
"Sampai kapan kamu akan terus berbaring, masa iya kami harus jagain kamu! buruan bangun!" Gumam Alam dengan perlahan menyentuh telapak kaki Iqbal.
"Bangunlah, jangan buat aku khawatir! perasaan ini nggak enak, sesak!" Lanjut Alam kali ini pandangannya mulai menunduk, dan terus mencoba menahan air mata yang sedari tadi memberontak ingin keluar dari ujung mata beningnya.
"Biar aja dia tidur sepuasnya, nanti kalau udah bosan juga bakal bangun!" Seru Luqman.
"Apa aku harus buat keributan lebih dulu baru kamu akan membuka mata? udah lima jam lebih, apa belum cukup untuk terbaring kaku? haishhhhh,,,apa aku telpon bunda aja, atau mbak Lestari!" Gumam Hendra yang langsung mendapat tendangan di bagian betisnya.
Ketika Hendra menyebutkan nama Lestari dengan spontan kaki Alam langsung tergerak menghantam keras betis Hendra, hingga membuat lelaki humoris tersebut memekik kesakitan.
"Punya nyawa berapa sampai kamu berani telpon bunda? mau aku patahkan tanganmu, atau bungkam mulut ember mu itu! dan satu lagi jangan sebut nama Lestari lagi mulai dari detik ini hingga sepanjang masa." Gumam Iqbal dengan suara yang sedikit terdengar parau dan wajah yang terlihat jelas sedang menahan rasa sakit.
Mata Iqbal melotot sempurna mengintimidasi wajah Hendra. Suara Iqbal sontak mengalihkan semua mata yang ada di ruangan tersebut segera teralih fokus menatap padanya.
"Akhirnya bangun juga! batal deh rencana mau ngabarin bunda!" Jelas Hendra cengengesan.
"Coba aja kalau kamu sampai telpon bunda, akan aku buat kau lupa dengan rasa bahagia!" Ancam Iqbal.
"Aku rasa keadaannya sudah sangat membaik, buktinya langsung ngajak perang sama Hendra. Udah nggak ada lagi yang harus di khawatirkan, ayo keluar! kita juga harus makan!" Jelas Luqman yang langsung bangun dari duduknya.
"Tau aja kalau aku lagi lapar, ayo!" Ujar Alam yang langsung mengikuti langkah Luqman.
"Ayo Hendra!" Ajak Mikeal yang langsung menarik lengan Hendra untuk ikut bersamanya.
"Oke!" Jawab Hendra.
"El mau makan apa? biar kami bungkuskan nanti!" Tanya Mikeal.
"Apa aja boleh!" Jawab Elsaliani dengan mata yang terus menunduk.
"Baiklah, kami pamit sebentar!" Jelas Luqman dan langsung keluar dari ruang VIP dengan disusul oleh Hendra, Mikeal dan Alam.
Setelah kepergian keempat lelaki tersebut, ruangan kembali tenang, hanya suara detak jarum jam yang terdengar, membuat seisi ruangan terasa mencengkam. Perlahan Iqbal mencoba menggerakkan tangan kirinya, berusaha menyentuh kepala Elsaliani yang berada disisinya.
"Maafkan El!" Pinta Elsaliani disertai dengan isak tangis pilu.
"Apa salah sayang? kenapa minta maaf? Hei angkat wajah sayang, mas rindu! mas ingin menatap wajah sayang!" Jelas Iqbal dengan tangan yang kini telah menempel pada pipi Elsaliani.
Wajah Elsaliani yang sedari tadi menunduk, kini telah sepenuhnya terlihat, ada air mata yang terus mengalir di sana, bahkan membuat mata Elsaliani terlihat membengkak dan kedua pipi yang begitu sembab.
"Karena El mas terluka! harusnya....."
Ucapan Elsaliani lngsung terhenti ketika ibu jari Iqbal menyentuh bibir Elsaliani.
"Mas adalah suami sayang, jadi tugas mas adalah melindungi sayang dengan baik, atau mungkin ini juga karma atas perlakuan kasar mas terhadap El selama ini!"
"Mas, jangan ungkit lagi masa lalu. Bukankah mas sendiri yang tidak ingin lagi mengingat semua itu? El sayang sama mas!" Ucap Elsaliani dengan tangan yang bergerak lalu menggenggam erat tangan Iqbal yang masih menyentuh wajahnya.
"Mas jauh lebih sayang sama sayang!" Ucap Iqbal dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Apa itu sangat menyakitkan?" Tanya Elsaliani sambil menunjuk bagian dada kanan Iqbal yang baru saja mendapatkan beberapa jahitan.
"Sedikit! apa sayang mau lihat?"
"Emangnya boleh?"
"Kenapa nggak? Ayo sini!"
Elsaliani langsung bangun, lalu melangkah ke sisi kanan Iqbal. Elsaliani kini berdiri begitu dekat dengan Iqbal, hingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Tangan kiri Iqbal mencoba membuka kancing baju pasien yang menempel di tubuhnya.
"Biar El saja yang melakukannya!" Pinta Elsaliani yang langsung membuka dua kancing teratas baju Iqbal.
Dengan sangat hati-hati, Elsaliani mencoba menyibak sedikit demi sedikit bagian baju yang menutupi luka Iqbal, hingga terlihatlah sebuah perban yang menempel menutupi bagian dada kanan tersebut.
"Awww, sayang sakit!" Jerit Iqbal ketika jemari Elsaliani menyentuh bagian perban tersebut.
"Maaf, El nggak sengaja!" Pinta Elsaliani yang langsung menarik jauh tangannya dari tubuh Iqbal.
"It's oke! Sayang, malam ini mas benar-benar lelah, jahitannya juga masih terasa pedih, so...hmm...so boleh nggak mas minta charger tenaga?"
Dengan senyuman Elsaliani langsung mencium lembut kening Iqbal.
"Kalau El peluk takutnya El bakal nyentuh jahitan di luka mas." Kilah Elsaliani.
"Ah....sayang, masa iya cuma kening?" Keluh Iqbal dengan exspresi kecewa.
"Mas, gimana kalau pas El meluk nanti tangan El malah menyentuh jahitan luka mas, El takut menyakiti mas!" Jelas Elsaliani.
"Terus? minta apa? kan barusan El juga udah nyium mas kan!"
"Hadeuhhhh, susah kali lah kalau nikah sama bocah polos, masa iya nyium di kening!" Gumam Iqbal dengan suara pelan dan penuh rasa kesal.
"Mas kenapa? kenapa bergumam sendiri? apa El buat salah?"
"Nggak ada!" Tegas Iqbal yang langsung memamerkan senyuman lebar meski hatinya masih sangat kecewa.
"Miss you baby!" Lanjut Iqbal sambil menatap bagian perut rata Elsaliani.
"Miss you to ayah!" Ucap Elsaliani dengan suara yang meniru suara anak kecil lalu ikut tersenyum lebar.
Iqbal masih setia menatap lekat wajah Elsaliani. Keduanya terlihat begitu bahagia.
Hingga suara pintu yang di buka dari luar membuat fokus keduanya teralih, keduanya segera menoleh kearah pintu.
"Maaf, mengganggu!" Pinta dokter Luthfan yang masih saja berdiri di ambang pintu sana.
"Apa aku harus di periksa?" Tanya Iqbal.
"Nggak, saya kesini tidak untuk memeriksa kamu, tapi saya mau bicara dengan El. El bisa kita bicara sebentar?" Jelas Luthfan.
__ADS_1
"Baiklah!" Jawab Elsaliani.
"Aku tunggu di luar!" Jelas Luthfan yang langsung menutup kembali pintu ruangan Iqbal.
"Ada apa ini? siapa dokter itu?" Tanya Iqbal dengan wajah yang langsung berubah menjadi begitu dingin dan sangar.
"Dia Abang Luthfan. Abangnya Widia, teman El di pesantren dulu." Jelas Elsaliani.
"Ahhhh, abangnya teman! tapi kelihatannya hubungan kalian lebih dari sekedar abangnya teman deh!"
"Emang iya, hubungan kami lebih dari sekedar Abang dari teman El?"
"El, apa maksud kamu? Hubungan apa yang kalian bina? apa dia lelaki indaman mu? mantan terindah? atau mungkin lelaki yang begitu kamu inginkan untuk menjadi suami mu?" Gumam Iqbal yang mulai emosi.
"Apa terlihat seperti itu?" Tanya Elsaliani dengan tatapan intens.
"Kamu menguji sisi manusia aku? kamu menentangku El! Apa kamu ingin aku membunuh lelaki itu?" Gumam Iqbal yang langsung bangun dari baringannya.
Dengan cepat Iqbal turun dari ranjang, dengan masih menahan rasa sakit di bagian dadanya Iqbal langsung menyeret tiang yang menggantung infus bersamanya. Langkah Iqbal langsung terhenti ketika tangan Elsaliani dengan lembut melingkar di pinggangnya. Perlahan wajah Elsaliani yang menempel di punggu Iqbal mulai terasa bahkan kini dekapan Elsaliani terasa semakin erat.
"El suka melihat mas seperti ini! secara nggak sengaja mas mengatakan kalau mas takut El diambil lelaki lain, El suka mas cemburu pada El, El suka sosok mas yang ini!" Jelas Elsaliani.
"Sayang, dada mas sesak mendengar kata-kata sayang yang tadi? bagaimana kalau dia memang lelaki idaman sayang, apa yang harus mas lakukan. Mas takut El pergi bersamanya lalu meninggalkan mas." Jelas Iqbal yang perlahan mulai terlihat rilexs.
"Mas tau, El tidak pernah punya mantan, El nggak pernah pacaran dengan lelaki mana pun. Dan jika tentang lelaki idaman, mas adalah orang itu. Mas lelaki yang El cintai, nggak ada yang lainnya." Jelas Elsaliani.
"So? hubungan bagaimana yang El bina dengan dokter itu?"
"Dia udah El anggap seperti Abang El sendiri. Sama seperti Abang Alam, Abang Mikeal, Abang Hendra dan abang Luqman. Mereka sama buat El." Jelas Elsaliani yang perlahan melepaskan dekapannya.
Iqbal berbalik menghadap Elsaliani, sejenak memandang wajah imut sang istri lalu segera menarik tubuh mungil tersebut ke dalam pelukannya.
"Luka mas gimana?" Tanya Elsaliani yang tiba-tiba ingat dengan luka sang suami.
"Tubuh sayang terlalu pendek untuk menyentuh dada mas!" Ujar Iqbal sambil tertawa dan semakin mengeratkan pelukannya.
Di saat itu pula pintu ruang VIP tersebut kembali terbuka namun sebelum beberapa menit kembali tertutup.
"Mas, sepertinya Abang Mikeal dan yang lainnya udah kembali" Ujar Elsaliani dan mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Iqbal.
"Biar aja mereka jaga di luar, kalau masuk ntar yang ada mengganggu waktu kita!" Jelas Iqbal.
"Mas apaan sih, nggak ah! biar El panggil mereka." Jelas Elsaliani yang memaksa Iqbal melepaskan tubuhnya.
Setelah terlepas dari pelukan Iqbal, Elsaliani segera berlari ke arah pintu, membuat Iqbal tersenyum-senyum dengan tingkah sang istri.***
_________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VoTe@ ya manteman😊😊
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️