Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
09


__ADS_3

WARNING!!!!!


Di part ini, terdapat adegan kekerasan, penganiayaan😔🥺😭. Jadi di harapkan untuk bijak bagi para pembaca😄😄


adegan tidak untuk DITIRU🙅🙅🙅


Selamat Membaca😘😘😘


"Tuan, tolong maafkan El!!!" Pinta Elsaliani dengan suara lirih dan tatapan yang penuh dengan harap, perlahan Elsaliani menyentuh kaki Iqbal lalu menggenggamnya dengan erat.


"Lepas, aku bilang lepaskan aku. Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor kamu itu!" Gumam Iqbal dengan penuh amarah.


Dengan kasar Iqbal menarik kakinya dari genggaman Elsaliani hal tersebut justru membuat tubuh Elsaliani terpental kebelakang, Elsaliani mencoba untuk bangkit kembali lalu berusaha untuk berdiri, namun tubuhnya kembali ambruk ke lantai hingga membuat ia tidak sadarkan diri.


"Jangan pura-pura pingsan, aku tau kalau kamu sedang mencoba untuk menipu aku kan? cepat bangun! aku bilang bangun." Teriak Iqbal di sertai dengan senyuman sinis. Tanpa belas kasih kaki Iqbal langsung menendang tubuh Elsaliani, setelah menendang beberapa kali dan masih saja tidak ada reaksi apa-apa, hal tersebut justru membuat Iqbal mulai panik.


"El, Elsaliani, bangun, cepat bangun!"


Bahkan setelah beberapa kali memanggil namannya, tetap saja tidak ada reaksi apa-apa, membuat Iqbal mau tidak mau mulai berjongkok mendekati tubuh munyil yang terkapar di lantai. Tangan kanan Iqbal mulai bergerak lalu menyentuh wajah Elsaliani, berusaha kembali untuk membangunkannya. Namun masih saja sama hasilnya, Elsaliani benar-benar tidak sadarkan diri.


"Kenapa wajahnya terlihat begitu pucat? Aku rasa, apa yang tadi Mikeal katakan memang benar adanya. Apa dia benar-benar sedang sakit? El, El bangunlah, jangan buat aku kesal!"

__ADS_1


Meski Iqbal terus berusaha untuk menyadarkan Elsaliani, hasilnya tetap saja sama, ia masih pingsan. Iqbal memutuskan untuk duduk lalu memangku kepalannya Elsaliani dengan tangan yang kembali menyentuh wajah Elsaliani dengan harapan agar sang istri segera membuka matanya.


Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya perlahan mata Elsaliani mulai terbuka, ketika Elsaliani menyadari bahwa dirinya berada dalam pangkuan Iqbal dengan cepat Elsaliani langsung bangun dan menjauhkan tubuhnya dari Iqbal.


"Maafkan El tuan! maaf karena telah mengotori tubuh tuan. Maafkan gadis jelek yang tidak tau diri ini. Maaf!" Pinta Elsaliani dengan penuh ketakutan. Elsaliani mulai mencoba menyakiti kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. Iqbal kembali mendekat, lalu mencoba untuk menghentikan aksi Elsaliani yang terus menerus memukul kepalanya sendiri.


"Berhenti, aku bilang berhenti memukul dirimu sendiri!"


"Tuan, El benar-benar minta maaf!" Tangis Elsaliani.


"Berhentilah menangis! berhenti meminta maaf, berhentilah..." Pinta Iqbal dengan suara yang seakan terdengar seperti sebuah teriakan yang tertahan. Hal tersebut jelas membuat Elsaliani diam mematung dalam seketika.


Sejenak mata tajam Iqbal menatap wajah Elsaliani lekat-lekat, lalu secara pelan-pelan menyentuh wajah Elsaliani namun dengan secepat kilat Elsaliani mengelakkan wajahnya dari sentuhan Iqbal.


" Bukan begitu, El tidak bermaksud begitu tuan...."


"Baik, aku sadar kalau aku tidak sebaik Mikeal."


"Bukan begitu tuan. El hanya tidak ingin Mikeal berfikir yang aneh-aneh tentang tuan. tidak ingin tuan terlihat kejam di depan Mikeal, El tidak ingin orang lain beranggapan buruk tentang tuan, hanya itu saja. Dan juga maaf karena El selalu saja membuat tuan malu dengan keluar dan juga teman-teman tuan, terutama kekasih tuan, mbak Lestari. El janji mulai hari ini El tidak akan bertemu lagi dengan sesiapapun, El janji kalau tidak akan lagi membuat masalah dalam hidup tuan, El akan hidup seperti bayangan, jangan pernah pedulikan El, bahkan tuan tidak perlu lagi menganggap El ada di rumah ini, hiduplah seperti yang tuan inginkan. Jangan hiraukan gadis jelek ini!"


Perlahan Elsaliani bangun, lalu berdiri dan melangkah keluar dari kamarnya Iqbal. dengan cepat kaki Elsaliani berlari menuju kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur lalu menangis terisak di sana, sejenak mencoba menenangkan perasaannya, lalu ia kembali bangun dan meraih lektop miliknya yang terletak di atas meja, lalu mencoba mengetikkan sesuatu di sana, setelah selesai dengan tulisannya lalu ia memutuskan untuk menonton drama Korea favoritnya.

__ADS_1


-----------------------


Di kamarnya sana, Iqbal masih duduk termenung bahkan ponsel yang terus berdering tidak membuatnya terusik, dia masih saja berdiam diri. Kepalanya seakan mencoba meresapi ucapan Elsaliani yang masih terputar jelas dalam ingatannya, matanya terus saja terbayang dengan wajah pucat Elsaliani yang di penuhi dengan linangan air mata.


"Apa yang terjadi pada aku? kenapa aku jadi semakin kacau! kenapa hidup aku terasa begitu memuakkan, aku sendiri tidak bisa memahami apa yang sebenarnya sedang aku jalani, aku bingung dengan diri aku sendiri! Bunda tolong aku, aku takut dengan semua ini, aku benar-benar takut bunda."


Desah Iqbal dengan penuh kegundahan dan hati yang mulai di penuhi dengan rasa takut, bimbang dan bersalah.


Iqbal keluar dari kamarnya dan bergegas menuju kamar Elsaliani, Iqbal memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar yang ada di hadapannya, setelah pintu terbuka, matanya langsung tertuju ke arah di mana Elsaliani sedang terbaring lelap dengan lektop yang berada tepat di depan wajahnya. Iqbal melangkah mendekati Elsaliani yang telah tertidur pulas. Iqbal duduk di sisi kanan Elsaliani lalu menoleh ke layar lektop yang masih memutar drama Korea, tangan Iqbal bergerak lalu mematikan tayangan drama tersebut, menutup lalu meletakkannya ke atas meja di sebelah ranjang tidurnya Elsaliani. Kini dengan leluasa mata Iqbal terus saja memandangi wajah teduh Elsaliani, dan tanpa sadar mulai menyentuh lalu mengusap kepala Elsaliani yang masih terbalut dengan kerudung yang sedari tadi telah dibasahi oleh air matanya.


"Aku tidak mengerti apa salah kamu, aku juga tidak paham mengapa aku terus saja berusaha untuk membenci dan menyakitimu, aku tidak tau apa yang sebenarnya sedang aku lakukan? Aku benar-benar tidak bisa memahami keadaan ini. Tidak, sebenarnya bukannya aku tidak memahami keadaan ini, tapi aku, diriku lah yang tidak bisa aku pahami! bagaimana ini El, apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar tidak paham dengan semua ini!"


Entah apa yang sedang Iqbal fikirkan, perlahan tangannya terus saja mencoba menyentuh wajah pucat Elsaliani, lalu perlahan ia terus mendekat dan langsung mengecup pipinya Elsaliani. Dengan lembut tangannya mulai menyentuh mata bengkak dan sembab milik Elsaliani. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba air mata menetes dari ujung mata indahnya Iqbal lalu jatuh mengenai wajah Elsaliani, hingga membuat Elsaliani membuka matanya. Elsaliani terperanjag kaget ketika mendapati tangan kekar Iqbal yang berada di wajahnya, ia mencoba untuk bangun namun Iqbal menghentikannya, hak tersebut kembali membuat Elsaliani ketakutan.


"Maafkan El!"


"Berhenti, aku bilang berhenti minta maaf, jangan buat aku terlihat sangat kejam!"


"Tidak, bukan begitu maksud El...."


"Berhentilah bicara, tolong diamlah sebentar aku mohon."

__ADS_1


Elsaliani langsung terdiam dengan seribu bahasa, bahkan ketika Iqbal memeluk erat tubuhnya, ia masih tetap terdiam. Tubuh dan mulutnya seakan membeku, entah apa yang ia pikirkan, yang jelas setiap apa yang Iqbal perintahkan ia pasti akan melakukannya, apapun itu.***


__ADS_2