
Iqbal beranjak dari tempat tidur meninggalkan Elsaliani begitu saja. Setelah kepergian Iqbal, Elsaliani kembali membuka matanya, lalu menatap ke seluruh sudut kamar, dan ia sama sekali tidak menemukan sosok sang suami yang begitu ia rindukan.
"Cuma halusinasi!" Gumam Elsaliani dengan kembali memejamkan matanya.
"Sayang..."
"Tolong El, jangan gila! Setelah melihatnya di mana-mana kini bahkan kamu mendengar suaranya, lalu setelah ini apa lagi? kenapa rindu ini begitu menyiksa!" Gumam Elsaliani dengan mata yang terus menangis pilu.
"Sayang, ini mas. Buka matamu!"
Elsaliani segera membuka matanya, ia menatap dalam sosok Iqbal yang ada di hadapannya.
"Ini bukan halusinasi sayang."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Elsaliani langsung memeluk tubuh Iqbal dengan begitu erat.
"Maaf karena membuat sayang jadi seperti ini. Mas juga rindu sama sayang." Jelas Iqbal sambil mengusap lembut bahu Elsaliani.
"Sayang, apa ada hal yang ingin katakan sama mas?"
"El rindu, El sangat merindukan mas." Tegas Elsaliani yang langsung mencium pipi Iqbal.
"Awwww!" Jerit Elsaliani karena merasa perih di bagian bibirnya yang terluka.
"Ayo sini, mas obati."
"cuman terluka sedikit aja, nanti biar El obati sendiri."
"Sayang,,,"
"Tapi...."
Elsaliani tidak lagi berani bicara ketika Iqbal memandu kepala Elsaliani untuk rebahan di paha kanannya. Tangan Iqbal membuka kotak P3K yang baru saja dia ambil dari ruang keluarga, dengan telaten Iqbal mengobati luka di bibir Elsaliani karena ulahnya.
"Kenapa wajah sayang pucat banget? Apa sayang kurang tidur?"
"El, El, hm......."
"Tidurlah! tidurlah dengan nyenyak."
"Mas...."
"Hmmmmm"
"Tadi siang, El dan bunda ke rumah sakit untuk periksa keadaan baby. Hmm, di sana nggak sengaja El bertemu sama abang Luthfan, karena bunda harus mengurus beberapa hal, jadi bunda menitipkan El sama abang Luthfan, bunda khawatir jika meninggalkan El seorang diri, karena kemaren El benar-benar sedang sangat lemah. Maaf, karena El nggak izin dulu sama mas, maafkan El." Jelas Elsaliani dengan mata yang terus saja menatap wajah Iqbal.
(Bagaimana bisa aku langsung menghakimi El tanpa mendengarnya lebih dulu. El, maafkan mas yang telah berburuk sangka sama kamu, mas bahkan sampai berfikir kalau baby adalah anaknya Luthfan. Mas terlalu terbawa emosi, mas benar-benar minta maaf sayang, maaf karena mas malah meragukan cinta suci mu ini) Bisik hati Iqbal dengan penuh penyesalan.
"Mas, El minta maaf!" Ulang Elsaliani yang mulai ketakutan karena Iqbal hanya diam setelah mendengar ceritanya.
__ADS_1
Perlahan Elsaliani bangun, lalu duduk agak menjauh dari Iqbal.
"Tolong maafkan El. El hanya duduk sebentar bersama abang Luthfa, dan El tidak membahas apapun selain tentang El, El sama sekali tidak berbicara tentang mas. Tolong jangan marah, jangan... jangan... jangan hukum El!" Pinta Elsaliani dengan bibir yang mulai gemetar, dengan tubuh yang terus di seret menjauh dari Iqbal.
"Sayang!"
"El janji, mulai hari ini El nggak akan keluar lagi tanpa izin dari mas."
"Apa mas terlihat seperti monster?"
"Mas..."
"Mas rindu, tolong beri mas charger tenaga." Jelas Iqbal sambil merentangkan kedua tangannya.
"Sayang..." Panggil Iqbal karena Elsaliani masih saja belum mendekat ke arahnya.
Perlahan, masih dengan rasa takut yang mendominasi dirinya, Elsaliani kembali mendekati Iqbal dan mendekap erat Tubuh Iqbal, Iqbal membalasnya dengan pelukan yang tak kalah eratnya.
"Jangan beranjak dari mas, tetap jadi istri mas, meski di masa depan akan ada banyak lelaki sempurna yang datang pada sayang. Berjanjilah, kalau sayang nggak akan meninggalkan mas dan baby."
"Bagaimana bisa El beranjak jauh dari mas, empat malam tanpa mas, El bahkan tidak bisa tidur satu menit pun."
"El merindukan mas?"
"Apa perlu lagi El jawab?"
"Malam ini tidurlah dengan nyenyak, tapi mas nggak bisa janji untuk besok malam."
"Nggak!"
"Terus?"
"Mas kangen Excellent service dari sayang!"
"Mas...."
'Cup'
"Mas..."
'Cup, cup, cup, cup' bibir Iqbal terus menyerang kening, pipi, bibir dan leher jenjang Elsaliani.
"Udah tidur, sebelum mas benar-benar lepas kendali!"
"Selamat malam!" Seru Elsaliani.
Elsaliani langsung menyembunyikan wajah merah meronanya ke balik selimut, ia benar-benar di buat melayang dengan sikap Iqbal.
Iqbal hanya tersenyum puas karena berhasil menggoda istri tercintanya.
__ADS_1
-----------------
"Selamat pagi kesayangan bunda..." Ujar Ayu ketika Elsaliani bergabung di meja makan.
"Pagi bunda!" Jawab Elsaliani dengan senyuman lebar dan wajah yang berseri-seri.
"Cieee yang habis melepas rindu..." Goda Mikeal.
"Napa? iri?" Tanya Iqbal yang langsung duduk di samping Elsaliani.
"Nggak tuh! aku cuma kasian aja sama El." Ujar Mikeal menggantung.
"Maksudnya?" Tanya Elsaliani tak mengerti.
"Udah, ayo sarapan!" Tegas Adimaja yang tidak ingin membuat Mikeal meneruskan ucapannya karena jika itu terjadi Elsaliani pasti akan merasa canggung dengan yang lainnya.
Semuanya langsung menyatap sarapan mereka masing-masing.
"Iqbal, ayo ikut bunda sebentar!" Pinta Ayu yang langsung bangun dari kursinya.
"Ada apa bunda?"
"Ada hal yang ingin bunda bicarakan secara pribadi dengan kamu." Jawab Ayu yang langsung meninggalkan ruang makan.
"Sebentar ya sayang!" Ucap Iqbal yang di jawab dengan anggukan oleh Elsaliani.
Iqbal mengikuti Ayu hingga ke ruang keluarga, keduanya duduk di sofa dengan saling menatap lekat satu sala lain.
"Sepertinya ada hal serius yang ingin bunda katakan, ada apa?"
"Apa kamu menyerang El?" Tanya Ayu.
'Glak' Iqbal menelan ludahnya, jantung ya seakan berhenti berdetak, bak tersambar petir tubuh Iqbal mematung, otaknya terus memutar semua memori kelam yang ia lakukan terhadap Elsaliani. Hatinya terus saja tertanya-tanya bagaimana bisa Ayu tahu semua masa lalunya, apa Elsaliani melaporkan semuanya? tapi jika pun Elsaliani melakukannya, kenapa baru sekarang, kenapa disaat ia begitu menyayanginya dengan sepenuh hati baru ia membuka semua kejahatannya, apa mungkin Elsaliani sedang balas dendam padanya.
"Jawab dengan jujur, Iqbal! apa bunda dan bapak mengajarimu untuk berbuat kasar sama istrimu?"
"Bunda, tolong..."
"Cukup! bunda tidak butuh penjelasan dari kamu!"
"Bunda, tolong jangan seperti ini, aku bisa jelasin semuanya." Tegas Iqbal.
"Nggak ada yang harus di jelasin. Semuanya sudah sangat jelas, buktinya sudah di depan mata, percuma mau melakukan pembelaan. Bunda nggak suka dengan cara kamu Iqbal!" Gumam Ayu dengan begitu tenang namun penuh penekanan, membuat Iqbal semakin panik dan ketakutan.***
__________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOtE@ ya manteman semuanya 😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️