
"Awwww" Gumam Iqbal ketika tanpa sengaja tangannya tergores dengan pecahan kaca yang masih menempel di sebuah jendela.
Tadinya Iqbal ingin melompat lewat jendela tersebut, namun entah kenapa luka yang nggak seberapa itu justru membuat tubuhnya menegang, seluruh tubuhnya kaku, seketika hatinya diliputi kegelisahan.
"El...!" Ujar Iqbal dengan suara parau bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk ke lantai, membuat Luqman yang ada bersamanya lekas menghampirinya.
"Kenapa? ada apa?" Tanya Luqman panik.
Iqbal masih saja terdiam, meski Luqman berulang kali bertanya.
"Kapten, misi kita udah selesai, apa ada yang tidak beres? ada apa?" Luqman kembali bertanya.
"Bagaimana jika yang kenapa-napa bukan aku tapi justru El, bagaimana kalau firasat El bukan tentang aku tapi tentang dia sendiri. Luqman apa yang harus aku lakukan? kenapa aku baru menyadarinya sekarang, kenapa aku tidak peka dengan ucapan El." Jelas Iqbal dengan penuh penyesalan.
"Tenanglah! kita akan pulang sekarang juga, lagi pula misi kita pun telah selesai, aku akan segera melapor, kita akan pulang!" Jelas Luqman dengan tangan yang mengusap bahu Iqbal.
"Ada apa? kenapa kalian masih di sini?" Tanya Alam dengan nafas ngos-ngosan karena begitu mengkhawatirkan kedua sahabatnya yang tak kunjung turun dari gedung tersebut padahal semuanya telah berakhir dari dua puluh menit yang lalu.
"Apa kalian terluka?" Tanya Mikeal panik dengan langkah yang langsung mendekati Luqman dan Iqbal.
"Kenapa hanya diam? apa yang terjadi?" Tanya Alam.
"Aku nggak tau, tiba-tiba aja Iqbal ngedrop seperti itu, dia mengkhawatirkan keadaan El." Jelas Luqman.
"Kapten, tadi pagi bunda sempat ngirim chat, katanya bunda sama bapak mau menjenguk El. Jadi, aku yakin mereka akan menjaga El dengan baik, bahkan mungkin lebih baik dari yang kapten lakukan." Jelas Mikeal.
"Semoga saja gelisah ku ini tak berasalan. Ya Allah jagalah istri dan bayiku. Jangan biarkan keduanya terluka, aku janji aku akan jaga mereka dengan baik." Ungkap Iqbal.
"Mobilnya sudah datang, ayo kita gerak sekarang!" Jelas Hendra yang baru saja muncul.
"Oke! Ayo." Tegas Iqbal dan langsung meloncat dari lantai dua lewat jendela.
Iqbal mendarat sempurna di tanah, ia segera berlari masuk ke mobil. lima menit kemudian, anggota tim pasukan khusus lainnya baru tiba, mereka langsung bergegas masuk ke dalam mobil.
"Jalan sekarang! jam berapa helikopter akan tiba?" Tanya Iqbal dengan tampang sangarnya.
"Sekitar Dua puluh menit lagi kapten." Jawab sang prajurit yang sedang mengemudi mobil.
"Apa nggak ada yang lebih cepat?" Tanya Iqbal.
__ADS_1
"Itu sudah yang paling cepat kapten." Jawabnya lagi.
"Iqbal, tenangkan dirimu. Cuma beberapa jam lagi kita akan sampai di tanah air. Jangan biarkan emosi menguasai dirimu!" Tegas Luqman.
"Bagaimana aku bisa tenang jika ini ada kaitannya dengan El."
"Abang, jika pun El kenapa-napa, bunda pasti ngabarin, toh ponsel kita aktif semua." Jelas Mikeal.
"Iqbal, rilexs!" Pinta Alam.
"Haissssssshh!" Hujat Iqbal dengan wajah frustasi, kedua tangannya sedari tadi begitu setia menggenggam erat kepalanya.
---------------------
Tubuh Elsaliani terbaring lemah di atas brankar, hanya isak tangis dari Ayu dan Zulfa yang terdengar, sedari tadi keduanya begitu setia berada di sisi Elsaliani yang masih berada di ruangan, menunggu perawat yang akan segera membawanya ke ruang operasi.
"Sayang, bunda akan selalu mendoakan sayang, berjuanglah demi El dan bayi El." Ujar Ayu dengan terus mengelus wajah Elsaliani dengan penuh kasih sayang.
"Adek adalah anak umi yang paling kuat, adek pasti bisa melewati semua ini dengan baik, umi tau melahirkan bukanlah hal yang mudah, tapi umi tau adek bisa melakukannya." Jelas Ayu yang berdiri disisi kanan Elsaliani.
"Bapak dimana? terus abi juga kenapa belum datang?" Tanya Elsaliani yang terus berusaha untuk terlihat kuat di depan kedua wanita yang sedari tadi terus menangis karena mengkhawatirkannya.
"Bapak sedang menghubungi Iqbal, dan abi sebentar lagi juga sampai." Jelas Ayu.
"Berhenti bicara omong kosong, El dan bayi El akan baik-baik saja. Bunda nggak mau mendengar kata-kata seperti itu lagi." Tegas Aya yang memeluk tubuh Elsaliani.
"Bunda jangan menangis, umi juga. El sayang kalian semuanya." Ucap Elsaliani.
"Adek..." Panggil Rizal.
Rizal terus berlari mendekati Elsaliani, tangan Rizal menyentuh jemari Elsaliani lalu menggenggamnya dengan erat.
"Abang!" Ujar Elsaliani.
"Adeknya abang bukan perempuan lemah dan cengeng, adek perempuan yang begitu kuat dan tegar, berjuanglah, abang akan menunggu adek disini, abang tidak akan beranjak sejengkal pun dari sini. Tidak ada yang harus adek takutkan, semuanya akan berakhir dengan bahagia." Jelas Rizal.
"Terima kasih karena selalu ada untuk adek, abang adalah abang terbaik di dunia ini."
"Dan adek adalah adek terbaik di seluruh dunia, gadis kecil abang yang terbaik. Abang sayang adek." Ucap Rizal lalu mengecup lembut kening Elsaliani.
__ADS_1
"Maaf pak, pasien harus segera di bawa keruang operasi." Jelas Seorang perawat lelaki.
"Oh, baiklah!" Ujar Rizal sambil menjauh dari Elsaliani.
Namun Elsaliani kembali menggenggam tangan Rizal, membuat Rizal terhenti dan kembali mendekati Elsaliani.
"Jika sesuatu terjadi pada El, tolong katakan pada mas Iqbal kalau El sangat mencintainya bahkan melebihi cinta El untuk El sendiri, dan satu lagi, tolong titipkan my lover pada mas Iqbal."
"Adek, berhenti bicara yang tidak-tidak."
"Adek sayang kalian semua." Ucap Elsaliani.
Keempat perawat tersebut langsung mendorong brankar Elsaliani menuju ruang operasi.
"Kami akan mendoakan yang terbaik untuk adek, kami menunggumu di sini dek, berjuanglah!" Jelas Zulfa.
"Ya Allah selamatkanlah menantu dan cucu hamba, hamba mengiba pada-Mu ya Allah, biarkan keduanya tetap menjadi milik kami." pinta Ayu dengan penuh kusyuk.
"Aamiin!" Jawab Zulfa di iringi oleh Rizal dan Ismail yang baru saja datang.
"Abi..." panggil Zulfa dan langsung menangis di dalam dekapan sang suami.
"Tenanglah, adek akan baik-baik saja, kita hanya harus mendoakan adek." Ujar Ismail.
"Umi takut..."
"Tugas kita usaha dan doa, selebihnya serahkan pada Allah, Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita." Ismail kembali menenangkan Zulfa yang semakin larut dalam tangisannya.
"Dimana Iqbal?" Tanya Ayu ketika melihat Adimaja yang bergabung di ruang tunggu.
"Bapak udah bicara dengan komandannya, secepatnya Iqbal akan pulang." Jelas Adimaja.
"Semoga secepatnya dia sampai!" Ujar Ayu penuh harapan.
kelimanya terus menunggu dengan rasa khawatir dan gelisah, pandangan mereka terus saja terfokus pada pintu ruang operasi, dengan harapan sang dokter segera keluar dengan membawa kabar gembira.***
_______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n Vote@ ya manteman semua☺️☺️☺️
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️