
Setelah menunggu selama 10 menit, akhirnya Elsaliani keluar dan segera menghampiri Iqbal yang masih duduk di kursi yang ada di teras sambil bermain dengan ponselnya.
"Tuan..." Panggil Elsaliani lalu berdiri tepat di sebelah Iqbal.
"Ayo kita berangkat!" Ajak Iqbal langsung bangun dan bergegas menuruni tiga tangga teras tanpa menoleh kearah Elsaliani.
"Tuan, boleh El pinjam baju yang tuan belikan? karena tiba-tiba tuan menjemput El, jadi El nggak sempat buat beres-beres, baju El semuanya masih di rumah abi. Nanti setelah pulang akan langsung El cuci, atau biar El minta Abang Rizal buat gantikan yang baru besoknya."
Mendengar penjelasan Elsaliani, membuat Iqbal segera menoleh kearah di mana sang istri berada, lalu kembali melangkah mendekatinya.
"Jika tuan tidak mengizinkan, El nggak akan memakainya, maaf karena El sudah lancang sama tuan!" Jelas Elsaliani yang langsung menundukkan pandangannya.
"Ayo ikut!" Ajak Iqbal yang langsung menggenggam tangan Elsaliani.
Elsaliani hanya bisa terus mengikuti langkah Iqbal tanpa berani bertanya apa lagi membantah. Iqbal menghentikan langkahnya ketika ia sampai di kamar Elsaliani. Keduanya berdiri tepat di depan lemari, Iqbal langsung membuka keenam pintu lemari hingga terlihat semua isinya. Di pintu pertama hanya terlihat beberapa lembar mukenah dan sarung yang terlipat rapi, lalu di pintu kedua hanya terisi dengan dua lembar handuk berwarna putih bersih, di pintu ke tiga dan ke empat kosong, tidak ada apapun di lemari tersebut, dan di pintu kelima hanya ada beberapa baju dan kerudung.
Mata Iqbal terhenti di pintu lemari yang terakhir, di mana seluruh ruang terisi penuh, baju-baju dan kerudung yang tergantung rapi, bahkan semuanya masih lengkap dengan lebel yang menempel pada setiap pakaian tersebut, isi lemari yang memang tidak pernah di sentuh sama sekali oleh Elsaliani.
Iqbal mendekati baju-baju yang bahkan terlihat berjejer berdesakan, Iqbal mengambil satu set baju pilihannya lalu mencoba memasangnya pada tubuh Elsaliani, sejenak memandangnya lalu melemparkan baju tersebut ke atas tempat tidur, begitu seterusnya membuat Elsaliani kebingungan, namun ia tetap memilih untuk diam, ia tidak ingin mengubah diam Iqbal menjadi amarah yang pada akhirnya malah membuat ia takut dan terluka.
Iqbal terus sibuk dengan aksinya yang membuat baju-baju malah menumpuk di atas tempat tidur. Entah untuk yang ke berapa kali, Iqbal kembali mengambil sebuah gamis berwarna hitam dengan sedikit kombinasi warna maron pada bagian bawah senada dengan kerudung yang juga berwarna maron.
"Hm....oke, pakai yang ini." Jelas Iqbal setelah merasa puas dengan pilihannya. Iqbal memang sengaja memilih gamis tersebut agar senada dengan warna jeans yang ia kenakan.
__ADS_1
"Terima kasih tuan. El akan langsung mencucinya saat pulang nanti." Jelas Iqbal sambil terus menggenggam gamis pilihan Iqbal.
"Kenapa masih berdiri? Cepat ganti baju, kita mau makan siang ne bukan makan malam. Cepat sana, dah mau jam 12 ini."
"Hm.....hm...." Elsaliani terlihat kebingungan dan masih saja berdiri di tempat semula.
"Oke, aku keluar sekarang. Tapi ingat, jangan lama, 5 menit."
Iqbal langsung keluar dari kamar Elsaliani, ia kembali ke teras dan menunggu Elsaliani disana. Sesuai dengan perintah Iqbal, 5 menit berselang Elsaliani sudah siap, dan kembali menghampiri Iqbal. Kali ini tanpa di panggil Iqbal telah lebih dulu menoleh kearah Elsaliani karena mendengar suara langkah kaki yang terhenti tepat di sebelahnya.
(Benaran dia Elsaliani? kemana perginya El yang cupu dan polos yang seperti biasanya? kenapa hari ini ia terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya? sedikit terlihat manis.) Bisik hati Iqbal yang masih menatap sosok Elsaliani dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat Elsaliani risih bercampur khawatir, kalau-kalau Iqbal akan mengamuk karena penampilannya.
"El udah siap, tuan."
Keduanya langsung menuju mobil, Iqbal langsung masuk ke dalam mobil, namun ketika Elsaliani membuka pintu mobil, di saat itu pula sebuah tangan menarik kasar tangan milik Elsaliani.
"Mau kemana?" Tanya Lestari dengan raut wajah yang di penuhi amarah. Kedatangan Lestari cukup membuat Elsaliani panik dan segera menjauhkan diri dari mobil.
"Lestari kamu ngapain di sini?" Tanya Iqbal yang langsung keluar dari mobil ketika tau yang datang adalah Lestari.
"Kamu mau bawa dia kemana? berulang kali aku telpon tapi nggak kamu angkat? hah, sekarang aku paham, kamu lagi sibuk ngurusin gadis cupu ini kan?" Gumam Lestari masih dengan amarah yang menggebu menguasai utuh dirinya. Tidak sampai disitu, tangan Lestari malah mencoba untuk beberapa kali mendorong kening Elsaliani, membuat Elsaliani semakin melangkah mundur.
"Lestari, please! jangan buat onar, aku lagi nggak mau ribut sama kamu, jadi tolong pulanglah!" Pinta Iqbal.
__ADS_1
"Oke, aku pulang!" Seru Lestari dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Lestari please jangan uji kesabaran aku! tenang aku juga punya batasnya." Jelas Iqbal yang masih menatap Lestari yang telah duduk manis di jok depan.
"Antarin aku, aku akan pulang kalau di antar sama kami." Jelas Lestari.
"Tuan, sebaiknya tuan antar mbak Lestari pulang, El nggak mau hubungan kalian berantakan hanya gara-gara El. Bicarakan masalah kalian baik-baik, dan mbak Lestari, El minta maaf! Karena selama ini menjadi penghalang dalam hubungan mbak dan tuan." Jelas Elsaliani dan langsung melangkah kembali ke dalam rumah.
Iqbal hanya terdiam membiarkan Elsaliani berlalu dari hadapannya begitu saja. Sejenak terdiam, akhirnya Iqbal memutuskan untuk kembali ke dalam mobil dan lekas pergi bersama Lestari.
Di ambang pintu sana, Elsaliani hanya bisa menatap kepergian sang suami bersama wanita yang ia cintai. Tanpa terkendali, air mata mulai menetes dengan sendirinya, mengalir membasahi kedua pipi bahkan merambah mengenai kerudung bagian depan.
"Harusnya El tidak terlalu berharap padanya, jika pada akhirnya hanya luka yang akan El dapatkan. Untuk sesaat, tadi itu sikap dia benar-benar membuat hati ini bahagia, setidaknya perlakuan dia hari ini cukup membuat jantung El bisa berkerja dengan normal. Yang terjadi hari ini sudah lebih dari kata cukup." Jelas Elsaliani pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan perasaan kacau yang berkecamuk di lubuk hati terdalam. Setelah memastikan mobil Iqbal telah menghilang dari pandanganya, Elsaliani segera masuk ke dalam rumah dengan kedua tangan yang terus menyeka air mata agar berhenti mengguyur wajahnya.***
__________________
Terima kasih buat manteman semuanya yang udah setia ngikutin Cinta Elsaliani 🙏😊
Jangan lupa tinggalkan jejak LiKe dan juga komen@ ya😄, kritik, saran n dukungan teman2 semua sangat berarti buat saya agar bisa menulis lebih baik lagi ke depannya.
semoga kalian menyukainya🤗
KaMsaHamida 🥰 🥰🥰
__ADS_1