
Sudah selama lima hari Iqbal di rawat di rumah sakit, dan hasil dari pemeriksaan tadi pagi dokter menyatakan kalau siang ini Iqbal sudah di bolehkan pulang.
Semua anggota tim pasukan khusus datang untuk menjemput Iqbal. Saat ini semuanya tampak sedang sibuk membereskan segala hal untuk kepulangan Iqbal, mulai dari urusan administrasi dengan pihak rumah sakit hingga mengepac semua barang-barang yang akan di bawa pulang. Di saat semuanya masih sibuk, Dokter Luthfan masuk ke ruangan tersebut dengan di dampingi oleh seorang perawat.
"Selamat siang semuanya!" Sapa Dokter Luthfan dan terus berjalan mendekati Iqbal yang masih duduk di atas ranjang.
"Siang dokter!" Jawab Luqman yang berada di dekat Iqbal.
"Ada apa dokter?" Tanya Iqbal dengan ucapan yang begitu dingin.
"Iqbal, untuk beberapa hari ini sebaiknya luka mu jangan kena air dulu, meski kamu sudah boleh pulang bukan berati lukamu sudah sembuh total. Luka masih harus di perhatikan dengan baik." Jelas Luthfan.
"Oke!" Jawab Iqbal santai.
"Baik dokter, aku akan pastikan kalau dia akan menuruti saran dari dokter." Tegas Alam yang langsung menepuk bahu Iqbal.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin dokter sampaikan, dokter boleh keluar sekarang!" Cetus Iqbal.
"Dasar tidak tau terima kasih!" Gumam Hendra.
"Dokter jangan masukin ke hati omongan dia. Dia emang gitu asal ceplos aja!" Lanjut Luqman.
"Ciih!" Gumam Iqbal sinis
"Iqbal, Kamu nggak perlu takut! aku memang berniat untuk merebut El dari kamu, tapi semua itu percuma karena orang yang ingin aku rebut malah berdiri kokoh di sampingmu. Aku sudah tau kalau El adalah istrimu! dan asal kamu tau, jauh sebelum kamu menjadi suaminya, aku telah lebih dulu melamarnya, tapi apa kamu tau jawaban apa yang Abi El berikan atas lamaran aku?" Jelas Luthfan.
"Abang Luthfan pernah melamar El? kenapa El sama sekali tidak tau?" Tanya Elsaliani dengan wajah yang terlihat kebingungan, karena selama ini ia sama sekali tidak mengetahuinya.
"Jadi dokter di tolak sama om Ismail?" Tanya Mikeal yang ikut tertarik dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Aku tidak tertarik dengan kisah mu itu!" Gumam Iqbal.
"Tertarik atau tidak, aku tetap akan mengatakannya padamu. Iqbal kamu beruntung mendapatkan El, dia adalah sosok istri yang di rindukan oleh setiap laki-laki. Abi menolak lamaran aku, karena dia telah berjanji untuk menikahkan El dengan orang yang telah menyelamatkan nyawa El dari maut, dan tak ku sangka, ternyata kamu orang itu, pantas saja kamu berhasil menyelamatkannya, ternyata seorang kapten tim pasukan khusus." Jelas Luthfan.
"Menyelamatkan El?" Tanya Hendra dan Alam hampir bersamaan.
"Kapan dan di mana? kenapa aku tidak pernah tau?" Tanya Luqman yang tidak kalah syok dari yang lainnya.
"Mungkin kamu salah orang, dokter Luthfan. Aku sama sekali tidak pernah menyelamatkan El! Kamu keliru tentang satu hal, karena aku sama sekali tidak pernah melakukan itu." Tegas Iqbal.
"Mas Iqbal benar! kami baru bertemu di hari kami menikah, kami sama sekali tidak pernah bertemu sebelumnya." Jelas Elsaliani.
"Kalau tentang itu, aku juga nggak tau pastinya gimana El, sebaiknya tanyakan sama abi mu atau sama Rizal mungkin, Rizal pasti tau semuanya. Baiklah, aku rasa nggak ada lagi yang harus aku bicarakan dengan kalian, aku permisi. El, senang bertemu kembali denganmu, meski tidak berjodoh aku harap kita bisa tetap berteman." Jelas Luthfan.
"Iya, kita akan tetap berteman. Terima kasih Abang Luthfan." Ucap Elsaliani.
Luthfan langsung keluar, sang perawat langsung menyerahkan selembar resep obat pada Iqbal dan langsung mengikuti Luthfan yang telah lebih dulu keluar dari ruang VIP tersebut.
"Gila,,,,wow ternyata kisah cinta kalian bukan hanya berlatar belakang perjodohan tapi juga ada bumbu balas budi, haisssss jadi pengen punya kisah cinta yang kayak gini juga!" Jelas Hendra.
'Plak' Tangan Iqbal menjitak kening Hendra membuat lelaki tersebut kembali meringis kesakitan.
__ADS_1
"Mulutmu benar-benar minta di kasih pelajaran." Tegas Iqbal.
"Tapi kenapa rasanya aku juga penasaran dengan cerita kalian. Apa benar kalian nggak ingat sesuatu gitu?" Tanya Luqman.
"Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan El di masa lalu. Sayang, apa kamu ingat sesuatu?" Tanya Iqbal yang terus berusaha mengingat masa lalunya.
"Sama sekali nggak!" Jawab Elsaliani yang juga nampak frustasi memikirkan ucapan Luthfan.
"Apa aku harus menyelidikinya?" Tanya Alam.
"Apa kalian benar-benar tidak ingat? apa aku harus mengingatkan kalian?" Tanya Mikeal yang langsung membuat yang lainnya menatap penuh harap dan heran pada Mikeal.
"Jangan menatapku seperti itu, aku bukan buronan!" Tegas Mikeal yang masih sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas.
"Apa kamu tau semuanya?" Tanya Iqbal.
"Tidak sama sekali!" Jawab Mikeal.
"Haaaaaah" Teriak semuanya berbarengan hingga membuat Mikeal tertawa puas.
"Nanti malam berlarilah sebanyak 100 kali putaran di lapangan asrama. Aku sudah lama tidak mendisiplinkan mu! Ingat 100 kali." Gumam Iqbal yang langsung bangun dari duduknya.
"Rasain!" Gumam Hendra.
"Kamu juga!" Tegas Iqbal yang langsung menatap sangar pada Hendra.
"Haissssh!" Seru Hendra dengan wajah kesal.
"Udah ayo kita pulang." Ajak Luqman yang sudah siap dengan satu tas di tanganya.
"Ayo, sayang!" Ajak Iqbal yang langsung menggandeng tangan Elsaliani.
Mereka langsung meluncur mengantarkan sang kapten hingga ke rumahnya.
-----------------------
"Apa sayang masih kepikiran dengan omong kosong dokter Luthfan?" Tanya Iqbal.
Elsaliani terlihat begitu serius dengan pemikirannya. Sedari tadi ia terus termenung dengan tatapan yang menatap langit malam lewat jendela kamar yang sengaja ia buka.
Iqbal yang baru datang, langsung duduk di samping Elsaliani.
"Udah, nggak usah di dipikirkan, lagian cuma masa lalu kan?" Jelas Iqbal namun Elsaliani masih saja larut dalam lamunannya.
"Sayang!" Panggil Iqbal yang langsung mencium pipi Elsaliani.
"Mas, ada apa? apa mas butuh sesuatu?" Tanya Elsaliani yang baru menyadari kedatangan Iqbal.
"Butuh Charger tenaga!" Jawab Iqbal.
"Mas, El serius nih!"
__ADS_1
"Mas juga serius!"
"Oke!" Jawan Elsaliani yang langsung memeluk erat tubuh Iqbal.
"Apa mas sama sekali tidak penasaran dengan cerita Abang Luthfan? apa benar sebelumnya kita pernah bertemu di masa lalu?" Tanya Elsaliani.
"Masa lalu udah nggak penting lagi bagi mas. Yang penting sekarang sayang milik mas. Lagi pula mas rasa Luthfan cuma asal ngomong aja."
"Tapi El lihat Abang Luthfan begitu serius ketika mengatakannya. Apa perlu El tanyakan sama Abang?"
"Terserah sayang! kalau emang penasaran, ya udah tanya aja."
Elsaliani langsung melepaskan pelukannya, ia hendak bergegas bangun dari sofa namun dengan sigap tangan Iqbal mencegahnya.
"Mau kemana?"
"Mau telpon Abang!"
"Sayang, besok aja ya! mas akan coba mengingatnya kembali. Sekarang mas ingin privat time sama sayang, udah lima hari menginap di rumah sakit, apa sayang nggak kangen sama mas?" Jelas Iqbal dengan wajah yang begitu manja.
"Kan di rumah sakit El juga selalu menemani mas. El selalu di samping mas, bahkan El nggak beranjak sejangkal pun dari mas." Jelas Elsaliani.
"Sayang, kita cuma berdekatan nggak lebih! Mas butuh Charger tenaga lebih dari sayang, mas kangen excellent service dari sayang!" Jelas Iqbal.
"Mas kok jadi mesum gini sih? ngeri deh! El jadi takut." Jelas Elsaliani yang langsung menarik tangannya dari genggaman Iqbal.
"Ngeri? takut? sayang, mas..." Gundah Iqbal.
'Cup' Elsaliani langsung mengecup singkat bibir Iqbal. Elsaliani kembali duduk di samping Iqbal lalu perlahan menyentuh bagian dada Iqbal yang telanjang hingga memamerkan dengan jelas bekas jahitan yang begitu panjang bergaris rapi di sana.
"Cepat sembuh! El hanya takut, jika El malah akan memperburuk luka ini. El takut jika tangan El malah membuat jahitan ini lepas. El nggak bisa mengontrol diri El dengan baik, El takut jika El kembali membuat mas harus terbaring di ranjang rumah sakit." Jelas Elsaliani dengan tatapan hangat pada Iqbal.
Iqbal tersenyum manis setelah mendengar penjelasan Elsaliani yang begitu khawatir dengan keadaannya, dia senang saat Elsaliani begitu mencemaskan kesehatan nya. Dengan Lembut Iqbal menyentuh perut Elsaliani lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Elsaliani. Kini tubuh Iqbal telah berbaring sempurna di sofa dengan tangan yang masih melingkar di perut Elsaliani.
"Ayah sayang baby!" Ucap Iqbal yang langsung mengecup perut Elsaliani yang tertutup dengan piyama yang ia kenakan.
"Mas...."
"Begini nggak masalah kan? biarkan mas seperti ini, sebentar saja!" Pinta Iqbal.
"Love you, mas!" Ucap Elsaliani dengan tangan yang mulai mengelus rambut hitam Iqbal.
"I love you to, sayang!" Ucap Iqbal lalu memejamkan matanya.
Menikmati setiap sentuhan lembut Elsaliani yang membuat dirinya begitu nyaman, tenang dan damai berada di pangkuan sang istri, hingga membuat Iqbal tertidur lelap dalam tidur yang begitu indah.***
__________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VoTE@ ya manteman ππ
Tetap setia sama Cinta Elsaliani π₯°π₯°
__ADS_1
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Love U allπππ