
Mobil Rizal dan mobil Mikeal kembali terparkir di depan rumah Iqbal, mereka pulang setelah magrib. Semuanya segera masuk dan bergegas ke meja makan di mana yang lainnya sedang berkumpul.
"Cie yang baru pulang jalan-jalan senang banget kaliatannya ya, sampai Tante El nggak di hiraukan, sayang nggak kangen ya sama Tante?" Tanya Elsaliani sambil mendekati Mikeal Junior yang berjalan di samping Rizal.
"Kangen kok tante!" Jawab Mikeal Junior lalu mengecup kedua pipi Elsaliani.
"Ayo kalian cepat duduk, bunda udah lapar nih, dari tadi di tungguin nggak pulang-pulang!" Jelas Ayu.
"Sorry bunda, habis jalan-jalan hari ini seru banget loh, sampai lupa deh sama bunda!" Canda Mikeal.
"Karena ada Arumi ya? makanya jadi lupa sama bunda?" Tanya Ayu menggoda Mikeal.
"Jangan mulai menggoda aku bunda, kan jadi malu akunya, padahal dari tadi Aku sama Mikeal terus, Abang Rizal tuh nempel terus sih sama Arumi, nggak ada celah buat aku bunda." Jelas Mikeal dengan wajah cengengesan.
"Iya lah harus ekstra di jaga, takut nanti kalian CLBK!" Seru Rizal dan langsung duduk di sebelah Iqbal.
"Udah-udah! berhenti bercanda, apa kalian nggak lihat tuh wajah Arumi yang menahan malu karena ocehan kalian berdua." Jelas Zulfa lalu tersenyum pada Arumi yang sedari tadi hanya diam dengan kepala tertunduk.
"Sorry sayang!" Ujar Rizal.
"Ayo makan...!" Ujar Ayu ketika semuanya sudah mengambil posisi di masing-masing.
Dari tadi Iqbal hanya terdiam seribu bahasa, apa lagi saat ini Rizal tepat di sampingnya dan Adimaja duduk di hadapannya. Kedua lelaki tersebut seolah terus memperhatikan Iqbal, membuat ia risih dengan lirikan keduanya.
"Iqbal..." Panggil Adimaja di saat semuanya terdiam dan terlihat sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
"Iya, ada apa pak?" Tanya Iqbal yang langsung menghentikan acara makannya.
"Apa benar kalau lusa, kamu akan berangkat ke negara P? tim mu atau cuma kamu yang di tugaskan ke sana?" Tanya Adimaja.
"Cuma aku." Jawab Iqbal.
"Atas dasar?" Adimaja kembali bertanya.
"Yah, karena aku yang terbaik diantara semuanya." Jawab Iqbal yang kembali mengunyah makanannya, berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu yakin?" Tanya Adimaja kali ini dengan tatapan tajam, membuat yang lainnya ikut berhenti dengan kegiatan makan mereka.
Suasana meja makan tiba-tiba mencengkam, aura yang begitu menakutkan. Semua mata hanya tertuju pada Adimaja dan Iqbal secara bergantian. Elsaliani menatap wajah tegang Iqbal, lalu dengan lembut menyentuh lengan Iqbal, membuat Iqbal segera menoleh kearah Elsaliani untuk sesaat, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Adimaja.
"Abang Iqbal kapten kami, jadi udah jelas dong kalau Abang Iqbal yang terbaik. Komandan tidak ingin mengecewakan tentara di sana, abang Iqbal yang terbaik diantara semuanya." Jelas Mikeal.
"Tadi siang bapak dapat email, isinya surat pernyataan, di sana tertulis jelas bahwa atasan kalian, Vikram Wijaya membatalkan keberangkatan mu, karena tadi siang Hadi telah berangkat ke sana." Jelas Adimaja.
"Abang Hadi? tapi kenapa? Kenapa dia yang menggantikan aku?" Tanya Iqbal dengan tatapan yang tak kalah mematikan dari yang Adimaja lakukan.
"Bapak yang merekomendasikan Hadi." Jelas Adimaja.
"Kenapa? atas dasar apa bapa mencampuri urusan kerja aku? Pak, aku sengaja tidak memilih menjadi Angkatan Udara karena aku tidak ingin seatap sama bapak, lalu kenapa bapak masih juga melakukannya?" Gumam Iqbal yang mulai emosi.
__ADS_1
"Bapak sama sekali tidak mencampuri pekerjaan mu, bapak hanya membantu Vikram, itu saja. Dia ingin mengirimkan tentara terbaik kan, bukankah Hadi lebih kuat dari kamu. Kamu memang penembak jarak jauh yang jitu, tapi tanpa deskripsi dari Luqman semua kan percuma, tapi Hadi bisa melepaskan panahnya dengan tepat tanpa harus ada pemandu." Jelas Adimaja lalu kembali menyantap makan malamnya.
"Sudahlah Iqbal, toh bapak melakukan yang terbaik untuk semuanya." Jelas Ayu.
"Aku harus pergi." Tegas Iqbal yang langsung bangun dari kursinya.
"Mas mau kemana?" Tanya Elsaliani.
"Ada hal yang harus mas urus." Jelas Iqbal.
"Iqbal lanjutkan makan malam mu, jangan buat bunda mengomel di depan mertua dan ipar mu!" Tegas Ayu.
"Bunda, biarkan Abang Iqbal pergi, dia butuh udara segar. Bunda duduklah kembali!" Ujar Mikeal.
"Sudahlah Adimaja, biarkan Iqbal melakukan apa yang dia inginkan!" Ujar Ismail.
"Apa aku boleh tambah ayam lagi?" Tanya Mikeal Junior yang sontak mengalihkan pandangan semua orang.
"Hmm,,,sayang sebaiknya kita ke kamar sekarang, ayo!" Ajak Arumi, yang merasa tidak enak karena Mikeal mengacaukan keadaan di sana.
"Arumi, udah biarkan. Lanjutkan makan malam mu!" Jelas Zulfa.
"Dan ini untuk Mikeal, makanlah! nanti masih boleh nambah lagi kok!" Lanjut Zulfa sambil meletakan paha ayam ke dalam piring milik Mikeal junior.
"Terima kasih nenek!" Ucap Mikeal junior dan langsung melahap ayam tersebut.
Dalam waktu yang bersamaan suara chat masuk terdengar dari ponsel milik Iqbal dan juga Mikeal. Keduanya segera merogoh saku celana mereka dan segera membuka ponsel mereka masing-masing.
"Bunda, dan semuan nya, aku juga permisi. Terima kasih untuk makan malam lezatnya." Jelas Mikeal dan langsung berlari keluar.
Sedangkan Iqbal bergegas ke kamar, Elsaliani menyusul Iqbal. Di kamar sana Iqbal terlihat sibuk mengenakan seragamnya, setalah siap dengan seragam tempur, Iqbal kembali di sibukkan dengan senjatanya, Elsaliani melangkah mendekati Iqbal lalu mengikat kedua tali sepatu Iqbal yang masih berantakan.
"Terima kasih sayang!" Ucap Iqbal yang langsung menunduk mendekati Elsaliani yang masih sibuk mengikat tali sepatu miliknya.
Iqbal mengecup pucuk kepala Elsaliani yang terbungkus jilbab hitam lalu mengelusnya pelan.
"Titip suami El, jaga dia baik-baik!" Ucap Elsaliani lembut lalu menyentuh wajah Iqbal.
"Kembalilah sebagaimana mas pergi sekarang, tampa kurang apapun. El sayang mas!" Lanjut Elsaliani yang kini telah membenamkan wajahnya di dada bidang Iqbal.
"Iya sayang. Baby titip Uma ya! jaga Uma baik-baik, dan satu lagi baby jangan nakal di sana ya. Ayah akan pulang secepat mungkin, ayah janji nggak akan lama!" Jelas Iqbal lalu mengecup perut rata Elsaliani.
Iqbal yang sudah siap dengan segala perlengkapannya secepat kilat keluar dari kamar namun dengan cepat Elsaliani memeluk erat tubuh Iqbal dari belakang hingga membuat Iqbal menghentikan langkahnya.
"Kenapa cuma baby yang mas cium? lalu El gimana?" Tanya Elsaliani manja, dengan wajah yang sepenuhnya ia benamkan di punggung Iqbal.
"Sayang, sorry! mas buru-buru, mau di cium dimana?" Tanya Iqbal lalu membimbing Elsaliani agar berdiri tepat di hadapannya.
Tangan Elsaliani dengan cepat langsung melingkar di leher Iqbal, tubuh Iqbal yang jauh lebih tinggi dari Elsaliani, membuat Elsaliani harus bersusah payah untuk menarik wajah Iqbal agar sejajar dengan wajah dirinya. Setelah usahanya berhasil Elsaliani langsung mencium lembut bibir sang suami.
__ADS_1
"Boleh nambah?" Tanya Iqbal dengan senyum semeringah setelah Elsaliani melepaskan ciumannya.
"Tadi kata-katanya mas buru-buru!" Gumam Elsaliani.
"Lima menit aja, nggak akan buat mas terlambat kok!" Jelas Iqbal dan langsung mencium sang istri.
"Mas, udah!" Ujar Elsaliani yang mencoba mendorong dada Iqbal.
Membuat Iqbal melepaskan ciumannya, tangan Iqbal menggenggam erat tangan Elsaliani lalu keduanya keluar dari kamar.
Di teras sana yang lain sedang menunggu keduanya, sedangkan Mikeal telah lebih dulu berangkat ke markas untuk siap-siap karena semua perlengkapannya ada di loker sana.
"Aku pamit! maaf nggak bisa menemani kalian semua, tiba-tiba aja ada tugas dadakan." Jelas Iqbal.
"Udah santai aja, biar Abang yang nemanin semua yang ada di sini, Abang nggak kalah seru dari Iqbal kok!" Ujar Rizal lalu tertawa lepas.
"Iya, nggak usah pikirkan kami. Bekerjalah dengan baik!" Ujar Ismail.
"Hati-hati sayang!" Ujar Ayu.
"Iya, terima kasih, aku pamit!" Jelas Iqbal.
Iqbal kembali mendaratkan kecupannya di kening Elsaliani, membuat Elsaliani tertunduk malu dengan sikap Iqbal yang asal nyosor bahkan di hadapan keluarga mereka.
Iqbal hanya tersenyum lalu segera masuk ke mobil dan lekas pergi.
"Ayo sayang kita istirahat!" Ajak Ayu yang langsung merangkul bahu Elsaliani.
"Ayo bunda, kak Arumi sama Mikeal mana?" Tanya Elsaliani yang baru menyadari bahwa keduanya tidak ikut mengantarkan Iqbal ke teras.
"Mikeal udah tidur, seharian jalan-jalan terus, dia pasti lelah banget, makanya pas dekat dengan kasur langsung tepar." Jelas Rizal.
"Abang ini ada-ada aja deh!" Ujar Elsaliani dengan tawa lepasnya.
"Abang serius dek!" Ujar Rizal.
"Udah Abang jangan ganggu adek, dia butuh istirahat!" Jelas Zulfa.
"Ayo umi, bunda kita istirahat!" Ajak Elsaliani.
lalu ketiganya langsung masuk meninggalkan ketiga lelaki yang masih betah melanjutkan obrolan mereka di teras.***
_________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊
Tetap setia pada Cinta Elsaliani ya🥰🥰🥰
Love you all😘😘😘😘
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️