Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
85.


__ADS_3

Tubuh Iqbal masih terbaring di atas pasir dengan darah kental yang terus mengalir. Vian semakin mendekat, kini ia berdiri tepat di samping Iqbal, sejenak menatap sinis pada Iqbal, lalu berjongkok agar posisinya bisa dengan leluasa menjangkau Iqbal, dengan kasar tangan Vian membalik tubuh Iqbal, hingga membuat tubuhnys tengkurap dan menampilkan bagian punggung yang di terobos oleh peluru yang baru saja ia lepaskan.


"Cuma segini kemampuanmu? ciiih!" Cela Vian dengan membuang ludahnya ke arah wajah Iqbal.


Dengan pandangan penuh ambisi, Vian terus menatap bagian luka tersebut, hingga tanpa belas kasih tangannya menekan bagian luka tersebut, membuat peluru semakin dalam dan darah semakin mengalir deras.


"Selalu bermain kotor!" Gumam Iqbal.


Bersamaan dengan ucapannya, kaki Iqbal langsung melayang dan mendarat tepat di bagian leher Vian, membuat Vian tersungkur keatas pasir. Dengan menahan rasa sakit yang semakin menjalar di bagian lukanya, Iqbal bangkit untuk berdiri. Kaki kiri Iqbal kini mendarat tepat dileher Vian.


"Sebutkan permintaan terakhirmu! setelah lima menit aku akan langsung mengantarkan kamu ke neraka!" Tegas Iqbal dengan wajah sangarnya.


"********! lepas." Teriak Vian.


Dalam sekali hentakan, Vian mengelakkan diri dari kaki Iqbal. Vian yang kini telah berdiri tegap di hadapan Iqbal, langsung menyodorkan sebuah pisau tepat di bagian dada Iqbal.


"Tidak akan semudah itu, aku yang akan lebih dulu menendang mu ke neraka!" Gumam Vian yang langsung mengayunkan pisaunya.


Secepat kilat Iqbal menghindar, hingga pisau mengenai udara.


"Baik, kalau itu mau mu, ayo kita mulai!" Tegas Iqbal yang langsung bersiap untuk melawan.


"Hentikan!" Tegas seseorang yang baru datang.


"Kapten!" Seru Luqman yang langsung berlari mendekati Iqbal.


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan? kalian di panggil kesini bukan untuk saling menghantam! kita bersatu di sini untuk melawan musuh bukan saling menjatuhkan. Aku tidak tau masalah apa yang memacu kejadian ini, yang pasti kalian membuat aku kecewa. Iqbal, obati lukamu, setelah itu kalian berdua temui aku." Tegas lelaki berbadan tegap dengan bintang tiga di bahunya.


"Siap!" Teriak Vian dan Iqbal hampir bersamaan.


"Luqman, segera bawa Iqbal pada tim medis." Tegas sang Komandan yang memimpin pasukan perang yang berada di wilayah tersebut.


"Siap komandan!" Jawab Luqman dengan tangan yang memberi hormat, diikuti oleh Vian dan Iqbal.


Ketiganya menurunkan tangan mereka ketika sang komandan benar-benar pergi. Tubuh Iqbal hampir ambruk jika Luqman tidak sigap menangkapnya ke dalam dekapannya. Wajah Iqbal mulai memucat, ia kehilangan banyak darah, kini tubuh kekar Iqbal benar-benar melemah. Tidak ingin memperburuk keadaan, Luqman segera membopong Iqbal untuk mendapatkan perawatan.


"Kamu benar-benar monster Iqbal, bagaimana bisa peluru ku bahkan tidak bisa membuat kamu tumbang, sebenarnya tubuhmu terbuat dari apa? kamu membuatku semakin ingin menghancurkan mu!" Gumam Vian.


"Sebelum kamu menghancurkan kapten aku, maka kamu akan lebih dulu di leburkan olehnya!" Tegas Hendra.


"Kita lihat saja nanti..." Ucap Vian.


"Kapten Vian Bintara, jika kamu masih ingin berada di dunia ini maka jangan berurusan dengan kapten Iqbal. Dia sudah cukup berbaik hati karena tidak menendang mu dari dunia militer, dia sudah cukup sabar karena tidak membalas apa yang telah kau lakukan pada Reihan dan dirinya dulu. Jika masih ingin hidup nyaman dan tenang aku sarankan untuk berhenti berurusan dengan kapten Iqbal." Jelas Hendra lalu melangkah meninggalkan Vian seorang diri.


"Iqbal kamu yang bertanggung jawab atas kepergian Reihan, bukan aku. Sampai kapanpun ceritanya akan tetap sama, Reihan sebagai korban, aku sebagai saksi dan kamu sebagai pelakunya, nggak akan ada yang berubah!" Tegas Vian yang terus menenangkan dirinya sendiri dengan kisah silam yang membuat persahabatan di antara ketiganya berakhir dengan malapetaka.


-------------------


"Istirahatlah, biar aku yang menemui komandan." Jelas Luqman.


Iqbal masih terbaring lemah, dengan perban yang melilit di bagian punggung miliknya. Luqman yang sedari tadi menemani, masih tetap berada di sana hingga proses pengobatan selesai. Setelah mengeluarkan peluru dan memberikan beberapa kali jahitan di bagian sana, dokter langsung meninggalkan keduanya.


"Satu peluru tidak akan membuat aku tumbang! aku masih bisa berjalan tanpa harus merangkak!" Tegas Iqbal yang mulai bangun.


"Berhenti! jangan jabah kesabaran aku. Jahitannya bisa saja terbuka jika kamu banyak gerak!" Tegas Luqman.


"Bila terlepas tinggal panggilkan dokter lagi untuk menjahit kembali!" Jelas Iqbal yang kini telah berdiri.


"El, dia ingin bicara sama kapten!" Jelas Mikeal yang baru saja datang dengan ponsel yang masih terhubung di tangannya.


Pandangan Iqbal seakan mengintimidasi Mikeal, tatapan horor tersebut sukses membuat Mikeal dan Luqman menelan ludah. Secepat kilat Mikeal menggelengkan kepalanya, seakan menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak mengatakan apapun pada Elsaliani.


Tangan Iqbal mengambil alih ponsel yang sedari tadi di pegang oleh Mikeal.


"Assalamualaikum, sayang!" Sapa Iqbal dengan nada yang begitu lembut.

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" Jawab Elsaliani dengan suara berat, terdengar jelas bahwa Elsaliani baru saja menangis.


"Sayang, apa yang terjadi? apa sayang sakit? sayang dan baby oke? kenapa menangis?" Tanya Iqbal panik, membuat Mikeal dan Luqman ikut khawatir.


"El dan baby oke! apa mas baik-baik saja?"


"Hmmm, mas baik-baik aja!"


"Mas tidak sedang berbohong kan?"


"Nggak sayang!"


"Tapi kenapa perasaan El nggak tenang, mata El terus saja menangis setiap kali mengingat mas?"


"Jangan terlalu dibawa perasaan, mas oke aja."


"Boleh kita VC?"


"Sayang, mas lagi tugas. Sorry!"


"Baiklah! El dan baby sayang mas, sehat selalu! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Kini mata elang Iqbal kembali menatap tajam pada Mikeal, membuat Mikeal melangkah mundur menjauh dari Iqbal.


"Aku sama sekali tidak bicara apapun sama El, aku bahkan tidak tau kalau kapten tertembak! serius." Jelas Mikeal.


"Jangan pernah lagi terima telpon dari siapapun tanpa izin dari aku, paham?"


"Siap kapten!" Jawab Mikeal.


"Sekarang kembalilah ke posisi kalian masing-masing!" Perintah Iqbal yang langsung di patuhi oleh Mikeal dan Luqman.


Dengan cepat mereka bergegas kembali pada posisi semula. Dengan menahan rasa sakit yang masih begitu terasa pada punggungnya, Iqbal terus melangkah untuk menghadap sang komandan.


-------------------


Semenjak beberapa menit yang lalu, Arumi terus saja memperhatikan Amanda yang duduk termenung di taman belakang rumah.


"Kakak!"


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Nggak tau kak, Aku sendiri nggak tau tentang apa yang sedang aku pikirkan."


"Apa ada hubungannya dengan Mikeal?"


"Ntahlah kak! aku bingung."


"Kenapa harus bingung, apa kamu suka sama dia?"


"Dia mantan kakak."


"Dulu, lima tahun yang lalu. Cerita kami telah berakhir, kakak hanya bagian dari masa lalu dia, kakak hanya salah satu orang yang hadir dan membuat cerita di masa lalu, selebihnya tidak ada. Manda, setiap insan punya masa silam, tapi bukan berarti dia tidak punya hak atas masa depannya. Kakak sudah punya abang Rizal dan juga Mikeal, tidak salahkan kalau Mikeal membawamu dalam masa depannya."


"Kak..."


"Sssssttt, jangan kaitkan kakak dengan Mikeal. Jika kamu suka sama dia, terima dia beserta masa lalunya, namun jika kamu tidak menyukainya maka katakan sejujurnya, beri dia kepastian."


"Apa kakak nggak akan canggung dengan semua ini?"


"Kini kami berteman baik. Tidak ada hubungan lainnya."


"Apa menurut kakak, abang Mikeal serius dengan aku?"

__ADS_1


"Dia tidak pernah bermain-main dengan pilihannya. Dulu, dia memilih masuk militer dan meninggalkan kakak, lihat hasilnya, dia benar-benar jadi pasukan militer yang begitu tangguh dan handal, dia tidak pernah bercanda dengan pilihannya. Kakak pastikan kalau Mikeal adalah lelaki baik-baik, kakak sudah mengenalnya sejak lama, kakak tau semua sifatnya."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"


"Tidak perlu melakukan apapun, abang yang akan bertindak." Tegas Rizal yang ikut bergabung dan duduk di samping Arumi.


"Orang lagi serius, jangan ajakin bercanda napa?" Keluh Amanda kesal.


"Abang nggak bercanda. Abang yang akan mengurus semuanya, udah tenang aja, abang pastikan kalau Mikeal akan melamar mu setelah ujian akhir mu selesai."


"Apaan sih? udah ah, aku mau masuk aja!" Ujar Amanda dan bergegas masuk ke dalam.


"Apa abang serius dengan ucapan abang barusan?" Tanya Arumi.


"Ucapan yang mana?"


"Yang barusan!"


"Oh,,, iya abang serius, abang memang lagi rindu banget sama sayang!" Ujar Rizal yang langsung memeluk erat Arumi.


"Abang....aku serius!"


"Hmmm"


"Apaan, nggak jelas!"


"Hampir setiap hari bunda telpon, bunda terus saja meminta abang untuk merayu Manda agar mau menerima Mikeal."


"Seriusss?"


"Iya sayang, rinduuu!"


"Iiiih"


Rizal tidak memberi celah untuk Arumi yang berusaha lepas dari pelukannya. Bahkan Iqbal semakin mengeratkan pelukannya dan meluncurkan kecupannya di seluruh wajah Arumi.


"Ke kamar atau di sini?"


"Mulai lagi kan mesumnya!"


"Gimana?" Tanya Rizal dan kembali melancarkan aksinya.


"Mama, Papa!" Panggil Mikeal yang berlari ke arah Arumi dan Rizal.


Rizal sontak melepaskan pelukannya, dan bergeser agak menjauh dari Arumi.


"Sayang..." Ujar Rizal yang langsung mendekap Mikeal ke dalam pelukannya.


"Huuuf, selamat deh!" Ujar Arumi.


"Tunggu aja pembalasan dendam nanti malam!" Ucap Rizal pelan di telinga Arumi dengan senyuman menggodanya hingga sukses membuat Arumi melotot dengan wajah datar.


"Ayo sayang kita masuk!" Ajak Rizal yang langsung menggendong Mikeal.


"Ayo pa,,," Jawab Mikeal semangat.


"Terima kasih banyak abang Rizal, karena sudah menjadi papa yang baik untuk Mikeal. Aku cinta sama kamu, cinta banget!" Ucap Arumi dengan mata yang terus menatap punggung Iqbal yang perlahan hilang dari pandangannya.


Dengan senyuman bahagia, Arumi mengikuti langkah sang suami.***


______________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VoTE@ ya Manteman 😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2