Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
11.


__ADS_3

Tepat di kamar sana, Elsaliani terlihat sangat telaten mengolesi salep pada kaki yang terkena tumpahan susu panas tadi, sambil sesekali mengipas-ngipas kaki yang terlihat merah dan sedikit melepuh di bagian atas.


"Aw,,,, perih banget, sakit...." Keluh Elsaliani dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia terus mencoba untuk menahan rasa sakit yang bersarang di kaki sana.


"Boleh aku masuk?" Tanya Iqbal yang masih berdiri di ambang pintu kamar.


"El baik-baik saja tuan, lebih baik tuan temani mbak Lestari, dan juga tolong katakan padanya kalau El akan segera membuatkan susu yang baru untuknya. Dan juga soal makan malam nanti, El akan segera menyiapkannya." Jelas Elsaliani dan mencoba untuk bangun, namun perlahan Iqbal malah melangkah mendekati Elsaliani.


"Duduklah kembali!"


"Loh kenapa? kaki El baik-baik saja. Hm,,, soal gelas tadi, El benar-benar minta maaf, karena lagi-lagi El merusak barang milik tuan. El janji nanti akan El ganti. Oh ya, apa tuan baik-baik saja? Apa kaki tuan juga terkena cipratan susu panas tadi?"


"Berhentilah bicara!" Pinta Iqbal lalu tangan Iqbal langsung menyentuh kaki Elsaliani yang terluka namun dengan cepat Elsaliani langsung menarik kakinya, menghindari sentuhan Iqbal.


"Jangan! jangan sentuh kaki El!" Tegas Lisa lalu menjauh dari tubuh Iqbal.


Tanpa ucapan sepatah katapun Iqbal kembali mendekat, dan tangannya kembali menyentuh kaki Elsaliani, lagi-lagi Elsaliani menghindari sentuhan tersebut hingga tanpa ia sadari, tubuhnya malah terjatuh kelantai.


"Tuan, kembalilah pada mbak Lestari, temani dia. El, El akan segera membuatkan minum yang baru untuknya dan juga untuk tuan, jadi El mohon tunggulah di sana."


"Lestari sudah pulang."


"Loh kenapa? bukankah tadi katanya dia ingin makan malam bersama tuan di sini? apa jangan-jangan dia marah karena El menjatuhkan minumannya? Apa yang harus El lakukan? maafkan El tuan, El benar-benar tidak bermaksud untuk mengacaukan makan malam kalian berdua. El minta maaf tuan!"


"Pa tadi itu salah kamu?"


"Hm,,,,Iya. El yang membuat semuanya jadi berantakan. Maafkan El."

__ADS_1


"Berhenti bilang maaf!" Tegas Iqbal dengan teriakan lantang karena di penuhi dengan emosi yang meluap-luap.


Suara Iqbal langsung membuat nyali Elsaliani menciut. Ia kembali ketakutan, dalam seketika tangannya mulai gemetar, wajahnya langsung panik dan membuatnya salah tingkah, tidak tau harus berbuat apa.


"Tu......tu.....an, El....hm,,,,El benar-benar tidak sengaja, sedikitpun tidak ada niat El untuk mengacaukan acara dinner tuan dan mbak Lestari, El tidak bermaksud begitu...." Jelas Elsaliani dengan suara yang terbata-bata dan bibir yang ikut gemetar.


Iqbal mencoba untuk menyentuh tangan nan munyil tersebut, seketika ia dapat merasakan getaran hebat dari tangan yang kini berada di genggamannya. Kini mata Iqbal mulai beralih menatap wajah Elsaliani yang memang benar-benar diliputi rasa takut.


"Hm,,,,,,sebegitu takutkah kamu sama aku? sampai-sampai tangan dan mulutmu gemetaran? apa aku terlihat seperti monster di matamu?"


"Bukan! tidak, maksud El bukan begitu. Tu...tu...an, izinkan El pulang. Hm,,,,,biarkan El pulang dengan begitu hubungan tuan dengan mbak Lestari tidak akan terganggu, El tidak ingin menjadi penghalang diantara kalian berdua, El nggak mau mbak Lestari salah faham dengan hubungan kita. El janji kalau El tidak akan bicara apapun sama keluarga El. Tuan tinggallah disini, di rumah ini dengan gadis yang baik dan cantik seperti mbak Lestari. Berbahagialah dengan wanita pujaan hati tuan."


"Oke, fine. Pulanglah!" Jelas Iqbal dan segera melangkah keluar meninggalkan Elsaliani seorang diri.


(Akhirnya aku akan kehilangan suami aku, mesti selama ini aku terus berusaha untuk membuatnya tetap disisi aku, pada akhirnya aku juga yang kalah. Aku harus melepaskannya untuk wanita lain, karena dengan begitu aku bisa membuat hidupnya bahagia, meski hati ini sakit, tapi paling tidak aku bisa mengembalikan hari-hari bahagianya yang telah aku obrak-abrik karena kedatangan aku. Iqbal Ardimas Adimaja, maafkan aku!).


"Jadi benar nih adek mau pulang? lalu bagaimana dengan suami adek? siapa yang akan menjaga dan mengurusi semua keperluannya? satu lagi, apa adek udah minta izin sama suami adek, apa dia nggak keberatan adek pulang dan meninggalkan di sendirian disini? Adek mau pulang ke rumah berapa lama?" Tanya Rizal bertubi-tubi dengan penuh kecemasan.


Ya, di siang itu Rizal berkunjung ke rumah adiknya yang memang telah lama tinggal terpisah dari keluarga. Keduanya tampak sedang melepas rindu, sambil duduk di ruang tamu.


"Sebenarnya, Abang mau bawa adek pulang atau nggak sih?" Elsaliani malah balik bertanya dengan wajah jutek.


"Cieee, mulai deh ngambeknya!"


"Habis Abang nanya nya gitu sih. adek kan kangen sama Abi dan umi."


"Jadi kangennya sama Abi dan umi aja ni??? sama Abang nggak gituh?"

__ADS_1


"Kangen, tapi sedikit aja." Jawab Elsaliani dengan senyuman nakal dan jari yang seakan memperlihatkan takaran rasa kangennya.


"Kami ini...." Ujar Rizal dengan tawa bahagia lalu tangannya segera merangkul tubuh Elsaliani.


"Apaan sih Abang, kan adek udah bilang kalau adek nggak kangen-kangen banget sama Abang. Lepasin ah, wahai rakyat jelata lepaskan tanganmu dari yang mulia putri mahkota." Goda Elsaliani dengan senyuman genit.


"Perintah yang mulia putri mahkota di abaikan. Soalnya rakyatmu masih merindukanmu."


"Aishhhhh lepasin!"


Elsaliani terus mencoba lepas dari pelukan Rizal, bahkan sesekali dengan jail menggelitik bagian perut Rizal. Keduanya tampak larut dengan candaan mereka, bahkan keduanya tidak menyadari kedatangan Iqbal.


"Mau adek laporkan sama Abi ya, biar nanti Abi menghukum tangan jail ini."


"Laporkan saja, paling juga nanti Abi bakal lebih mendengarkan penjelasan Abang dari pada adek." Jelas Rizal.


Kini dengan usil tangan Rizal menarik-narik kerudung yang Elsaliani kenakan, dan akhirnya Rizal malah mencopot kerudung Elsaliani hingga membuat rambut Elsaliani terpampang jelas, bahkan terlihat berantakan membuat wajahnya ikut tertutup karena rambut panjangnya. Tidak mau di perlakukan begitu, Elsaliani mencoba untuk bangun dari duduknya, di saat itu pula Elsaliani melihat sosok Iqbal yang berdiri tegak dengan pandangan yang tertuju kearah Elsaliani dan Rizal.


"Tuan...." Seru Elsaliani.


Dalam seketika wajah Elsaliani yang tadinya tertawa bahagia langsung berganti menjadi wajah yang di penuhi dengan rasa takut, khawatir dan resah. Elsaliani segera meraih kerudung miliknya yang terjatuh di lantai dan dengan cepat mengenakannya kembali.


Mendengar ucapan Elsaliani membuat Rizal menghentikan candaannya, ia pun segera menoleh kearah di mana Iqbal berdiri.


"Tuan? apa maksud adek?" Tanya Rizal yang tidak paham dengan situasi yang ada.


Pertanyaan Rizal sontak membuat Elsaliani gelagapan, ia tidak tau harus bicara apa pada Rizal, Elsaliani terus berusaha berfikir dengan tenang, mencoba mencari alasan yang tepat agar Rizal tidak akan menaruh curiga dengan panggilan yang baru saja ia ucapkan.***

__ADS_1


__ADS_2