mama serta sang papa, di susul dengan Ayu dan Adimaja lalu Zulfa dan Ismail. Disisi Amanda ada Restu dan Rahmi yaitu kedua orang tua Amanda, lalu Arumi dan Rizal selanjutnya Hadi dan Erina.


Kemudian di baris bawah dimulai dengan Mikeal junior, Roger dan Rakes di bagian tengah, lalu di samping Rakes ada Iqbal yang mengendong Zea, Elsaliani, Angel, dan Hendra. Sedangkan disebelahnya Mikeal junior ada Tia yang mengendong Zafran lalu Alam, Luqman dan terakhir Khaira.


Semuanya berada di posisi masing-masing, lalu tersenyum gembira kearah kamera bersamaan dengan terabadikan-nya moment tersebut kedalam jipratan yang begitu mengagumkan.


"Ishhh, sekarang gantian!" Protes Roger.


"Nggak mau!" Tegas Rakes yang menggenggam erat tangan Zea yang berada di sisinya.


"Mulai lagi deh nih bocah!" Cetus Iqbal.


"Minggir, aku mau foto bareng my Queen!" Tegas Roger.


"Zea is my princess! dia cuma mau sama abang!" Tegas Rakes.


"Eh bocah, Zea itu masih milik Om! udah berhenti bertengkar, om udah punya calon menantu sendiri!" Jelas Iqbal.


"Apa?" Tanya Roger yang mulai emosi.


"Nggak, Zea hanya milik aku, nggak akan ada yang bisa membahagiakan Zea selain aku!" Tegas Rakes.


"Eh, eh, eh! jangan rusak pesta om ya, udah diam, kita foto lagi!" Ujar Mikeal.


"Nggak mau!" Teriak Roger yang keluar dari barisan.


"Ya udah, nggak ada elo juga masih rame kok!" Goda Iqbal yang semakin membuat Roger kesal.


"Mas apaan sih, udah sini sayang! berdiri di dekat tante!" Ajak Elsaliani yang berusaha menenangkan Roger.


"Nggak mau, aku maunya dekat my Queen." Tegas Roger.


"Roger, ayo sini sama mama, jangan buat onar." Pinta Erina.


"Nggak mau!" Tegas Roger.


Iqbal sedikit berjongkok, lalu mulai berbisik di telinga Roger, bisikan Iqbal sontak membuat Roger kembali menurut dan tersenyum manis.


"Beneran kan om?" Sidik Roger.


"Beneran lah, seriusly!" Ucap Iqbal sambil mengedipkan matanya.


"Oke!" Ujar Roger lalu kembali ke posisi semula.


"Mas bisikin apaan sih? kok Roger bisa langsung nurut gitu?" Tanya Elsaliani penasaran.


"Paling janji-janji manis!" Ujar Hendra.


"Iya nih aku juga penasaran, emang kamu bisikin apaan?" Tanya Angel.


"Nothing!" Seru Iqbal.


"Ihhh apaan sih?" Tanya Alam yang juga ikut penasaran.


"Pasti tuh di janjikan Queen no dua!" Seru Erina santai.


"Kok mama tau?" Tanya Roger heran.


"Mama udah hafal sama sifat kalian bertiga, terlebih sama sifat om kebanggaan dan kesayangan kalian itu." Jelas Erina.


"Benaran mas?" Tanya Elsaliani.


"Ya iya!" Jawab Iqbal santai.


"Mas apaan sih!" Ujar Elsaliani dengan wajah yang bersemu merah.


"Benar juga sih idenya Iqbal, Roger sama Rakes nggak lagi bertengkar memperebutkan Zea, bunda sama umi juga bisa bagi-bagi jemputnya!" Jelas Ayu.


"Tuh kan Sayang, ayo nanti malam kita langsung cetak Queen no dua untuk Roger."


"Mas..." Seru Elsaliani sambil mencubit Lengan Iqbal membuat sang empunya meringis kesakitan.


Semuanya ikut tertawa melihat pasangan tersebut, tak ingin membuang kesempatan yang ada, sang fotografer langsung mengabadikan tawa keluarga bahagia tersebut.***


🍁🍁🍁🍁🍁🍁T4M4T🍁🍁🍁🍁🍁🍁


________________


Terima kasih atas Like komen n vote manteman selama ini😊😊😊

__ADS_1


Love you all 😘😘😘😘😘


__ADS_2