Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
97.


__ADS_3

"Sampai kapan mas mau membahas masa lalu? apa kalian nggak bosan terus saja membahas hal yang itu itu aja?" Tanya Elsaliani.


Perlahan Elsaliani terus melangkah mendekati sosok Iqbal yang duduk beralaskan pasir. Meski merasa begitu lelah, Elsaliani sedari tadi terus mengikuti Iqbal dan Rizal.


"Sayang, kenapa di sini?" Tanya Iqbal yang segera membantu Elsaliani untuk duduk disampingnya dengan menghadap kearah pantai.


"Apa mas masih ingin terus membahas semua itu?"


"Walau bagaimanapun abang Rizal, umi, abi, bunda dan bapak berhak tau semuanya, terutama abang Rizal, dia berhak marah atau bahkan memukul mas, bahkan semua itu belum cukup untuk menebus semus kesalahan mas sama sayang."


"Please! El mohon, ini adalah kali terakhir kalian mempermasalah semua ini. El hanya tidak ingin kembali ke masa lalu, El ingin bahagia bersama mas. Janji, jangan bahas tentang itu lagi!"


"Sayang....!"


"Awwwwww"


Jeritan spontan Elsaliani membuat Iqbal panik, Iqbal terlihat begitu khawatir, ia langsung berusaha mengecek keadaan Elsaliani dengan seksama.


"Dimana yang sakit?" Tanya Iqbal dengan tangan yang terus saja menyentuh seluruh anggota tubuh Elsaliani.


"Perut El keram lagi!" Keluh Elsaliani dengan wajah yang menahan rasa sakit.


"Kita ke dokter sekarang!" Tegas Iqbal.


Dengan sigap Iqbal langsung menggendong tubuh Elsaliani, dengan perasaan yang begitu khawatir, Iqbal seakan berlari menelusuri pasir pantai, namun seketika tawa Elsaliani membuat langkah Iqbal terhenti. Mata Iqbal menatap heran pada perubahan exspresi wajah sang istri.


"Sayang,,,"


"El senang lihat mas panik ketika El sakit, karena itu tandanya mas begitu peduli dan sayang sama El, jika sekarang El telah mendapatkan semua itu dari mas, lalu mengapa masa lalu harus kita hadirkan kembali." Jelas Elsaliani dengan tangan kanan yang menyentuh lembut pipi Iqbal yang sedari tadi terus menatap wajah Elsaliani.


"Jadi sayang ngerjain mas?"


Elsaliani hanya menjawab dengan senyuman tanpa dosa membuat Iqbal mengernyitkan kedua alisnya.


"Oke! akan mas balas sesampai kita di kamar!" Tegas Iqbal dengan senyum liciknya dengan mata yang melirik pada setiap lekuk tubuh Elsaliani.


"Mas!"


Tangan Elsaliani langsung menjewer telinga Iqbal, namun hal tersebut tak membuat Iqbal berhenti menggoda sang istri yang wajahnya telah memerah sempurna.


"Semakin lama sayang menjewer, maka mas juga akan balas dalam sampai pagi!" Jelas Iqbal yang kembali mempercepat langkahnya.


"Mas turunkan El! gimana kalau ada yang lihat?"


"Nggak akan mas turunkan sebelum kita sampai di kamar, dan jika pun ada yang lihat, bodoh amat, Sayang kan istri mas!"

__ADS_1


"Mas turunin!" Rengek Elsaliani.


"Nggak!" Tegas Iqbal.


Iqbal bersih keras menggendong sang istri hingga keduanya sampai di kamar, Iqbal langsung menidurkan Elsaliani ke atas kasur.


"Awwww, mas perut El keram!" Adu Elsaliani dengan wajah yang terlihat sedang menahan rasa sakit.


"Mau tipu mas lagi? udah nggak akan manjur!"


"Mas, El serius, perut El sakit banget!"


"Udah sayang, berhenti pura-pura! mas benar-benar rindu sayang!" Jelas Iqbal yang berusaha mencium Elsaliani.


"Mas, El nggak bercanda, sakit mas..." Suara Elsaliani semakin melemah, matanya beningnya mulai basah, perlahan air mata membasahi wajahnya.


Elsaliani semakin meringis kesakitan, seketika ia terlihat pucat, bahkan ia terus menggigit bibir bawahnya karena tidak lagi bisa mengendalikan rasa sakit yang semakin menyiksa sekujur tubuhnya.


"Sayang, sayang kenapa? sayang jangan buat mas khawatir!"


"Massss!" Jerit Elsaliani dengan tangan kiri yang mencengkram bahu Iqbal.


"Bunda....bunda...!" Suara Iqbal terdengar begitu panik.


Iqbal menggendong Elsaliani, ia terus bergegas keluar kamar dengan terus memanggil Ayu.


"Ada apa dengan El?" Tanya Rizal panik melihat Elsaliani di dalam gendongan Iqbal.


"Apa El mau melahirkan?" Tanya Erina yang juga ikut panik melihat wajah Elsaliani yang di penuhi keringat dingin.


"Seharusnya sebulan lagi baru lahiran? El, di mana yang sakit nak?" Tanya Ayu dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Elsaliani.


"Kita bawa El ke rumah sakit sekarang!" Perintah Adimaja.


"Ayo, akan aku siapkan mobil!" Jelas Mikeal yang langsung berlari kembali ke kamar untuk mengambil kunci.


"Cepat Mikeal!" Pinta Iqbal yang langsung berlari keluar.


Semua ikut panik, Iqbal langsung masuk ke dalam mobil di susul oleh Ayu, lalu Mikeal dan Adimaja yang duduk di depan. Mikeal langsung menjalankan mobilnya, sedangkan yang lain menyusul di belakang dengan mobil lain.


"El, nak, dimana yang sakit? El harus kuat, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, El akan baik-baik saja!" Jelas Ayu dengan air mata bercucuran melihat sang menantu yang begitu kesakitan.


"Mas, El, rasanya...."


"Jangan katakan apapun, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Tegas Iqbal yang semakin mengeratkan rangkulannya pada sang istri.

__ADS_1


"Istiqhfar sayang, jangan pikirkan yang tidak-tidak, menantu dan cucu bapak adalah orang yang kuat, semuanya akan segera membaik." Jelas Adimaja.


"Ya Allah, tolong selamatkan anak kami!" Pinta Elsaliani dengan suara lirih dan mata yang terpejam.


"Sayang, sayang please jangan kayak gini, jangan buat mas gila. El buka mata mu! El, sayang...!" Histeris Iqbal ketika mata El telah terpejam sempurna, bahkan genggaman Elsaliani mulai melemah dan akhirnya tangan Elsaliani terlepas dari pinggang Iqbal.


"Mikeal cepat! tambahkan kecepatan mobilnya! cepat!" Teriak Iqbal yang tidak bisa lagi mengontrol dirinya.


Seketika mobil seakan melaju kencang membelah jalan malam.


------------------


Setelah menempuh perjalan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di rumah sakit yang memang begitu jauh dari resort Adimaja.


"Bagaimana keadaan adek? adek baik-baik saja kan?" Tanya Rizal setelah masuk ke dalam rumah sakit, dan melihat yang lain sedang duduk di ruang tunggu.


"Rizal tenanglah! El akan baik-baik saja, dokter sedang memeriksanya." Jelas Adimaja.


"Abang, kita duduk dulu. Tenang, kita hanya harus mendoakan agar El lekas sembuh!" Ujar Arumi dengan kedua tangan yang merangkul bahu Rizal.


Rizal menurut, ia lekas duduk dengan disusul oleh Arumi yang begitu setia menenangkannya.


"Bunda, berhentilah menangis! El akan baik-baik saja!" Ujar Erina sambil mengelus bahu Ayu yang sedari tadi begitu larut dalam tangisnya.


"El itu gadis yang kuat, dia akan berjuang hingga titik darah penghabisan demi kamu, dan juga anak kalian." Jelas Hadi yang ikut duduk di sebelah Iqbal.


"El akan baik-baik saja kan?" Tanya Iqbal yang terlihat begitu memilukan.


"Hmmm, El pasti bisa melewati semuanya dengan baik." Tegas Luqman.


"Dimana anak-anak?" Tanya Adimaja yang memang tidak melihat para cucunya datang.


"Mereka masih di resort sama Alam, Khaira, Amanda dan Tia." Jelas Hadi.


"Hmmmm sebaiknya memang begitu, biar mereka istirahat dengan tenang." Ujar Adimaja.


Sejenak suasana hening, semua menatap penuh harap ke arah ruangan dimana Elsaliani berada. Semua mematung, yang terdengar hanya isak tangis yang tak terkendali, hingga akhirnya pintu terbuka, dokter keluar, membuat semuanya yang sedang menunggu cemas langsung bangun dari duduk mereka dan segera menghampiri dokter yang menangani Elsaliani.


"Gimana dok? istri dan anak aku baik-bajk aja kan?" Tatapan tajam Iqbal seakan sedang mengintrogasi seorang penjahat.***


______________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua@😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰

__ADS_1


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2