
"Kapten tidak pulang?" Tanya Alam yang baru saja masuk ke dalam kamar asrama.
Kamar asrama tersebut adalah milik tim pasukan khusus. Jadi hanya anggota dari tim tersebut yang boleh berada di kamar itu.
Ketika Alam masuk, ia hanya melihat Iqbal yang sedang berbaring di ranjang tidur dengan mata yang terus menatap layar ponsel miliknya. Alam langsung duduk di samping Iqbal.
" Tidak." Jawab Iqbal singkat dan masih saja berbaring tanpa menghiraukan kehadiran Alam.
"Kenapa? sudah tiga hari nggak pulang, pada hal kita sedang di bebas tugaskan selama seminggu, yang lain aja yang masih lajang pada ngulang tuh, mereka bertiga bahkan terlihat seperti ingin libur sebulan." Jelas Alam.
"Aku lebih betah di sini. Kamu sendiri kenapa nggak pulang?"
"Hm,,,,istri aku pulang ke rumah mama dan papa, jadi aku bosan kalau pulang, bakal sepi di rumah seorang diri. Udah kapten pulang sana! Aku iri sama ketiga bocah itu yang bisa pergi liburan sama pacar mereka. Alangkah indahnya jika Tia tidak sedang hamil tua, seenggaknya dia masih bisa nemanin aku di rumah."
"oh,,,jadi Tia akan melahirkan di rumah orang tuanya? kenapa nggak disini?"
"Mama sama papa khawatir, apa lagi ini kan cucu pertama mereka makanya pada protektif banget, kata mereka aku selalu aja tinggalin dia secara mendadak, makanya mama bawa dia pulang biar bisa di jaga 24 jam."
"Kamu sih, suka kali ninggalin Tia seorang diri"
"Macam kapten nggak pernah tinggalin El seorang diri. Sekarang aja El di tinggal sendiri lagi kan?"
"Nggak, dia juga lagi pulang ke rumah orang tuanya." Jelas Iqbal.
"Terus mbak Lestari? biasanya kan setiap kali libur kapten selalu saja liburan sama mbak Lestari, kenapa kali ini nggak?"
"Aku lagi ada masalah."
"Apa yang terjadi? bukannya mbak Lestari adalah wanita idaman kapten. Apa kalian lagi ada masalah? ayo cerita, siapa tau aku bisa jadi penasehat yang baik untuk hubungan kapten dan mbak Lestari. cerita aja!" Jelas Alam.
Mendengar penjelasan Alam, membuat Iqbal segera bangun dari pembaringan, lalu duduk di dekat Alam.
__ADS_1
"Apa kamu yakin, kalau kamu bisa membantu aku? jujur sekarang ini aku benar-benar sangat bingung, aku pusing dengan keadaan aku saat ini."
"Aku nggak bisa janjiin apa-apa. Tapi, coba aja kapten cerita dulu, siapa tau aku bisa menyelesaikan masalahnya, atau paling kurang bisa menguranginya."
"Begini, Alam sebenarnya......"
"Sayang....." Panggil Lestari yang berdiri tepat di ambang pintu sana.
Iqbal langsung menghentikan obrolannya, mata Iqbal dan Alam segera menoleh kearah suara tersebut berasal, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Lestari langsung masuk dan mendekat pada Iqbal.
"Ah, aku baru ingat, kalau sebenarnya ada hal yang harus segera aku urus. Aku keluar sebentar kapten, permisi." Jelas Alam dan segera meninggalkan pasangan sejoli tersebut di kamar tersebut.
Setelah Alam keluar, Lestari langsung duduk di samping Iqbal dan tangannya langsung merangkul tubuh Iqbal.
"Maafkan sikap aku tiga hari yang lalu. Kamu tau kan bagaimana aku kalau sedang emosi, so please maafkan aku sayang!'
"Iya aku maafkan."
"Baiklah, nanti jam delapan aku akan jemput kamu."
"Makasih sayang! kalau begitu sekarang aku ke salon dulu ya, Bey sayang!" Jelas Lestari lalu mengecup pipi Iqbal kemudian tersenyum bahagia kearah Iqbal dan segera pergi meninggalkan Iqbal.
---------------------
Jarum jam masih menunnuji jam tiga siang, namu Iqbal telah mulai siap-siap untuk keluar. Setelah selesai mandi, Iqbal segera melangkah menuju lemari lalu memilih baju yang akan ia kenakan, setelah merasa puas dengan stelan yang melekat di tubuhnya, ia segera melangkah keluar kamar, namun kakinya langsung terhenti ketika ia berjalan melewati cermin besar yang menempel hampir menutupi seluruh dinding bagian Utara kamar. Sejenak memandang pantulan diri di cermin, lalu tersenyum bangga.
"Iqbal, aku rasa semakin hari kamu semakin tampan, hah....sulit di percaya tapi memang beginilah kenyataannya!" Gumam Iqbal sambil terus menatap penampilannya, dengan tangan yang terus menyentuh bagian rahangnya sendiri.
Puas menatap dirinya, Iqbal bergegas keluar dari kamarnya. Ketika ia menatap pintu kamar Elsaliani entah mengapa, tanpa di tuntun kakinya langsung masuk ke kamar Elsaliani, perlahan ia masuk dengan mata yang terus memerhatikan seisi kamar, lalu tangannya mencoba membuka pintu lemari baju yang ada di sudut kamar.
"Jadi dia benar-benar tidak akan kembali lagi? dia membawa semua bajunya tanpa tersisa satupun, hanya baju-baju pemberian aku yang tertinggal di lemari ini." Ujar Iqbal ketika melihat isi lemari.
__ADS_1
Kini Iqbal mencoba untuk menyentuh baju-baju yang tergantung rapi di sangkutan lemari bagian timur, baju-baju itu terlihat seperti tidak pernah tersentuh sama sekali, bahkan label merek dan harga masih menempel pada setiap bagian lehernya masing-masing. Iqbal membisu menyaksikan pemandangan di hadapannya, hingga suara dering ponsel membangunkannya dari lamunannya.
"Abi, ada apa ini? kenapa Abi menelpon aku? apa jangan-jangan El menceritakan semuanya tentang perlakuan aku terhadapnya ke pada Abi, bagaimana ini? apa yang harus aku katakan pada Abi, aku nggak tau harus ngomong apa, hash......" Iqbal mulai terlihat panik, lalu sejenak mencoba menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam, lalu memberanikan diri untuk menerima panggilan dari Abi.
"Assalamualaikum Abi!"
"Wa'alaikum salam! maaf nak Iqbal, Abi malah mengganggu kamu malam-malam begini." jelas Abi dari seberang sana.
"Sama sekali tidak mengganggu Abi, kenapa, ada apa Abi?"
"Begini nak Iqbal, Abi cuma mau bilang kalau El belum bisa pulang dam beberapa hari ini, tolong nak Iqbal izinkan dia di sini dulu."
"Kenapa Abi??"
"Katanya di lagi kurang enak badan, tidak bisa naik mobil dulu. Loh bukannya El tadi sudah kasih kabar sama nak Iqbal? apa El tidak menghubungi nak Iqbal tadi sore?"
"Oh ada kok Abi. Ini Iqbal mau berangkat ke sana, mau menjenguk El."
"Jadi nak Iqbal mau pulang ke sini malam ini?"
"Iya, Abi. Kalau begitu sampai ketemu di rumah nanti, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan sang mertua, Iqbal segera mengirim chat pada Lestari, ia mengabari bahwa makan malam mereka di batalkan karena ada hal yang mendesak. Setelah mengirim Chat, Iqbal langsung men non aktifkan ponselnya. Entah apa yang sedang Iqbal coba lakukan dan entah apa yang mulai merasuki pikirannya, dalam detik itu juga ia segera pergi, menuju kampung halaman sang istri, rumah mertuanya.***
Makasih buat teman-teman yang sudah setia membaca CINTA ELSALIANI 😊😊
Ikuti selalu kisahnya ya😄 terus jangan lupa tinggalkan jejak LIkE, VOTE n komennya ya😉😉 yg pling penting, jadikan sebagai novel FAVORIT kalian, ingat just tekan ❤️ ya, jangan lupa🤭😅😅
kamsahamida 🥰🥰🥰🥰😘😘😘
__ADS_1