Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
56.


__ADS_3

Taman terlihat semakin indah di malam hari, lampu-lampu yang terpasang berderetan memancarkan cahaya indah yang semakin menambah kesan romantis. Akan tetapi malam ini sedikit terlihat berbeda, jika malam Minggu biasanya banyak pasangan yang berjalan kaki menelusuri keindahan taman di saat malam sambil menikmati keindahan langit yang mempertontonkan ribuan taburan bintang, namun di malam ini sama sekali tidak ada pasangan yang melintas, sedari tadi hanya para lelaki yang berlalu lalang di sepanjang taman. Hanya ada satu pasangan yang terlihat sedang duduk di satu bangku sana. Yah, Elsaliani dan Iqbal lah yang sedang duduk sambil melepas lelah, karena hampir setengah jam mereka berjalan kaki menikmati keindahan taman. Elsaliani terlihat begitu kecapean, tangannya terus berusaha memijit-mijit betisnya yang pegal.


"Sini biar mas yang pijitin!" Pinta Iqbal sambil membawa kedua kaki Elsaliani ke atas pahanya.


"Biar El saja, lagian mas juga capek kan?"


"Udah jangan gerak! biar mas yang melakukannya, sayang sama baby duduk manis aja." Ujar Iqbal dan terus memijit kedua betis Elsaliani.


"Mas..."


"Iya, kenapa?"


"Terima kasih, hari ini El benar-benar bahagia banget, makan siang bareng, nonton di bioskop, terus makan malam di restoran mewah dan sekarang jalan-jalan di taman, serasa mimpi. Terima kasih!" Jelas Elsaliani dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Iqbal.


"Maaf karena mas nggak melakukannya dari dulu, mulai sekarang jika sayang mau pergi kemana aja, katakan, mas akan bawa kemana pun sayang mau."


"Terima kasih, sayang."


"Apa? mas nggak dengar, coba di ulang!" Pinta Iqbal sambil mengarahkan telinganya lebih dekat lagi dengan Elsaliani.


"Terima kasih."


"Bukan itu, tapi yang sesudahnya."


"Sayang!"


"Mas suka dengan panggilan itu, I love you." Ucap Iqbal.


Mendengar jawaban Iqbal, sontak membuat wajah Elsaliani merah merona. Elsaliani mencoba mengalihkan pandanganya dari Iqbal.


"Target, mulai menuju lokasi misi." Suara Alam terdengar jelas dari benda kecil yang terpasang rapi di telinga Iqbal.


"Oke, aku masuk sekarang!" Tegas Mikeal yang masih berada di posisi semula.


"Baik, semuanya tetap di posisi masing-masing, tetap rilexs jangan ada yang salah langkah. Aku akan terus berjaga dari jauh, dan kamu Mikeal hati-hati, jangan gegabah!" Jelas Iqbal.


"*S*iap, kapten!" Jawab semuanya serentak.


"Mas, ada apa?" Tanya Elsaliani setelah mendengar pembicaraan Iqbal.


"Ssssttt" Jelas Iqbal dengan telunjuk yang langsung menempel di kedua bibir Elsaliani.


Iqbal mendekat lalu memeluk erat sang istri, lalu melepaskan alat pendengaran di telinganya, lalu berbisik di telinga Elsaliani.


"Nanti mas jelaskan, untuk sekarang sayang ikut aja sama mas." Jelas Iqbal yang langsung mengecup kening Elsaliani lalu kembali memasang alat tersebut di telinganya.


Mikeal yang memakai kemeja kotak-kotak, celana kain, serta ransel yang menempel di punggungnya, membuat dirinya terlihat bak anak kuliahan. Ia terus saja mengayuh sepedanya secara pelan mengikuti seorang lelaki yang mengenakan jaket kulit hitam yang sedang berjalan di taman.


Tiba-tiba sepeda Mikeal malah menabrak pembatas jalan taman hingga membuatnya terjatuh ke aspal, lelaki yang sedari tadi diikuti oleh Mikeal hanya berlalu begitu saja tanpa peduli pada Mikeal yang meringis kesakitan.


"Om, tolong! dia berdarah!" Jelas seorang gadis setelah membantu Mikeal untuk bangun.


Dengan wajah kesal lelaki tersebut mendekati Mikeal dan gadis yang sedari tadi membantu Mikeal.


"Cuman lecet sedikit aja, lagian dia itu cowok berdarah sedikit nggak masalah dong." Gumam lelaki tersebut dan langsung berlalu meninggalkan Mikeal dan gadis tersebut.

__ADS_1


"Dia benar target kita. Oke, untuk selanjutnya biar Abang Luqman yang ambil alih!" Jelas gadis tersebut yang tak lain adalah Angel seorang polisi wanita yang begitu lincah dan kuat.


Sejenak Mikeal dan Angel saling menatap, lalu kembali pada posisi mereka masing-masing.


-------------------------


"Sorry!" Pinta Luqman setelah menabrak seseorang hingga membuat tubuh lelaki tersebut terjatuh di jalan.


"Haisssh! punya mata itu di pakek! elo kira ini jalan milik bokap elo, dasar pecundang!" Gumam lelaki tersebut penuh amarah.


"Iya maaf, lagian gue nggak sengaja!" Tegas Luqman.


"Dasar, pengen gue gampar tuh bacot!" Gumam lelaki tersebut, namun fokusnya langsung teralihkan saat ponsel miliknya berdering keras.


"Iya, gue antar sekarang. Pastikan kalian membawa uangnya!" Jelas lelaki tersebut lalu mematikan ponselnya.


"Kalau saja gue nggak buru-buru, bakal gue buat rontok tuh semua gigi!" Gumamnya lagi lalu segera pergi.


"Target semakin mendekat!" Jelas Luqman.


-------------------


"Kenapa pecundang itu lama sekali! Bikin emosi, lihat saja setelah barangnya aku dapat, akan aku akhiri hidupmu yang tak berguna itu!" Gumam lelaki yang sedang duduk di kursi taman tepat di depan Iqbal dan Elsaliani.


Iqbal terus saja memperhatikan sosok lelaki yang mengenakan topi tersebut, terlihat jelas bahwa ia terus saja menatap sebilah pisau yang ia sembunyikan di saku jaketnya.


"Sayang, apa kaki mu masih sakit?" Tanya Iqbal sambil menyerahkan ponsel miliknya pada Elsaliani.


#Sayang, jika mas bilang 'ayo kita pulang' sayang langsung bangun dan berjalan ke belakang bangku ini, karena di bawah pohon sana Hendra menunggu sayang, tunggu mas di sana, Hendra akan menjaga sayang.#


"Aku dan pak Herman, akan terus mengikuti target, saat mereka bertemu, kita langsung lakukan plan C" Tegas Alam yang memang sedang berjalan sambil bercanda ria dengan Herman sambil terus mengikuti lelaki yang menjadi Terget mereka malam ini.


"Baik, semua siap! ketika dia bertemu dengan Herman si bos ******* itu, tim langsung bertindak, go!" Jelas Iqbal memberi instruksi yang langsung membuat semua pasukan pengintai beraksi.


"Sayang, ayo pulang!" Jelas Iqbal.


Elsaliani langsung berlari menemui Hendra sebagaimana yang Iqbal perintahkan.


Iqbal dengan sigap langsung mengarahkan pistolnya tepat di kepala laki-laki yang sedari tadi di pantau olehnya.


Aksi Iqbal membuat lelaki yang mengenakan jaket kulit panik, lalu bersiap kabur, namun sebelum itu terjadi Herman dan Alam telah lebih dulu membuat tubuh lelaki tersebut tersungkur di jalan.


"Hah, ternyata kamu membawa tim baru mu Herman!" Gumam lelaki yang sedari tadi duduk di bangku tersebut. Exspresi nya begitu sinis.


"Sekarang semuanya telah selesai Hamish. Selamat datang di pencara." Gumam Herman.


"Kamu kira akan semudah itu menangkap aku, cihh! kita mulai sekarang, aku sudah memprediksikan semuanya, Herman! dan kau kapten Ahmad Iqbal Ardimas Saka, selamat datang di misi pertamamu yang akan gagal total!" Gumam Herman dengan senyuman licik lalu menepuk tangannya.


Setelah terdengar suara tepukan tangan yang menggema di udara sebanyak tiga kali, para lelaki yang sedari tadi terlihat sebagai pengunjung taman, tiba-tiba saja merapat dan langsung mengepung, dalam sekejap puluhan lelaki sangar telah mengarahkan senjatanya kearah seluruh tim pengintai yang telah berkumpul di titik temu tersebut.


Malam ini tim pasukan khusus bergabung dengan tim investigasi kepolisian untuk melumpuhkan Hamish yang merupakan seorang pengedar yang sudah menjadi incaran pihak kepolisian selama satu tahun terakhir. Polisi sengaja meminta bantuan karena mereka tau betul siapa yang menjadi lawan mereka saat ini, Hamish bukan hanya sekedar seorang pengedar dia juga merupakan pemegang kekuatan penuh didalam dunia perdagangan barang-barang ilegal.


"Haisssssh, kamu membuat aku kesal. Aku sedang buru-buru, seharusnya kita bisa mengakhirinya dengan cepat, tapi sayang aku rasa sisi baikku telah menghilang entah kemana. Baiklah, aku ikuti permainanmu. Mau mulai dari mana?" Gumam Iqbal yang langsung menjatuhkan senjatanya.


"Hanya ini kemampuan tim pasukan khusus yang begitu di elu-elu kan oleh semua aparat. Konyol sekali!" Gumam Hamish lalu melangkah mendekati Iqbal.

__ADS_1


Hamish yang kini telah berdiri tepat di hadapan Iqbal, mulai manatap sinis kearah Iqbal, Hamish terus saja berjalan mengitari Iqbal, ketika Hamish tepat disisi kiri Iqbal, dengan singap secepat kilat tangan Iqbal langsung menarik pisau yang ada di saku jaket Hamish lalu mengarahkannya tepat di kerongkongan Hamish, membuat semua anak buah Hamish berdecak kaget dengan situasi yang kini telah berbalik.


"Sedikit saja tangan ini bergerak, maka darah akan langsung mengalir, atau bahkan kepala bos kebanggan kalian akan langsung terpisah dari badannya. Ah...kalian pasti pernah mendengar tentang kelihaian tangan aku ketika menggenggam pisau bukan! mau langsung aku tunjukkan atau bagaimana?" Jelas Iqbal santai.


"Jangan dengarkan omong kosongnya! lepaskan peluru kalian sekarang juga!" Teriak Hamish namun para anak buah masih tak bergeming sama sekali.


"Hamish, mungkin kamu kenal baik dengan aku, tapi aku rasa kamu tidak kenal dengan Kapten Iqbal. Baik akan aku kenalkan dia padamu, dia tidak pernah sekalipun bermain-main dengan ucapannya." Jelas Herman.


"Bukankah mati bersama lebih menyenangkan!" Gumam Hamish.


"Oke!" Tegas Iqbal yang langsung membuat luka di bagian lengan Hamish, membuat Hamush menjerit kesakitan.


"Mas..." Panggil Elsaliani.


Elsaliani terus berjalan tertatih dengan dua unit pistol yang menempel di kepalanya, disusul dengan Hendra yang berjalan pelan di belakang Elsaliani dengan keadaan yang sama persis seperti Elsaliani.


(Bodoh! Harusnya aku tidak mengikut sertakan istri dan anak aku dalam bahaya. Perkiraan Mikeal tidak pernah meleset, dan kini El benar-benar dalam bahaya, kekhawatiran Mikeal benar terjadi. Iqbal ini bukan saatnya menyesal! oke, tenang, kamu pasti bisa menjaga El dan baby. Tetap fokus, El dan baby akan baik-baik aja.) Bisik hati Iqbal penuh penyesalan karena menerima saran Herman untuk mengikut sertakan Elsaliani agar penyamaran Iqbal dapat dengan mudah untuk mengelabuhi target.


"Kamu mengancam aku dengan kedua manusia itu? hah, tembak saja gadis cupu itu, toh dia hanya boneka dalam permainan ini. Dan dia, Hendra dia cuma pion dalam tim aku, jika ia hilang masih ada ribuan pion lain yang sigap menggantikan posisinya." Jelas Iqbal masih saja santai.


Ucapan Iqbal seketika membuat air mata Elsaliani langsung berjatuhan tanpa terkendali. Badannya seakan melemah.


Mata Iqbal menatap fokus pada Alam, seakan keduanya sedang berinteraksi.


"Plan D" Teriak Alam.


Alam menggunakan kecepatannya, dalam sekejap ia langsung melumpuhkan kedua lelaki yang menyandra Elsaliani. Iqbal yang langsung menancapkan pisau di betis Hamish lalu mendorong tubuh lelaki tersebut ke arah Herman, Iqbal berlari kearah Elsaliani lalu mendekapnya dengan erat. Luqman, Alam dan Angel serta beberapa polisi lainnya pun langsung beraksi, mereka melepaskan peluru mereka tanpa ampun kearah para lawan. Mikeal dan Hendra langsung berlari membuat formasi melindungi Iqbal dan Elsaliani. Suara peluru yang tanpa ampun terus menggema di udara, para lawan mulai berjatuhan.


Pertempuran berakhir, ketika para tersangka telah benar-benar lumpuh, dan mengamankan mereka semuanya. Suara ambulan mulai terdengar karena memang ada beberapa polisi yang juga ikut terluka karena peluru para anak buah Hamish.


Herman yang menyeret Hamish ikut bersamanya, mendekati semua tim pasukan khusus yang masih berkumpul dengan formasi melindungi Iqbal dan Elsaliani.


"Berkat bantuan kalian, pihak kami berhasil melumpuhkan mereka semua. Terima kasih banyak, dan bersiaplah untuk mendapatkan penghargaan dari pihak kepolisian. Sekali lagi terima kasih." Jelas Herman.


"Sama-sama pak, tim kalian juga tidak kalah hebat, terutama wanita cantik ini!" Jelas Hendra.


"Jangan mau Angel, dia itu playboy cap kapak!" Gumam Alam yang langsung di sambut tawa oleh yang lainnya.


"Terima kasih atas kerja samanya, semoga kedepannya kita bisa melakukannya lagi, dan untuk kamu Hendra, kalau kamu ingin kencan dengan aku, maka teruslah memukau ketika melumpuhkan lawan!" Jelas Angel dengan senyuman manis lalu mengikuti Herman.


"Sukses lagi! Emang semua misi yang kita tangani tidak pernah ada kata gagal!" Ucap Mikeal bangga.


"Selamat beristirahat, maaf karena malam Minggu kalian terganggu. Aku sama sekali tidak bisa menolak permintaan pak Herman. sekarang pulanglah, aku lelah dan aku pulang lebih dulu, ayo sayang! kita pulang." Jelas Iqbal.


Iqbal melepaskan tubuh Elsaliani dari dekapannya, lalu beranjak pergi, namun baru beberapa langkah saja tubuh Iqbal langsung ambruk di atas jalan, darah mulai mengalir dari bagian dadanya, melihat keadaan tersebut sontak membuat yang lainnya panik, dan berhamburan mendekati tubuh Iqbal yang telah terkapar tak sadarkan diri.***


_______________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua😊😊


Tetap setia dengan Cinta Elsaliani 🥰🥰


Love you all 😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️

__ADS_1


Salam kenal semuanya😉


__ADS_2