
"Mas, Zea mana?" Tanya Elsaliani ketika melihat Iqbal yang berdiri tepat di depan pintu, hingga membuat Elsaliani kaget saat membuka pintu, wajah Iqbal seakan langsung mengintrogasi dirinya.
Bukannya menjawab pertanyaan yang Elsaliani ajukan, Iqbal bahkan semakin memandang intens Elsaliani dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Mas..." Ujar Elsaliani yang berusaha mencairkan suasana yang mulai mencengkam.
Dengan kasar Iqbal menarik tangan Elsaliani lalu menghempaskan tubuh Elsaliani keatas kasur, ulah Iqbal sontak membuat tubuh Elsaliani terbaring, Elsaliani hendak bangun namun Iqbal langsung menghadangnya.
"Mas, El bisa jelaskan semuanya."
"Nggak usah! mas nggak butuh penjelasan apapun!"
"Mas salah paham, apa El begitu tidak bisa dipercaya? hingga mas bahkan tidak memberi kesempatan untuk El menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
"Apa lagi yang mau El jelaskan?" Tanya Iqbal dengan penuh penekanan sambil kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Elsaliani.
"El sama sekali tidak mencintai ustad Wahyu!" Jelas Elsaliani dengan tetesan air mata.
"El bahkan sama sekali tidak tau kalau ustad Wahyu mencintai El. Percayalah!" Lanjut Elsaliani setelah mengusap air matanya.
"Sayang, mas nggak minta penjelasan dari sayang bukan karena mas nggak percaya sama sayang, sebaliknya karena mas tau kalau sayang hanya mencintai mas, di hati sayang hanya ada mas seorang saja. Mas percaya sayang sepenuhnya."
"Lalu kenapa mas marah?"
"Marah???"
"Iya, bukannya sekarang mas lagi marah?"
"Hadeuuuuh!!" Ujar Iqbal sambil mencubit manja hidung sang istri.
"Terus kalau bukan karena marah kenapa mas sampai menarik kasar tangan El?"
"Sayang, emosi dan lepas kendali bukan hanya mengexspresikan rasa marah, tapi cemburu juga bisa membuat orang dipenuhi amarah."
"Jadi mas cemburu?"
"Siapa coba yang nggak cemburu jika istrinya dekat-dekat sama orang yang jelas-jelas menyukainya."
"Tapi kan..."
"Sayang, mungkin sayang terlalu polos hingga sayang tidak menyadarinya tapi mas nggak buta mas lihat semuanya.
"Lihat apa? El sama sekali nggak menyentuh ustad Wahyu, sedikit pun!"
"Kalian memang tidak bersentuhan, tapi cara dia menatap sayang, seakan-akan dia ingin melahap sayang saat itu juga. Mas nggak suka di memandangi milik mas dengan begitu penuh gairah."
"Mas jangan ngaco deh, nggak mungkin ustad Wahyu gitu."
"Sayang jangan lupa kalau ustad juga manusia. Udah mas nggak mau kita bahas dia lagi, sekarang mas akan menghapus semua tatapannya itu." Jelas Iqbal dan kembali menatap Elsaliani.
"Ishhh apaan sih,,," Cetus Elsaliani mencoba mendorong dada Iqbal agar menjauh darinya.
"Stop!" Tegas Iqbal yang langsung menghentikan Elsaliani.
'Cup cup cup cup cup cup'
Iqbal melayangkan ciumannya di seluruh wajah Elsaliani.
"Mas, El mau ganti baju, gerah banget!"
"Biar mas bantu!"
Tangan Iqbal langsung mencoba melepaskan pashmina yang melilit di kepala Elsaliani.
"El bisa melakukannya sendiri." Protes Elsaliani saat tangan Iqbal mulai membuka kancing bajunya.
"Sayang, please! mas benar-benar ingin melakukannya."
Elsaliani hanya bisa menuruti keinginan sang suami.
"Mas, Zea mana?" Tanya Elsaliani yang kembali teringat dengan putri tercinta yang memang sejak tadi tidak ada di sana.
"Zea lagi tidur, tuh di ayunannya." Jelas Iqbal.
Elsaliani langsung mengalihkan pandangannya kearah ayunan, dan memang terlihat jelas tubuh Zea yang terbaring lelap di sana.
"Apa sayang masih capek?"
"Kenapa?"
"Zea kan lagi tidur nyenyak."
"Terus???"
"Mas kangen Excellent service sayang!"
"Mas, tapi....."
__ADS_1
"Mas benar-benar berada di tepi rindu, mas rindu sangat-sangat sama sayang!" Jelas Iqbal manja lalu menjatuhkan kepalanya di dada Elsaliani.
'Cup' Elsaliani mendaratkan kecupannya di telinga kanan Iqbal.
"El juga sangat merindukan mas!'
Mendapatkan lampu hijau tanpa tunggu lama, Iqbal langsung melancarkan aksinya, melepas rindu terdalam dalam balutan kasih sayang dengan penuh ketulusan.
-------------------------
"Ayo mampir dulu!" Ajak Amanda ketika mobil Iqbal berhenti tepat didepan gerbang rumah milik orang tua Amanda.
"Lain kali aja."
"Kenapa lain kali? kenapa nggak sekarang? bukankah lain kali itu memberi harapan tanpa kejelasan."
"Maksudnya??"
"Ya lain kali itu mang nggak jelas keberadaannya kan? bisa ada bisa juga nggak!"
"Cieeeeee! segitunya ya pengen abang mampir."
"Iya!"
Jawaban spontan yang Amanda ucapakan membuat Mikeal seketika keluar dari mobil.
"Ayo!" Ajak Mikeal setelah membuka pintu untuk Amanda.
"Beneran nih abang mau mampir??"
"Iya" Jawaban Mikeal pasti
Amanda segera keluar dari mobil dan lekas masuk, Mikeal langsung mengikuti langkah sang kekasih. Setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya pintu terbuka dengan seseorang yang muncul dari balik pintu.
"Bi Misra, mama sama papa mana?" Tanya Amanda.
"Nyonya sama tuan belum pulang non." Jelas Bi Misra.
"Oh ya udah bi nggak apa-apa." Ujar Amanda.
"Mas Mikeal mau minum apa? biar bibi ambilkan!" Tawar bi Misra.
"Nggak usah bi, lagi pula saya mau langsung pulang." Jelas Mikeal.
"Baiklah, kalau gitu bibi permisi non, mas Mikeal." Ujar bi Mirna.
"Silahkan duduk!" Ujar Amanda setelah bi Misra masuk.
"Kayaknya abang mau langsung pulang aja, ini udah hampir jam 10, udah larut malam apa lagi papa sama mama nggak ada."
"Hmmmm, baiklah!" Ujar Amanda dengan raut wajah yang tiba-tiba langsung sedih.
"Lain kali abang bakal kesini lagi."
"Hmmmmm, hati-hati!"
"Hmm, masuklah! Selamat malam."
"Selamat malam juga." Ujar Amanda yang semakin menundukkan wajahnya.
"Lusa abang free, abang akan jemput kamu, kita jalan bareng!"
"Hmmmm."
"Manda..."
"Hmmmm."
"Apa begini cara....."
"Aku masih rindu sama abang!" Tegas Amanda yang langsung menarik lengan Mikeal membuat langkah Mikeal terhenti.
"Manda..."
"Aku sayang sama abang Mikeal!"
"Abang lebih sayang sama kamu, Manda!" Ujar Mikeal sambil mengusap lembut rambut Amanda.
Entah apa yang ada di pikirannya, seakan dirinya langsung tergerak, tanpa terkendali Amanda semakin mendekat, semakin mengikis jarak, sejenak terdiam, Amanda memejamkan kedua matanya, lalu berusaha untuk mensejajarkan bibirnya dengan bibir sang kekasih, namun secepat kilat Mikeal menghindarinya, dengan lembut tangan Mikeal kembali mengusap rambut Amanda.
"Abang masih belum bisa melakukannya."
Ucapan Mikeal sontak membuat Amanda berhenti, tubuh Amanda bahkan menjauhi Mikeal.
"Bukan karena abang tidak ingin, tapi karena abang menghargai kamu, Manda. Abang mencintai kamu karena Allah, maka sebelum kita halal menurut hukum Allah maka abang tidak akan melakukannya."
(Manda! kamu benar-benar bikin malu deh. Kenapa bisa aku begitu lepas kontrol, bagaimana ini, suasana ini benar-benar canggung, ingin rasanya aku kabur saat ini juga) Gundah hati Amanda.
__ADS_1
"Aku,,,aku...."
"Udah, masuk gih sana! I love you." Jelas Mikeal yang langsung keluar.
"Huffff, haisssssh hampir saja aku hilang kendali! ahhhhh Manda kamu buat aku daq diq duq aja. Bagaimana kalau aku justru terbawa suasana! aku setengah mati menahan diri. Lain kali jangan lakukan lagi, karena aku pasti nggak akan bisa mencegahnya lagi" Jelas Mikeal yang begitu gelisah.
------------------
"Awwww" Suara teriakan Elsaliani sontak membuat Iqbal terbangun dari tidur nyenyaknya.
Iqbal segera bangun, lalu segera mengalihkan pandangannya pada Elsaliani yang meringis kesakitan dalam posisi yang serba tertahan, mau di bilang sedang berbaring, tidak terlihat berbaring mau di bilang sedang duduk juga tidak terlihat seperti orang duduk, intinya entahlah.
"Di mana yang sakit? sayang oke? jangan buat mas khawatir!"
"Badan El rasanya remuk semua!" Protes Elsaliani.
"Sorry!"
"Mas, Zea nangis!"
"Ah, ya mas akan cek, tunggulah disini."
Iqbal segera mendekati boxs bayi di mana Zea berada, lalu mengambilnya, dan kembali mendekati Elsaliani.
"Maaf, harusnya El yang melakukannya, tidur mas pasti keganggu kan?"
"Sayang, Zea anak mas juga. Lagian mas harus tanggung jawab juga kan, sayang nggak bisa bangun kan karena ulah mas!"
"Nggak gitu juga!"
"It's oke sayang, hai anak ayah yang cantik, kenapa bangun? haus ya?" Tanya Iqbal sambil memandangi wajah Zea yang terlihat sedang menjulur-julurkan lidahnya seperti mencari sesuatu.
"Putri ayah haus ya?" Tanya Iqbal sambil menyentuh wajah tembem Zea.
"Sini mas..."
"Biar mas buatkan susu aja, sayang kan masih capek, jadi sayang tidur aja lagi, biar Zea mas yang urus."
"Mas, kalau hanya sekedar menyusui, El masih sanggup kok!"
"Yakin?"
"Iya, udah sini!"
"Beneran?'
"Iya mas, udah sini!"
"Baiklah!"
Iqbal langsung menyerahkan Zea kepada Elsaliani.
"Issshhh, anak uma haus banget ya? udah, udah, sekarang Zea minum sampai puas ya sayang!"
"Iya uma!" Jawab Iqbal manja lalu kembali menyentuh wajah Zea.
"Putri kita cantik banget, iya kan mas?"
"Pasti dong, ayahnya aja aduhai menggoda!"
"iiiihhhhh"
"Lah emang fakta kan?"
"Dasar!"
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-napa!"
"Apaan???"
"Nggak ada!'
"Jangan buat mas..."
"I love you!" Seru Elsaliani sambil mengecup kening Iqbal.
"Love sayang too, love Zea juga" Ucap Iqbal dengan senyuman bahagia.***
_______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1