Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
19.


__ADS_3

"Bunda yakin nih nggak mau tinggal beberapa hari lagi di sini? aku masih kangen sama bunda!" Tanya Iqbal ketika mengantarkan Ayu dan Adimaja menuju mobil.


Di pagi yang cerah, di mana matahari tersenyum indah di langit biru sana. Tepat pukul 09.00 pagi, Iqbal dan Elsaliani mengantar Ayu dan Adimaja ke mobil mereka yang terparkir di garasi. Iqbal masih saja memeluk erat Ayu tanpa peduli dengan Elsaliani yang sedari tadi terus saja memerhatikan secara diam-diam akan kemanjaan Iqbal pada Ayu.


"Lah kalau bunda tetap di sini, siapa nanti yang akan menemani bapak di rumah? lagi pula Iqbal sekarangkan udah punya El yang akan selalu menemani Iqbal di setiap saat." Jelas Bunda dengan senyuman.


"Iya sih ada El, tapi bunda kan lain" Jelas Iqbal dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Iqbal, sampai kapan kamu mau manja-manja sama bunda mu, hm...? bentar lagi kamu kan akan menjadi seorang ayah nantinya." Jelas Adimaja.


"Ayah? apa maksud bapak?" Tanya Iqbal dengan spontan dan pandangan yang langsung ia layangkan pada Elsaliani yang berdiri di sisi kanan Adimaja.


"Loh, kenapa kamu kaget begitu mendengarnya? Apa kalian berdua tidak berencana memberikan cucu untuk bunda dan bapak?" Tanya Ayu yang bingung melihat tanggapan Iqbal.


"Oh,,,,nggak! bukan begitu maksud aku, Bun!" Sanggah Iqbal yang tidak ingin membuat Ayu tambah curiga.


"Sudahlah! El, bunda akan menunggu kabar bahagianya ya! di usahakan cepat sayang ya." Jelas Ayu dengan senyuman manis lalu menyentuh wajah Elsaliani dengan penuh kelembutan.


"Hm..." Elsaliani hanya mengangguk dengan seribu diam, dan hanya memasang senyuman yang terlihat jelas begitu di paksakan.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit pulang! Iqbal, jaga istri kamu dengan baik!" Pesan Adimaja dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Baik pak!" Jawab Iqbal patuh.


"Nah, kalian berdua hiduplah dengan baik di sini, semoga kalian selalu bahagia sayang. Kapan-kapan, kalau ada waktu luang jangan lupa jenguk bunda dan bapak ya! kalau begitu kami pamit pulang dulu, sayang!"


"Iya bunda!" Jawab Iqbal dan Elsaliani hampir bersamaan.


Ayu langsung menyusul Adimaja yang telah lebih dulu masuk ke mobil, lalu keduanya bergegas meninggalkan sang anak dan juga menantu tercinta. Setelah mobil yang di kendarai Adimaja telah menghilang dari pandangannya, dengan cepat Iqbal segera mengalihkan pandangannya ke arah Elsaliani lalu menatapnya dengan tatapan yang membuat Elsaliani langsung menundukkan pandangannya.


"Apa ini yang semalam kamu bahas dengan bunda?" Tanya Iqbal dengan amarah.


"Maksud tuan? El tidak faham."

__ADS_1


"Jangan pura-pura tidak faham kamu! semalam kamu pasti bahas soal anak sama bunda kan? kamu sengaja kan membahas masalah ini sama bunda."


"Soal anak? tidak, El sama sekali tidak membahas tentang anak."


"Lebih baik kamu jujur sebelum kesabaran aku hilang, kamu kan yang hasut bunda untuk minta cucu dari kita? Apa cuma cara kotor ini yang bisa kamu lakukan agar bisa terus hidup bersama aku?"


"Tuan, El sama sekali tidak membahas soal anak sama bunda, percayalah!"


"Apa? anak? apa maksud dari ucapan kamu barusan?" Tanya Lestari yang mendengar percakapan pasangan suami istri tersebut. Lestari baru saja datang, dan langsung masuk ke area perkarangan rumah Iqbal. Tanpa tunggu lama Lestari langsung melabrak Elsaliani, bahkan dengan kasar tangan Lestari langsung menarik kerudung Elsaliani, perbuatan Lestari jelas membuat Elsaliani menjerit kesakitan.


"Tidak mbak, mbak salah faham. Bukan begitu...." Elsaliani mencoba untuk menjelaskan semua kesalah pahaman yang sedang terjadi, namun seakan Elsaliani tidak di berikan kesempatan untuk menjelaskannya, lagi-lagi Lestari kembali menarik kerudung Elsaliani, sedangkan tangan Lestari yang satunya lagi dengan kasar menyentuh wajah milik Elsaliani.


"Kamu itu cuma pembantu bagi Iqbal. Seharusnya kamu sadar diri! kamu hanya gadis jelek yang telah merusak hidup Iqbal. Apa katamu? kamu mau menjadi ibu dari anak-anaknya Iqbal? hah, nggak usah mimpi deh. Aku, hanya aku yang akan menjadi ibu dari anak-anak Iqbal. Ingat itu baik-baik!" Tegas Lestari dengan intonasi tinggi dan penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.


Kali ini dengan penuh emosi Lestari mendorong tubuh Elsaliani hingga membuat Elsaliani terjatuh ke tanah.


"Udahlah sayang! Jangan buang-buang waktu kamu untuk ngurusin dia. Lebih baik kita pergi sekarang, ayo! aku muak bila harus di sini terus!" Jelas Iqbal sambil menggandeng tangan Lestari lalu keduanya segera masuk ke mobil dan begitu saja meninggalkan Elsaliani seorang diri tanpa sepatah kata pun.


"Ya Allah, mohon jangan engkau biarkan El berada di ujung lelah, tolong jangan beri batas pada ketabahan dan kesabaran bagi El, agar El selalu kuat dan bisa melewati semua ujian ini." Pinta Elsaliani dengan tangisan pilu. Elsaliani segera bangkit dan lekas masuk ke dalam rumah.


Mobil sedan yang di kemudikan Iqbal berhenti di parkiran salah satu mol terbesar di kota tersebut. Keduanya langsung turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mol.


"Sayang, lain kamu kamu harus lebih tega dengan perempuan itu, bisa-bisanya dia ingin punya anak dari kami, apa dia nggak sadar dengan posisi dia saat ini!" Jelas Lestari dengan rasa jengkel setiap kali membahas tentang Elsaliani.


"Sudahlah sayang, kita nggak usah bahas dia lagi. Kamu nggak mau kan merusak suasana indah kita, ayo jalan! kita akan beli apapun yang kamu suka." Jelas Iqbal.


"Oke, baiklah! Ayo kita belanja sepuasnya."


Keduanya terus saja berbelanja segala jenis barang yang Lestari inginkan. Setelah memutar-mutar kesemua tempat yang ada, mendapatkan semua barang-barang yang Lestari cari lalu keduanya memutuskan untuk makan siang di salah satu tempat makan yang ada di mol tersebut.


Iqbal dan Lestari langsung duduk di meja no.8, namun di saat itu pula sebuah suara memanggil nama Iqbal, hak tersebut jelas membuat Iqbal segera menoleh kearah pemilik suara itu yang ternyata berada di meja no 10, yaitu meja yang letaknya tepat di sebelah kanan meja Iqbal dan Lestari.


"Iqbal...!"

__ADS_1


"Reza!" Seru Iqbal ketika melihat Reza yang berada di sebelahnya dan sedang menatap ke arah Iqbal.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu kerja di Semarang?" Tanya Iqbal dengan wajah yang terlihat sedikit panik.


"Aku lagi liburan, aku kesini untuk menemui tunangan aku. Oh iya, kenalkan Irena, calon istri aku." Jelas Reza.


"Iqbal, teman sekolahnya Reza." Ujar Iqbal sambil mengulurkan tangannya ke arah Irena.


"Irena, tunangannya mas Reza." Jawab Irena sambil menjabat tangan Iqbal.


"Kapan rencananya untuk nikah? jangan lama-lama loh Re, nanti di tikung sama yang ain baru nangis darah. Di tunggu undangannya ya!" Candaan receh Iqbal dengan senyuman menggoda.


"Mau nya sih secepat mungkin, tapi ya tungguin Irena selesai kuliah dulu lah!" Jelas Reza.


"Oh, jadi ini istri mas Iqbal yang sering mas Reza ceritain itu? wah cantiknya, pantas saja mas Reza begitu antusias ingin memperkenalkannya pada aku, mbak juga kelihatan baik dan sopan, sama seperti yang mas Reza ceritain selama ini." Jelas Irena panjang lebar membuat Iqbal dan Reza saling beralih pandang.


"Irena, dia bukan....." Reza mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya, namun Lestari langsung bangun dari kursinya. membuat pandangan yang lain hanya tertuju padanya.


"Aku bukan istrinya Iqbal. tapi aku akan segera jadi istri dia. Iqbal aku rasa tepat ini menyebalkan, ayo kita makan di tempat lain aja, aku udah nggak mood berada di sini." Tegas Lestari dan langsung keluar dari tempat makan tersebut tanpa menghiraukan yang lainnya.


"Mas Iqbal, aku minta maaf! aku sama sekali tidak bermaksud untuk merusak acara makan siang kalian berdua. Aku benar-benar minta maaf!" Pinta Irena.


"Ini bukan salah mu Irena. Reza lain kali akan aku jelaskan semua ini, aku janji! sekarang aku benar-benar harus pergi, permisi. Sampai jumpa lagi Irena." Jelas Iqbal dan langsung menyusul Lestari yang telah lebih dulu pergi.


"Irena, gadis itu bukan istri Iqbal. Karena istri Iqbal yang mas kenal bukankah gadis kasar yang seperti tadi, Mas kenal baik dengan El, dia itu gadis berjilbab yang sopan dan lembut, gadis Soleha itu bernama Nurul Elsaliani, istrinya Iqbal


"Aku benar-benar nggak menyangka kalau mas Iqbal ternyata orang yang seperti itu."


"Sudahlah Irena, mas juga nggak habis pikir dengan kelakuan Iqbal yang tidak pernah berubah, mas kita pernikahan ini bisa merubah segala sikap kasar dan egoisnya tapi ternyata tidak begitu, mas akan tunggu penjelasan dari dia tentang kejadian ini!" Jelas Reza.


"Iya mas, semoga saja istri mas Iqbal baik-baik saja, Amin." Ucap Irena simpati.


"Hm,,,semoga saja. Ayo kita pulang sayang."

__ADS_1


Irena hanya menuruti Reza. Keduanya pun keluar dari tempat makan tersebut.***


__ADS_2