Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
73.


__ADS_3

"Apa aku boleh minta bantuan mu? kali ini saja!" Pinta Khaira.


Saat ini Khaira masih duduk di dalam mobil bersama Mikeal yang duduk di depan stir. Sedangkan Arumi dan Iqbal telah keluar dari mobil semenjak beberapa menit yang lalu untuk mencari barang pesanan Ayu.


"Mau berulang kali pun akan aku lakukan, kamu mau minta apa?" Tanya Mikeal yang berbalik menoleh pada Khaira yang duduk tepat di belakangnya.


"Berikan aku sedikit waktu bersama Iqbal! kamu jangan salah paham, aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak benar-benar jatuh cinta pada adik iparku." Jelas Khaira.


"Bagaimana aku tidak salah paham, jika permintaanmu saja sudah membuat dadaku sesak, apa sebegitu kuat pesona abang Iqbal sehingga membuatmu begitu terpikat padanya." Jelas Mikeal.


"Aku hanya ingin menenangkan hati aku, setelah ini aku akan menghapusnya dari ingatanku. Dia hanya akan menjadi adik ipar aku, nggak akan lebih." Tegas Khaira.


"Tapi masih ada peluang untuk jadi adik iparnya kan?" Goda Mikeal.


"Aku tidak bisa memastikannya. Biarkan waktu yang menjawab semuanya, termasuk hubungan yang akan terbina diantara kita. Jadi bagaimana?"


"Hmmm, baiklah! Aku akan pulang lebih dulu dengan Arumi." Jelas Mikeal.


"Alasan apa yang harus aku katakan pada Iqbal?"


"Biar aku yang jadi penulis naskahnya." Jelas Mikeal dan langsung ke luar dari mobil dengan diikuti oleh Khaira.


Keduanya terus berjalan memasuki swalayan. Setelah berkeliling ke sana-sini, akhirnya mereka menemukan Iqbal dan Arumi yang sedang asyik memilih beberapa cemilan.


"Arumi, ayo kita pulang sekarang! dari tadi Mikeal terus menangis mencari kamu!" Jelas Mikeal memulai skenario.


"Kok bisa? nggak biasanya dia ngamuk hanya karena aku tinggal, lagian di sana kan ada abang Rizal." Jelas Arumi.


"Ya aku juga nggak tau, udah biar lebih jelas, ayo kita pulang!" Jelas Mikeal.


"Tapi, masih ada barang yang belum di beli!" Keluh Arumi.


"Soal belanjaan biar aku yang urus, Mikeal lebih penting, pulanglah!" Jelas Khaira.


"Baiklah, terima kasih. Iqbal, maaf ya!" Ucap Arumi.


"Nggak masalah, ini juga hampir selesai, kalian pulanglah duluan, aku akan segerabmenyusul." Jelas Iqbal.

__ADS_1


"Ayo Arumi!" Ajak Mikeal.


Arumi mengikuti Mikeal hingga keluar dari Swalayan dan bergegas ke mobil lalu buru-buru pulang. Sedangkan Khaira terlihat begitu telaten membantu Iqbal memilih barang-barang yang akan di beli.


"El suka yang ini!" Jelas Khaira lalu mengambil sebuah wafer keju.


"Ya udah kita beli yang itu!" Jawab Iqbal lalu kembali mengambil beberapa bungkus wafer tersebut.


(Apa yang sebenarnya terjadi? bukankah mereka menikah sudah hampir setahun tapi kenapa Iqbal bahkan tidak tau makanan yang El tidak suka. Apa selama ini mereka hanya sedang membuat sebuah drama keluarga bahagia? Iqbal, bagaimana sebenarnya perasaanmu untuk El?) Bisik hati Khaira yang masih mematung melihat Iqbal yang menyerbu wafer keju tersebut.


"Kenapa menatap aku seperti itu? apa ada yang aneh?" Tanya Iqbal ketika menyadari bahwa sedari tadi Khaira terus menatapnya.


"Apa kamu benar-benar mencintai El?" Tanya Khaira yang sontak membuat Iqbal mematung.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan konyol mu itu?" Tanya Iqbal dingin.


"Konyol? sekarang biar aku beri tau kamu hal yang lebih konyol lagi. Apa kamu tau kalau El alergi sama keju? Apa kamu tau kalau El takut petir, angin kencang, guruh dan juga hujan lebat? lalu apa kamu tau kalau El sebenarnya....." Khaira malah menggantungkan ucapannya karena tatapan mata Iqbal seakan menembus bola matanya.


"Kalau El sebenarnya apa? kenapa berhenti?"


"Jadi kami sama sekali tidak mengenal El dengan baik? bagaimana bisa kamu sama sekali tidak mengenal orang yang kamu cintai. Sekarang aku malah ragu dengan perasaanmu terhadap El."


"Omong kosong? hahh, bukankah kamu yang sedang beracting di hadapan yang lainnya. Jika urusanmu dengan El sudah selesai, datanglah padaku, aku jauh lebih baik dari El." jelas Khaira.


'Plak' Tangan kekar Iqbal mendarat tepat di pipi kanan Khaira, membuat gadis tersebut meringis kesakitan.


"Jadi benar, kalau kamu sama sekali tidak mencintai El? ternyata perkiraan ku memang benar."


"Aku mau pulang!"


"Aku jadi penasaran, apa benar kamu ayah dari bayi yang ada di rahim El?"


Pertanyaan Khaira membuat Iqbal menghentikan langkahnya. Iqbal kini terlihat sangat marah, rahangnya mengeras, bahkan urat di lehernya tampak jelas, dengan tatapan mematikan, Iqbal terus menatap Khaira lalu kembali menghampiri Khaira yang masih berdiri di tempat semula.


"Untuk kali ini aku akan melupakannya. Anggap saja kita tidak pernah terlibat pembicaraan apapun disini. Pulanglah sebelum sisi iblis ku benar-benar memberontak keluar." Tegas Iqbal sambil memejamkan kedua matanya untuk meredakan emosi yang semakin menggebu.


Iqbal kembali melangkah meninggalkan Khaira. Peringatan Iqbal seolah tidak berarti apa-apa bagi Khaira, kini Khaira malah semakin nekat, ia berlari mengejar dan spontan memeluk tubuh Iqbal dari belakang, membuat para pengunjung swalayan menatap kearah keduanya.

__ADS_1


"Khaira lepas!" Tegas Iqbal.


"Sebentar saja, aku mohon Iqbal!" Pinta Khaira iba.


"Lepas, sebelum aku benar-benar berubah menjadi iblis yang menakutkan!" Ancam Iqbal.


Dengan kasar Iqbal melepas paksa tubuhnya dari dekapan Khaira hingga membuat tubuh Khaira terayun beberapa langkah ke belakang.


Iqbal segera mendorong keranjang belanjaannya dan segera meninggalkan Swalayan setelah membayar semuanya. Dengan terburu-buru Iqbal keluar dari Swalayan dan segera pulang dengan taxi oline, meninggalkan Khaira begitu saja.


----------------------


"Bunda, El di mana?" Tanya Iqbal setelah meletakkan semua belanjaannya di meja makan di mana sang bunda sedang telaten menyiapkan berbagai bumbu masakan.


"Di kamar, mau mandi katanya. Dari tadi di sini bantuin bunda." Jelas Ayu.


"Ya udah, aku lihat El dulu ya bun!" Seru Iqbal dan langsung berlari menuju kamar.


"Sayang...!" Panggil Iqbal.


Iqbal kembali melangkah menghampiri sang istri yang duduk di depan cermin.


Elsaliani duduk mematung, bahkan baju yang ia kenakan belum ia kancingkan dengan sempurna, sehingga membuat bagian punggungnya sedikit terlihat, rambut yang masih acak-acakan membuat wajahnya tertutup sempurna. Iqbal terus mendekat, karena bayangan Elsaliani yang terlihat di cermin sama sekali tidak memperlihatkan wajah Elsaliani, yang terlihat hanya rambut hitam lurus yang menempel di wajahnya.


"Stop, jangan mendekat!" Teriak Elsaliani dengan tangan kiri yang menggepal kuat dan tangan kanan yang meremas ponsel miliknya.


"Sayang kenapa? apa yang terjadi?" Tanya Iqbal kebingungan.


"Jangan mendekat, El mohon!" Ulang Elsaliani kali ini diikuti dengan isak tangis.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Iqbal.


Tangan Iqbal segera menangkap wajah Elsaliani, memindahkan rambut hingga terlihatlah wajah yang sembab dan mata yang membengkak.***


______________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊😊

__ADS_1


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2