
Elsaliani masih saja memeluk erat tubuh Rizal, membuat kedua lelaki tersebut saling memandang, seakan keduanya sedang bertanya dalam kebisuan tentang sikap Elsaliani yang membuat keduanya tak mengerti.
"Adek, adek ngomong apa sih? adek coba tenang dulu, Abang nggak suka dengan sikap adek kali ini, lebih-lebih di depan suami adek." Jelas Rizal dengan begitu bijaksana.
"Nggak apa-apa Abang Rizal, mungkin El memang lagi di fase rindu-rindunya sama Abang. Ya udah, ayo kita masuk!" Ajak Iqbal dan langsung membukakan pintu.
"Adek ayo kita masuk dulu!" Ajak Rizal dan Elsaliani pun menurut, ia terus melangkah mengikuti langkah Rizal.
"Abang, mau minum apa?" Tanya Iqbal ketika ketiganya berada di ruang tamu.
"Biar El yang buatkan! Abang tunggu di sini, jangan kemana-mana!" Jelas Elsaliani dan langsung menuju dapur.
"Iqbal, maaf kalau Abang ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian, tapi Abang hanya ingin memastikan bahwa hubungan kalian baik-baik saja. Apa adek buat masalah? apa adek mengecewakanmu? atau mungkin melukai perasaanmu?" Tanya Rizal.
"Tidak, El sama sekali tidak melakukan apapun. Hubungan kami baik-baik saja."
"Syukurlah! Iqbal, Abang harap kamu mau bersabar dengan tingkah kekanak-kanakannya adek, Abang akui kalau adek memang terlalu manja dan juga suka bertingkah konyol dan nyeleneh. Abang harap kamu bisa membantunya untuk jadi wanita yang lebih baik, Abang sangat berharap padamu Iqbal. Abang harap kamu bisa membuatnya bahagia dan juga menjadi partner terbaik, yang akan selalu menuntun dan memandu adek menuju syurga."
Mendengar penjelasan Rizal sontak membuat hati Iqbal terenyuh, rasa kacau, bimbang dan menyesal mulai menumpuk menjadi satu, membuat dadanya sesak, apa lagi sikap kasarnya pada Elsaliani seolah kembali memenuhi memorinya hingga matanya tak lagi kuasa membendung air mata, perlahan Iqbal mulai menangis dalam diam.
"Maafkan aku, Abang Rizal. Maaf karena telah membuat adek kesayangan Abang berada dalam keadaan yang tidak pernah dia inginkan, maafkan aku!"
"Iqbal, seharusnya Abang yang minta maaf karena dalam tiga bulan terakhir ini, adek pasti selalu membuatmu kewalahan dan juga terima kasih banyak karena mau menjadi suami yang begitu sempurna buat adek!"
Tangan Rizal langsung merangkul tubuh Iqbal, di saat itu pula Elsaliani muncul dengan sebuah nampan yang berisi dua gelas sirup dingin di kedua tangannya. Setelah meletakan bawaannya di meja, ia langsung duduk di sebelah Rizal dan dengan cepat langsung memeluk Rizal, ulah Elsaliani membuat Rizal seketika melepaskan tangannya dari tubuh Iqbal.
"Abang, adek mau pulang! tolong bawa adek bersama Abang." Rengek Elsaliani.
"Adek, sekarang di sinilah rumah adek bersama Iqbal. Ingat! adek sekarang adalah istrinya Iqbal, lalu mana boleh adek meninggalkan suami adek seorang diri di sini. Siapa yang akan menemani dan melayani segala kebutuhannya jika adek tidak di sini." Jelas Rizal.
__ADS_1
"Tapi adek mau ikut Abang pulang!" Rengek Elsaliani manja dan semakin menggelayut di lengan Rizal.
"Iqbal...." Ujar Rizal sambil menoleh kearah Iqbal, seakan meminta persetujuan dari permintaan Elsaliani.
"Hmm...sepertinya El memang sangat merindukan Abi dan umi, aku izinkan! El boleh ikut pulang sama Abang." Jelas Iqbal.
"Tapi Iqbal...." Sanggah Rizal, namun Elsaliani kembali merengek
"Adek mohon.....!" Tambah Elsaliani.
"Abang Rizal bawalah El pulang! jika nanti rindunya telah terobati tolong Abang kabari aku, biar aku datang untuk menjemputnya." Jelas Iqbal dan langsung meninggalkan kedua saudara tersebut di ruang tamu.
"Adek, Abang nggak suka dengan sikap adek hari ini. Iqbal itu suami adek, maka adek harus menjaga perasaannya, adek harus sopan padanya, jangan pernah adek buat hati dia terluka apa lagi kecewa dengan sikap adek. Adek nggak mau kan masuk neraka karena durhaka pada suami?"
"Abang, adek sama sekali tidak berniat menyakitinya. Adek hanya rindu pada hidup adek yang dulu, adek rindu omelan umi, adek rindu candaan Abi dan juga adek rindu bermanja-manja sama Abang. Adek ingin pulang!" Tangis Elsaliani.
"Ajaklah Iqbal pulang. Abang yakin dia pasti mau menemani adek pulang ke rumah kita."
(Apa Abang tau, kehadiran adek yang Abang fikir begitu mas Iqbal harapkan, itu sama sekali nggak pernah terjadi. Kehadiran adek malah menjadi petaka dalam hidup mas Iqbal, tidak ada yang membutuhkan adek, cuma Abang, umi dan Abi yang sayang sama adek.) Gundah hati Elsaliani dengan perasaan yang begitu menyayat segala hal yang ia miliki.
"Adek, justru karena Abang sayang sama adek makanya Abang bersikap seperti ini. Lagi pula Abang ke sini hanya mampir sebentar kok, tengoin adek! karena sebenarnya Abang ke sini karena ada kerjaan yang harus Abang selesaikan malam ini, mungkin besok Abang baru bisa pulang." Jelas Rizal dengan tangan yang terus mengusap jilbab yang Elsaliani kenakan.
"Abang please!"
"Adek izinlah dulu sama Iqbal, besok Abang jemput."
"Terima kasih, adek sayaaaaaang Abang!" Ujar Elsaliani girang lalu kembali mengeratkan pelukannya.
"Ya udah kalau gitu Abang pamit! Abang ada janji sama client."
__ADS_1
"Hati-hati! adek tunggu besok, jangan lupa!" Jelas Elsaliani.
Elsaliani mengantar Rizal hingga ke gerbang, lalu kembali masuk setelah mobil Rizal benar-benar menghilang dari pandangannya.
--------------------------
"Huffff, akhirnya sudah beres semuanya, jilbab, baju, hmm oke semua barang El udah masuk koper semuanya. Ets, my lover hampir aja ketinggalan!" Ujar Elsaliani setelah mengemasi semua barang-barangnya ke dalam sebuah koper kecil, lalu tangannya segera meraih laptop kesayangannya dan memasukkannya ke dalam ransel coklat.
"Akhirnya hari ini tiba juga, oke Nurul Elsaliani let's back to your home and be single girl again."
Mata Elsaliani terus saja menatap koper yang telah terisi penuh dan berdiri kokoh di depan lemari sana, lalu pandanganya tertuju pada ransel coklat kesayangannya, lalu pandangan tersebut tertuju pada seluruh sisi kamar, ia terus saja menatap semua barang yang ada di kamar secara bergantian, tanpa di undang air mata pun mulai berjatuhan.
"Good by all! pertemuan kita cukup sampai di sini. El pasti akan sangat merindukan kalian semua! kamar yang begitu indah, kamar yang begitu nyaman, menjadi tempat terfavorit selama tinggal di sini, bisa nangis, ketawa, bahkan menggila dengan leluasa di sini. Thanks for every thinks, but I have to go!!" Gumam Elsaliani yang semakin larut dalam kersedihan.
" El...." Panggil Iqbal. Kakinya langsung melangkah mendekati Elsaliani.
"Mas..." Ujar Elsaliani, ia terperanjat kaget ketika mendapati Iqbal yang berdiri tepat di hadapannya, lalu dengan spontan kedua tangan Elsaliani langsung berusaha menyembunyikan perutnya sambil terus melangkah menjauhi Iqbal.***
_________________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya teman-teman😊😊
Dear para pembaca setia Cinta Elsaliani, makasih karena udah menjadi semangat buat aku dalam menulis cerita ini. Komen teman-teman semuanya menjadi saran, masukan dan juga kekuatan tersendiri buat aku pribadi, senang aja pas tau kalau ternyata teman-teman suka dengan imajinasi yang aku coba keluarkan menjadi kata-kata sederhana, yang bisa menghibur teman2 semua.
Harapan aku semoga kalian tetap menyukai cerita ini meski nanti endingnya tidak seperti perkiraan teman@ semua.
Tetap setia di sini, bersama Cinta Elsaliani 🥰
So show me, I show you💖💖
__ADS_1
nomu-nomu sarange😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️