
"Abang benar-benar tidak paham dengan apa yang sedang terjadi di sini, tolong ceritakan semuanya pada Abang, semuanya Adek!" Pinta Rizal.
"Abang, hm...oh ya, sebaiknya Abang langsung pulang aja, kirim salam adek buat Abi dan umi, adek nggak jadi ikut Abang pulang." Jelas Elsaliani mencoba mengalihkan pembicaraan Rizal. Tangan Elsaliani mencoba untuk menarik Rizal agar ikut keluar bersamanya.
"Abang nggak akan ke mana-mana sebelum Abang tau apa yang sedang terjadi diantara kalian berdua!" Tegas Iqbal dengan masih bersih kukuh untuk tetap stay di situ.
"Tidak ada yang harus adek ceritakan, karena memang tidak ada yang terjadi. Mbak Lestari temannya adek, dan kami hanya membahas masalah, hm... ya biasa masalah wanita. Dan soal anak yang mbak Lestari maksud adalah anak dari teman mbak Lestari. Cuma itu." Jelas Elsaliani.
"Teman? siapa yang sedang kamu sebut sebagai teman? aku..." Ujar Lestari terhenti.
"Mbak, kenalkan ini Abang Rizal, Abang El!" Ujar Elsaliani menyela pembicaraannya Lestari.
(Abang? hah, sepertinya aku tidak ada pilihan lain selain ikut dalam permainan si cupu, aku tidak ingin keegoisan ku saat ini malah membuat Iqbal akan semakin membenci aku. Iqbal pasti akan mengamuk jika aku membuat kekacauan dengan abangnya si cupu. Oke, untuk kali ini aku harus exstra sabar dulu, setelah aku kembali mendapatkan simpati dari Iqbal baru deh aku pikirin lagi cara buat menyingkirkan si cupu.) Gumam hati Lestari yang berusaha berfikir secara rasional dengan keadaan yang ada.
"Hai, aku Lestari temannya El, senang berkenalan dengan Abang Rizal. Yah, tadi kami hanya bahas tentang arisan kemaren, soalnya ada anak dari teman aku yang ngerusuh di acara." Jelas Lestari mencoba menutupi segala kebenaran yang ada.
"Kalian tidak sedang membohongiku kan?" Tanya Rizal memastikan.
"Tidak dong..." Jawab Lestari santai.
"Udah, Abang nggak usah mikir yang aneh-aneh deh, adek dan mbak Lestari berteman dengan baik!" Jelas Elsaliani.
(Abang tau dek, kalau sekarang kamu sedang berusaha untuk membohongi Abang, sama seperti yang adek lakukan waktu itu, di saat Iqbal datang menjenguk adek ke rumah. Untuk sementara Abang akan diam, Abang ikut permainan adek, Abang hanya tidak ingin upaya adek untuk menyembunyikan semua masalah adek dari Abang berakhir dengan rasa kecewa karena Abang tau semuanya. Abang hanya tidak ingin menyakiti ketangguhan yang sedang adek tanamkan dalam diri adek, Abang sayang adek! tapi tetap saja Abang nggak akan terus berdiam diri jika wanita ini dan Iqbal kembali membuat adek menangis. Tidak akan Abang biarkan satu orang pun di dunia ini merenggut senyuman adek, bahkan Iqbal sekali pun.) Tegas hati Rizal yang mencoba menahan emosi, lalu perlahan menyentuh wajah Elsaliani dan mengecup keningnya.
"Jadi benar nih, adek nggak jadi ikut Abang pulang?" Tanya Rizal.
"Iya!" Jawab Elsaliani pasti.
"Kenapa? bukannya kemaren adek terus merengek mau ikut Abang, kenapa berubah begitu cepat? apa terjadi sesuatu?" Tanya Rizal.
"Kemaren adek sedang dalam mood jelek..." Jawab Elsaliani dengan mencoba memamerkan wajah versi imutnya yang langsung meluluhkan hati Rizal.
"Yakin nih, nggak mau ikut Abang?"
__ADS_1
"Iya, Abang sayang!'
"Kalau begitu kalian teruslah obrolan kalian, Abang pamit pulang! sampaikan salam Abang pada suami mu!" Jelas Rizal.
"Abang mau langsung pulang sekarang? kenapa nggak nginap di sini aja malam ini?"
"Maaf sayang, Abang harus menyerahkan laporan Abang besok pagi juga, jadi Abang harus pulang. Lain kali Abang pasti akan datang lagi!" Jelas Rizal.
"Baiklah!" Ujar Elsaliani dengan suara melemah dan raut wajah penuh dengan rasa kecewa dan juga sedih.
"Abang pamit pulang, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, hati-hati!" Pesan Elsaliani dan langsung memeluk Rizal.
"Oke, adek juga jaga diri baik-baik!"
Elsaliani mengantarkan Rizal hingga ke gerbang dengan di temani oleh Lestari. Setelah mobil yang di kendarai Rizal menghilang dari pandangan keduanya, perlahan Lestari melangkah mendekati Elsaliani, lalu tangannya menyentuh kasar wajah Elsaliani.
"Ingat! hari ini kamu beruntung karena mood aku lagi baik, lain kali aku tidak akan lagi berbaik hati sama kamu." Tegas Lestari.
"Terserah elo deh..."
Lestari pun langsung ke mobilnya lalu pergi meninggalkan Elsaliani seorang diri. Di saat Elsaliani masih berdiri mematung di depan gerbang yang masih terbuka lebar, di saat itu pula sebuah mobil sedan berwarna abu-abu berhenti tepat di hadapan Elsaliani, perlahan kaca mobil di turunkan hingga terlihatlah dua lelaki gagah yang berada di dalam mobil sana. Ketika menyadari siapa yang berada di dalam mobil, Elsaliani segara memalingkan wajahnya dan buru-buru berlari masuk ke dalam.
"Iqbal, bukannya yang barusan itu istri kamu?" Tanya laki-laki yang duduk di depan stir sambil menoleh pada Iqbal yang duduk di sampingnya.
"Hm....dia memang agak pemalu. Dia nggak terbiasa bertemu dengan orang-orang yang asing bagi dirinya, begitulah dia. Mohon dimaklumi!" Jelas Iqbal.
"It's oke! Abang paham. Iqbal, walau Abang baru dua kali melihat istri kamu, bahkan hanya bicara sebentar waktu walimah kalian tiga bulan yang lalu, tapi Abang tau dan yakin kalau dia gadis yang sangat baik. Terlihat jelas kok kalau dia itu wanita idaman banyak pria."
"Ishhh ada-ada aja Abang ini! dia cuma wanita biasa aja, nggak ada yang istimewa."
"Butuh keahlian khusus untuk melihat keistimewaan yang ada padanya. Bal, Abang harap kamu tidak menyia-nyiakan dia, jadilah imam yang baik untuk dia!"
__ADS_1
"Ah sudahlah!"
"Apa dia sudah.....?" Tanya lelaki tersebut lagi dengan senyuman yang menggoda yang terpancar jelas dari wajah manisnya.
"Apaan sih? udahlah bang, terima kasih karena udah nganterin aku pulang. Udah pulang gih sana!" Ujar Iqbal sembari turun dari mobil.
"Bal, jangan bilang kalau selama tiga bulan ini kamu sama sekali tidak menyentuh dia, kamu menafkahinya kan? ingat Bal, berdosa loh!!" Jelasnya sambil menoleh pada Iqbal yang kini sudah berdiri di luar mobil.
"Abang ngomong apaan sih, udah mesumnya sama mbak Erina aja sana. Cepat pulang sana!"
"Kamu ngusir Abang? dasar adik durhaka!" Gumamnya lagi.
"Kan tadi Abang sendiri yang bilang kalau Abang sedang buru-buru. Kirim salam aku buat Roger dan Rakes ya!" Ujar Iqbal.
"Oke, nanti Abang sampaikan. Abang cuman mengingatkan aja, jangan sampai kamu nyesal nantinya. Baiklah Abang pulang sekarang, titip salam Abang buat bidadari mu ya..." Jelasnya lagi dengan senyuman lebar dan segera pergi dengan mobilnya.
Lelaki itu adalah Hadi. Keduanya merupakan sahabat baik sejak Iqbal pertama kali masuk ke dunia tentara. Meski usia keduanya terpaut delapan tahun tapi keduanya bisa menjadi Sabahat bahkan saudara yang begitu saling peduli. Sebelum Iqbal naik pangkat menjadi kapten tim pasukan khusus keduanya berkerja di pos yang sama, dan sejak satu tahun yang lalu berpisah karena Iqbal harus pindah tugas. Roger dan Rakes adalah kedua putra Hadi yang begitu dekat dengan Iqbal. Lebih dari semua itu, Hadi merupakan pelatih Iqbal, Hadi adalah sosok yang begitu Iqbal kagumi baik sebagai seorang tentara yang kuat, tegas, dan lihai maupun sebagai sosok Abang yang begitu bijaksana dan juga dia akan berubah menjadi sosok suami yang penyayang dan papa yang hangat ketika berada di rumah.
------------------------
"El, sayang, kamu di mana sayang..." Panggil Iqbal yang terus melangkah mencari Elsaliani.
Tidak ada jawaban sama sekali, hal tersebut jelas membuat Iqbal kebingungan. Iqbal terus mencari keberadaan sang istri ke seluruh ruangan, hingga terakhir ia mencoba ke kamar Elsaliani, lalu membuka lebar pintu kamar tersebut.
"El....!" Seru Iqbal ketika melihat sang istri yang duduk di pojok kamar sana dengan kedua tangan yang memeluk erat kedua lututnya.
"Sayang, kamu kenapa? apa kamu sakit? apa terjadi sesuatu sama baby?" Tanya Iqbal panik dan khawatir lalu kembali mendekati Elsaliani.***
_____________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya teman2 semua😊😊
your mine so much to me🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️
Alwasy stay here😍😍