
Aku ingin begini
Aku ingin begitu
Ingin ini, ingin itu banyak sekali
Semua, semua dapat di kabulkan
Dapat di kabulkan dengan kantong ajaib,
Lalala aku sayang sekali,,,
Doraemon...Doraemoooon.
Elsaliani terus saja menyanyikan soundtrack dari film kartun favoritnya dengan begitu riang, ia masih duduk manis di bangku halte yang tepat berada di depan gedung Sekolah Dasar tempat ia selama ini belajar. Kakinya masih saja bernari maju mundur mengikuti irama lagunya, meski suasana sudah mulai sepi karena semua murid dan guru mulai berangsur pulang dari tadi, mengingat cuaca hari ini yang sangat tidak bersahabat.
Mata Elsaliani terus melirik ke sana sini, berharap orang yang ia tunggu segera datang. Langit yang semula gelap kini mulai menitikkan gerimis dan di menit selanjutnya gerimis mulai berubah menjadi hujan lebat yang di sertai angin kencang, guruh dan petir.
Perlahan Elsaliani menarik kakinya untuk naik ke bangku halte lalu merangkulnya erat dengan kedua tangannya. Air hujan yang mengikuti permainan sang angin mulai membasahi rambut Elsaliani yang terkepang rapi dan juga ikut membuat poni rapinya berantakan.
"Dingin sekali, abang cepat datang, adek takut!" Gumam Elsaliani yang semakin kedinginan.
Dering ponsel dari dalam tas membuat Elsaliani segera meraih ponsel miliknya, lalu menjawab panggilan masuk tersebut.
"Adek jangan ke mana-mana, tetap di sana, abang akan segera sampai, ingat jangan kemana-mana!" Tegas Rizal dari seberang.
"Abang cepat, adek takut, adek juga kedinginan, hujannya semakin lebat." Jelas Elsaliani dengan suara yang terdengar gemetar.
"Maafkan abang, karena membuat adek sendirian. Abang akan segera sampai, jadi abang mohon tunggu abang, jaga diri adek dengan baik!"
"Hmmmm abang cepatlah!"
"Iya sayang..."
Panggilan langsung terputus dengan sendirinya, Elsaliani hanya bisa menatap layar ponselnya dengan rasa takut dan panik.
"Huuuuuuf, tenang El, semuanya akan baik-baik saja. Abang akan segera datang!" Elsaliani berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, dan kembali membenarkan posisi duduknya.
Sejenak berdiam diri, kini kaki Elsaliani malah beranjak lalu perlahan melangkah, kemudian mengulurkan tangan untuk menahan air hujan yang menetes dari ujung atap halte, di saat Elsaliani begitu asyik dengan dirinya sendiri, tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang berdiri tegap di seberang jalan sana. Lelaki tersebut masih berdiri tegak di bawah sebuah pohon yang terlihat lumayan bisa sedikit melindungi tubuhnya dari hujan.
Elsaliani terus menatap sosok tersebut, hingga sedikit membuatnya tenang karena seenggaknya saat ini ia tidak seorang diri. Senyuman yang langsung merekah ketika tanpa sengaja tatapan Elsaliani beradu dengan lelaki tersebut, lalu keduanya sama-sama tersenyum.
__ADS_1
Seketika angin mulai menambah kekuatannya, membuat suasana kembali mencengkam. Mata Elsaliani langsung tertuju pada pohon yang terus bergoyang seakan hampir tumbang dalam seketika, pemandangan tersebut membuat Elsaliani langsung panik dalam seketika, ia mulai berteriak bahkan tangannya terus memberi sinyal pada sosok lelaki tersebut agar segera pergi dari sana, namun hujan tak memberinya celah, suara Elsaliani kalah telak dengan suara hujan.
"Awas! kemarilah....!" Elsaliani terus berteriak sekuat tenaga dengan kedua tangan yang terus meminta lelaki tersebut untuk pindah.
Lelaki tersebut hanya tersenyum, membuat Elsaliani semakin panik dan khawatir.
Entah datang dari mana keberanian ini, yang langsung menyeruak ke seluruh tubuh Elsaliani, tanpa pikir panjang, Kaki kecil Elsaliani langsung berlari menyebrangi jalan, berharap agar ia secepatnya bisa sampai pada lelaki tersebut. Melihat penggerakan yang Elsaliani lalukan membuat sosok lelaki tersebut kaget, dan ikut bergerak menghampiri Elsaliani.
"Awasss!" Teriak Elsaliani.
Tangan munyil Elsaliani langsung menarik lengan kokoh lelaki tersebut lalu menariknya menjauh dari sana, namun sayang, Elsaliani kalah cepat di saat itu pula pohon tersebut tumbang, membuat tangan Elsaliani dengan spontan langsung mendekap tubuh lelaki tersebut lalu menariknya, ulah Elsaliani membuat keduanya terjatuh ke trotoar bersamaan dengan batang pohon yang tumbang mengenai aspal.
"Apa abang baik-baik saja?" Tanya Elsaliani penuh dengan rasa khawatir.
Tanpa menunggu jawaban, tangan Elsaliani langsung memeriksa seluruh tubuh lelaki yang kini berada di bawah tubuhnya.
"Syukurlah, abang nggak terluka!" Ucap Elsaliani lega dan segera bangun dari dada bidang lelaki tersebut.
"Aku Iqbal! terima kasih sudah menyelamatkan aku." Ucap Iqbal yang juga ikut bangun dan duduk dengan beralaskan jalan.
"Sama-sama!"
"Apa kamu sedang menunggu jemputan?"
"Tidak, abang sedang ada urusan di sekitar sini. Apa kamu kedinginan? bagaimana kalau untuk sementara ikut ke asrama abang? nanti biar abang kabari orang tuamu, ayo!" Ajak Iqbal.
"Tapi....hm,,,,hmmmm!"
"Awassss!" Teriak Iqbal.
Dengan cepat Iqbal menarik tubuh munyil Elsaliani ke dalam dekapannya, berusaha menutupi tubuh Elsaliani dengan tubuhnya.
'Bruuk' Sebuah tiang tumbang dan ujungnya mendarat tepat di punggung Iqbal, membuat Iqbal meringis kesakitan. Menyadari apa yang terjadi, perlahan Elsaliani membuka matanya, namun pandangannya terhadang dengan dada bidang Iqbal. Elsaliani mulai panik ketika ia merasakan dekapan Iqbal yang mulai melemah.
"Abang! apa abang terluka? abang bangunlah!!!" Pinta Elsaliani khawatir.
Perlahan tubuh Iqbal kembali bergerak dan berusaha menarik tubuhnya dari tindihan tiang tersebut, dengan bersusah payah, upaya Iqbal membuahkan hasil.
"Apa kamu terluka?" Tanya Iqbal yang perlahan melepaskan tubuh Elsaliani dari dekapannya.
"Nggak, tapi punggung abang pasti terluka kan?" Tanya Elsaliani yang semakin ketakutan.
__ADS_1
Iqbal hanya tersenyum lebar membuat satu lesung pipinya terlihat begitu jelas, darah yang mulai mengalir dari hidung Iqbal yang menetes bersama air hujan yang sedari tadi begitu setia mengguyur semesta.
"Abang...." Panggil Elsaliani yang semakin panik karena melihat darah dari hidung Iqbal, di menit berikutnya bukan hanya dari hidung, tapi mulut Iqbal juga ikut mengeluarkan darah.
"Tenanglah, abang baik-baik saja!" Jelas Iqbal dengan nada melemah lalu tubuhnya ambruk dalam dekapan Elsaliani.
Iqbal benar-benar telah kehilangan kesadarannya. Dengan perasaan resah dan takut Elsaliani terus mencoba mengembalikan kesadaran Iqbal, hingga pada akhirnya tenaga Elsaliani juga ikut melemah, dalam keadaan tak berdaya tubuh Elsaliani tumbang ke jalan, namun ia masih saja mendekap erat tubuh Iqbal meski harus dengan sisa-sisa tenaga yang sedari tadi ia kumpulkan, mata yang perlahan terpejam, tangan yang melemah hingga akhirnya Elsaliani benar-benar terkulai lemas tak berdaya.
------------------------------
"Sayang, tolong maafkan mas! maaf karena selama ini menyakitimu, maaf kerena merusak hari bahagia mu, maaf karena terus membuat luka di sekujur tubuhmu, dan juga di hatimu. Mas sama sekali tidak mengenalmu, sayang. Mas yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari dirimu, tapi dengan bodohnya mas malah memperlakukanmu dengan sangat brutal. Bahkan mas sama sekali tidak layak meminta maaf sama sayang, mas sama sekali tidak berhak menyentuh sayang, mas terlalu kotor untuk sayang! jangan pernah maafkan kesalahan mas! mas benar-benar tidak berhak untuk mendapat kebahagiaan ini." Gumam Iqbal dengan penuh penyesalan hingga membuat mata indahnya mulai sembab.
"Mas..." Panggil Elsaliani yang baru saja membuka matanya dan mendapati Iqbal yang duduk di lantai dengan mata yang terus menatap wajahnya yang masih menempel di bantal.
"Apa mas membuat sayang terbangun? maaf!" Pinta Iqbal yang mencoba menghentikan tangisnya.
"Sama sekali nggak, mas...."
Seketika Iqbal menjauhkan wajahnya dari jangkoan Elsaliani, membuat tangan Elsaliani yang hendak menyentuhnya terhenti seketika.
"Apa yang terjadi? apa mas berubah pikiran lagi? apa mas kembali membenci El? kenapa El nggak boleh menyentuh mas? apa El buat salah lagi?" Tanya Elsaliani bertubi-tubi dan langsung menarik tangannya kembali.
Elsaliani mencoba bangun dari tidurnya, lalu berusaha untuk duduk meski harus bersandar di kepala ranjang.
"Jika El salah, tolong maafkan El! tolong jangan kembali seperti dulu, El takut!" Tangis Elsaliani yang tanpa ia sadari tangan dan bibirnya mulai gemetar, hatinya mulai ketakutan.
"Sayang, jangan salah paham! bukan sayang yang salah. Mas, mas....tolong beri mas sedikit waktu, mas butuh waktu untuk memikirkan semua ini!"
"Tapi El butuh mas, El nggak butuh waktu, El nggak apapun selain mas. Tolong peluk El! El rindu." Jelas Elsaliani dengan air mata yang mulai menetes.
"Tapi sayang..."
"El cinta mas seutuhnya, sejak dari dulu, sejak sembilan tahun yang lalu!" Jelas Elsaliani.
Ucapan Elsaliani sontak membuat Iqbal kaget, dan kembali menatap intens wajah Elsaliani yang sedari tadi telah dibasahi oleh air mata.***
___________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️