Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
14.


__ADS_3

"Adek, adek....!" Panggil Abi dan terus saja berjalan menuju kamar Elsaliani, si putri bungsu tersayang.


Ketika Abi hendak membuka pintu kamar Elsaliani, di saat itu pula pintu kamar Rizal yang berhadapan dengan kamar Elsaliani terbuka dari dalam, perlahan Elsaliani muncul dari balik daun pintu kamar Rizal membuat Abi langsung mengarahkan pandangannya ke arah Elsaliani berdiri.


"Ada apa Abi? apa ada yang bisa adek bantu?"


"Lah, tadi katanya lagi nggak sehat, nggak enak badan, mau istirahat, nah sekarang kenapa malah muncul dari kamar Abang? ngapain di sini?" Tanya Abi mendekati Elsaliani lalu mengusap kepalanya.


"Nih juga lagi istirahat kok Abi. Istirahat sambil main komputer abang bi, habis komputer di kamar adek rusak dan adek lupa bawa pulang laptop kemaren."


"Adek ini asyik nonton Korea terus, udah sana beres-beres dulu!"


"Beres-beres? ah biarin aja dulu Abi, adek kan lagi nggak sehat, nggak kuat buat beres-beres. Besok aja ya beres-beresnya?"


"Terus nanti kalau suami adek sampai dan lihat kamar adek yang super berantakan, apa adek nggak malu?"


"Su...suami, maksud Abi?"


"Ya iya, suami adek. Nak Iqbal ke sini malam in, paling bentar lagi juga sampai, ummi juga udah masak banyak tuh buat suami adek." Jelas ummi yang baru saja datang menghampiri sang suami dan putri tercinta.


"Lah, bukannya adek udah tau kalau nak Iqbal mau ke sini?" Tanya Abi.


"Ah iya, adek lupa. Kala begitu adek beres-beres dulu, Abi ummi."


"Ya udah sana buruan!" Ujar ummi dengan senyuman.


Dengan cepat Elsaliani langsung masuk ke kamarnya.


"Abi, apa Abi tidak merasa kalau adek banyak perubahan setelah menikah? seperti ada sesuatu yang adek coba sembunyikan dari kita." Jelas ummi.


"Udah mi, nggak usah berpikir yang aneh-aneh kita doakan saja, semua rumah tangga adek di berikan kebahagian sampai selamanya.


"Amin..."


"Umi, Abi kenapa pada ngumpul di depan kamar Abang? ada apa?" Tanya Rizal dengan perasaan heran, karena melihat kedua orang tuanya sedang ngomong serius di depan kamarnya.


"Nggak ada apa-apa kok, abang baru pulang?" Tanya ummi sambil menyodorkan tangannya yang ingin Rizal salamin. Setelah mencium punggung tangan ummi, Rizal langsung melakukan hal yang sama pada punggung tangannya Abi.

__ADS_1


"Iya ni, lembur lagi malam ini. Oh ya, adek di mana mi? apa udah pulang ke rumahnya?" Tanya Rizal setelah tidak menemukan sosok Elsaliani bersama kedua orang tuanya.


"Tuh, adek lagi di kamarnya." Jawab Abi sambil menunjuk ke arah kamar Elsaliani dengan dengan dagunya.


"Masih di sini rupanya? adek...."


"Abang jangan ganggu adek, dia lagi beres-beres.!" Jelas ummi.


tiba-tiba bel rumah berbunyi membuat ketiganya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Tanya Rizal dengan wajah cemberut.


"Adik ipar Abang lah, udah sana bukain pintu!" Jelas ummi dan segera berlalu.


Abi pun mengikuti langkah ummi, meninggalkan Rizal yang masih mematung, beberapa menit kemudian, masih dengan wajah bingung dengan kata-kata ummi barusan, Rizal mulai melangkah menuju pintu depan lalu segera membukakan pintu, dan ternyata yang datang adalah Iqbal.


"Iqbal." Ujar Rizal.


"Assalamualaikum, Abang Rizal!" Ucap Iqbal lalu bersalaman dengan Rizal.


"Sudah sampai ternyata, ayo duduk dulu, nak Iqbal pasti capekkan mengemudi karena mengemudi berjam-jam lamanya." Jelas ummi yang memang sedang duduk bersama Abi di ruang tamu, tidak lain adalah menyambut kedatangan Iqbal.


"Iya ummi." Jawab Iqbal dan menyalami kedua mertuanya secara bergantian.


"Adek di kamarnya, mau Abang panggilkan?" Tawar Rizal yang memang melihat Iqbal tampak melirik ke sana-sini.


"Tidak usah Abang, biar aku yang ke sana menemui El." Jelas Iqbal.


"Hm,,,,oke!x Ujar Rizal dengan senyuman ramah.


"Kalau gitu, aku temui El dulu, Abi, ummi" jelas Iqbal.


"Iya silahkan!" Jawab Abi dan umi hampir bersamaan.


Iqbal langsung melangkah menuju kamar milik Elsaliani, sesampai di depan pintu kamar sana, Iqbal langsung mengetuk pintu hingga beberapa kali, baru selanjutnya terdengar suara Elsaliani dari dalam sana, suara yang terdengar sedang kesal.


"Abang, jangan gangguin adek dulu. Udah sana balik ke kamar Abang!" Seru Elsaliani dengan tangannya yang masih saja membereskan kamarnya yang sangat berantakan di semua sisi, namun pintu kembali di ketuk dari luar.

__ADS_1


"Abang.....jangan ganggu adek, udah pergi sana! adek lagi buru-buru ini, balik ke kamar Abang sana gih!"


Namun suara ketukan pintu kembali terdengar, dengan kesal dan muka yang mulai di penuhi amarah, Elsaliani bangkit dari duduknya dan segera berlari menuju pintu lalu dengan kasar tangan Elsaliani menarik daun pintu hingga terbuka lebar. Ketika matanya melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu, dengan spontan ia menutup kembali pintu rapat-rapat. Dengan buru-buru ia segera mencari kerudung di antara tumpukan kain yang ada di atas tempat tidur lalu cepat-cepat mengenakannya dan lekas kembali membukakan pintu.


"Maaf tuan, maafkan El! tadi El pikir Abang yang usil, sekali lagi maafkan El!" Pinta Elsaliani dengan menundukkan kepalanya.


"Boleh aku masuk?"


"Oh, ah, hm....silahkan masuk!" Ujar Elsaliani dengan rasa terpaksa.


Iqbal langsung melangkah masuk, setelah Iqbal berada di dalam kamar, Elsaliani segera menutup kembali pintu kamarnya, perlahan Elsaliani melangkah menuju tempat tidurnya lalu mengambil semua tumpukan kainnya dan segera memasukkannya ke dalam lemari dengan acak-acakkan.


"Maaf karena tempat El berantakan dan kumuh seperti ini." Pinta Elsaliani.


Tanpa menjawab apa-apa, Iqbal langsung duduk di tempat tidur milik Elsaliani, dengan mata yang masih saja menoleh ke seluruh isi kamar Elsaliani, sedangkan Elsaliani masih saja berdiri dengan kepala yang kembali tertunduk.


"Katanya kamu sakit?" Tanya Iqbal dengan pandangan yang masih saja meneliti setiap inci kamar Elsaliani.


"Tidak, bukan, maksud El, hm....begini maksud El, El tidak sedang sakit. El hanya ingin mencari alasan agar ummi dan Abi berhenti menyuruh El pulang. El hanya ingin memberi waktu lebih banyak untuk tuan dan mbak Lestari. Tapi El benar-benar tidak menyangka akan begini jadinya. Apa Abi yang menyuruh tuan untuk datang kesini? maafkan Abi!"


"Hm....." Hanya itu yang Iqbal jawab.


Iqbal masih saja sibuk dengan memandang seisi kamar tidur Elsaliani, hingga pandangannya terhenti pada sebuah foto yang terbalut bingkai indah berwarna hijau yang terletak tepat di atas meja rias Elsaliani, ketika menyadari apa yang sedang Iqbal perhatikan, dalam seketika tangan Elsaliani langsung meraih bingkai tersebut dan membalikkannya ke meja, namun kaki Iqbal melangkah mendekati meja rias tersebut, dalam kepanikan Elsaliani mencoba untuk menghentikan Iqbal.


"Tuan, hm.....hm....tuan!" Ujar Elsaliani yah mulai panik.


Tangan Iqbal mulai bergerak lalu menyentuh bingkai foto tersebut, Elsaliani tetap terus berusaha mencegah aksi Iqbal.


"Ini cuma foto lama, tidak perlu tuan hiraukan!"


"Aku ingin melihatnya!" Tegas Iqbal.


"Tidak, tolong jangan lihat!" Pinta Elsaliani yang mulai ketakutan.


"Kenapa? apa aku sendiri tidak boleh melihat foto aku sendiri?"


"Maafkan El!" Pinta Elsaliani dengan kepala tertunduk lalu tangannya seakan membiarkan bingkai foto tersebut begitu saja. Iqbal langsung meraih foto tersebut lalu melihat jelas ternyata memang foto dirinya yang terpasang pada bingkai tersebut.***

__ADS_1


__ADS_2