Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
23.


__ADS_3

"Mikeal, biar Abang yang urus El! sebaiknya kamu ikut bersama yang lain ke markas." Jelas Iqbal dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan milik Mikeal, tatapan yang terpancar dari mata Iqbal jelas terlihat bahwa Iqbal tidak menyukai sikap Mikeal terhadap Elsaliani.


"Baik kapten!" Ucap Mikeal tegas yang tidak ingin memperkeruh keadaan.


"Abang Mikeal, tolong antarkan El pulang!" Pinta Elsaliani dengan penuh harap. Permintaan Elsaliani membuat kedua lelaki gagah tersebut berdecak kaget lalu saling melempar pandangan satu sama lain.


"Aku yang akan mengantarkan kamu pulang!" Tegas Iqbal yang sama sekali tidak ingin di bantah.


"Tuan, El...."Keluh Elsaliani dengan penuh keraguan namun pada akhirnya ia kembali menundukkan pandanganya.


Tanpa peduli lagi dengan Mikeal yang masih memandang heran pada keduanya, Iqbal langsung menggendong tubuh Elsaliani dan membawanya keluar dari gedung tua tersebut.


"Tolong urus Badai sampai tuntas! Kamu tidak perlu khawatirkan El, aku akan menjaganya. Satu lagi jangan ceritakan kejadian ini pada bapak maupun bunda." Jelas Iqbal setelah meletakkan Elsaliani di jok mobil.


"Baik."Jawab singkat Mikeal yang memang dari tadi terus mengikuti langkah Iqbal.


"Abang duluan." Ujar Iqbal lalu masuk ke mobil miliknya.


Mikeal hanya bisa memberi hormat, ia tidak ingin membuat Iqbal tambah kesal dengan tingkahnya. Mikeal pun kembali bergabung dengan tentara lainnya setelah mobil Iqbal lebih dulu meninggalkan tempat kejadian tersebut.


-------------------


"Apa luka mu sudah membaik?" Tanya Iqbal yang masih berdiri di ambang pintu kamar, dengan tatapan yang terus tertuju kearah di mana Elsaliani berada.


"Sudah tuan." Jawab Elsaliani kemudian semakin mengeratkan rangkulan pada kedua lutut miliknya, ia masih saja duduk di pojok ruangan dengan tatapan kosong dan perasaan yang tak menentu.


"Soal hari ini aku minta maaf! maaf karena pekerjaan aku membuatmu terlibat dalam masalah yang seperti tadi, aku telah membahayakan nyawa kamu. Akan aku pastikan kejadian hari tidak akan terulang lagi!"


"Kenapa tuan minta maaf? El yang salah. Seharusnya hari ini tuan mengakhiri semuanya, bukankah dengan begitu semuanya akan kembali seperti sediakala?"


"Apa maksud kamu? oh, jadi kamu meminta aku untuk mengizinkan kamu diantar pulang oleh Mikeal di depan semua tentara lainya?"

__ADS_1


"Bukan itu maksud El....."


"Lalu apa juga? membiarkan Mikeal menjadi pemeran utama dalam cerita hari ini? sebenarnya seberapa jauh hubungan yang telah terjalin diantara kalian berdua?"


"Bukan, bukan itu yang ingin El katakan. Kenapa tuan datang? kenapa tuan menyelamatkan El? kenapa tidak tuan akhiri saja semua ini? bukankah kebahagiaan tuan akan kembali ketika El menghilang dari hidup tuan? lalu kenapa tuan harus memaksakan diri untuk mengulurkan tangan kearah El? Kenapa, kenapa.....tuan membiarkan hati ini semakin bergantung pada tuan?"


mendengar penjelasan Elsaliani membuat Iqbal terdiam seribu bahasa, tanpa ucapan sepatah katapun Iqbal melangkah mendekati Elsaliani lalu memeluknya dengan erat, Sedangkan Elsaliani hanya bisa menangis, dan membiarkan Iqbal semakin mengeratkan pelukannya.


"Tadi itu, kamu pasti sangat ketakutan kan? maafkan aku karena membuatmu menunggu terlalu lama, hingga membuat mereka menyentuh kamu."


"Tuan, terima kasih karena datang menyelamatkan El, tadi itu El benar-benar sangat ketakutan, bahkan untuk bernafas saja El takut, El takut ketika tangannya menyentuh El, El....." Jelas Elsaliani dengan tangis yang terisak. Iqbal dapat merasakan jantung Elsaliani yang berdetak cepat, seolah sedang berlarian, membuat Iqbal semakin menenggelamkan wajah Elsaliani di dadanya.


"Tenanglah, sekarang kamu aman. Badai tidak akan lagi menyakitimu!"


"Tuan, mbak Lestari gimana? dia baik-baik saja kan?" Tanya Elsaliani di sela tangisnya.


Elsaliani mulai menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat ia langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Iqbal.


"Iya, Lestari baik-baik saja." Jawab Iqbal yang membiarkan Elsaliani menjauh darinya.


"Sekarang istirahatlah! besok kita ke rumah sakit, kening kamu harus di obati dengan benar."


"Baik tuan."


Iqbal bangun, lalu berdiri tegap di hadapan Elsaliani yang masih saja duduk di pojok kamar. Tanpa terkendali, tangan kanan Elsaliani dengan spontan menggenggam tangan Iqbal, ulah Elsaliani membuat langkah Iqbal terhenti dengan sendirinya. Mata Iqbal kembali menatap mata sang istri yang tampak ragu-ragu dengan apa yang sedang ia lakukan. Perlahan Elsaliani bangun dari duduknya, lalu berdiri di hadapan Iqbal, entah keberanian dari mana yang menyeruak pada diri Elsaliani hingga membuat ia melakukan hal yang selama ini tidak pernah dia lakukan, tangan Elsaliani langsung memeluk erat tubuh kekar Iqbal.


"Elsaliani, aku sama sekali tidak memintamu untuk memeluk aku kan? kenapa menyentuh tubuhku tanpa izin?" Tanya Iqbal, namun tubuhnya seakan berlawanan dengan apa yang di ucapkan oleh mulutnya. Tubuh Iqbal terus saja membiarkan Elsaliani memeluknya, tanpa perlawanan dan penolakan sama sekali. Sejenak terdiam, akhirnya Elsaliani melepaskan pelukannya lalu perlahan memberanikan diri untuk menatap wajah Iqbal yang memang sedang memandang dirinya.


"Maaf karena El telah merusak hidup tuan, mengacaukan kebahagiaan tuan. El sama sekali tidak berniat untuk membuat hidup tuan berantakan, Wallahi. Sekarang El paham bagaimana perasaan tuan sebenarnya, El tau kalau tuan sangat mencintai mbak Lestari, namun di sisi lain tuan di paksa untuk menikahi El tanpa ada kejelasan sedikitpun bahkan tidak di berikan hak untuk memilih. Tuan, puncak kesalahan dari semua permasalahan ini adalah El, El yang menerima perjodohan ini. Bunda, bapak, Abi dan ummi sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, maka El yang akan bertanggung jawab, El akan menyelesaikan semua masalah ini!"


"Kamu bicara panjang lebar semakin membuat aku pusing. Jangan membuat aku tidak paham, katakan yang jelas, apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Menikahlah dengan mbak Lestari! hiduplah bahagia dengan dia, El akan keluar dari hidup tuan."


"Maksud mu, kamu menyuruh aku untuk menceraikan mu, lalu bunda dan bapak akan membenci aku dan terakhir mereka akan membuang aku dari hidup mereka, begitu maksud mu?"


"Tidak, El janji kalau hal itu tidak akan pernah terjadi. Lagi pula tuan tidak salah, tuan terlalu sempurna untuk di benci oleh bapak dan bunda. El yang punya banyak kekurangan, dan perpisahan ini terjadi karena kesalahan dan kekurangan yang ada pada El."


"Katakan! sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?"


"El mandul, El tidak bisa memberi keturunan untuk keluarga tuan, dengan begitu bapak dan bunda tidak akan menyalahkan tuan."


"Bagaimana kamu bisa tau kalau kamu mandul?"


"Berbohong untuk kebaikan semua orang tidak ada salahnya kan? tuan tenang saja, El yang akan segera menyelesaikan semua ini, yang harus tuan pikirkan adalah pernikahan tuan dengan mbak Lestari. Kalau begitu selamat malam, semoga kedepannya tuan akan selalu bahagia."


Perlahan Elsaliani melangkah menuju tempat tidur, namun Iqbal kembali mendekatinya, dengan kasar tangan Iqbal mendorong tubuh Elsaliani ke kasur lalu ikut berbaring di sisinya.


"Ayo kita buktikan apakah kamu benar mandul atau tidak!" Ujar Iqbal seraya terus menyentuh wajah Elsaliani.


"Tuan, tolong sadarlah! ini El bukan mbak Lestari!" Pinta Elsaliani dan terus saja berusaha mengelakkan wajahnya dari sentuhan Iqbal.


"Jadi kamu pikir selama ini aku melakukannya dengan Lestari? dengar baik-baik Nurul Elsaliani, meskipun Lestari adalah kekasih aku tapi aku tau batasnya, aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun dengannya! aku bukan lelaki seperti yang ada dalam pikiranmu saat ini!" Tegas Iqbal dan langsung bangun lalu menjauh dari Elsaliani.


"Maaf, El minta maaf!" Pinta Elsaliani dengan mata terpejam yang kembali mulai menitikkan air mata di ujung mata bulatnya.


Mata Iqbal kembali menoleh kearah sang istri, dan akhirnya ia kembali mendekat lalu mengecup lembut kening Elsaliani.


"El, aku akan mencoba untuk memahami keadaan ini, aku akan berusaha untuk menerima keadaan ini."


"Tuan...."


"Beri aku waktu lebih banyak lagi, karena mungkin aku akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menerima semua keadaan ini."

__ADS_1


"Hmmm."


Keduanya sepekat untuk mencoba memahami satu sama lain, berusaha keluar dari anggapan yang telah membuat keduanya hidup bagaikan dengan orang asing, mencoba mengubah rasa dendam yang telah berkarat di lubuk hati terdalam, lalu berusaha untuk keluar dari suasana keliru yang membelenggu dari waktu ke waktu semakin memupuk rasa benci hingga menjerat perasaan yang di penuhi ambisi untuk terus menyakiti.***


__ADS_2