
Di kamarnya sana, setelah selesai sholat zhuhur Elsaliani langsung merapikan perlengkapan sholatnya, tangan Elsaliani dengan telaten melipat mukenah dan sajadah lalu membawanya untuk di letakkan pada meja di dekat tempat tidur. Tiba-tiba, dengan kasar suara pintu kamar yang di banting seakan menggema di udara membuat Elsaliani segera menoleh ke arah pintu, yang juga di sana ada sosok Iqbal yang masih berdiri tegak dengan wajah yang di penuhi amarah, tatapan Iqbal seolah siap menerkam seluruh tubuh Elsaliani dalam sekali hentakan, hal tersebut membuat sajadah dan mukenah yang masih ada di tangan Elsaliani berjatuhan di lantai dengan sendirinya, dalam seketika tangan Elsaliani kembali gemetar hebat.
"Tuan, El sama sekali tidak membahas soal anak pada bunda! El tidak salah tuan. El benar-benar tidak membicarakan hal tersebut pada bunda ataupun bapak." Jelas Elsaliani.
Elsaliani segera melangkah mundur ketika ia menyadari bahwa Iqbal mulai beranjak mendekatinya, sekuat tenaga, sebisa mungkin, Elsaliani terus menjauh dan menghindari Iqbal, namun apa daya segala usaha Elsaliani berakhir sia-sia, saat tubuhnya terhadang dengan dinding, sedangkan Iqbal semakin mendekat, bahkan kali ini wajahnya memamerkan senyum yang penuh dengan tanda tanya.
"Tuan, tolong maafkan El! El mohon." Pinta Elsaliani, kali ini langsung berlutut di kaki Iqbal.
"Kenapa kamu terus terusan merusak hidup aku? kenapa? tidak seharusnya kamu muncul dalam dunia aku, Kenapa kamu datang, lalu membuat semuanya kacau? seharusnya kamu tidak pernah terlahirkan ke dunia ini!" Teriak Iqbal dengan emosi yang tidak lagi dapat ia kendalikan, kali ini Iqbal benar-benar brutal.
"Maafkan El tuan, maaf!"
"Setelah semua kekacauan yang kamu buat, lalu sekarang kamu hanya minta maaf?"
Tangan Iqbal dengan kasar membenturkan kepala Elsaliani ke dinding kamar, sedangkan tangan kirinya menggenggam kasar lengan Elsaliani, seolah terlihat seperti ia ingin mematahkannya. Elsaliani hanya bisa menerima semua rasa sakit yang Iqbal berikan secara bertubi-tubi, tanpa bisa protes apalagi memberontak. Bahkan Elsaliani masih saja menangis dalam diam ketika lagi-lagi tangan Iqbal menggenggam kasar wajah Elsaliani.
"Ya Allah, jagalah hamba-Mu ini ya Allah!" Gumam Elsaliani dengan suara pelan dari sela-sela tangis dan rasa takut yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Perlahan Elsaliani mencoba untuk bangkit meski harus dengan melawan rasa sakit pada sekujur tubuhnya.
"Matilah! Kerena hanya dengan kematian kamu, kebahagiaan aku akan datang kembali seperti sedia kala, saat kamu belum datang lalu menghancurkan semua impian aku! lenyap lah dari muka bumi ini!" Tegas Iqbal dengan segera mengalihkan pandangan ke arah lain dan kemudian melangkah menjauh dari Elsaliani.
"Abang, tolongin adek! Adek benar-benar tidak kuat lagi dengan semua ini, adek menyerah bang, bukan karena adek tidak inginkan syurga-Nya, hanya saja jalan yang harus adek tempuh benar-benar di luar batas kuasanya adek." Keluh Elsaliani dalam tangisnya sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
Setelah mendengar rintihan Elsaliani, dengan cepat Iqbal langsung keluar dari kamar tersebut tanpa lagi menoleh ke arah tubuh Elsaliani yang sudah terbaring di lantai.
---------------------------
Entah berapa menit lamanya Elsaliani tidak sadarkan diri. Kini ia mulai tersadar dari pingsannya. Elsaliani mencoba untuk bangun meski harus menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Pelan-pelan sekali, Elsaliani melangkah menuju tempat tidur sejenak beristirahat di sana, dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Elsaliani mencoba melepaskan kerudung, lalu berusaha untuk memeriksa memar dan luka yang baru saja ia dapatkan di badannya.
"Tidak begitu buruk sih, luka dan lebamnya tidak separah yang El bayangkan. Alhamdulillah, ya Allah." Ungkap Elsaliani tegar.
Elsaliani beranjak menuju cermin, mencoba menatap lekat-lekat dirinya yang ada di dalam pantulan cermin, membuat air mata kembali menetes tanpa bisa ia kendalikan lagi.
"Apa yang harus El lakukan sekarang? haruskah El pergi dari sini? atau harus bagaimana?" Tangis pilu Elsaliani semakin menjadi.
Di saat Elsaliani masih larut dengan tangisnya, di saat itu pula pintu kamar kembali terbuka dari luar, menyadari apa yang sedang terjadi membuat Elsaliani segera meraih kerudung lalu mengenakannya. Langkah Iqbal kembali mendekati Elsaliani, lalu tangan Iqbal langsung melemparkan kotak P3K ke atas kasur.
"Cepat obati luka mu itu!" Tegas Iqbal dengan tatapan sinis.
"Terima kasih tuan." Ucap Elsaliani lalu segera meraih kota P3K tersebut yang masih tergeletak di kasur.
Elsaliani terus mencoba untuk tetap kuat, meski sekujur tubuhnya mengalami rasa sakit bagaikan remuk seluruh anggota badannya. Elsaliani mengambil kapas dan alkohol kemudian mencoba untuk membersihkan luka-luka di bagian tangannya, dengan pelan ia terus berusaha untuk mencuci luka tersebut. Disaat Elsaliani terus melakukannya di saat itu pula tangan Iqbal dengan kasar malah merampas kapas yang sedang Elsaliani pegang, sikap Iqbal jelas membuat Elsaliani kaget dan segera bangun dari duduknya.
"El, El akan menggantikannya nanti tuan. Semua obat yang El gunakan, pasti akan El ganti." Jelas Elsaliani dengan kepala tertunduk.
"Apa aku menyuruhmu untuk menggantikannya?"
"Tapi inikan milik tuan, El sama sekali tidak punya hak untuk menggunakannya."
__ADS_1
"Ulurkan tanganmu!"
"Tuan, El benar-benar akan menggantikannya nanti, tolong jangan......"
"Aku bilang ulurkan tanganmu, sebelum aku menariknya paksa!"
Dengan rasa takut yang terus berkecamuk, perlahan Elsaliani mengulurkan kedua tangannya ke arah Iqbal, dengan cepat Iqbal langsung meraih tangan tersebut, sejenak memperhatikannya dengan teliti lalu kemudian mencuci semua luka dan lebam yang terdapat pada kedua tangan Elsaliani dan terakhir mengoleskan salep pada luka tersebut, menyadari dengan apa yang sedang Iqbal lakukan justru membuat Elsaliani semakin ketakutan.
"Tuan, apa yang sedang tuan lakukan? biar El sendiri yang melakukannya."
"Diam!"
"Apa nantinya tuan akan kembali memukul dan juga marah pada El?"
"Aku bilang diam! cepat buka kerudung mu! aku melihat ada luka di kening kamu."
"Tidak, biar El sendiri yang akan mengobatinya nanti."
"Kamu meminta aku untuk membuat kening kamu kembali mendapatkan luka yang lebih parah?"
"Tidak!" Jawab Elsaliani spontan dan segera membuka kerudungnya.
Dengan lembut dan telaten, Iqbal membersikan darah yang telah mengeras di bagian kening kiri dan juga pada wajah yang ikut terkena darah, kemudian mengobati dan membalutinya dengan perban.
"Di bagian mana lagi kamu terluka?"
"Kamu yakin?"
"Iya tuan, sama sekali tidak ada luka di bagian lainnya lagi."
Secepat kilat tangan Iqbal langsung menyentuh betis kiri Elsaliani, hal tersebut sontak membuat Elsaliani menjerit kesakitan.
"Lalu ini apa?"
"Tidak, memang tidak ada lagi luka, yang di sini itu.....hmm....itu karena kemarin El terjatuh di kamar mandi, jadi bukan karena tuan, tidak maksud El....hmm....El....!" Elsaliani terus berusaha untuk menjelaskannya pada Iqbal, namun mulutnya seolah terbungkam begitu saja, membuat air mata kembali menetes membasahi wajahnya, ia hanya bisa menahan tangisnya dengan wajah yang terus tertunduk.
Mata Iqbal terus saja menatap wajah sang istri yang telah di basahi oleh air mata, lalu perlahan pandangan Iqbal mulai tertuju pada kedua tangan Elsaliani yang terlihat jelas sedang gemetar karena ketakutan. tanpa bicara sepatah kata pun Iqbal kembali menyentuh betis Elsaliani lalu mencoba untuk menemukan luka yang sedari tadi membuat Elsaliani menjerit kesakitan.
"Luka mu? El kenapa kamu tidak bicara soal luka di betis kamu ini?"
"Tuan, ini bukan luka karena tuan, tidak maksud El, hm....tubuh El tidak punya sedikitpun hak atas perhatian tuan, lagi pula El sudah mengolesi obat kemaren, mungkin besok atau lusa lukanya juga bakal kering."
"Sejak kapan betis kamu terluka?"
"Kemaren subuh, sebelum bapak dan bunda datang!"
"Biar aku obati!"
"Jangan lakukan itu tuan, nanti El bisa salah faham dengan kebaikan tuan, El tidak ingin terus menjadi penghapus kebahagian dalam hidup tuan. Tuan, sebaiknya tuan jangan pernah bersikap baik pada El, karena hanya dengan begitu El bisa menebus kesalahan El yang sudah merusak hidup tuan." Jelas Elsaliani lalu menjauh dari Iqbal.
__ADS_1
Dalam diam Iqbal kembali bangkit dari duduknya lalu melangkah menjauhi Elsaliani, sejenak berdiri dengan tangan yang terus memijit-mijit keningnya sendiri, hingga akhirnya ia kembali mendekati Elsaliani. Tanpa peduli dengan Elsaliani yang terus menghindarinya, tangan Iqbal langsung mengangkat tubuh Elsaliani dan membaringkannya di kasur, tidak sampai di situ, kini Iqbal kembali menarik betis Elsaliani lalu memperhatikan lukanya, setelah puas melihatnya, Iqbal langsung mencoba untuk mengobati luka yang terlihat semakin melebar dan berair itu.
"Awww, sa....sakit!" Jerit Elsaliani yang mulai tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan perih pada bagian betisnya, hingga tanpa terkendali tangan Elsaliani malah menyentuh tangan Iqbal yang sedang mengobati lukanya, ulah Elsaliani sontak membuat pandangan Iqbal segera tertuju ke wajah Elsaliani.
"Hmm,,,,apa rasanya sakit sekali?"
"Hmm....."
"Aku akan mencoba untuk melakukannya dengan pelan, tahanlah sedikit!"
"Hmm...."
Beberapa menit berlalu, akhirnya Iqbal menyelesaikannya, Iqbal kembali menutup betis Elsaliani dengan rok yang ia kenakan. Iqbal kembali mendekatkan dirinya pada Elsaliani, sedangkan Elsaliani hanya bisa duduk mematung, bahkan ketika dengan lembut Iqbal membelai rambutnya, ia masih saja diam seribu bahasa.
"El....."
"Iya tuan. Tua percayalah El benar-benar tidak membahas soal anak dengan bunda atau pun bapak, percayalah!"
"Aku percaya!"
"Sungguh? syukurlah!"
Wajah Elsaliani tampak lega dengan jawaban yang baru saja di berikan oleh Iqbal, hingga membuatnya tersenyum bahagia, namun senyuman itu segera memudar ketika ia menyadari bahwa mata Iqbal terus saja menatap wajahnya.
"Tersenyumlah!"
"Tuan, El tidak bermaksud membuat tuan kesal, maafkan El."
"Apa aku pernah melarang kamu untuk tersenyum?"
"Tidak!"
"Lalu apa lagi yang kau tunggu? tersenyumlah!"
"El, hm....El......!" Jelas Elsaliani terbata-bata, namun Iqbal tidak membiarkan kondisi tersebut bertahan lama, dengan cepat Iqbal langsung mencium lembut sang istri yang terus mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Iqbal.
"Tuan, El benar-benar minta maaf! El tidak bermaksud....."
Lagi-lagi Iqbal tidak memberikan kesempatan bagi Elsaliani untuk berbicara, untuk yang kedua kalinya Iqbal kembali mencium sang istri.
"Aku harap, apa yang aku lakukan ini, bisa mengobati luka dan juga lebam yang aku sebabkan tadi."
" Tuan!"
"Diamlah, aku benar-benar tidak ingin mendengarkan mu bicara sepatah katapun lagi. Saat ini aku benar-benar kacau, jadi tolong diamlah!"
Elsaliani kembali terdiam. Perlahan Iqbal menyentuh wajah sembab Elsaliani dan memandangnya, sejenak menundukkan pandangan lalu Iqbal mengecup kedua mata Elsaliani yang sedikit bengkak dan sembab lalu tersenyum manis ke arah Elsaliani.
"Apa ini mimpi? kenapa mimpi ini terasa begitu nyata? ada apa dengan diri El? apa El sudah mulai gila, kenapa mimpi ini terasa begitu sungguhan?" Tanya Elsaliani bertubi-tubi pada dirinya sendiri, hingga membuatnya kembali meneteskan air mata, dengan lancang kedua tangan Elsaliani langsung mendekap tubuh Iqbal kedalam pelukannya, hingga membuatnya terlelap dalam pelukan hangat sang suami.***
__ADS_1