Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
108.


__ADS_3

Selama satu bulan tinggal di rumah Ismail, kini saatnya keluarga kecil Iqbal harus pulang ke rumah Adimaja. Yah, sesuai perjanjian dan kesepakatan kedua belah pihak keluarga bahwa selama dua bulan ini Iqbal dan keluarga harus tinggal bersama mereka, biar mereka bisa mengawasi kesehatan Elsaliani dan juga bisa bantu merawat cucu pertama mereka.


Sempat terjadi perdebatan antara Zulfa dan Ayu, mereka berdua terus memperebutkan Elsaliani dan Zea, hingga akhirnya Iqbal membagi waktu dua bulan tersebut secara adil untuk kedua belah pihak, dia akan tinggal di rumah keduanya yaitu satu bulan pertama di rumah Zulfa lalu satu bulan berikutnya di rumah Ayu baru setelah itu mereka akan kembali ke rumah mereka sendiri.


Iqbal udah siap bersama dengan Zea yang berada dalam gendongannya, sedangkan Elsaliani masih sibuk mengecek perlengkapan baby agar tidak ada yang ketinggalan.


"Sayang, mau berapa kali lagi sayang membuka tas itu? ini udah yang ke lima kalinya loh, mas udah masukin semuanya, nggak ada yang ketinggalan." Jelas Iqbal yang kembali menghampiri Elsaliani.


"Kan El cuma mastiin aja mas. Takutnya nanti ada yang tertinggal."


"Kalaupun tertinggal ya udah tinggal beli lagi, bereskan? udah ayo kita keluar, dari tadi bunda manggil terus, kuping mas udah panas nih!"


"Iihhhhh mas, jangan ngomong gitu loh di depan Zea, ntar gimana kalau Zea malah niruin yang nggak benar."


"Sayang, baby masih kecil lagi, dia nggak akan paham pun apa yang mas omongin."


"Justru karena masih kecil ingatannya masih fresh banget, dia bakal paste-in di otaknya atau mungkin malah di pres terus di save, terus pas gede langsung dipraktek deh!"


"Sayang terlalu protektif deh. Oke mas akan jaga ucapan mas di depan Zea."


"Good!" Ujar Elsaliani yang langsung mengusap rambut Iqbal bak ibu guru yang membelai kepala muridnya yang penurut.


'Cup'


"Mas...." Gumam Elsaliani yang dengan spontan menutup mata Zea.


"Sayang, mas cuma cium dikit aja kok lagian Zea juga bakal ngerti perasaan ayahnya yang begitu rindu sama excellent service dari umanya." Jelas Iqbal lalu merebahkan kepalanya di bahu Elsaliani.


"Tuh kan mulai lagi,,," Cetus Elsaliani mencoba memindahkan kepala Iqbal dari bahunya.


"Apa sayang nggak rindu?"


"Mas, bunda manggil kita lagi tuh. Ayoo!" Ajak Elsaliani yang langsung bangun dari duduknya.


"Zea, uma benar-benar nggak sayang lagi sama ayah, apa yang harus ayah lakukan? rindu ayah bertepuk sebelah tangan, Zea nggak akan nggak rindu sama ayah kan?" Ungkap Iqbal dengan wajah yang memelas dan tatapan yang terus menatap Zea yang berada di dalam gendongannya seolah mengajak sang putri kecil berbicara dengannya.


"Baby jangan pernah bosan sama ayah ya!" Lanjut Iqbal lalu mencium kedua pipi Zea.


Melihat tingkah Iqbal membuat Elsaliani kembali mendekatinya, duduk di samping Iqbal lalu mendekapnya dari belakang dengan begitu erat.


"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Iqbal setelah mendengar isak tangis Elsaliani.


"Apa mas tau kalau El jauh lebih rindu, El..."


Penjelasan Elsaliani langsung terhenti karena Iqbal kembali mencium Elsaliani.


"Bagaimana? apa bisa sedikit mengobati rindu sayang?" Tanya Iqbal setelah melepaskan ciumannya.


"Mas..."


"Zea bakal ngerti kok. Ayo keluar, sebelum bunda datang ke sini lalu marah-marah sama mas."


"Ayo..."


Elsaliani mengambil tas bayinya sedangkan Iqbal langsung menarik sebuah koper yang telah terisi penuh dengan barang-barang mereka.


---------------------


"Kami pamit umi, abi, terima kasih karena telah merawat kami dengan baik selama satu bulan ini." Ucap Iqbal.

__ADS_1


"Sama-sama Iqbal, umi yang harusnya terima kasih karena kalian udah menemani umi selama ini. Jaga El dan Zea ya." Jelas Zulfa.


"Pasti Umi." Ucap Iqbal tegas.


"Adek pamit umi, abi." Ucap Elsaliani lalu menyalami dan memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


"Ingat, adek sekarang ini bukan hanya seorang istri tapi juga seorang ibu, jadi jaga keluarga adek dengan baik, abi dan umi akan selalu mendoakan kebahagian kalian semua." Jelas Ismail.


"Kamu tenang aja, aku pasti akan jagain mereka dengan baik. Kalau begitu kami pamit!" Ujar Adimaja.


"Kalau kalian rindu datanglah, aku bakal senang jika kalian sering datang." Jelas Ayu.


"Hmmm, kami pasti akan datang. Sampai jumpa lagi cucu umi tersayang." Ujar Zulfa yang langsung mencium Zea yang kini berada di dalam gendongan Ayu.


"Zea juga bakal rindu umi, iya kan sayang??" Ujar Ayu sambil memainkan tangan Zea.


"Kalian hati-hati di jalan." Pesan Ismail.


"Kami pamit abi, umi assalamualaikum." Ucap Iqbal.


"Waalaikumsalam." Jawan Ismail dan Zulfa hampir bersamaan.


Mobil Adimaja mulai keluar dari halaman rumah Ismail hingga akhirnya menghilang dari pandangan Zulfa dan Ismail.


"Umi pasti bakal rindu sama mereka abi." Keluh Zulfa dengan penuh kesedihan.


"Udah, besok kita ke sana."


"Jangan coba hibur umi, umi nggak bakal kemakan rayuan abi."


"Serius, besok kita ke sana."


"Iya, tapi apa umi nggak merasa nggak enak sama Adi dan Ayu, ntar mereka malah akan berpikir kalau kita nggak percaya kalau mereka berdua bisa menjaga anak dan cucu umi dengan baik."


"Tuh kan! udah ah umi mau masak." Cetus Zulfa yang langsung kembali masuk ke rumah.


--------------------


"Akhirnya sampai juga di kamar ini, huuuf capek banget!" Seru Iqbal.


Sesampai di kamarnya Iqbal langsung membiarkan koper bawaannya begitu saja lalu ia cepat-cepat menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, sejenak menarik nafas lega sambil menghirup bau kasur kesayangannya.


"Sayang ayo sini!" Pinta Iqbal sambil menepuk-nepuk kasur disisi kanannya.


"Kenapa?" Tanya Elsaliani yang langsung menuruti permintaan Iqbal agar ia duduk di sisinya.


"Mas rindu..." Bisik Iqbal dengan penuh manja.


Iqbal mengubah posisi tidurnya, ia membenamkan kepalanya di pangkuan Elsaliani dengan tangan kanan yang melingkar di pinggang Elsaliani sedangkan tangan kirinya bermain diujung kerudung bagian belakang yang menutupi punggung Elsaliani.


Elsaliani perlahan mengusap rambut Iqbal, membuat Iqbal begitu nyaman dengan posisinya. Iqbal perlahan bangun lalu duduk dihadapan Elsaliani, menatap lekat wajah polos sang istri lalu beranjak melepaskan kerudung yang Elsaliani kenakan.


Iqbal mulai mencium kening, mata dan hidung Elsaliani, disaat Iqbal semakin larut dengan aksinya, lagi-lagi pintu kamar terbuka membuat Elsaliani dengan refleks menjauhkan Iqbal dari wajahnya.


"Bunda, kenapa? Zea rewel ya?" Tanya Elsaliani yang segera bangun menghampiri Ayu yang bersama Zea yang sedang menangis.


"Iishhhhh selalu saja terganggu! emang bunda paling mahir deh dalam urusan merusak moment sweet aku, hauuuufff!" Gumam Iqbal dengan suara pelan dengan tinju yang menghantam kasur dengan penuh kekesalan.


"Zea pasti haus, dari tadi nggak nyusu kan? udah sekarang Zea nyusu dulu nanti kita main lagi ya sayang." Jelas Ayu.

__ADS_1


"Iya bunda, ayo sini sayang!" Ujar Elsaliani yang mengambil alih Zea kedalam gendongannya.


"Kalau gitu bunda mau masak dulu ya, dadada Zea sayang. Oh ya El mau makan apa biar bunda masakkan."


"Hmmm apa aja deh bunda."


"Iya udah, bunda tinggal ya." Jelas Ayu yang langsung keluar dari kamar Iqbal.


Elsaliani kembali duduk di kasur dan langsung menyusui Zea, sedangkan Iqbal masih berbaring dengan menutup wajahnya dengan bantal.


"Zea uma haus ya? Udah pelan-pelan minumnya sayang, uma nggak akan kemana-mana kok! love Zea sayang!" Ungkap Elsaliani dengan tatapan penuh kasih sayang dan tangan yang terus menggenggam tangan kecil Zea.


"Ramalan mas benar kan sayang!" Seru Iqbal.


"Ramalan? yang mana? tentang apa?"


"Tentang Zea yang bakal sama persis kayak bunda, kebuktikan sekarang."


"Maksudnya??"


"Ya itu, selalu saja muncul saat kita lagi sweet-sweetnya." Gumam Iqbal kesal.


Penjelasan Iqbal membuat Elsaliani tidak bisa menahan tawanya.


"Kok sayang malah ketawa? apa ada yang lucu? mas lagi kesal nih!"


"Jadi itu masalahnya?"


"Ya terus? Zea please jangan niruin sifat bunda yang ini ya, bisa stress ayah kalau sampai Zea bakal kayak bunda. Zea sayang sama ayah kan? iya kan sayang!" Jelas Iqbal yang kini beranjak mendekati Zea.


"Mas,,,"


"Iya mas paham." Ucap Iqbal yang kembali menjatuhkan tubuhnya keatas kasur.


"Mas marah?"


"It's oke, mas paham!"


"Terima kasih!"


"Tapi mas nggak bisa janji apa-apa."


"Maksudnya??"


"Kalau tiba-tiba mas hilang kendali dan..."


"Mas...." Seru Elsaliani dengan tangan yang mendarat di betis Iqbal.


"Iya sayang, mas cuma becanda doang kok! Mas sayang kalian berdua." Ucap Iqbal.


Iqbal kembali bangun lalu mendekap erat tubuh Elsaliani dari belakang dengan kedua tangan yang terus bermain dengan jari-jari munyil Zea.***


__________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya manteman semuanya 😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2