Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
91.


__ADS_3

"Sayang, gimana udah puas makan baksonya?" Tanya Iqbal yang berjalan mendekati Elsaliani yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya


"Puas banget! terima kasih." Ujar Elsaliani dengan senyuman bahagia.


Iqbal duduk di samping Elsaliani dengan tangan yang langsung membelai lembut rambut Elsaliani yang di kuncir di tengah kepala.


"Terima kasih aja nih? imbalannya mana?"


"Imbalan? mas mau apa biar El ambilkan."


"Mau excellent service!"


Iqbal langsung menenggelamkan wajahnya di leher Elsaliani yang terekspos begitu jelas, membuat Iqbal tidak bisa lagi berdiskusi dengan permintaan hatinya.


Elsaliani hanya diam menerima perlakuan Iqbal tanpa penolakan sama sekali, namun suara ketukan pintu membuat suasana hati Iqbal berubah dalam seketika, raut wajah Iqbal juga ikut berubah, ia begitu kesal bahkan ingin rasanya mematahkan tangan yang terus saja mengetuk pintu kamarnya tanpa jeda.


"Iya, sebentar!" Jawab Elsaliani yang cepat-cepat bangun lalu melangkah kearah pintu.


Iqbal masih duduk di sofa dengan wajah kesal dan penuh amarah.


Setelah membukakan pintu, sosok Mikeal muncul dari balik pintu membuat Iqbal seketika mendatangi Mikeal.


"Ada apa? ini udah tengah malam kenapa masih menggedor-gedor pintu kamar orang, apa kamu kurang kerjaan?" Gumam Iqbal.


"Santai aja kali!" Ujar Mikeal.


"Dasar pengganggu!" Cetus Iqbal.


"Mas apa-apaan sih? udah tenang dulu. Abang Mikeal kesini pasti kerena ada hal penting." Jelas Elsaliani.


"Udah nggak usah ngebelain dia!" Tegas Iqbal.


"Hadeeeh! lagian aku ke sini bukan mau ketemu sama abang, aku ada perlu sana El."


"Malam-malam nyari istri orang!" cetus Iqbal.


"Udah nggak usah di tanggapi! apa ada hal penting yang ingin abang katakan?" Tanya Elsaliani.


"El belum minum obat kan? nih obatnya, pesan bunda, El harus meminum semuanya." Jelas Mikeal.


"Baiklah! akan El usahakan." Jawab Elsaliani dengan raut wajah yang mulai memelas.


"Kalau gitu, selamat malam!" Ujar Mikeal dan langsung pergi meninggalkan pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah yang melemah, Elsaliani mendekati meja, lalu membiarkan semua obat tergeletak di sana, sedangkan ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Iqbal segera duduk di sisi sang istri yang mulai bertingkah aneh.


"Sayang, minum obat dulu, please!" Pinta Iqbal.


"El nggak suka obat mas! El nggak mau minum obat, lagi pula El udah sembuh, El udah kuat kembali, jadi El nggak butuh obat!"


"sayang, wajah dan bibir sayang masih sangat pucat, ayolah!"


"Mas, El nggak butuh apapun selain mas!" Kekeh Elsaliani yang segera menghadap ke arah lainnya.


"Sayang, dengarkan mas! saat ini sayang masih kurang sehat, sayang butuh obat, butuh istirahat yang cukup. Ini semua demi kesehatan baby dan juga sayang, mas bantu, ayo..."


"Mas, El nggak mau!" Tolak Elsaliani yang kini malah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, membuat Iqbal harus berusaha lebih keras lagi untuk membujuk sang istri.


"Besok mas akan membawa kembali tukang bakso yang tadi ke rumah, dan sayang boleh makan sepuasnya, mas nggak akan membatasinya lagi!" Jelas Iqbal.


Iya, tadi Iqbal bukannya keluar untuk membeli bakso, ia malah menyuruh salah satu bawahannya untuk membawakan tukang bakso ke rumah Adimaja, karena bawahan tersebut memang sedang bertugas di pos yang masih dalam kawasan rumah Adimaja, hingga memudahkan dia untuk melaksanakan perintah dari Iqbal. Yah, sesuai pesanan yang lainnya, mereka ingin makan bakso dari gerobak bakso keliling yang memang terkenal dengan kelezatannya.


"Mas serius dengan ucapan mas? apa mas akan membiarkan El memakan bakso pak Samsul sampai sepuasnya?"


"Iya mas janji, tapi sebelum itu, ayo minum obatnya dulu."


"Baiklah!"


Elsaliani menurut, ia membuka mulutnya, membiarkan Iqbal meletakkan pil tersebut ke dalam mulutnya, namun sebelum Iqbal memberikan air, Elsaliani telah lebih dulu memuntahkan pil tersebut, bahkan muntahan Elsaliani mengenai kaos yang sedang Iqbal kenakan.


"El, nggak sengaja! maaf!" Pinta Elsaliani dengan tangan yang berusaha membersihkan bekas muntahannya dengan jemari kanannya.


"It's oke!" Ujar Iqbal yang langsung menghentikan aksi Elsaliani.


"Tapi..."


"Udah, ini nggak penting, Mas bisa ganti baju. Sekarang yang penting adalah gimana caranya agar sayang bisa minum obat ini."


"Sini, El akan menghaluskannya, mungkin akan sedikit membantu!"


"Dihaluskan?"


"Hmmmm."


Iqbal langsung memasukkan kelima pil yang masih tersisa lalu mengunyahnya membuat Elsaliani heran tak mengerti dengan apa yang sedang Iqbal lakukan.


"Mas, kenapa mas....?"

__ADS_1


Pertanyaan Elsaliani seketika terhenti ketika tangan Iqbal menarik wajah Elsaliani agar mendekat kearahnya, lalu perlahan bibir Iqbal menyentuh bibir Elsaliani. Elsaliani yang akhirnya mengerti dengan apa yang sedang Iqbal lakukan segera memberi akses agar obat bisa masuk kedalam mulutnya.


"Minum airnya sayang!" Pintu Iqbal setelah melepaskan ciumannya, dengan sigap membatu Elsaliani untuk minum.


"Gimana, bisa? apa obatnya bisa El telan!"


"Hmmmm" Jawab Elsaliani dengan wajah yang telah memerah sempurna.


"Apa boleh mas lanjutkan lagi?"


"Apa obatnya masih belum habis?" Tanya Elsaliani yang kembali ketakutan.


"Mas ingin melanjutkan yang di sofa tadi, apa boleh?"


"Mas..."


"Oke, Mas paham. Istirahatlah!"


Iqbal membatu Elsaliani untuk kembali berbaring, dengan telaten Iqbal memindahkan beberapa helai rambut yang menempel di wajah Elsaliani.


"Mas sayang banget sama sayang!" Ujar Iqbal dengan senyuman manisnya.


Elsaliani ikut menyentuh wajah tampan sang suami yang tepat berada di hadapannya. Tangan Elsaliani perlahan menarik wajah Iqbal agar semakin mendekatinya.


'Cup' Elsaliani mengecup lembut bibir seksi Iqbal.


"El rindu Exc....excell. Hmmmmm El rindu Excellent service dari mas!" Tegas Elsaliani.


"Apa sayang menggoda mas?"


"El, El..."


Iqbal kembali mencium lembut sang istri lalu memberikan Excellent service terbaiknya. Iqbal begitu bahagia, karena ini adalah kali pertama Elsaliani yang duluan meminta darinya, karena sebelumnya Elsaliani hanya menuruti permintaan Iqbal.


Melalui malam sambil melepaskan rindu yang terpendam begitu dalam, rindu yang terkadang mengekang rasa hingga membuat diri melemah tanpa hadirnya sang pujaan. Rindu seakan mengajari kita banyak hal, diantaranya menerima dengan penuh cinta apa yang kini kita miliki, sebab jika sudah kehilangan maka tidak ada celah untuk memperbaiki kembali penyesalan karena menyia-nyiakan hal terindah yang selama ini sempurnakan hari kita meski tanpa kita sadari akan arti dari hadirnya.***


__________


Jangan lupa LIKE KOMEN n Vote@ ya manteman 😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2