
"Terima kasih banyak. El nggak tau apa yang akan terjadi jika saja tadi El nggak bertemu dengan Abang Mikeal, sekali lagi terima kasih." Ucap Elsaliani dengan penuh terima kasih karena Mikeal telah mengantarkannya pulang.
Mobil milik Mikeal terhenti tepat di depan gerbang rumah Iqbal.
"Sama-sama El, lagian aku juga kebetulan ada urusan di daerah sini tadi. Hm....sepertinya Abang Iqbal menjaga kamu dengan sangat baik, iyakan El?"
"Maksud Abang?"
"El pasti nggak pernah keluar rumah seorang diri kan? makanya kamu nggak hafal dengan jalan di daerah sini, pasti Abang Iqbal selalu mengantarkan kamu kemanapun kamu pergi, iya kan? beruntung kamu El, bisa mendapatkan suami yang perhatian seperti Abang Iqbal."
"Hmm, ya udah kalau gitu El masuk sekarang, sekali lagi terima kasih."
"Iya, hati-hati El."
Elsaliani langsung keluar dari mobil Mikeal dan bergegas memasuki gerbang lalu bergegas untuk masuk ke dalam. Ketika tangan Elsaliani hendak membukakan pintu, disaat itu pula pintu malah terbuka dari dalam, dan ternyata Iqbal lah yang berada dari balik pintu. Mengetahui bahwa sang suami yang kini telah berada di hadapannya membuat Elsaliani langsung menundukkan kepalanya, tangan Elsaliani semakin erat menggenggam kantong plastik yang ada di kedua tangannya. Suasana berubah mencengkam dalam seketika, karena memang keduanya hanya saling diam membisu, hingga suara Mikeal yang mulai mendekati keduanya, seakan memecahkan kebisuan antara Iqbal dan Elsaliani.
"El, ini barang kamu ketinggalan di mobil tadi." Ujar Mikeal sembari menyerahkan plastik yang ada di tangannya untuk Elsaliani.
"Eh, hm.....terima kasih!" Ucap Elsaliani gugup dengan tangan yang langsung mengambil plastik yang di berikan oleh Mikeal.
"Selamat pagi Abang Iqbal!" Sapa Mikeal dengan senyuman.
"Pagi, kalian dari mana? kenapa barang El bisa tertinggal di mobil kamu?" Tanya Iqbal dengan mata yang terus menatap tajam Mikeal dan Elsaliani secara bergantian.
"Oh, tadi El tersesat di jalan, kebetulan aku lewat dan yah akhirnya aku yang menawarkan diri untuk mengantarkan El pulang, dan El menyetujuinya." Jelas Mikeal.
"Oke, terima kasih karena telah mengantarkan istri Abang pulang!" Ucap Iqbal ketus, dengan senyum yang ia paksakan.
"Oke, kalau bagitu aku pamit pulang, assalamualaikum." Ujar Mikeal dan langsung pulang.
"Wa'alaikum salam!" Jawab Elsaliani dengan mata yang menatap punggung Mikeal hingga menghilang dari pandangannya.
"Tuan, ini nggak seperti yang tuan pikirkan..." Elsaliani berusaha untuk menjelaskan pada Iqbal, tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Mikeal.
"Aku tidak memikirkan apa pun, ayo masuk!"
__ADS_1
"Tuan benar tidak marah sama El?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Jadi, tuan benar-benar tidak marah?"
"Atau kamu memang ingin melihatku marah?" Tanya Iqbal kemudian melangkah mundur untuk mendekati Elsaliani yang masih berdiri di depan pintu.
"Bukan begitu, maksud El...."
Tanpa menunggu penjelasan dari Elsaliani, tangan Iqbal langsung menyentuh wajah Elsaliani lalu perlahan mengecup keningnya.
"Lain kali jika ingin keluar, katakan padaku, aku akan mengantarkan mu!"
"Ba....ba....ik!"
"Ingat jangan pernah lagi keluar rumah seorang diri."
"Iya." Jawab Elsaliani dengan kembali menundukkan pandanganya.
"Baik tuan."
Elsaliani segera berlari ke dapur dan lekas menyiapkan sarapan untuk Iqbal. Setelah selesai dengan kegiatan memasaknya, Elsaliani langsung menghidangkan nasi goreng dengan beberapa lauk lainnya di atas meja makan. Elsaliani melangkah menuju ruang TV dimana Iqbal sedang menonton filem kartun favoritnya. Tanpa sengaja Elsaliani malah menyenggol sebuah vas kaca yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan. Suara benturan vas dengan lantai cukup membuat Iqbal kaget, dan segera mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut. Elsaliani masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi, ia masih saja fokus pada pecahan vas yang berserakan di lantai, lalu dengan cepat bergegas untuk mengutip beling tersebut.
"Tuan, El janji kalau El akan menggantikannya. Besok akan El ganti, tolong maafkan El! El benar-benar nggak sengaja." Pinta Elsaliani yang telah di penuhi dengan rasa takut yang menjalar ke sekujur tubuh. Bahkan rasa takutnya membuat ia tidak lagi bisa merasakan sakit di jari-jarinya yang terluka akibat menyentuh beling.
"Bangun!"
"Tuan tolong jangan marah! untuk hari ini saja, tolong jangan marahi El!" Pinta Elsaliani yang di iringi dengan isak tangis, lalu kedua tangannya segera menyentuh kaki kanan Iqbal, yang memang sedari tadi telah berdiri didekatnya.
"Aku bilang bangun!"
"Berapapun harganya, El akan bayar. Jadi tolong, untuk hari ini saja, tolong jangan marah!"
"Aku harus mengulangnya berapa kali agar kamu bisa mendengar ucapan aku dengan baik? aku bilang bangun, berarti bangun!"
__ADS_1
"Tuan tolonglah...." Tangis Elsaliani dan mencoba untuk bangun, namun yang terjadi ia malah terjatuh ke lantai. Iqbal segera meraih tubuh Elsaliani yang begitu lemah, lalu mendekapnya erat.
"Tuan, untuk hari ini saja, tolong jangan marah sama El!"
"Hm...aku nggak akan marah." Tegas Iqbal sambil mengelus lembut kepala Elsaliani yang terbalut kerudung.
"Terima kasih, terima kasih banyak!" Ucap Elsaliani girang sambil melepaskan tubuhnya dari dekapan Iqbal.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Hmm, oh ya sarapan sudah El siapkan di meja makan, tuan bisa langsung makan sekarang."
"Oke, baiklah." Jawab Iqbal dan langsung ke meja makan meninggalkan Elsaliani seorang diri di ruangan tersebut.
----------------------
Setelah Iqbal menghilang dari pandanganya, Elsaliani segera membersihkan beling yang berserakan di lantai. Setelah semuanya selesai, ia langsung kembali ke kamar untuk mengobati jarinya yang terluka karena terkena beling.
Setelah membalut luka di ibu jari dan juga jari telunjuk tangan kanannya, kini tangan kirinya yang baik-baik saja segera meraih sebuah kotak kue kecil yang ia terletak di atas meja rias lalu perlahan membuka kotak tersebut hingga terlihatlah sebuah cupcake yang berwarna coklat berpadu pink, lalu ia kembali mengambil sebatang lilin kecil dari laci dan segera memasangnya di atas cupcake lalu menyalakannya.
"Selamat ulang tahun yang ke 19 Nurul Elsaliani, semoga panjang umur, di mudahkan segala urusan dan juga semoga lekas mendapatkan kebahagiaan yang seperti kamu hayalkan selama ini, semoga Allah selalu melindungi mu di manapun kamu berada. Tetap semangat!" Ucap Elsaliani pada dirinya sendiri, tanpa terasa air mata ikut menyertai doanya, lalu meniup lilin.
Diambang pintu sana Iqbal hanya bisa melihat apa yang sedang Elsaliani lakukan, kaki Iqbal seakan terhenti, tidak bisa melanjutkan langkah untuk mendekati Elsaliani.
"Abang, Abi, umi terima kasih karena sudah ingat dengan ulang tahun adek, dan untuk doa yang semalam, adek harap Allah lekas mengabulkan doa kalian untuk adek. Adek sayang kalian semua, adek nggak pernah menyalahkan kalian dengan apa yang adek alami sekarang, ini semua karena kesalahan adek. Maafkan Adek, karena tidak hidup seperti yang kalian harapkan. Adek janji, adek akan terima semua ini tanpa rasa benci apa lagi dendam. Mungkin Allah sedang menguji batas kesabaran adek, agar adek bisa jadi manusia yang lebih tangguh lagi ke depannya."
Perlahan, meski masih terasa sakit di bagian jarinya, Elsaliani tetap berusaha untuk menggerakkan tangan kanannya lalu mengambil cupcake dan memakannya.
"Hm....enaknya. Waaah, baru kali ini adek bisa makan kue sepuasnya tanpa di ganggu sama Abang, senang banget rasanya nggak di jahilin sama Abang...." Jelas Elsaliani pada dirinya sendiri mencoba tetap tegar dan tersenyum meski hatinya sesak karena rasa sedih.
Ini adalah tahun pertama dalam hidup Elsaliani, yang harus merayakan ulang tahunnya seorang diri.
"Khmmm, boleh aku masuk?"
"Tuan....." Seru Elsaliani kaget, ia segera bangun lalu tangannya yang memegang kue segera ia sembunyikan ke belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Apa aku nggak boleh masuk?" Tanya Iqbal untuk kedua kalinya, dan tanpa lagi menunggu persetujuan dari Elsaliani, ia langsung melangkah masuk.***