
Tepat pukul 18.00 WIB, semua rentetan latihan telah usai di jalani oleh ke lima anggota tim pasukan khusus. Kelimanya terlihat sedang duduk di lapangan dengan beralas rerumputan hijau, mengatur nafas yang masih ngos-ngosan serta membiarkan desiran angin membelai wajah mereka yang telah di penuhi keringat, kaos yang mereka kenakan juga ikut basah karena tetesan keringat.
Mikeal mulai merebahkan tubuhnya, dengan kedua tangan yang menjadi alas kepalanya.
"Hari yang sangat melelahkan!" Teriak Hendra dan ikut berbaring di sisi Mikeal.
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini, jadi ingat waktu pertama jadi satu tim dulu." Jelas Luqman yang rindu akan masa lalu, dimana kelimanya selalu menghabiskan waktu bersama.
"Iya, saat pertama satu tim dulu, aku agak syok sama sosok seorang Luqman, perawakan bak seorang ustad, bijak, sopan, ramah, aku kira semua tentara itu sangar." Jelas Alam.
"Kebalikan dari Iqbal, pertama melihatnya bahkan buluku merinding, nyali aku menciut, aku kira kamu monster bukan manusia." Jelas Hendra.
"Setiap orang punya jati diri yang berbeda-beda, udah ayo pulang!" Ajak Iqbal yang langsung berdiri.
"Masih capek! Kaki sama tangan masih pegal karena berjam-jam bergelantungan di udara!" Keluh Hendra.
"Sebentar lagi aja, aku masih kangen sama suasana ini." Pinta Mikeal.
"Duduklah kembali!" Pinta Alam sambil menarik tangan Iqbal.
Iqbal kembali duduk di sisi Alam, dengan cepat Luqman ikut berbaring, dengan kepala yang berbantal pada kaki Mikeal, melihat aksi Luqman membuat Alam juga ikut berbaring dengan kepala di atas tangan milik Luqman yang ia rentangkan begitu saja.
"Rebahan lah sebentar! El baik-baik saja, jika terjadi sesuatu dia pasti langsung menghubungimu!" Jelas Luqman.
Iqbal menuruti permintaan Luqman, ia segera berbaring dengan kepala beralas pada lengan Hendra. Sejenak, semuanya terdiam yang terdengar hanya deru nafas dari ketiganya. Senyup senyap semuanya memejamkan mata lalu menghembus nafas secara kasar, seakan mencoba membuang setiap beban yang sedang mereka pikul.
"Bagaimana cara aku mengatakannya pada El, aku nggak tau harus bicara apa padanya." Keluh Iqbal masih dengan mata terpejam.
"Katakan saja seadanya, jangan ada yang di tutupi!" Jelas Luqman.
"Iya, tadi pagi aku juga sempat kebingungan, aku nggak tau harus ngomong apa sama Tia, meski pada awalnya Tia terlihat sedih, tapi pada akhirnya dia mengerti, ini tugas, ini kewajiban yang nggak bisa kita elakkan." Jelas Alam.
"Jadi kamu meninggalkan Tia dan Zafran di rumah tanpa ada yang jagain?" Tanya Hendra panik.
"Nggak lah! tadi papa datang jemput mereka." Jelas Alam.
"Kapten juga sebaiknya meminta abang Rizal atau bapak untuk datang menjemput El. Apa lagi El sedang hamil, dia nggak mungkin tinggal seorang diri." Jelas Mikeal.
"Mikeal benar, Bal. Berbahaya jika El tinggal seorang diri." Tambah Luqman.
"Atau biar aku minta tolong sama Angel, agar dia tinggal bersama El selama kita pergi." Usul Hendra.
Usulan Hendra sontak membuat semuanya membukakan mata mereka lalu segera bangun dengan tatapan yang seolah menyerang wajah Hendra yang masih berbaring.
"Ada apa?" Tanya Hendra yang risih dengan ulah Partner kerjanya.
__ADS_1
"Apa kamu berkencan dengan Angel?" Tanya Alam memastikan.
"Yaiyalah!" Seru Hendra bangga.
"Kamu pasti main dukun kan?" Tanya Alam.
"Ciiiih, kamu pikir aku cowok apaan!" Gumam Hendra kesal.
"Atau mungkin Angel mulai nggak waras, kok mau maunya dia pacaran sama bocah gesrek kayak kamu!" Gumam Iqbal dengan wajah sinis.
"Muluuuuuut, pedas amat, dasar manusia sadis, heran aku kok bisa kamu jadi suami El, gadis anggun, lembut sopan soleha. Kalau aku jadi El, aku nggak bakal sudi jadi istri kamu!" Gumam Hendra ngasal.
"Kamu benar Hendra, aku juga merasakan hal yang sama seperti kamu. Kenapa bisa El jadi istri monster seperti aku!" Cetus Iqbal yang langsung berdiri.
"Iqbal, aku cuma bercanda!" Tegas Hendra yang ikut bangun lalu merangkul bahu Iqbal.
"Aku rasa jodoh El salah alamat deh, harusnya aku yang jadi suami dia." Seru Luqman dengan tawa renyah.
"Dasar tukang nikung, kemaren mau Angel sekarang El, besok Tia kayaknya!" Seru Hendra.
"Tiga tiganya juga nggak masalah." Seru Luqman.
Tangan Hendra langsung mendarat di punggung Luqman yang disusul dengan tangan Iqbal yang secara kasar menjitak kening Luqman.
"Mau tambahan?" Tanya Mikeal dengan tinju yang sudah melayang siap mencari tempat empuk untuk mendarat.
Dengan cepat tangan Luqman langsung menangkis tinju Mikeal.
"Stop!" Seru Luqman.
"Ayo ke asrama! setelah bersih-bersih dan sholat magrib bersama, baru kita pulang!" Jelas Alam.
"Siap pak kiyai!" Seru Mikeal yang langsung berlari menuju asrama.
Hendra dan Alam juga ikut berlari. Luqman hendak menyusul namun Iqbal mencegahnya.
"Apa kamu suka sama Khaira?" Tanya Iqbal.
Tangan Iqbal menyentuh bahu kanan Luqman, membuat tatapan Luqman langsung tertuju pada Iqbal.
"Belum!" Jawab Luqman.
"Jangan pernah ubah kata belum itu menjadi sudah."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak ada yang harus di jelaskan, dan ingat ini bukan saran melainkan perintah." Tegas Iqbal dan langsung berlalu begitu saja.
"Maafkan aku Iqbal, mungkin ini akan jadi kali pertama aku membangkang perintah mu. Semoga kamu mengerti!" Tegas Luqman pada dirinya sendiri dengan mata yang menatap sendu pada bayangan punggung Iqbal yang telah beranjak jauh dari posisinya berada.
---------------------
Setiba di rumah, Iqbal langsung mencari sosok sang istri, melewati ruang tamu yang kosong, lalu dapur yang terlihat begitu sunyi, hingga ruang TV, sosok Elsaliani juga tidak ada.
Iqbal langsung memasuki kamar, dan ternyata di sanalah sang istri berada. Iqbal terus mendekati Elsaliani yang duduk bersandar di tempat tidur dengan masih mengenakan mukenah, sajadah yang sedikit terlihat berantakan karena tergesek dengan ujung kakinya yang membentang.
"Maaf, membuat sayang menunggu mas terlalu lama." Ucap Iqbal.
Iqbal langsung mengangkat tubuh Elsaliani di saat yang bersamaan ponsel milik Elsaliani terjatuh di lantai, sepertinya Elsaliani tertidur saat memainkan ponselnya.
Setelah melepas mukenah, Iqbal langsung membaringkan tubuh Elsaliani, lalu segera mengambil ponsel yang masih tergeletak di atas sajadah.
"Nonton apaan sih? sampai ketiduran pun masih megang ponsel." Tanya Iqbal pada dirinya sendiri.
Jemari Iqbal bergerak menekan tombol di samping hingga ponsel Elsaliani menyala dan langsung menampilkan foto Iqbal.
"Sepertinya, ini baju yang tadi deh!" Ujar Iqbal mencoba menatap foto dirinya yang memenuhi layar ponsel Elsaliani.
Iqbal kembali memainkan jemarinya di layar ponsel, mencoba mencari sumber foto tersebut.
"Dasar bocah ingusan! diam-diam mengambil foto dengan keadaan sehancur ini, dan yang lebih parah lagi, ia mengirimkannya untuk El. Wahh, kayaknya, harus di disiplinkan tuh bocah, atau sekalian ja tuh tangan yang di potong." Gumam Iqbal.
"Mas.....!" Panggil Elsaliani.
"Sayang..."
Iqbal langsung duduk di samping Elsaliani, lalu menyentuh wajah Elsaliani.
"El rindu!"
Elsaliani langsung menyandarkan kepalanya di dada sang suami, dengan tangan kanan yang memainkan ujung kemeja yang Iqbal kenakan.
"Mas juga rindu!" ***
_______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1