Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
33.


__ADS_3

"El..." Panggil Iqbal.


Iqbal terus mendekati Elsaliani yang tampak sedang duduk termenung di ruang makan. Nasi yang ada di hadapannya tidak di sentuh sama sekali, bahkan kedatangan Iqbal tidak membuat lamunannya buyar, ia masih saja larut dalam tatapan kosong.


"El...."


Iqbal kembali memanggil sang istri, kali ini sambil duduk di sisi kanan Elsaliani lalu menyentuh tangan Elsaliani yang ia gunakan untuk menopang dagunya.


"Mas, kenapa? apa butuh sesuatu?" Tanya Elsaliani ketika menyadari kedatangan Iqbal.


"Iya, aku butuh kamu. Ada apa El? apa yang sedang kamu pikirkan? kamu rindu Abi dan umi? atau rindu bapak dan bunda? kalau kamu mau mas akan mengantarkan mu untuk menemui mereka."


"Bukan mereka yang sedang El pikirkan."


"Terus siapa? Abang Rizal?"


"Iya, El sedang memikirkan Abang Rizal, Abang Mikeal dan juga mas." Jawab Elsaliani dengan tangan yang mulai menyentuh wajah Iqbal yang masih tersenyum manis memamerkan lesung pipinya.


"Kenapa El memikirkan kami?"


"El tau kalian sedang berbohong kan? tadi itu nyata sama sekali bukan mimpi. El tau kalian melakukannya karena kalian sayang sama El, tapi tetap saja El tidak suka dengan cara kalian memperlakukan El seperti tadi. El sayang sama kalian!" Jelas Elsaliani bersamaan dengan air mata yang mulai menetes membuat suasana semakin kelabu.


"Maafkan kami El..." Pinta Iqbal.


Tangan Iqbal mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Elsaliani, sejenak saling memandang, hingga Iqbal kembali mendekatkan wajahnya pada Elsaliani, perlahan Iqbal mencoba untuk mendekatkan bibirnya di kening Elsaliani, namun di saat itu pula Elsaliani menjerit histeris. Elsaliani segera menjauh dari Iqbal, bahkan ketika tubuhnya ambruk ke lantai, ia masih saja terus merangkak dengan tangan yang terus mendekap erat kedua bahunya.


Melihat keadaan Elsaliani yang begitu ketakutan, membuat Iqbal panik, tidak tau harus bagaimana. Iqbal mencoba mendekat namun Elsaliani semakin meronta, bahkan terus saja menepis tangan Iqbal yang berusaha menyentuhnya.


"El mohon Kelvin, jangan sentuh El! El tidak halal bagimu, tolong menjauhlah....!" Tangis Elsaliani.


"El tenanglah, ini aku Iqbal, suami kamu!" Tegas Iqbal.


"Pergi! El bilang pergi!"


"El....!" Teriak Iqbal yang langsung mendekap tubuh Elsaliani.


Elsaliani terus saja meronta dengan tangan yang berulang kali memukul punggung Iqbal. Iqbal terus membiarkan apa yang Elsaliani lakukan, ia hanya ingin membuat Elsaliani tenang.

__ADS_1


"Lepas! jangan sentuh El. tolong lepas!" Pinta Elsaliani, dengan suara parau dan pukulan yang juga ikut melemah.


"El, lihat baik-baik ini aku, suami kamu!" Pinta Iqbal.


Iqbal melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Elsaliani dengan penuh kesedihan.


"Tuan...!" Ujar Elsaliani lalu terkulai lemas dalam pangkuan Iqbal.


"Maafkan mas yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Mas janji, mulai hari ini hingga seterusnya, lelaki gila itu tidak akan lagi pernah muncul di hadapan kamu, mas janji!" Gumam Iqbal yang penuh penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.


"El takut, dia seakan ada dimana-mana! dia terus mengintai El, apa salah El padanya, kenapa dia jahat sama El. El takut..." Keluh Elsaliani.


"Mas bersamamu El, nggak ada yang perlu kamu takutkan, mas akan menjagamu lebih dari mas menjaga nyawa mas sendiri. I love you, El." Jelas Iqbal, lalu mengecup lembut kening Elsaliani dan memeluknya erat.


Setelah Elsaliani mulai tenang, halusinasinya tentang Kelvin telah memudar, Iqbal membawa Elsaliani untuk istirahat ke kamar.


"Ini kan kamar mas, kenapa mas bawa El ke sini?" Tanya Elsaliani setelah Iqbal membaringkan Elsaliani di kasur miliknya.


"Menginaplah di sini, mas akan jagain kamu." Jelas Iqbal dan langsung berbaring di samping Elsaliani.


"Tapi kan....."


Elsaliani masih menatap heran ke arah Iqbal.


"Sayang tangan mas mulai pegal nih, cepatan! sini, buruan sebelum mas hilang kesabaran, jika El nggak datang maka mas yang akan gerak nih!" Lanjut Iqbal.


Dengan tersenyum tipis, Elsaliani perlahan mendekat, kedua tangan Iqbal menyambutnya dengan hangat.


----------------------------------


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Rizal segera keluar lalu menutup pintu mobil dengan begitu pelan. Sebisa mungkin Rizal memelankan langkahnya, lalu mencoba membuka pintu tanpa harus menimbulkan sedikit suarapun. Setelah pintu kembali tertutup, Rizal langsung cepat melangkah menuju kamarnya, dalam waktu yang bersamaan lampu menyala menerangi seluruh ruang tamu. Mata Iqbal segera mencari sosok yang menyalakan lampu yang ternyata masih berdiri dengan menatap tajam ke arahnya.


"Abang dari mana? Abang tau ini jam berapa?" Tanya Abi dengan raut wajah serius.


"Abang, hm....Abang lembur Abi!" Jawab Rizal dengan tangan yang terus menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Apa Abi pernah mengajarkan Abang untuk berbohong? sejak kapan anak Abi pandai berbohong?"

__ADS_1


"Maafkan Abang!" Pinta Rizal sambil menundukkan kepalanya.


"Cerita sama Abi, ada apa? Abang sedang menyembunyikan sesuatu sama Abi dan umi kan?" Tanya Abi sambil merangkul pundak Rizal.


" Umi di mana?"


"Umi sudah tidur, Abang bicaralah!"


"Hufff, Abang hanya nggak mau buat umi sama Abi panik. Sekali lagi Abang minta maaf, karena berusaha membohongi Abi dan umi!"


"Abi paham maksud Abang, sekarang ceritakan semuanya, kita cari solusi sama-sama, apapun masalah Abang jangan pernah menanggungnya seorang diri. Ayo kita duduk!"


Abi langsung duduk di sofa, Rizal pun ikut menyusul Abi dan duduk di sampingnya.


"Ini bukan masalah Abang, tapi tentang adek."


"Adek? ada apa dengan adek? apa dia sakit? Adek baik-baik saja kan?" Tanya Abi yang mulai panik dan khawatir.


"Tuh kan Abi panikan? Abi tenang dulu, sekarang adek baik-baik saja, Iqbal menjaganya dengan baik." Jelas Rizal mencoba menenangkan kegundahan Abi.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama adek?"


"Abi ingat Kelvin? dua hari yang lalu dia bebas dan tadi dia datangin adek di saat Iqbal sedang bertugas. Tapi Abi tenang aja, Iqbal sudah mengurus semuanya, sekarang Kelvin ada di kantor polisi."


"Syukurlah, rasa takut dan panik adek nggak kambuhkan?"


"Iya, sekarang semuanya baik-baik aja. Abi jangan cerita sama umi ya, karena Abi taukan, kalau sampai umi tau, umi pasti akan panik dan langsung nyusul adek."


"Iya Abang, Abi akan diam kok yang penting adek baik-baik di sana. Abi percaya kalau Iqbal akan menjaga adek dengan baik, bahkan lebih baik dari yang kita lakukan. Tidak salah Abi menerima perjodohan ini, Iqbal benar-benar jodoh terbaik untuk adek."


"Iya Abi. Ya udah sekarang Abi istirahat, Abang juga mau bersih-bersih dan istirahat, selamat malam Abi!" Ujar Rizal dan langsung ke kamar.


Abi pun beranjak untuk kembali ke kamar.


____________________


Jangan lupa LIKE, KOMEN n VOTE@ ya😊

__ADS_1


selamat membaca🤗🤗


KaMsaHamida ❤️❤️❤️


__ADS_2