Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
86.


__ADS_3

Dengan langkah yang penuh rasa percaya diri, Iqbal keluar dari tempat di mana ia diobati. Sejenak berdiri dengan mata yang terus menatap langit cerah, lalu menghembuskan nafas kasar. Iqbal kembali melangkah namun sebuah ransel mendarat tepat di bagian dadanya, membuat ia mendesah kesakitan dengan kedua tangan yang sigap menangkap ransel tersebut. Sejenak memandang ransel yang sedang ia pegang, lalu cepat mengalihkan pandangannya pada sosok yang melemparkan ransel tersebut padanya.


"Kenapa datang ke sini? pulanglah!" Jelas Hadi yang masih berdiri jauh dari Iqbal.


"Kamu yang seharusnya pulang. Dan aku ke sini bukan urusan kamu, kamu sama sekali tidak punya wewenang untuk tau apa yang sedang aku kerjakan. Aku bukan bawahan mu, jadi aku tidak harus melapor setiap gerak ku padamu." Jelas Iqbal yang memang tidak ingat Hadi tau dengan tujuan ia datang.


"Kami sama sekali tidak meminta bantuan, lalu atas dasar apa kamu dan pasukan mu ada di tempat ini? siapa yang memberi perintah?"


"Hahhh! pangkat aku di atas kamu, lalu apakah aku harus membuat laporan padamu?" Tegas Iqbal.


Kesombongan adalah hal yang selalu Iqbal gunakan ketika ia tidak ingin bicara tengang apa yang sebenarnya sedang ia lakukan.


Iqbal kembali melangkah, namun kali ini tangan Hadi yang mendarat di punggung Iqbal yang baru saja menerima beberapa jahitan.


"Vian, jangan lagi berurusan dengan dia. Vian bisa melakukan hal yang lebih ekstrim dari ini padamu. Hentikan, dan pulanglah! abang mohon."


"Lalu bagaimana dengan abang? bagaimana jika dia melakukan hal gila sama abang? aku tau apa yang sedang abang sembunyikan dari aku. Abang sengajakan menerima tawaran Vian untuk tetap menjadi bawahannya, dengan aku yang dia jadikan sebagai ancaman buat abang, iya kan?"


"Aku bisa mengatasi Vian, aku hanya tidak ingin dia merusak dirimu."


"Kita selesaikan sama-sama, setelah semuanya over kita kembali bersama-sama. Aku sudah janji sama Rakes dan Roger untuk membawamu pulang bersama ku."


"Maaf, karena sekuat apapun abang berusaha, abang tetap juga tidak bisa melindungi kalian semua."


"Aku yang tidak bisa jadi teman yang baik untuk kalian semua. Aku akan menyelesaikan semua ini. Aku harus menghadap komandan, kalau begitu aku pergi dulu."


"Istirahatlah, abang baru saja selesai menghadap komandan. Tunggu lukamu sampai kering, setelah itu baru ikut bergabung di perbatasan."


"Apa yang dia bicarakan?"


"Nggak ada yang penting. Kalau begitu, aku kembali ke tempat." Ujar Hadi dengan tangan yang langsung memberi hormat pada Iqbal, lalu lekas pergi.


"Baiklah, Vian aku akan ikut permainanmu." Gumam Iqbal dan kembali untuk beristirahat.

__ADS_1


----------------------


"Sudah yakin dengan keputusan kapten?" Tanya Alam.


"Hmmmm" Jawab Iqbal dengan pandangan yang masih saja menatap langit malam yang di penuhi dengan kerlipan bintang.


Malam yang semakin larut, angin yang bertiup sepoi-sepoi seolah telah menjadi teman sejati mereka saat harus berjaga malam.


"Kami akan selalu mendukung keputusan yang kapten ambil, kami akan ikut sesuai perintah." Jelas Mikeal yang terlihat sedang mengecek beberapa senjata yang ada di hadapannya.


"Bagaimana dengan profile mu? Apa semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana A?" Tanya Luqman yang selalu seja waspada dan teliti.


"Tidak ada masalah, aku sudah memperkirakan segala hal, tadi sore aku sudah melihat-lihat lokasinya." Jelas Mikeal.


"Apa benar aku tidak boleh ikut andil untuk besok?" Tanya Hadi.


"Percayakan sama kami, setelah ini kita akan langsung pulang. Besok semuanya akan selesai." Jelas Hendra.


"Apapun rencana Vian, aku pastikan bahwa aku akan membawa rakyat negara ini kembali pada keluarganya dengan selamat." Tegas Iqbal.


"Semoga semuanya sesuai dengan rancangan kita." Ucap Luqman.


"Kalau begitu sekarang kalian istirahatlah, biar aku yang berjaga malam ini." Jelas Hadi.


"Kalau begitu, dengan senang hati aku akan istirahat. Selamat malam semuanya." Jelas Hendra yang langsung kembali ke kap untuk istirahat.


"Terima kasih abang Hadi." Ucap Alam.


Alam juga ikut Hendra untuk istirahat sedangkan Luqman memilih untuk menemani Hadi berjaga malam.


Iqbal dam Mikeal mempersiapkan segala keperluan untuk misi mereka nanti subuh.


--------------

__ADS_1


"Bagaimana kita kita di jebak?" Tanya Mikeal disaat ia dan Iqbal sedang mengisi senjata mereka dengan peluru.


"Tenang, Luqman akan membaca situasinya begitu kita sampai di lokasi."


"Tetap saja kita harus waspada, entah kenapa kali ini aku sedikit merasa gugup."


"Kita akan menyelesaikan ini semua sebelum menjelang siang."


"Jangan bergerak tanpa memberi aba-aba. Tetap tenang meski salah satu terluka. Kita akan menyelesaikannya dengan sangat baik." Tegas Mikeal penuh rasa percaya diri.


"Jangan kabari siapapun tentang misi besok."


"Baik."


"Apa semuanya sudah siap?"


"Iya, kita akan berangkat besok jam empat pagi." Jelas Mikeal.


"Baiklah, kamu juga istirahatlah, kumpulkan tenaga yang banyak untuk besok!"


"Siap kapten!"


Mikeal pergi setelah semua persiapan telah dia siapkan. Semenjak tadi siang, setelah Iqbal menerima tawaran dari Vian, ia langsung mengerahkan seluruh pasukannya. Vian mengancam Iqbal dengan menjadikan Hadi sebagai hadiahnya.


Jika Iqbal bisa membebaskan tiga orang rakyat yang menjadi sandraan musuh, maka Hadi akan di bebas tugaskan dari tugas yang selama beberapa bulan ini Hadi jalani. Namun jika Iqbal gagal, maka selamanya Hadi akan masuk ke dalam tim Vian, baik di tempat tugas saat ini maupun setelah mereka kembali ke tanah air.***


_____________


Jangan lupa LIKE KOMEN n Vote@ ya manteman semua 😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2