
Tubuh Elsaliani yang berbaring di atas kasur terus saja berputar ke sana-sini mencari posisi ternyaman, hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk bersandar pada bantal yang menumpuk di kepala tempat tidur. Mata Elsaliani terus menerawang pada setiap sudut kamar, ia terus saja memperhatikan semua foto Iqbal yang terpajang rapi di dinding kamar. Semua bingkai tertata indah, di dinding sisi kanan terdapat foto Iqbal yang lengkap dengan seragam kebanggannya membuat ia terlihat begitu gagah, sedangkan di bagian dinding lainnya dipenuhi dengan berderet foto Iqbal yang bak model, mulai dari gaya santai hingga ala bad boy.
"Jika nggak jadi tentara mungkin mas akan jadi model kayaknya!" Gumam Elsaliani yang menghentikan pandangannya pada salah satu foto Iqbal yang memancarkan aura terseksi.
"Baby, lihatlah ayah! dia sangat tampan bukan? semoga saja baby mewarisi wajah ayah, biar nggak jelek kayak uma. Baby, jika nanti sesuatu terjadi pada uma, tolong baby jaga ayah dengan baik, jadi anak yang soleha, nurut sama ayah, uma sayang baby dan ayah!" Lanjut Elsaliani dengan kepala yang tertunduk.
Perlahan pintu kamar Iqbal terbuka dari luar, menyadari ada yang datang, Elsaliani kembali bersikap tenang, dan segera menoleh kearah pintu. Dengan senyuman Ayu terus melangkah mendekati sang menantu tercinta, dengan segelas susu di tangan kanannya.
"Kenapa belum tidur? apa ada yang sakit?" Tanya Ayu yang langsung duduk di sisi Elsaliani.
"Nggak ada yang sakit bunda, hanya saja mata El susah kali untuk terpejam, El rindu mas Iqbal." Jawab Elsaliani dengan raut wajah sedih.
"Udah, kan ada bunda disini. Ayo di minum dulu susunya!"
Dengan lembut Ayu membantu Elsaliani untuk meminum susu yang ia bawa, Elsaliani menurut, ia meneguk habis susu tersebut.
"Istirahatlah, bunda akan menemani El!"
"Nggak apa bunda, kalau bunda disini nemanin El, terus siapa yang menemani bapak?"
"Udah sayang tenang aja, biar bapak menduda malam ini!" Ujar Ayu dengan senyuman manisnya.
Elsaliani ikut tertawa mendengar ucapan Ayu. Perlahan Elsaliani merebahkan kepalanya di pangkuan Ayu, Ayu pun segera membelai lembut rambut Elsaliani.
"Mau dengar sebuah cerita?" Tanya Ayu.
"Cerita apa bunda?"
"Tentang suami El."
"Tentang mas Iqbal, mau banget bunda."
__ADS_1
"El ingat kecelakaan yang dulu menimpa kalian berdua?"
"Ingat bunda, kenapa?"
"Waktu itu bunda sama sekali nggak tau kalau siswi SD yang diselamatkan oleh Iqbal ternyata El, karena di saat bunda dan bapak ke rumah sakit, El sudah tidak ada lagi di sana. Awalnya bunda mengira jika Iqbal lah orang yang menyamatkan El, tapi kenyataannya kebalikan dari yang bunda pikirkan, kamulah yang menyelamatkan anak bunda. Terima kasih karena telah menyelamatkan anak bunda satu-satunya."
"Bunda, El hanya menyelamatkan mas Iqbal dari pohon yang akan tumbang, tapi mas Iqbal justru menyelamatkan El dari tiang yang tumbang hingga membuatnya terluka."
"Iqbal membalas jasamu sayang, dan apa El tau, ketika Iqbal sadar dari koma, El adalah orang pertama yang dia cari, dia terus saja memanggil bocah SD, dia bahkan meminta bapak untuk mencari kamu, bocah SD dengan rambut kepang dua bak ekor kuda."
"Jadi mas Iqbal, benar-benar mencari El?"
"Iya, bahkan sampai setahun lamanya."
"Terima kasih bunda, karena melamar El untuk menjadi menantu bunda."
"Bunda yang harusnya berterima kasih sama El, terima kasih karena mau menerima anak bunda sebagai suami El, bunda harap El bisa menerima anak bunda dengan segala kekurangan yang ada padanya. Nah, sekarang tidurlah, selamat malam menantu bunda tersayang!" Jelas Ayu yang langsung mengecup kening Elsaliani.
Elsaliani berusaha untuk memejamkan matanya, hingga akhirnya ia tertidur lelap. Setelah memastikan bahwa Elsaliani telah terlelap, Ayu langsung membenarkan posisi tidur Elsaliani dengan sepelan mungkin, ia tidak ingin membuat Elsaliani kembali terbangun. Setelah menyelimuti, lalu mengelus lembut ubun-ubun Elsaliani dan kembali mengecup keningnya, Ayu pun beranjak keluar dari kamar tersebut, membiarkan Elsaliani tidur nyenyak.
------------------
"Ternyata kamu benaran datang! Hah, tak ku sangka, ternyata cerita tentang kamu benar adanya, tak kenal takut, ambisius dan kamu benar-benar terlihat seperti monster, persis seperti kabar yang aku dengar." Jelas Vian yang duduk tenang diatas karung-karung yang terisi pasir yang di jadikan sebagai pembatas markas yang tersusun rapi.
"Apa kamu masih belum puas, mengganggu aku? belum cukup dosa yang kau buat di masa lalu? sampai kau kembali membuat cerita baru dengan skenario yang sama." Gumam Iqbal yang masih berdiri kokoh di hadapan Vian.
"Wowww" Seru Vian disertai dengan tepuk tangan yang menggema di udara.
"Aku salut sama kamu, ternyata kamu memang tak pernah berubah, masih saja sibuk dengan urusan orang lain." Lanjut Vian.
"Aku nggak akan bergerak jika kamu tidak menyentuh sahabat aku, kenapa kamu selalu saja cari masalah sama aku? apa yang membuatmu tidak bisa berhenti mengganggu aku?"
__ADS_1
"Sellow bro! aku hanya ingin bermain sebentar dengan Hadi, nanti juga aku kembalikan, jika aku sudah bosan!"
'Buk' Tinju Iqbal melayang tepat di pipi kanan Vian, membuat lelaki tersebut meringis kesakitan.
"Ingat, jangan coba-coba untuk menyentuh orang-orang aku! atau kamu akan kehilangan semua milikmu."
"Apa kau sedang mengancam ku?"
Vian yang mulai emosi bergerak menyerang balik Iqbal, namun dengan sigap Iqbal menangkis tinju Vian.
"Jangan cari gara-gara dengan aku! aku bukanlah Iqbal yang sepuluh tahun silam, kini aku tidak akan tinggal diam, sedikit saja kau menyentuh orang ku maka akan aku pastikan kau akan kehilangan segalanya. Ingat, segalanya." Tegas Iqbal yang langsung beranjak dari sana.
Iqbal melangkah meninggalkan Vian begitu saja, namun baru beberapa langkah Iqbal berjalan 'Dorrr' suara tembakan menggema di udara, seketika kaki Iqbal terhenti, hingga pada menit selanjutnya tubuh Iqbal ambruk di atas pasir dengan darah kental yang keluar di bagian punggung kirinya.
'Kriiiiiing' sebuah bingkai terjatuh menghantam lantai kamar, membuat Elsaliani terperanjat dari tidur lelapnya. Nafas Elsaliani mulai memburu, air mata yang entah sejak kapan telah mengalir membasahi pipinya. Tangan yang gemetar serta detak jantung yang tak karuan, membuat Elsaliani semakin panik dan ketakutan, dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Elsaliani turun dari tempat tidur lalu melangkah pelan kearah bingkai foto yang kini telah menjadi beling yang berserakan di lantai.
"Ya Allah, tolong lindungi suami hamba! Jangan engkau ambil ia dari hamba, kembalikan dia untuk hamba ya Allah. Jagakan dia, jauhkan dia dari segala malapetaka!" Bibir Elsaliani terus saja melantukan doa-doa pada sang pencipta.
Tangannya yang masih gemetar, bergerak menyentuh foto Iqbal yang memamerkan lesung pipi indahnya. Elsaliani menarik foto tersebut dari tindihan beling.
"Mas sudah janji kan, akan kembali dengan selamat, tolong jangan ingkar janji sama El dan baby, tolong kembali sebagaimana mas pergi!" Gumam Elsaliani dengan suara yang mulai melemah.
Elsaliani terus mendekap erat foto tersebut di dadanya, sejenak memejamkan mata, dengan bibir yang terus membaca istighfar berharap semuanya akan baik-baik saja.***
_______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1