Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
49.


__ADS_3

Mobil milik Adimaja berhenti tepat di depan gerbang rumah milik Iqbal. Pasangan tersebut masih saja duduk di dalam mobil dengan pandangan yang terus memerhatikan keadaan sekitar.


"Masih pagi, tapi kenapa gerbang terbuka lebar begini? apa terjadi sesuatu sama mereka?" Tanya Ayu dengan perasaan khawatir.


"Bunda, tenang dulu! siapa tau mereka lagi buru-buru pergi kemana gitu, sampai lupa tutup gerbang. Lagi pula anak bunda itu TNI, nggak ada yang bakal macam-macam sama dia." Jelas Adimaja.


"Bapak, gimana kalau Iqbal memang nggak kenapa-napa kerena dia memang lagi nggak dirumah, terus El, bunda nggak kebayang kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama El, akan bunda cincang tuh anak kesayangan bapak." Gumam Ayu yang semakin tidak bisa lagi mengendalikan perasaannya.


"Udah nggak usah seuzon dulu, kita masuk sekarang!" Tegas Adimaja dan kembali menjalankan mobilnya, hingga terparkir di depan rumah Iqbal.


"Pintu juga terbuka lebar, nggak benar nih! bapak cepetan turun!" Jelas Ayu.


Ayu yang kembali mendapati pintu rumah yang terbuka lebar semakin bertambah panik. Ia segera keluar dari mobil dengan di susul oleh Adimaja, dan segera berlari menuju pintu.


Langkah Ayu seketika langsung terhenti ketika matanya melihat pemandangan yang ada di ruang tamu sana, tangan Ayu segera menghentikan langkah sang suami untuk masuk.


"Mana ponsel pak? moment seindah ini harus di abadikan!" Jelas Ayu.


"Ada apa?" Tanya Adimaja yang masih tidak tau apa yang sedang Ayu bicarakan.


"Lihat tuh...." Ujar Ayu.


Adimaja segera mengalihkan pandangannya ke ruang tamu tersebut, di mana sebuah pemandangan yang begitu menyejukkan mata terlihat begitu menyentuh hati dan perasaan setiap insan yang menyaksikannya.


Di atas sofa sana, Elsaliani masih terbaring tertidur nyenyak dengan kepala yang berbantalkan paha Iqbal, sedangkan Iqbal masih terlelap dengan tubuh yang bersandar pada sofa, di sisi kanan Iqbal ada Hendra yang kepalanya tersandar di bahu kekar Iqbal.


Di ujung kaki Elsaliani ada Alam yang lesehan di lantai dengan kedua kaki terjulur ke depan dan kepala yang tersandar di sofa dekat kaki Elsaliani. Kepala Mikeal dan Luqman yang tertidur nyenyak masing-masing berbantal pada paha kiri dan kanan milik Alam.


Tidur mereka benar-benar terlihat begitu lelap, damai dan tanpa beban.


"Apa yang mereka lakukan semalaman, sehingga tertidur seperti itu bahkan dengan gerbang dan pintu yang terbuka lebar. Apa mereka sedang ada masalah?" Gumam Adimaja yang melihat lelah dalam lelapnya Iqbal.


"Hussh, bapak jangan ngomong yang nggak-nggak deh. Tuh lihat anak-anak bunda damai sekali dalam tidurnya, mereka pasti baik-baik saja!" Jelas Ayu dan langsung mengabadikan moment langka tersebut.


Setelah memotret beberapa kali, Ayu langsung masuk dengan di susul oleh Adimaja.


"Apa kalian mau terus tidur sampai siang hari?" Gumam Adimaja dengan suara lantang.


Namun suara Adimaja bahkan sama sekali tidak membuat mereka bergeming sedikitpun. Keenam anak manusia tersebut masih saja tertidur lelap.


"Udah pak, biarkan saja mereka tidur. Mereka juga butuh istirahat!" Jelas Ayu.

__ADS_1


"Mereka pasti belum sholat subuh bunda, udah cepat bangun kan mereka, mumpung masih setengah tujuh." Tegas Adimaja.


Ayu menurut, ia segera melangkah mendekati Alam, lalu mencoba membangunkan mereka.


"Alam, sayang ayo bangun! kalian belum solat subuh kan?" Ujar Ayu dengan tangan yang terus menyentuh lembut pipi Alam.


"Bunda....!" Seru Alam dengan suara lantang ketika matanya mendapati sosok Ayu tepat di wajahnya.


Suara lantang Alam cukup membuat yang lainnya terganggu, dan segera bangun dari tidur mereka ketika melihat sosok bunda yang tersenyum pada mereka.


"Bunda, kapan ke sini? kenapa ngga bilang?" Tanya Mikeal yang langsung memeluk erat tubuh Ayu.


"Bunda, bapak!" Ujar Elsaliani dan langsung menyalami kedua mertuanya.


"Sepagi ini? kenapa pagi-pagi buta bunda, kan kasian bapak nyetir pagi-pagi." Jelas Iqbal setelah menoleh pada jam tangannya.


"Bunda mu tuh dari semalam nggak sabar mau jumpa dengan menantu kesayangannya." jelas Adimaja.


"Habisnya bunda pengen ketemu sama cucu bunda." Jelas Ayu yang langsung menyentuh perut Elsaliani.


"Perut El masih rata bunda, belum terasa apa-apa!" Jelas Elsaliani.


"Kan baru satu bulan sayang! nanti juga bakal kayak balon!" Jelas Bunda. Ucapan Ayu membuat yang lainnya tertawa lebar.


"Ya Allah, ini akibat bergadang semalam sih, jadi telatkan subuhnya!" Gundah Hendra dan langsung bangun dari duduknya.


"Bergadang? ngapain kalian? apa ada masalah dengan tugas kalian? atau ada misi dadakan? kenapa bergadang?" Tanya Adimaja.


"Hm...sama sekali nggak ada tugas atau pun misi dadakan!" Jawab Luqman.


"Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari bunda?" Tanya Ayu yang mulai merasakan ketegangan dari semuanya.


" Kami main LUDO lagi bunda, dan seperti Baisa Abang Hendra kalah!" Bohong Mikeal.


"Iya bunda, kalau gitu kami sholat dulu bunda, bapak!" Jelas Iqbal.


Mereka segera bangun dan bergegas untuk sholat subuh. Di sofa sana Ayu masih saja duduk dengan sang suami.


"Bapak harus pergi!" Jelas Adimaja.


"Kemana?" Tanya Ayu.

__ADS_1


"Bapak harus memastikan kalau memang mereka baik-baik saja. Bapak akan ke markas militer mereka." Tegas Adimaja.


"Bapak tenang dulu, kita tanyakan baik-baik sama mereka. Ingat pak, Iqbal tidak ingin bapak ikut campur dengan urusan pekerjaannya, dia tidak ingin nama bapak membuat atasannya malah segan dan menghormatinya. Bapak tenang dulu, percaya sama Iqbal, dia anak bapak, dia pasti setangguh bapak! ikatan darah itu kental pak, dia pasti tahan banting seperti bapak!" Jelas Ayu.


Meski ia juga begitu khawatir dengan keadaan anaknya, namun Ayu tetap berusaha untuk menenangkan Adimaja, karena keputusan yang akan Adimaja ambil justru akan memperunyam masalah yang ada nantinya.


Di saat keduanya masih dengan pemikiran mereka masing-masing, di saat itu pula, sebuah suara memanggil nama keduanya, membuat fokus mereka langsung tertuju kearah suara tersebut yang berasal dari pintu sana.


"Ayu, mas Adimaja!" Panggil Zulfa, yang tak lain adalah umminya Elsaliani.


Tidak hanya Zulfa, di pintu sana juga ada sosok Ismail dan juga Rizal serta seorang wanita muda dengan seorang bocah laki-laki yang sedari tadi terus menggenggam tangan Rizal.


"Zulfa..." Seru Ayu dan segera memeluk erat Tubuh Zulfa.


"Ismail, lama tidak berjumpa, kamu makin ganteng aja!" Ujar Adimaja dengan senyuman lalu merangkul Ismail, sahabat terbaiknya ketika di pesantren dulu.


"Kamu juga semakin Maco aja!" Ujar Ismail sambil menepuk bahu sang sahabat.


"Rizal, apa kabar?" Sapa Ayu.


"Alhamdulillah baik bunda!" Jawab Rizal lalu menyalami kedua mertua sang adek.


"Terus ini siapa?" Tanya Ayu sambil merangkul sosok wanita yang ada di samping Zulfa.


"Kenalkan Arumi, calon menantu aku!" Jelas Zulfa.


"Om Mikeal....." Teriak bocah kecil tersebut ketika melihat kedatangan Mikeal serta yang lainnya ke ruangan tersebut.


Bocah lelaki tersebut langsung melepaskan tangannya dari genggaman Rizal lalu segera berlari pada Mikeal dan memeluknya erat.


"Mikeal..." Ujar Mikeal yang tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Mikeal langsung menoleh pada sosok Arumi yang berdiri diantara Ayu dan Zulfa. Tingkah Mikeal junior sontak membuat yang lainnya segera menoleh kearah Mikeal, seolah meminta jawaban dengan apa yang sedang terjadi, lain halnya dengan Arumi, ia langsung menatap lekat wajah Rizal yang masih termenung menatap kearah Mikeal dan Mikeal junior.***


_____________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua@😊😊


Tetap setia dengan Cinta Elsaliani 🥰🥰


Baca juga novel baru aku, judul@ 'Bad Boy And I' Bakal seru kok, coba ja mmpir dulu, tak kenal maka tak sayang bukan🤭😅

__ADS_1


KaMsaHamida ❤️❤️❤️


__ADS_2