
Malam sunyi mencengkam yang terdengar hanya detak jarum jam yang terus berputar. Di atas sajadah sana, Iqbal masih duduk dengan air mata yang terus menetes, meski sudah sejak sepuluh menit yang lalu ia selesai mengerjakan sholat malamnya, namun ia sama sekali tidak beranjak dari sana. Pandangan yang terus tertuju ke tempat sujud, lalu perlahan mengadahkan tangan keatas.
"Maafkan hamba-Mu ini ya Allah. Aku hanya datang pada-Mu ketika aku terluka, aku mendekati-Mu hanya disaat aku putus asa. Aku tau, kalau aku telah terlalu jauh melenceng dari perintah-Mu, aku tidak bisa membuat istri aku bahagia, aku hanya bisa membuat kedua orang tuaku kecewa. Aku tau aku egois, namun aku tetap ingin meminta El untuk aku, jangan pisahkan dia dariku ya Allah. Aku janji seterusnya tidak akan ada lagi air mata di harinya, aku akan membahagiakan dia di seumur hidup aku. Aku mencintainya, Ya Allah tetapkan El sebagai takdir aku, jadikan dia sebagai istri aku, untuk selamanya." Pinta Iqbal dengan mata terpejam.
Semenjak Iqbal tidak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya, ia tidak pernah lagi melakukan rutinitas sholat malam, dia selalu saja sibuk dengan segala hal, hingga membuatnya lalai dan terbuai.
Setelah merasa puas mengadu dan berdoa kepada yang maha kuasa, Perlahan Iqbal kembali mengusap air mata, lalu lekas beranjak menuju tempat tidur.
Mata sembab Iqbal terus saja memandangi wajah Elsaliani yang masih tertidur pulas, Iqbal kembali berbaring di sebelah Elsaliani, lalu perlahan membelai rambut sang istri.
"Aku tau, kamu pasti lelah dengan semua ini, kamu lelah menghadapi sikap aku yang kasar dan selalu saja plin-plan, tapi aku janji, mulai sekarang hanya tawa yang akan ku biarkan datang di wajahmu, tidak akan ada lagi air mata, aku akan menyayangimu hingga rasa benci dan dendam ini tidak lagi punya tempat di hati aku untuk kamu, hanya akan ada cinta dan kebahagiaan. Aku mencintaimu Nurul Elsaliani." Gumam Iqbal, lalu kembali tidur dengan tangan yang terus merangkul tubuh munyil sang istri, hingga ia kembali terlalap dalam mimpi.
-----------------------------------
"Upss sorry!" Ucap anak laki-laki kecil yang mengenakan kaos putih dan celana jeans yang berwarna mocca.
Kerena terus berlarian membuatnya menabrak Mikeal yang juga sedang berjalan santai menelusuri taman tersebut. Es krim coklat yang ada di tangan kecil tersebut kini menempel tepat di jeans hitam Mikeal. Tangan bocah kecil tersebut berusaha untuk membersihkan celana Mikeal namun yang terjadi malah membuat lelehan es krim semakin melebar.
"It's oke sayang, nggak apa-apa, biar om sendiri yang membersihkannya." Jelas Mikeal yang langsung mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil tersebut.
"Om tidak marah?" Tanyanya memastikan.
"Kenapa harus marah, sayangkan nggak sengaja. Hm.....kamu kesini dengan siapa? kok sendirian?"
"Sama mama. Aku Mikeal, nama om siapa?" Jelas bocah lelaki tersebut yang ternyata memiliki nama yang sama dengan Mikeal.
"Wow kok bisa ya nama kita sama, nama om juga Mikeal." Jelas Mikeal lalu tersenyum lebar.
"Mikeal!" Panggil seseorang dari kejauhan sana.
Suara tersebut langsung membuat kedua Mikeal segera menoleh kearah sang pemilik suara yang berdiri agak jauh dari keduanya.
__ADS_1
"Mama....." Seru Mikeal kecil dan langsung berlari memeluk wanita yang ia panggil mama.
"Hai..." Sapa Mikeal dengan begitu kaku.
"Hai!" Balas wanita tersebut dengan situasi yang lebih kaku dari sebelumnya.
"Anak mu?" Tanya Mikeal.
"Hm...dia putra aku, namanya Mikeal Armada. Sayang ayo Salim, sama om Mikeal, dia kawannya mama!" Jelas Wanita tersebut.
Mikeal kecil kembali mendekat lalu segera menyalami Mikeal, lalu kembali mendekati mamanya.
"Kamu apa kabar? suamimu di mana? kok dari tadi nggak keliatan?" Tanya Mikeal, dengan mata yang terus mencari sosok yang barusan ia tanyakan
"Baik, suami? hm....." Jawabnya tertahan, tangannya terus mendekap erat Mikeal kecil.
"Papa nggak lagi tinggal bersama aku dan mama." Jawab Mikeal kecil polos.
"Setahun yang lalu mas Dafa mengalami kecelakaan, dan dia tidak bisa di selamatkan. Kamu apa kabar?" Arumi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, ia tau kalau Mikeal akan terus bertanya panjang lebar tentang Dafa jika ia tidak segera menghentikannya.
"Aku? hm...ya beginilah. Mikeal, gimana kalau hari ini kamu main sama om, mau?" Ajak Mikeal.
"Mau banget!" Jawab Mikeal kecil dengan penuh kegirangan.
Mereka memutuskan untuk jalan-jalan bersama. Dengan girang Mikeal kecil terus saja bermain dengan berbagai macam permainan yang ada di taman tersebut, bahkan sifatnya yang hiper aktif langsung membuatnya mendapatkan teman baru yang juga ikut bermain di sana. Tidak jauh dari tempat di mana Mikeal kecil bermain, Arumi dan Mikeal duduk di salah satu bangku taman, keduanya masih saja merasa canggung satu sama lain.
"Sudah lima tahun kita tidak bertemu, tapi kamu masih terlihat sama aja, nggak ada yang berubah." Ujar Arumi mencoba mencarikan suasana.
"Kamu juga masih terlihat sama, cuman bedanya sekarang sudah ada yang memanggilmu mama." Jelas Mikeal.
"Kamu nggak bertanya kenapa aku menamakan anak aku dengan namamu?"
__ADS_1
"Itu hak kamu, lagi pula di dunia ini bukan cuma aku kan yang bernama Mikeal, masih ada jutaan bahkan milyaran Mikeal lainnya."
"Tapi aku memang sengaja memberinya nama yang sama persis dengan mu, aku hanya ingin membuat diri aku untuk terus ingat, bahwa dulu ada seorang lelaki yang pernah aku cintai sepenuh hati tapi tak bisa aku miliki, hanya karena dia takut, jika dia bersama aku dia tidak akan pernah bisa menggapai mimpinya." Jelas Arumi.
"Maaf, karena aku pernah membuat luka yang terdalam dalam masa lalumu!"
"Sudahlah, itu semua hanya masa lalu. Sekarang kita sama-sama punya kehidupan baru. Oh ya, istrimu mana?"
"Aku belum menikah!"
"Kamu nggak usah bohong deh! masak iya pangeran tampannya SMA Sukma masih jomblo!" Jelas Arumi dengan tawa yang pecah.
Mikeal hanya terdiam sambil terus memandangi Arumi yang terus tertawa, hingga Mikeal kecil menghampiri keduanya.
"Mama, ayo kita pulang!" Rengek Mikeal kecil sambil menarik ujung baju Arumi.
"Iya sayang, kita pulang sekarang." Ujar Arumi sambil menggenggam tangan munyil Mikeal.
"Kayaknya aku harus pulang sekarang, kalau ada waktu, lain kali kita ketemu lagi. Assalamualaikum!" Lanjut Arumi dan langsung meninggalkan Mikeal.
"Wa'alaikum salam!" Jawab Mikeal.
Mata Mikeal terus memandang sosok mantan kekasihnya sewaktu SMA dulu, bahkan setelah bayangan Arumi dan Mikeal kecil menghilang, Mikeal masih saja menatap kearah sana.
"Apa ini kesempatan kedua untuk aku? apa masih ada Arumi di hati ini? Jika aku datang kembali padanya dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu, apa dia akan kembali menerima aku yang sekarang ini. Lebih dari semua itu, sekarang yang aku takutkan malah perasaan aku sendiri, aku ingin kembali pada Arumi karena cinta atau hanya sebagai lahan penebus dosa. Aku tidak ingin menyakitinya untuk yang kedua kali, aku harap kamu selalu bahagia Arumi. Wanita yang pernah mewarnai sepihan dari kisah hidup aku, terima kasih karena pernah mencintaiku." Bisik hati Mikeal.***
_______________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya teman-teman semua😊😊
Your mine so much to me, terima kasih karena sudah setia sama Cinta Elsaliani 🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️